LIFE

13 Mei 2024

Marsha Timothy Tak Ingin Berhenti Mengeksplorasi Kebaruan


PHOTOGRAPHY BY Ifan Hartanto

Marsha Timothy Tak Ingin Berhenti Mengeksplorasi Kebaruan

styling Ismelya Muntu; jewellery Tiffany & Co.; fashion Dior; makeup Aditya Wardhana; hair Ichana

Dua puluh tahun berkarya adalah rentang perjalanan yang kaya akan pengalaman—meski tak berarti telah melampaui segalanya. Kebaruan akan selalu tumbuh seiring waktu; dan Marsha Timothy senantiasa sigap menempatkan diri di garis start.


“Monolog itu seperti meditasi,” ujar Marsha Timothy. Tawanya pecah sejenak mendengar penggambarannya sendiri. “Barangkali kedengarannya agak absurd, ya. Namun selama berperan di atas panggung, seluruh tubuh saya—pikiran, hati, juga emosi—terfokus bergerak hanya pada karakter yang saya perankan seorang; terkonsentrasi pada kata-kata yang diucapkan olehnya. Jadi sungguh rasanya seperti saya sedang bermeditasi,” katanya meyakinkan saya.

Kami tengah membahas teater Di Tepi Sejarah garapan Titimangsa yang pentas bulan Desember 2023 silam. Pertunjukan itu adalah sebuah pementasan monolog lima tokoh berbeda babak. Marsha ambil bagian membawakan salah satunya yang berjudul Ke Pelukan Orang-Orang Tercinta, di mana ia melakoni kehidupan Francisca Casparina Fanggidaej, seorang jurnalis perempuan sekaligus tokoh pergerakan revolusioner yang terpaksa hidup jauh terasing dari Tanah Air akibat gejolak politik usai meletusnya peristiwa G30S di tahun 1965. Figurnya menjelma lebih tua dengan riasan yang membuat parasnya sayu dipadu wig keabu- abuan. Intonasi vokalnya parau menarasikan ketakadilan dan kepiluan hidup di atas panggung yang diset berlatarkan situasi bandara. Ditambah gestur yang emosional, penampilan Marsha menghidupkan karakternya begitu kuat. Tak urung terdengar suara isak dari bangku penonton di sepanjang lakonnya. Ketika lampu panggung akhirnya dipadamkan, dan disambut riuh tepuk tangan bergemuruh, “Kelegaan saya tumpah ruah bercampur bahagia,” ungkapnya. “Pementasan itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa bikin jantung berdebar. Terlebih dengan kehadiran keluarga ibu Francisca di barisan penonton malam itu, hasrat saya untuk menunjukkan performa terbaik pun bertambah besar. Saya berterima kasih telah diberi kesempatan memerankannya, dan atas segala energi serta dukungan yang dicurahkan oleh seluruh tim produksi teater ini dalam membantu saya memberikan performa terbaik. Selamanya tidak akan pernah saya lupakan,” kenangnya menyuratkan syukur.

jewellery Tiffany & Co. (anting, gelang & cincin, Tiffany Lock; kalung, Tiffany HardWare & Tiffany Lock Pendant); fashion, Proenza Schouler at Masari Shop.

Di Tepi Sejarah bukan kali pertama Marsha tampil bermain teater—jika Anda berpikir pangkal rasa gugup peraih Piala Citra Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia itu. Faktanya, ia telah menggeluti seni teater selama hampir enam tahun, sejak diperkenalkan oleh rekan sesama sineas dan pendiri Titimangsa Foundation—sekaligus sahabat baiknya—Happy Salma. Perempuan-Perempuan Chairil (2017) menandai jejak langkahnya. Dilanjutkan Bunga Penutup Abad (2018), lalu musikal Cinta Tak Pernah Sederhana (2019). Kendati bukan pendatang baru, tetapi panggung Di Tepi Sejarah adalah debut penampilan Marsha bermonolog. Anda pasti paham apa yang erat melekat dengan pengalaman pertama. Kondisi asing. Alhasil, timbul rasa takut. Suatu kondisi tidak nyaman yang kerap menggetarkan nyali setiap orang, tak terkecuali pemeran sekaliber Marsha yang menggenggam portofolio keaktoran sepanjang dua dekade. 

“Ketika Happy (Salma) datang menawarkan kesempatan mementaskan Ke Pelukan Orang-Orang Tercinta, saya sudah lama tidak pentas teater. Kali terakhir sebelum pandemi, setelahnya saya mencoba berkecimpung di belakang panggung dengan menjajaki peran produser. Terbesit keraguan dalam diri saya. Terlebih saya tidak pernah bermain monolog sebelumnya. Butuh waktu cukup lama untuk saya meyakinkan diri sendiri dan menyusun keberanian untuk akhirnya merangkul kesempatan itu,” ungkap Marsha, yang pernah mengungguli Nicole Kidman dalam memenangkan penghargaan Best Actress ajang Sitges International Film Festival di tahun 2017 (untuk peran monumentalnya di Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak). Apa yang menggerakkan ia menaklukkan rasa takutnya ialah kemauan untuk terus belajar, bereksplorasi, dan, “Saya luar biasa menyukai kekuatan penceritaan Felix Nesi sedari awal membaca naskahnya,” ujarnya.

jewellery Tiffany & Co. (anting & kalung, koleksi Tiffany HardWare Link; gelang, koleksi Tiffany HardWare & Tiffany Lock; cincin, Tiffany Lock); fashion, Recto - Masari Shop.

Pada suatu kesempatan, Marsha pernah berujar, bahwa seorang aktor perlu memiliki strategi dalam meningkatkan kapabilitas untuk bisa bertahan di industri peran. “Profesi keaktoran menuntut kepekaan seorang pemeran selalu terasah, demi kita mampu merasakan apa yang orang lain rasakan dengan baik,” katanya. “Seutuhnya,” ia kembali menegaskan, “Bukan sekadar membayangkan saja. Kita diberi kesempatan untuk berada di posisi orang lain seutuhnya; menjalani kehidupannya, menyerap kebiasaan, cara bicara, gestur, dan pemikirannya. Sebab kita harus bisa mengekspresikan perasaan yang seutuhnya dari sang karakter sehingga ia menjadi benar- benar hidup di benak penonton.” Dengan pengalaman lebih dari 50 judul karya layar lebar dan televisi, tidak ada yang meragukan kredibilitas Marsha Timothy memanifestasikan suatu peran. Ia adalah salah satu aktor paling berintegritas di Tanah Air. (Percayalah, kepiawaiannya mengolah peran bisa bikin hati Anda hangat, mendidih, hingga luluh lantak). Tetapi mendengar penjelasannya, masuk akal bila seorang aktor memerlukan strategi dalam berproses memperkuat kompetensi. Sensibilitas berempati bukanlah hal yang mudah, tidak hanya buat aktor melainkan untuk individu secara umum.

Bagi Marsha, upaya itu adalah menelusuri berbagai kebaruan pengalaman, seperti bermain pentas monolog. “Semula saya merasakan kegamangan di awal menjajaki teater. Tapi naluri saya berkata bahwa ranah ini bisa membantu saya memperkaya diri tentang wawasan seni peran, sehingga saya pun memberanikan diri. Teater adalah salah satu bentuk seni paling jujur. Tidak ada pengulangan adegan, apalagi editing. Tantangannya berbeda dengan ketika berakting untuk film atau serial—meski sama-sama seni peran. Di sini saya belajar berbagai hal; pendekatan peran, berekspresi lewat bahasa tubuh, proses produksi; dan bertemu dengan banyak orang yang hebat. Anda tahu kalau hampir seluruh tim belakang panggung Di Tepi Sejarah adalah perempuan? Kenyataan yang sangat menggembirakan!” kisahnya.

jewellery Tiffany & Co. (anting koleksi Tiffany HardWare Triple Drop; kalung koleksi Tiffany HardWare Small Wrap; gelang, koleksi Tiffany Lock & Tiffany TTI Narrow Diamonds; cincin, Tiffany TT1); fashion, Louis Vuitton.

Marsha Timothy memulai perjalanannya mengarungi jagat seni peran berbekal keberanian meraih kesempatan, dan talenta keaktoran yang mentah. Berangkat dari menjadi model iklan, kapabilitasnya tumbuh berkembang seiring ia berproses melalui satu karya sinema ke sinema lainnya. “Selama menekuni dunia peran, saya tidak pernah memandang sebelah mata karya film atau suatu peran. Setiap karakter yang pernah saya perankan, setiap proyek film, memberikan pembelajaran nilai dan berkontribusi secara berbeda-beda dalam memperkaya perjalanan karier saya. Masing-masing mendorong saya untuk selalu menghasilkan karya yang lebih baik dari sebelumnya, dan saya pikir, dorongan itu membuat saya menjadi aktor yang baik, juga manusia yang baik,” kata Marsha. Apakah ia lantas mengkurasi perannya dalam pilihan partikular? Tidak. Sebagaimana pengakuannya, “Dalam memilih peran, saya berharap karya saya dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Tidak eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Selain itu, saya memang bukan tipe yang secara sengaja mencari karakter peran atau cerita yang spesifik.”

Ia tidak membual. Dari ibu rumah tangga, penjaga kios, perempuan penghasut, pasien HIV, pendekar silat, istri yang depresi, hingga pembunuh pemerkosa; semua pernah dilakoninya. Tentu saja ia tidak serta-merta asal menerima setiap tawaran peran yang datang kepadanya. Ada prinsip nilai yang tetap ia pegang teguh. “Karakter peran itu seperti halnya manusia, yang terdiri atas berbagai rupa. Masing-masing punya karismanya tersendiri, dengan latar belakang kehidupan dan persoalan yang berbeda-beda. Bagaimana kemudian kisahnya disampaikan adalah daya tariknya. Jadi selama penceritaannya berhasil mengena di hati, buat saya, apa pun peran itu menarik dihidupkan. Sekalipun manifestasi karakternya ialah orang-orang yang biasa kita temukan di realitas keseharian,” jelasnya. Marsha kemudian menceritakan salah satu pengalaman berkesannya dari proyek film Kembang Api (2013), di mana ia menjadi seorang ibu rumah tangga. Yang menariknya terlibat dalam karya sutradara Herwin Novianto tersebut adalah alur kisahnya yang diceritakan berulang-ulang bersama tiga pemeran lain yang seluruhnya merupakan tokoh utama. “Plot film ini sebetulnya pendek, dengan adegan dan dialog yang hampir mirip selama dua jam durasi filmnya. Tapi lain cerita syutingnya, kami dituntut untuk menata emosi pribadi, sembari tetap terhubung sebagai kesatuan grup, dalam tingkatan skala yang telah ditentukan sesuai alur siklus selama proses pengambilan gambar. Kami juga berlatih menyamakan tempo berdialog sahut-sahutan agar terdengar mengalir secara natural, hampir seperti latihan teater. Proses yang penuh tantangan dan seru,” kisahnya.

jewellery Tiffany & Co. (anting, Tiffany Hoop T T1; kalung, TT1 Half Diamond; gelang, Tiffany Lock & Tiffany TT1; cincin, Tiffany TT1); fashion, Givenchy.

Di tahun 2024, Marsha memiliki tiga film baru untuk menambah portofolio karyanya. Titip Surat Untuk Tuhan telah hadir di bioskop Tanah Air bulan Maret silam; Monster tengah mengantre jadwal rilis publik (diputar di Netflix mulai 16 Mei 2024); dan Kang Mak sedang tahap akhir produksi. Di antara ketiganya, Monster sedang hangat diperbincangkan di antara para kritikus dan penikmat film Indonesia, setelah sempat mengadakan pemutaran spesial di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Selain filmnya yang tidak memperdengarkan dialog, penampilan Marsha Timothy turut disoroti. Aktris yang acap merepresentasikan karisma protagonis kesayangan masyarakat itu keluar zona nyaman dengan tampil bengis sebagai seorang penculik anak—bukti teranyar talenta Marsha yang selayaknya bunglon!

Monster merupakan proyek antagonis perdana Marsha Timothy, yang sekaligus mempertemukan ia kembali dengan sutradara Rako Prijanto. Keduanya adalah kolaborator lama; diawali Merah Itu Cinta pada 17 tahun silam, lalu reuni di tahun 2023 untuk menggarap serial Sabtu Bersama Bapak dan Monster. Ia juga berhadapan lagi dengan Anatya Kirana, aktor remaja yang jadi pasangan mainnya di Asih 2 (2020). “Ada pelajaran tersendiri saat bekerja dengan aktor muda, seperti Anatya juga Sultan (Hamonangan). Mereka mengingatkan saya akan kejujuran, semangat dan energi dalam beradegan. Kami tidak berkomunikasi lewat dialog di film ini, sehingga tantangan perannya lebih tinggi. Di setiap scene, tubuh kami harus ekspresif; harus jelas menggambarkan konflik, emosi, hingga intensitas situasinya; agar penonton langsung paham apa yang ingin diceritakan,” katanya.

Sinema dan teater telah menjadi ruang mengembangkan diri bagi Marsha Timothy selama 20 tahun. Lewat setiap peran, ia belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan seiring kehidupan. Cara pandangannya dalam menilai sesuatu kian luas. “Memperkuat perspektif saya akan apa yang sebelumnya sudah saya pahami,” katanya. Ia merasa semakin menjadi manusia yang lebih berempati setiap harinya. “Suatu berkah yang luar biasa. Saya ingin terus bisa mengeksplorasi, berkontribusi bagi industri peran Indonesia. Dan saya berharap dapat meninggalkan warisan karya yang mampu menyuarakan, terutamanya, berbagai suara perempuan dan kehebatannya,” tandas Marsha.