6 Januari 2021
Mawar de Jongh Mencoba Selaras dengan Hidup
Atas segenap mimpi dan cita-citanya, Mawar de Jongh menunjukkan kesiapan diri untuk menorehkan kontribusi dan prestasi di dunia film dan musik.
Dunia membutuhkan anak baru. Seniman-seniman kelas kakap yang sudah berpameran di mancanegara, musisi-musisi kawakan, para aktor dan sutradara peraih penghargaan prestisius, sangat perlu—jika tidak ingin dibilang wajib—menyambut kehadiran bakat-bakat baru. Di tengah dunia yang bergerak kian dinamis, muncul kebutuhan terhadap kebaruan. Di dunia film dan musik Tanah Air, Mawar de Jongh hadir sebagai anak baru. Kemunculan Mawar barangkali dapat menjawab pertanyaan soal regenerasi.
Menjelang akhir tahun, saya berkesempatan menemui dan berbincang dengan Mawar. Kendati kami berdua tidak bersalaman, ia menyapa ramah tanpa merasa kikuk. Dengan mengenakan masker yang menutup sebagian wajahnya, Mawar memperlihatkan gestur yang riang namun tetap santun. Ia mengawali obrolan dengan menyampaikan rasa senangnya karena dilibatkan dalam edisi awal tahun majalah ELLE. Ia lantas mulai menceritakan kisah keterlibatannya di dunia film.

Sewaktu sekolah dasar, Mawar sempat terlibat sebagai pemain di salah satu judul film televisi. Namun ia tidak meneruskan langkahnya, sebab kedua orangtua Mawar ingin anaknya berkonsentrasi penuh pada pendidikan. Beranjak remaja saat sekolah menengah pertama di Medan, Sumatera Utara, Mawar ikut sekolah modeling. Ia lantas mengikuti ajang Miss Celebrity pada tahun 2015. Dari 20 finalis, Mawar sukses terpilih sebagai pemenang. Setelah itu, jalannya menuju dunia hiburan jadi terbuka lebar. Ia mulai menerima banyak tawaran berakting di sinetron dan film televisi.
Tahun 2017, Mawar de Jongh memulai debutnya di layar lebar dengan bermain di film Promise bersama Amanda Rawles, Dimas Anggara, dan Surya Saputra. Setelah itu, ia ikut berperan dalam berbagai judul film di antaranya, London Love Story 2 (2017), Serendipity (2018), Bumi Manusia (2019), dan #TemanTapiMenikah2 (2020). “Saya mulai jatuh hati kepada seni peran sejak main di beberapa judul sinetron. Dan jadi semakin cinta ketika saya berakting di film layar lebar. Setiap film memberikan tantangan yang berbeda-beda. Dan yang paling seru, saya menjalani karakter dan jalan hidup yang sama sekali berbeda dengan realitas hidup saya. Saya jadi mengetahui berbagai situasi dan keadaan psikologis manusia. Menyenangkan sekali profesi ini!” ungkapnya.

Satu tahun menggeluti seni peran, ia menerima peluang lain dari dunia musik. Tahun 2018, Mawar de Jongh merilis single pertamanya berjudul Heartbeat. “Lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Apa pun yang dilakukan laki-laki pujaannya segera mendebarkan hati perempuan tersebut,” kisahnya. Walau namanya populer lewat sejumlah judul sinetron dan film, Mawar mengaku telah menyukai dunia tarik suara sejak usianya 8 tahun. Kegemarannya itu menemukan jalan manakala sebuah label musik mempercayakan Mawar de Jongh untuk melansir single pertama.
“Saya tidak pernah membayangkan kelak akan menjalani profesi aktor. Namun lain halnya dengan musik. Sejak kecil, saya telah memproyeksikan diri bahwa suatu saat nanti saya pasti berada di panggung musik. Dan terbukti ketika saya menyanyi di atas panggung, rasanya luar biasa! Ada kecemasan takut lupa lirik, tapi juga antusias apalagi menyaksikan penonton yang juga bersemangat. Rasanya saya seperti menerima energi positif yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya,” ujar Mawar.
Sebagai generasi yang baru menapak karier di film dan musik, Mawar de Jongh menyimpan keinginan untuk bisa berkontribusi secara positif tapi juga mengharuskan dirinya agar lulus kuliah dari jurusan Komunikasi, Universitas Pelita Harapan, dengan akhir yang memuaskan “Saya ingin bisa menulis lagu dan mengasah kemampuan dalam bermusik. Saya juga antusias untuk dapat ikut meramaikan perfilman Indonesia. Namun yang tidak kalah penting, saya mesti menyelesaikan kuliah dengan baik. Dan berusaha agar ketiganya berjalan lancar. Saya tidak mungkin mengabaikan pentingnya pendidikan formal, tapi juga mustahil bagi saya untuk meninggalkan dunia musik dan seni peran,” katanya.
Sebagai anak baru, wajar apabila khawatir keberadaan kita bisa jadi tidak diterima sebagian orang. Menjadi asing di tengah kelompok yang telah terbentuk. Sebuah situasi yang pada akhirnya membuat generasi muda perlu dirangkul dan ‘dinilai’ secara adil atas karya dan usahanya. Mawar de Jongh melihatnya secara optimis. “Saya menyadari, ketekunan dalam berlatih dan kegigihan untuk belajar sekeras mungkin yang bisa menguatkan eksistensi sekaligus memperkaya pengalaman. Saya ingin menyodorkan yang terbaik dan mencurahkan seluruh tenaga agar apa yang saya kerjakan bisa diterima dengan baik,” tutup Mawar.