LIFE

8 September 2026

Soe Tjen Marching dan Praktik Kebebasan Bernama Berpikir


PHOTOGRAPHY BY ALEX CHRISTIAN

Soe Tjen Marching dan Praktik Kebebasan Bernama Berpikir

Soe Tjen Marching tidak pernah memilih jalan yang mudah. Di sepanjang hidupnya, ia justru tertarik pada wilayah-wilayah yang paling rumit untuk dipahami: sejarah yang dipenuhi luka, perempuan yang suaranya kerap diredam, musik yang menolak pakem, hingga pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab. Di tangan akademisi, novelis, komponis, sekaligus intelektual publik ini, berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan praktik kebebasan: keberanian untuk meragukan, mempertanyakan, dan menolak menerima satu narasi sebagai kebenaran mutlak.

Di tengah zaman yang dipenuhi kepastian instan dan polarisasi yang mengeras, Soe Tjen justru memelihara sesuatu yang dianggap merepotkan: keraguan. Baginya, pengetahuan tidak lahir dari keyakinan yang tak tergoyahkan, melainkan dari kesediaan untuk terus menguji keyakinan itu sendiri. Karena itu, karya-karyanya nyaris tak pernah menawarkan jawaban final. Novel, esai, penelitian, maupun kuliah-kuliahnya selalu membuka ruang bagi pembaca untuk kembali bertanya.

Selama lebih dari tiga dekade, Soe Tjen membangun lanskap pemikirannya di persimpangan sastra, sejarah, musik, gender, dan hak asasi manusia. Kini ia mengajar Bahasa dan Kebudayaan Indonesia di SOAS University of London, salah satu pusat studi Asia paling bergengsi di dunia. Namun ruang kelas hanyalah satu di antara banyak medium yang ia gunakan. Melalui novel-novel seperti Mati Bertahun yang Lalu, Kubunuh di Sini, dan Kisah di Balik Pintu, melalui kajian akademik The End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia, hingga komposisi musik avant-garde yang pernah dipentaskan di berbagai negara, Soe Tjen mengerjakan satu proyek yang sama: menghadirkan kembali suara-suara yang selama ini disisihkan dari sejarah.

Sulit menempatkannya dalam satu kategori. Ia terlalu akademis untuk sekadar disebut novelis, terlalu puitis untuk hanya dipandang sebagai peneliti, dan terlalu artistik untuk dibatasi sebagai aktivis. Dalam dirinya, sastra, musik, dan penelitian bertemu pada satu tujuan: memahami manusia dalam seluruh kerumitannya. Ironisnya, sebagian besar kegelisahan intelektual itu justru tumbuh ketika ia hidup jauh dari Indonesia. Setelah menempuh pendidikan di Selandia Baru dan Australia, lalu menetap di Inggris selama lebih dari dua dekade, Indonesia tidak pernah berubah menjadi sekadar tanah kelahiran yang dikenang dengan nostalgia. Sebaliknya, negeri ini terus hadir sebagai ruang yang belum selesai dipahami. Jarak memberinya perspektif untuk melihat tanah kelahirannya dengan lebih jernih.

Bagi Soe Tjen, bukan sekadar negara tempat ia lahir. Indonesia adalah ruang ingatan. Tempat luka sejarah diwariskan lintas generasi, tempat perempuan terus bernegosiasi dengan norma yang membatasi tubuh dan suaranya, sekaligus tempat harapan akan masyarakat yang lebih adil terus diperjuangkan. Dari London, ia terus mengamati, membaca, menulis, dan berbicara tentang Indonesia dengan ketekunan seorang peneliti sekaligus kepekaan seorang seniman. Sebab memahami sebuah bangsa, menurutnya, tidak cukup dengan menghafal sejarah resmi. Yang jauh lebih penting adalah mendengar cerita-cerita yang sengaja dilupakan.

Namun jauh sebelum menjadi salah satu intelektual Indonesia paling disegani di panggung global, sebelum ruang kuliah, buku-buku, dan forum-forum internasional membentuk identitas publiknya, Soe Tjen hanyalah seorang anak perempuan dari Surabaya yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Di sanalah, di tengah keterbatasan ekonomi, pengalaman sebagai keluarga eks-tahanan politik, dan kebiasaan membaca yang nyaris tak pernah berhenti, benih-benih rasa ingin tahunya mulai tumbuh. Dan seperti hampir semua hal penting dalam hidupnya, semuanya bermula dari sebuah pertanyaan.

Soe Tjen Marching anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga Tionghoa yang hidup dengan kondisi ekonomi yang jauh dari mapan. Kemiskinan bukan sesuatu yang asing baginya. Ia masih mengingat bagaimana keluarganya nyaris tidak pernah membeli pakaian baru, bagaimana mainan adalah kemewahan yang hampir tidak pernah mereka miliki, dan bagaimana ibunya pernah terpaksa menitipkan kedua kakaknya kepada sanak saudara karena keadaan ekonomi yang begitu sulit. “Saya ingat hanya punya tiga boneka. Ketika bermain ke rumah sepupu, saya terkejut melihat mereka memiliki begitu banyak mainan. Saya baru sadar bahwa kehidupan kami ternyata sangat berbeda.” Namun kekurangan materi bukanlah pengalaman yang paling membekas. Di rumah itu, ada satu cerita yang terus hidup meski jarang diucapkan dengan suara keras. Ayahnya pernah menjadi tahanan politik setelah peristiwa 1965.

Soe Tjen lahir pada 1971, enam tahun setelah tragedi 1965. Ia tidak menyaksikan penangkapan ayahnya, tetapi tumbuh bersama ingatan yang diwariskan ibunya: tentang fitnah, penjara, dan kehidupan yang berubah hanya dalam sekejap. Trauma itu tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika keadaan ekonomi keluarga perlahan membaik setelah sang ayah dibebaskan. Bagi seorang anak, sejarah mula-mula tidak hadir sebagai peristiwa nasional. Sejarah hadir sebagai sesuatu yang personal. Sebagai percakapan yang terputus. Sebagai rasa takut yang diwariskan tanpa selalu dijelaskan. Sebagai kesadaran bahwa hidup seseorang dapat berubah bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena kekuasaan memutuskan demikian.

Ironisnya, Soe Tjen kecil justru tumbuh dalam sistem pendidikan Orde Baru yang mengajarkan satu versi sejarah. Seperti jutaan anak Indonesia lain pada zamannya, ia dididik untuk membenci komunisme tanpa pernah benar-benar memahami kompleksitas sejarah di baliknya. “Saya juga sempat membenci komunis. Saya generasi Orde Baru. Kami dididik untuk membenci mereka.” Kalimat itu kini terdengar seperti pengakuan yang jujur tentang bagaimana ideologi bekerja: bukan hanya melalui negara, tetapi juga melalui pendidikan, bahasa, dan kebiasaan berpikir. Baru bertahun-tahun kemudian, setelah membaca lebih banyak buku dan menelusuri berbagai sumber sejarah, ia menyadari bahwa kenyataan tidak pernah sesederhana narasi resmi yang diajarkan di sekolah.

Tetapi sejarah bukan satu-satunya hal yang memancing pertanyaannya. Sebagai anak perempuan, ia mulai menyadari bahwa dunia memperlakukan laki-laki dan perempuan secara berbeda, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele. Ia gemar memanjat pohon. Berlari. Bermain bebas seperti teman-teman laki-lakinya. Namun hampir setiap kali melakukannya, selalu ada komentar yang sama. “Perempuan kok begitu?” Kalimat itu mungkin terdengar remeh bagi sebagian orang. Tetapi bagi Soe Tjen kecil, pertanyaan justru lahir dari sana. Mengapa laki-laki boleh memanjat pohon sementara perempuan dianggap tidak pantas? Mengapa tubuh perempuan sejak kecil sudah diajarkan untuk patuh? Mengapa kebebasan memiliki standar yang berbeda hanya karena jenis kelamin? “Entah bagaimana, pertanyaan-pertanyaan itu mengendap begitu saja di kepala saya,” katanya. “Saya melihat teman-teman laki-laki tidak pernah menerima komentar yang sama.”

Saat itu ia belum mengenal istilah patriarki. Belum membaca Simone de Beauvoir atau Virginia Woolf. Namun ia telah menyadari bahwa ketidakadilan sering kali bersembunyi dalam kebiasaan sehari-hari. Ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang kasatmata, kadang ia hidup dalam sebuah kalimat yang dianggap lumrah, dalam aturan yang tidak pernah dipertanyakan, atau dalam tata krama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di situlah, tanpa Soe Tjen sadari, rasa ingin tahunya mulai bertumbuh. Namun pertanyaan saja tidak cukup. Pertanyaan membutuhkan teman bicara. Dan Soe Tjen menemukannya di dalam buku.

Membaca, bagi Soe Tjen, awalnya bukanlah proyek intelektual. Ia membaca karena penasaran. Karena buku menawarkan dunia yang jauh lebih luas daripada lingkungan tempat ia dibesarkan. Dari filsafat Timur seperti Tao Te Ching karya Lao Tzu hingga refleksi spiritual Anthony de Mello, dari karya-karya Pramoedya Ananta Toer hingga surat-surat Kartini, setiap bacaan membuka satu pintu menuju pertanyaan berikutnya.

Ada satu momen yang kemudian ia kenang sebagai titik balik penting. Ia menyadari bahwa hampir semua buku yang mengubah hidupnya ditulis oleh laki-laki. Mengapa? Pertanyaan itu kembali muncul. Mengapa perempuan jarang hadir sebagai produsen gagasan? Apakah mereka memang tidak menulis, atau sejarah sastra tidak memberi mereka ruang yang sama?

Pencarian itu membawanya kepada nama-nama seperti Kartini, Virginia Woolf, Alice Walker, hingga S.K. Trimurti—tokoh pergerakan Indonesia yang menulis dengan nama samaran untuk menghindari penangkapan pemerintah kolonial. “Dari situ saya mulai sadar bahwa banyak perempuan sebenarnya menulis, tetapi sering kali harus menyembunyikan identitasnya agar bisa didengar.” Kesadaran itu kemudian mengubah arah hidupnya. Ia mulai menulis. Bukan karena sejak awal bercita-cita menjadi penulis. Bukan pula karena ingin menjadi aktivis. Menulis, bagi Soe Tjen, lahir dari kebutuhan untuk berpikir lebih jernih. Untuk menguji gagasan. Untuk memahami dunia yang terasa semakin kompleks setiap kali ia membuka buku baru.

Di sinilah Soe Tjen berbeda dari banyak intelektual yang melihat politik semata sebagai perebutan kekuasaan. Ia lebih tertarik pada bahasa yang digunakan kekuasaan. Ia kerap mengingatkan bagaimana pilihan kata dapat mengubah cara masyarakat memahami kenyataan. Ketika negara menyebut dana publik sebagai “uang pemerintah”, misalnya, masyarakat perlahan lupa bahwa sumber dana itu berasal dari pajak rakyat. Ketika pembatasan terhadap perempuan disebut sebagai “perlindungan”, kontrol sosial berubah menjadi sesuatu yang tampak wajar. Ketika sejarah ditulis hanya dari sudut pandang penguasa, pelupaan perlahan berubah menjadi kebenaran resmi. “Karena itu saya selalu mengatakan, penting sekali belajar ilmu sosial dan humaniora,” katanya. “Kita belajar supaya tidak mudah dimanipulasi oleh bahasa. Kalau kita melupakan sejarah,” ujarnya, “kita akan gagal melihat pola-pola yang terus berulang.” Ia berbicara tentang kolonialisme yang membangun hierarki antara elite dan rakyat. Tentang bagaimana pola eksploitasi yang sama dapat muncul kembali dalam bentuk yang berbeda. Tentang bagaimana masyarakat terus-menerus dipecah melalui identitas agama, etnis, maupun gender sehingga kehilangan energi untuk mengawasi kekuasaan.

Dalam pembacaannya, patriarki bukan sekadar persoalan relasi laki-laki dan perempuan. Ia juga merupakan mekanisme politik yang sangat efektif. “Kalau rakyat sudah dipecah melalui patriarki, mereka sibuk saling mengontrol. Laki-laki mengontrol perempuan, perempuan diajarkan mengawasi perempuan lain. Akibatnya, perhatian tidak lagi tertuju kepada mereka yang memiliki kekuasaan.” Pandangan itu menjelaskan mengapa perempuan selalu hadir sebagai subjek utama dalam karya-karyanya. Ia tidak menulis perempuan sebagai korban. Ia menulis perempuan sebagai titik masuk untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja.

Selama bertahun-tahun, Soe Tjen mengamati bahwa hampir setiap pilihan hidup perempuan selalu dianggap membutuhkan penjelasan. Mengapa belum menikah. Mengapa memilih tidak memiliki anak. Mengapa lebih memilih bekerja. Mengapa pulang malam. Mengapa berbicara terlalu keras. Mengapa terlalu diam. “Laki-laki hampir tidak pernah ditanya dengan cara yang sama,” katanya. Menurutnya, pengalaman yang paling sering disalahpahami bukanlah kekerasan yang kasatmata, melainkan bentuk-bentuk pengendalian yang dibungkus dengan bahasa kasih sayang. “Perempuan dilarang keluar malam demi keamanan. Kedengarannya seperti perlindungan. Padahal sering kali itu adalah bentuk kontrol.” Cara berpikir semacam ini membuat Soe Tjen tidak pernah puas berhenti pada permukaan persoalan. Ia selalu bertanya: Siapa yang diuntungkan oleh cara kita memahami sesuatu? Pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan salah satu karya akademiknya yang paling penting, The End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia. Buku itu bukan sekadar penelitian tentang tragedi 1965, melainkan upaya untuk mengembalikan suara kepada mereka yang selama puluhan tahun dipaksa hidup dalam diam. Baginya, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi tindakan etis agar ingatan tetap hidup, agar suara-suara yang pernah disenyapkan tidak hilang begitu saja. Sebuah cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa pengalaman seseorang layak didengar, sekalipun negara memilih melupakannya.


Anda pernah mengatakan bahwa banyak hal dalam hidup Anda berawal dari pertanyaan. Jika melihat ke belakang, menurut Anda, dari mana kebiasaan untuk terus mempertanyakan sesuatu itu berasal?
“Saya rasa kebiasaan itu tumbuh dari pengalaman hidup saya sendiri. Saya lahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga yang pernah mengalami masa-masa sulit. Kami hidup sederhana, bahkan miskin. Saya masih ingat hanya memiliki beberapa boneka, sementara ketika bermain ke rumah sepupu saya melihat mereka mempunyai begitu banyak mainan. Dari situ saya mulai sadar bahwa kehidupan setiap orang ternyata tidak sama. Tetapi yang lebih membentuk saya adalah kenyataan bahwa ayah saya pernah menjadi tahanan politik. Saya memang lahir setelah peristiwa 1965, tetapi saya tumbuh bersama cerita-cerita ibu tentang bagaimana sebuah keluarga bisa kehilangan hampir segalanya karena fitnah dan kekuasaan. Pengalaman itu membuat saya mengerti sejak kecil bahwa sejarah bukan sekadar sesuatu yang tertulis di buku pelajaran. Ia hidup di dalam rumah, di dalam ingatan keluarga, dan sering kali di dalam luka yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ironisnya, saya sendiri dibesarkan pada masa Orde Baru. Saya juga dididik untuk membenci komunisme tanpa pernah diberi kesempatan memahami sejarahnya secara utuh. Baru ketika membaca lebih banyak, saya menyadari bahwa banyak hal yang selama ini saya anggap sebagai kebenaran ternyata hanyalah satu versi dari sebuah cerita yang jauh lebih kompleks. Saya pikir, dari situlah kebiasaan bertanya itu muncul. Saya belajar bahwa menerima sesuatu begitu saja sering kali membuat kita berhenti berpikir.”

Buku tampaknya menjadi teman yang sangat penting dalam hidup Anda. Apa yang sebenarnya Anda cari ketika membaca?
“Awalnya saya membaca karena penasaran. Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi akademisi atau penulis. Bahkan, sebagai orang Tionghoa, saya justru tumbuh dengan keinginan untuk hidup biasa saja. Sekolah, bekerja, tidak ikut urusan politik. Itu terasa lebih aman. Tetapi buku membawa saya ke tempat yang tidak pernah saya bayangkan. Saya membaca Lao Tzu, Anthony de Mello, Pramoedya Ananta Toer, lalu suatu hari saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa hampir semua penulis yang mengubah cara berpikir saya adalah laki-laki? Ke mana perempuan-perempuan yang menulis? Apakah mereka memang tidak ada, atau sejarah tidak memberi mereka ruang? Pertanyaan itu membawa saya menemukan Kartini, Virginia Woolf, Alice Walker, hingga S.K. Trimurti. Saya terkejut mengetahui bahwa banyak perempuan sebenarnya memiliki gagasan yang sangat kuat, tetapi sering kali harus berjuang dua kali lebih keras agar didengar. Bahkan ada yang menggunakan nama samaran demi bisa menerbitkan tulisannya. Sejak saat itu saya mulai menyadari bahwa membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan. Membaca mengajarkan kita untuk melihat siapa yang berbicara, siapa yang dibungkam, dan mengapa.”

Perempuan selalu menjadi pusat dari karya-karya Anda. Apa yang membuat tema itu terus kembali?
“Karena saya melihat pengalaman perempuan masih sangat sering diperlakukan berbeda. Sampai hari ini, hampir setiap keputusan yang diambil perempuan selalu dianggap perlu dijelaskan. Mengapa belum menikah. Mengapa memilih tidak memiliki anak. Mengapa bekerja. Mengapa pulang malam. Mengapa berbicara terlalu lantang.

Yang membuat saya tertarik bukan sekadar pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi mengapa pertanyaan yang sama hampir tidak pernah diajukan kepada laki-laki. Saya juga melihat bagaimana kontrol terhadap perempuan sering kali dibungkus dengan bahasa yang terdengar baik. Misalnya, perempuan dilarang keluar malam demi keamanan. Kedengarannya seperti perlindungan, tetapi sesungguhnya yang dibatasi adalah kebebasan perempuan, bukan perilaku pelaku kekerasan. Karena itu saya selalu mengatakan bahwa kita perlu kritis terhadap bahasa. Kata-kata tidak pernah netral. Bahasa bisa menjadi alat untuk membebaskan, tetapi juga bisa menjadi alat untuk mengontrol. Ketika sebuah pembatasan terus-menerus disebut sebagai bentuk kasih sayang, lama-lama kita berhenti menyadari bahwa kebebasan kita sedang dipersempit.”

Anda banyak menulis tentang sejarah, terutama tragedi 1965. Apa yang membuat Anda merasa penting untuk terus kembali ke masa lalu?

Karena saya percaya sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia terus hidup dalam bentuk yang berbeda. Kalau kita melupakan sejarah, kita akan kesulitan mengenali pola-pola yang sedang berulang. Kita tidak akan melihat bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana masyarakat dipecah, bagaimana bahasa digunakan untuk membenarkan ketidakadilan. Saya sering mengatakan bahwa sejarah bukan untuk membuat kita hidup di masa lalu. Justru sebaliknya, sejarah membantu kita membaca masa kini dengan lebih jernih. Bagi saya, mengingat juga merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang selama ini tidak diberi kesempatan untuk bersuara. Banyak korban yang bukan hanya kehilangan keluarga atau masa depan, tetapi juga kehilangan hak untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Kalau kita memilih diam, bukankah kita sedang mengulangi penghapusan itu?”

Dalam novel maupun tulisan akademik Anda, hampir tidak pernah ada jawaban yang benar-benar final. Mengapa?
“Karena saya sendiri tidak percaya kehidupan menyediakan jawaban yang sederhana. Saya memang sengaja tidak menutup semua pertanyaan di akhir cerita. Saya ingin pembaca tetap berpikir setelah menutup buku. Saya ingin mereka membawa pulang kegelisahan itu, bukan sekadar menyelesaikan sebuah cerita. Menurut saya, fungsi sastra bukan memberi ceramah atau mengarahkan orang pada satu kesimpulan tertentu. Sastra membuka kemungkinan. Ia membuat kita melihat dunia dari sudut pandang yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Semakin banyak saya membaca, semakin saya sadar bahwa dunia jauh lebih kompleks daripada yang saya kira. Dan justru karena itu, pertanyaan saya hari ini jauh lebih banyak dibandingkan ketika saya masih muda.”

Apa arti kebebasan bagi Anda?
“Kebebasan adalah kemampuan untuk berpikir tanpa rasa takut. Bukan berarti kita harus selalu menentang semua hal, tetapi kita berani menguji apa yang selama ini dianggap sebagai kebenaran. Kita berani bertanya, bahkan kepada keyakinan yang kita miliki sendiri. Menurut saya, itulah mengapa pendidikan, sastra, musik, dan seni begitu penting. Semuanya mengajarkan kita untuk melihat dunia dari lebih dari satu sudut pandang. Ketika seseorang kehilangan kemampuan itu, ia menjadi jauh lebih mudah dimanipulasi. Kebebasan juga berarti memberi ruang kepada orang lain untuk berpikir berbeda. Kalau kita hanya ingin mendengar suara yang sama dengan suara kita sendiri, sebenarnya kita tidak sedang mencari kebenaran. Kita hanya sedang mencari pembenaran.”

Setelah puluhan tahun menulis, mengajar, dan berkarya, pertanyaan apa yang masih terus Anda bawa hingga hari ini?
“Saya masih terus bertanya bagaimana kita bisa membangun masyarakat yang lebih adil. Bagaimana sebuah negara benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Bagaimana pendidikan bisa melahirkan manusia yang berpikir kritis, bukan sekadar menghafal. Bagaimana perempuan bisa hidup tanpa harus terus-menerus mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya. Dan bagaimana kita bisa belajar dari sejarah tanpa terus mengulang kesalahan yang sama. Saya rasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah selesai. Tetapi saya juga tidak merasa harus menemukan semua jawabannya. Barangkali tugas saya memang bukan memberikan jawaban. Tugas saya adalah terus menulis, terus membaca, terus mengajar, dan terus mengajak orang untuk berpikir. Sebab selama manusia masih bersedia bertanya, saya percaya selalu ada harapan untuk berubah.”