LIFE

28 Agustus 2025

Vialina Lemann dalam Irama Tubuh dan Panggung Cahaya


PHOTOGRAPHY BY IKMAL AWFAR styling SIDKY MUHAMADSYAH

Vialina Lemann dalam Irama Tubuh dan Panggung Cahaya

photography IKMAL AWFAR styling SIDKY MUHAMADSYAH makeup RANGGI PRATIWI (The A Team) hair COSMELYNN styling assistant NADINE JANUARDY & ALEXANDRA Y. LUBERIZKY furniture DJALIN

Dalam perjalanan hidup seorang perempuan, transformasi bukanlah sekadar perubahan bentuk, melainkan pengungkapan jati diri yang lebih utuh. Di titik inilah kita menemukan Vialina Lemann—seorang perempuan yang menulis ulang kisahnya dari arena senam ke catwalk dunia. Ia bukan sekadar berpindah ranah; ia mengukir ulang makna keberdayaan perempuan. Dari lantai senam yang penuh disiplin menuju panggung mode yang menuntut keanggunan dan ekspresi, Vialina membuktikan bahwa keberanian untuk bermetamorfosis adalah bentuk kecerdasan. Ia memilih untuk berdaya dengan caranya sendiri: dengan tubuh yang dulu dilatih untuk ketepatan, kini digunakan untuk menyampaikan estetika, seni, dan narasi tentang perempuan yang tak bisa dibatasi satu peran.

Fakta menarik: menurut riset yang dilakukan Women in Sports Foundation, perempuan yang aktif dalam olahraga sejak dini cenderung lebih percaya diri, berani mengambil keputusan, dan memiliki resiliensi tinggi di berbagai bidang kehidupan. Vialina adalah cerminan nyata dari data ini. Ia membuktikan bahwa kemampuan atletik tak menghalangi kehalusan jiwa seni—melainkan justru melengkapinya.


Lahir di Uzbekistan dan tumbuh besar di Rusia, Vialina menapaki dunia sebagai atlet senam ritmik profesional yang bergelar Master of Sports, sebuah predikat bergengsi di dunia olahraga bekas Uni Soviet. Ia memahami sejak dini bahwa tubuh bukan hanya instrumen fisik, melainkan bahasa yang mampu menyampaikan ketekunan, harmoni, dan ekspresi. Namun titik balik datang ketika ia menyadari bahwa gerakannya dapat menemukan dimensi lain di luar dunia senam—di dunia mode, tempat tubuh juga bercerita, namun dengan lensa yang berbeda.

“Transisi ini sangat alami bagi saya, meskipun awalnya tidak terduga. Senam ritmik tidak hanya memberi saya latihan fisik, tetapi juga pemahaman tentang estetika, keanggunan, kemampuan untuk bekerja dengan tubuh dan merasakan ritme – dan semua ini menjadi keuntungan dalam pemodelan,” ujar Vialina. Mode, baginya, bukan pelarian, melainkan ekspansi.

Dari catwalk Paris Haute Couture Week hingga Milan Fashion Week, Vialina menjejakkan langkahnya di panggung-panggung prestisius, menghadirkan sosok yang memadukan kekuatan fisik dan pesona visual. Perjalanannya adalah simfoni antara presisi dan spontanitas—dua kualitas yang tampaknya bertolak belakang namun justru melebur dalam dirinya.

Ia pernah tampil dalam editorial L’Officiel Fashion Book Australia edisi Maret 2025 bersama fotografer Veronika Orlova dan produser Irina Chernyak, serta menjadi wajah utama Iconic Artist edisi Autumn/Winter 2024-2025 dalam balutan visual karya Alexandra Leroy. Di hadapan kamera, tubuhnya menjadi medium seni. Di balik layar, pikirannya menyusun strategi untuk terus berkembang.


Namun akar tetap penting bagi Vialina. Warisan budaya Uzbekistan yang menjunjung tinggi kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah membentuk landasan dirinya. “Kombinasi antara percaya diri dan keterbukaan terhadap dunia datang dari pemahaman akan budaya sendiri,” tuturnya. Nilai-nilai itu menjadi kunci dalam menavigasi industri mode yang lintas budaya dan penuh dinamika.

Bekal disiplin dari dunia senam menjadi modal berharga di industri mode yang tak kalah kompetitif. Dunia yang tampak gemerlap di luar, sejatinya menyimpan tekanan dan tuntutan tinggi di dalamnya. Namun Vialina mampu bertahan, bukan karena ia mengejar kesempurnaan, tapi karena ia sudah terbiasa dengan tekanan sejak usia dini. “Fokus pada hasil, jangan tenggelam dalam kekacauan,” adalah prinsip hidup yang ia bawa dari dunia olahraga ke dunia modeling.

Momen yang paling ia kenang? Paris. “Peragaan busana pertama saya di Paris begitu berkesan. Rasanya campur aduk saat tahu bahwa saya berdiri di panggung yang sama tempat para model legendaris memulai karier mereka. Saat itulah saya sadar: ya, saya di sini. Dan ini baru permulaan,” kenangnya.

Dalam sosok Vialina Lemann, kita melihat lebih dari sekadar model. Ia adalah potret perempuan masa kini: berani berganti medan, setia pada nilai, dan tetap tampil dengan elegansi yang bukan dibuat-buat, melainkan dibentuk dari perjalanan hidup yang tak pernah singkat. Di dunia yang menuntut perempuan untuk selalu memilih salah satu peran—kuat atau anggun, disiplin atau ekspresif—Vialina memilih untuk menjadi semuanya, dan menjadi dirinya sendiri.

Setelah menapaki kisah hidup dan kariernya, kami duduk bersama Vialina dalam percakapan intim yang penuh refleksi. Lewat kata-kata yang jujur dan tajam, ia membuka sisi lain dari dirinya—seorang perempuan yang menyadari kekuatannya, menyambut ketidaksempurnaan, dan merayakan hidup dengan utuh.


Apakah ada nilai atau disiplin dari dunia olahraga yang masih Anda bawa ke dalam dunia mode?
“Disiplin diri, konsentrasi, dan rasa hormat terhadap tubuh. Dari senam, saya belajar menahan tekanan—baik fisik maupun psiko-emosional—yang juga saya temui di industri ini. Saya belajar bekerja bersama rasa sakit dan ketakutan, bukan melawannya, melainkan mengubahnya menjadi energi panggung yang hidup.”

Apa tantangan terbesar Anda saat pertama kali memasuki industri modeling internasional?
“Mungkin yang paling berat adalah kesepian, dan perasaan bahwa Anda harus terus-menerus membuktikan nilai diri. Datang dari bekas Uni Soviet, saya dibentuk untuk kuat, tetapi kenyataannya, saya sangat rapuh di dalam. Saya pernah menangis diam-diam di malam hari. Tapi setiap pagi, saya tetap naik ke runway dengan kepala tegak.”

Bagaimana Anda mendeskripsikan gaya pribadi Anda—di luar panggung peragaan busana?
“Itu perpaduan antara kekuatan spiritual, feminitas yang organik, dan sedikit pemberontakan intelektual. Gaya saya bukan tentang tren, tapi tentang berbicara pada dunia tanpa kata-kata. Kadang lewat sutra lembut, kadang lewat kulit dan baja.”

Industri mode terkenal keras dan kompetitif. Bagaimana Anda mempertahankan keaslian diri?
“Saya tidak berusaha menyesuaikan diri. Saya memilih menjadi diri sendiri, meskipun lebih sulit. Saya percaya bahwa kecantikan sejati bukanlah wajah, tapi kondisi batin. Jika saya kehilangan jati diri, saya kehilangan segalanya. Dan itu harga yang terlalu mahal.”


Siapa sosok atau rumah mode yang paling menginspirasi Anda selama ini?
“Alexander McQueen, untuk puisinya yang gelap. Iris Apfel, karena keberaniannya menjadi diri sendiri melewati batasan waktu. Tapi juga, saya terinspirasi oleh perempuan yang tetap cantik meski dalam keheningan, jauh dari kamera dan sorot publik.”

Dari Paris hingga Milan, panggung peragaan mana yang paling mengubah cara pandang Anda terhadap industri ini?
“Paris dan Milan punya keajaiban tersendiri. Di sana, Anda merasa bukan sekadar bagian dari industri, tetapi bagian dari seni. Saya pernah berjalan di sebuah pertunjukan di Paris dan merasakan sensasi seperti keluar dari tubuh—seolah melayang di antara dunia. Saat itulah saya sadar: fashion bisa menjadi transenden.”

Anda adalah contoh bahwa perempuan bisa berpindah medan dari olahraga ke mode. Apa arti ‘pemberdayaan’ bagi Anda?
“Pemberdayaan adalah saat kita tak lagi takut menjadi diri sendiri. Saat kita berhenti meminta izin untuk bersinar. Ketika langkah kita menginspirasi perempuan lain agar hidup dengan berani, penuh percaya diri, dan tak tunduk pada bayang-bayang siapa pun.”

Apa pesan Anda untuk para perempuan yang sedang mengejar mimpi?
“Percayalah pada kedalaman dirimu. Dunia akan terus menguji dan meremehkan, bahkan ketika kita punya kecantikan dan kecerdasan sekaligus. Tapi jangan biarkan rasa takut lebih besar dari impianmu. Sekalipun kamu berjalan sendirian, bukan berarti jalan itu salah.”


Bagaimana Anda merayakan tubuh dan keunikan Anda sendiri di tengah tekanan standar kecantikan?
“Saya tidak menilai, apalagi menghakimi tubuh saya. Saya menerimanya sepenuhnya. Tubuh ini adalah rumah dan kuil. Ia pernah menanggung luka, tapi juga memberi saya kekuatan. Di titik ini, saya tidak perlu sempurna. Saya hanya perlu otentik.”

Apa hal yang belum banyak diketahui orang tentang Anda di luar kamera dan runway?
“Bahwa saya sering menulis puisi dan teks filsafat saat malam. Tentang manusia, bintang-bintang, dan dunia lama yang tak lagi dikenal. Saya lebih suka kesunyian daripada keramaian, dan saya bisa mencintai—bahkan ketika itu menyakitkan.”

Apakah Anda punya ritual kecil yang membantu Anda tetap imbang dan merasa ‘penuh’ di tengah jadwal yang padat?
“Saya menciptakan ruang yang sering dilupakan: bernapas perlahan, berjalan saat matahari terbit, mematikan notifikasi. Saya mendengarkan tubuh saya, menghormatinya. Kadang saya hanya berbaring di lantai dan tidak melakukan apa-apa. Itu juga produktivitas.”


Bagaimana Anda tetap terhubung secara mental, emosional, dan spiritual dengan diri Anda?
“Melalui tulisan. Melalui meditasi dan percakapan jujur dengan diri sendiri. Saya belajar mendengarkan perasaan saya, bahkan yang paling gelap. Dan yang terpenting: cinta. Saya memastikan setiap hari saya punya cinta untuk orang-orang, untuk hidup saya, dan untuk diri saya sendiri.”

Adakah mimpi lain yang ingin Anda wujudkan di luar dunia modeling?
“Saya ingin merancang lini pakaian sendiri. Bukan sekadar mode, tapi manifesto dalam bentuk kain. Saya ingin tiap potongannya berbisik kepada pemakainya: ‘Kamu cukup.’ Estetika, kekuatan, kerentanan, mitos—semuanya akan menjadi jejak budaya yang bisa dikenakan.”

Dalam lima tahun ke depan, siapa Vialina Lemann?
“Perempuan yang bebas, independen, bahagia. Saya akan menerbitkan buku, bermain di film-film festival internasional. Apapun bentuknya, saya akan jadi perempuan yang tahu caranya menjaga keseimbangan: antara terang dan gelap, tawa dan tangis, gagal dan bangkit.”