BEAUTY

15 Januari 2026

Bahaya Misinformasi yang Semarak Di Ruang Kesehatan Holistik


Bahaya Misinformasi yang Semarak Di Ruang Kesehatan Holistik

text by Shannon Mahanty

Di bulan Juni 2025 silam, di pedesaan Inggris yang hijau dan berbukit, para pengunjung festival yang memiliki visi yang sama berkumpul selama empat hari untuk mencari hiburan. Di siang hari, mereka menyantap hidangan organik, mengikuti kelas pernapasan, dan menghadiri acara bincang-bincang dengan pembicara yang terkenal kontrarian. Pada malam hari, mereka menonton pertunjukan akustik, berdansa dengan iringan DJ, dan duduk mengelilingi api unggun hingga dini hari. Namun ini bukanlah Glastonbury. Sounds Beautiful di Dorset adalah festival untuk gerakan yang disebut ‘Freedom Movement’—koalisi lepas antara pendukung kesehatan alami dan para penganut teori konspirasi. Di tengah maraknya hiburan, ada beberapa influencer yang mempromosikan diet meragukan, berbagai teori konspirasi vaksin, dan tentu saja—tidak ada 5G. Sejak pandemi Covid—ketika dunia menjadi lebih terisolasi, cemas, dan hidup secara daring—budaya ‘wellness’ dan teori konspirasi telah bertabrakan secara dramatis. Apa yang awalnya hanya keinginan polos untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental dapat berubah menjadi jurang misinformasi, terutama di dunia maya, ketika algoritma media sosial menyalurkan pengguna ke konten yang semakin ekstrem—mulai dari meminum urin sendiri sebagai obat Covid hingga mengobati kanker dengan enema kopi. Di Amerika Serikat dan Inggris, tren ini semakin berbau politik; ide-ide ‘kesehatan ekstrem’ diambil alih oleh gerakan sayap kanan yang menganggap pilihan semacam ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kendali pemerintah dan budaya ‘woke’ yang mendukung perawatan kesehatan berbasis bukti.

Lee Tilghman adalah mantan influencer kesehatan yang baru saja menerbitkan memoarnya If You Don’t Like This, I Will Die, yang menceritakan dampak budaya internet terhadap dirinya. Apa yang berawal dari unggahan mangkuk smoothie dan pakaian olahraga segera berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. “Saya menemukan sebuah strategi konten,” tulisnya. “Semakin masuk dalam ruang pribadi, semakin baik. Semakin ekstrem, semakin baik. Saya mulai membuat banyak unggahan ‘berhenti’: mengapa saya berhenti minum kopi, kafein, gula. Performa unggahan seperti ini sangat bagus, dan algoritma tampak menyukainya. Akun saya bahkan beberapa kali muncul di halaman explore, menaikkan jumlah pengikut secara drastis.”

photo freepik.

Tilghman tidak hanya membuat konten yang meragukan, tapi juga mengonsumsinya. Ia menulis tentang hanya makan pisang selama dua hari setelah membaca klaim daring tentang efek ‘detoks’-nya, serta mengoleskan darah menstruasi ke wajahnya (#periodbloodfacemask memiliki lebih dari tujuh juta tayangan di TikTok). Di 2019, ia berhenti sementara dari Instagram setelah menyadari dirinya mengalami orthorexia, gangguan makan yang ditandai dengan obsesi berlebihan terhadap makanan yang dianggap ‘murni’ atau ‘sehat’. “Yang menarik saya ke dalam dunia wellness adalah janji bahwa saya bisa menemukan nirwana, kesempurnaan, dan kendali jika saya terus mendalaminya,” katanya. “Kegelapan muncul saat saya menyadari janji itu kosong.” Beberapa bulan kemudian, ia kembali ke media sosial sebagai pengkritik budaya wellness daring, memperingatkan perempuan lain agar tidak terjebak. “Menemukan definisi saya sendiri tentang kesehatan dan perawatan diri—jauh dari audiens dan sorotan—membuat saya lebih seimbang dan tidak ekstrem.”

Sebuah laporan Parlemen Inggris tahun 2024 menemukan bahwa orang lebih mudah percaya pada disinformasi jika sering terpapar, jika hal itu sejalan dengan keyakinan mereka, memicu emosi, atau datang dari sumber yang dipercaya. “Dengan menyelaraskan diri pada hal yang dianggap ‘alami’ dan ‘murni’, para influencer kesehatan alternatif yang menyebarkan teori konspirasi dapat memosisikan diri sebagai individual yang lebih tercerahkan ketimbang masyarakat umum,” ujar Stephanie Alice Baker, penulis dan akademisi yang meneliti penyebaran informasi palsu. “Mereka lalu membantu pengikutnya ‘melihat cahaya’ dalam perjalanan menuju pencerahan spiritual.”

photo Freepik.

Ambil contoh kontroversi susu mentah. Meski hampir tidak ada bukti ilmiah tentang manfaat kesehatannya (seperti pencernaan yang lebih baik atau peningkatan imun), tokoh publik seperti Gwyneth Paltrow dan Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr, mempromosikan susu tidak dipasteurisasi sebagai ‘superfood’. Padahal, minum susu mentah meningkatkan risiko infeksi serius; penelitian AS menemukan bahwa produk susu tidak dipasteurisasi menyebabkan penyakit 840 kali lebih banyak daripada yang dipasteurisasi. Namun, mitos itu bertahan—500 video TikTok bertagar #RawMilk telah ditonton lebih dari 231 juta kali. Di Inggris, pandemi memperburuk ketidakpercayaan terhadap NHS yang sudah kewalahan, dan semakin banyak orang menolak nasihat medis berbasis bukti demi informasi ‘wellness’ palsu. Di AS, tren susu mentah menyebabkan peningkatan rawat inap menurut CDC. Sementara di Inggris, misinformasi tentang susu juga menyebar luas. Tahun lalu, Arla Foods meluncurkan Bovaer, senyawa sintetis yang menekan produksi metana pada sapi perah hingga 30%, berpotensi membantu krisis iklim. Namun, pendukung susu mentah menuduh tanpa bukti bahwa zat tersebut menyebabkan kemandulan dan merupakan alat para ‘elit global’ untuk mengendalikan populasi. Video protes dengan orang-orang menuangkan susu ke toilet pun viral.

Saat berbicara tentang kesehatan, banyak dari kita mencari nasihat atau komunitas di internet, tetapi konten kesehatan berbahaya berkembang di ruang digital yang kurang diawasi. Awal tahun ini, film dokumenter Apple Cider Vinegar di Netflix menyoroti kisah nyata Belle Gibson, influencer kesehatan asal Australia yang memalsukan penyakit tumor otak dan mengaku menyembuhkannya lewat diet. Ia memperoleh 200.000 pengikut dalam setahun, meluncurkan aplikasi, dan menandatangani kontrak buku resep sebelum akhirnya terbongkar sebagai penipu. Influencer seperti Gibson dan guru yoga yang menjadi pemimpin kultus seperti Guru Jagat dan Bikram Choudhury (masing-masing jadi subjek dokumenter HBO dan Netflix) sering menargetkan perempuan dengan mengeksploitasi kegoyahan mereka terkait tubuh, kesuburan, dan menopause—dengan dalih pemberdayaan. “Selama beberapa dekade, kesehatan perempuan kurang diteliti, kurang didanai, dan sering diabaikan,” kata Dr. Tosin Sotubo-Ajayi, dokter dan advokat kesehatan perempuan. “Dunia online memberi perempuan ruang untuk bersuara. Banyak yang merasa dikecewakan oleh layanan kesehatan tradisional, sehingga mereka mencari nasihat di tempat lain— termasuk ruang daring di mana misinformasi tumbuh subur.”

“Saya sering melihat hal-hal online—seperti perempuan yang membahas apakah mereka harus memakan plasenta atau hanya makan makanan mentah—tapi saya memilih untuk tidak mengonsumsi konten semacam itu,” ucap Delia Baker, guru yoga dan ahli akupunktur di London. Karena selektif dalam mengikuti akun, algoritmanya tidak menjerumuskannya ke dunia teori konspirasi, namun ia menyadari bagaimana ide wellness yang keluar dari konteks bisa menjadi berbahaya. “Rentang perhatian kita sangat pendek di media sosial. Misalnya, ide dari pengobatan Tiongkok tentang makan lebih sedikit di malam hari masuk akal jika dijelaskan, tapi jika muncul sekilas sebagai tren intermittent fasting, konteksnya hilang—padahal efeknya bisa berbeda pada hormon dan kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki.”

photo Freepik.

Jalur dari wellness yang menjerumuskan ke dalam teori konspirasi sering dikaitkan dengan era post-truth dalam politik AS. Para miliarder seperti Mark Zuckerberg dan Elon Musk menciptakan iklim digital yang subur bagi teori konspirasi dengan menghapus pemeriksa fakta demi keuntungan politik. Di Inggris, partai Reform UK menggunakan taktik serupa, menarik simpati kelompok yang kecewa dengan memperkuat teori konspirasi. Beberapa kandidatnya menyebarkan misinformasi daring, mulai dari konten anti-vaksin hingga klaim bahwa krisis iklim adalah tipuan. Andrea Whitehead, kandidat untuk Leeds West dan Pudsey, membagikan konten tentang ‘chemtrail’, mengklaim asap pesawat digunakan untuk mengendalikan cuaca dan pasokan makanan. Pada 2021, seorang perawat NHS dipecat karena menyebarkan konten anti-vaksin. Kate Shemirani—salah satu pengisi utama festival Sounds Beautiful—menyebut dirinya ‘Perawat Alami di Dunia Beracun’ dan berperan besar dalam protes anti lockdown selama pandemi. Ia membandingkan staf NHS dengan penjahat perang Nazi dan memungut ratusan pound untuk konsultasi ‘kesehatan alami’. Dua tahun silam, putrinya, Paloma Shemirani, meninggal di usia 23 tahun setelah menolak kemoterapi untuk limfoma non-Hodgkin, padahal dokter mengatakan peluang sembuhnya 80% jika diobati.

“Sudah hampir setahun sejak saudari saya meninggal—saya belum pernah tidur tanpa mimpi buruk tentang apa tindakan berbeda yang bisa saya lakukan,” papar Sebastian Shemirani, yang bersama saudaranya Gabriel kini berkampanye melawan misinformasi kesehatan dan menyerukan regulasi lebih ketat terhadap industri wellness. Ia mengatakan pandangan ibunya selalu dibentuk oleh paranoia, dan sejak remaja ia serta saudaranya mulai mempertanyakan ideologinya. “Ia sangat narsistik dan suka menentang arus—teori konspirasi hanyalah manifestasi dari sifatnya itu.” Di bulan Juli 2025, dalam sidang kematian Paloma, Kate menyalahkan paramedis dan menyangkal bahwa dirinya memengaruhi keputusan putrinya menolak kemoterapi.

Bagi Sebastian, isu ini bukan hanya soal hukum, tapi juga soal gender—teori konspirasi menargetkan kerentanan manusia. Skema cepat kaya dan influencer misoginis seperti Andrew Tate dan Jordan Peterson memanfaatkan rasa tidak aman dan kehilangan status pada laki-laki. “Teori konspirasi perempuan sering berpusat pada kesehatan,” katanya. “Orang-orang ini akan menghubungkan berbagai ide jika itu menguntungkan mereka. Jalurnya bisa dari hal yang tampaknya tidak berbahaya hingga mematikan—dari yoga mat dan suplemen palsu hingga akhirnya ideologi anti-vaksin dan anti-medis, seperti yang menimpa saudari saya.”

Kisah mereka diangkat dalam dokumenter BBC Panorama Cancer Conspiracy Theories: Why Did Our Sister Die?, yang mengikuti kampanye mereka melawan misinformasi kesehatan yang mematikan. Karena tekanan dari mereka, pemerintah Inggris kini menanggapi serius masalah misinformasi online. Di Maret silam, Ofcom diberi wewenang untuk mendenda perusahaan teknologi hingga 10% dari pendapatan global mereka jika gagal menurunkan konten berbahaya. Langkah baru juga diperkenalkan untuk meningkatkan transparansi algoritma dan mengatasi konten buatan AI. “Kita perlu menciptakan ruang yang aman dan tidak menghakimi, di mana rasa ingin tahu disambut tapi diarahkan dengan informasi kredibel,” ucap Dr. Sotubo-Ajayi. “Kita punya tanggung jawab besar untuk mendengarkan kebutuhan orang dan menanggapinya dengan informasi berbasis bukti. Wellness harus berhenti dipasarkan sebagai kemewahan, dan mulai dipandang sebagai hak dasar manusia.”