CULTURE

2 September 2026

BIASA Art Hadirkan Ready to Be Seen N.1, Panggung Perdana Jasmine Ansori dan Josephine Kingsley di Ubud


BIASA Art Hadirkan Ready to Be Seen N.1, Panggung Perdana Jasmine Ansori dan Josephine Kingsley di Ubud

Text by Varisha Wira; (Photo DOC. BIASA Art)

BIASA Art Ubud menghadirkan ekshibisi bertajuk Ready To Be Seen N.1 mulai 1 September 2026, berlangsung hingga 15 November mendatang. Pameran ini mempertemukan karya Jasmine Ansori dan Josephine Kingsley, sekaligus menandai pembuka dari program rangkaian sembilan pameran yang dirancang guna menghadirkan seniman serta praktik artistik yang belum banyak terlihat oleh publik. 

Program ini berfokus pada seniman yang berdomisili dan berkarya di Indonesia, dipilih berdasarkan kekuatan estetika sekaligus komitmen mereka terhadap proses berkarya. Melalui format yang memberi keleluasaan pada masing-masing praktik, BIASA Art menawarkan ruang perjumpaan antara karya, penikmat seni, hingga calon kolektor. Harga yang dibuat lebih terjangkau turut membuka kemungkinan bagi pengunjung untuk memulai koleksi pribadi, atau mempertimbangkan sebuah karya komisi tanpa harus merasa berjarak dari dunia seni.

Ruang masuk READY TO BE SEEN N.1, pembuka dari rangkaian sembilan ekshibisi BIASA Art. (Photo DOC. BIASA Art)

Di ruang pamer berdinding putih dan berlantai gelap, skala karya yang cenderung intim mengubah cara pandang menjadi lebih personal. Pengunjung diajak mendekat, memperhatikan permukaan, lalu membaca kembali jejak tangan yang tersimpan di dalamnya. Di sinilah dua pendekatan yang berbeda mulai menemukan percakapannya: Jasmine mengeluarkan cahaya dari lapisan arang, sementara Josephine membiarkan cahaya berpantul dan berpindah melalui permukaan berlapis.

Lanskap yang Muncul dari Proses Menghapus

Jasmine Ansori (lahir 1997), alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, bekerja lintas seni rupa, desain grafis, dan media digital. Untuk Ready To Be Seen N.1, ia kembali pada medium gambar melalui lanskap-lanskap arang—bentuk alam muncul, menghilang, kemudian terlihat kembali dalam format sederhana yang berulang, sebuah susunan yang menjadikan gestur halus dari bubuk arang sebagai pusat perhatian.

Jasmine Ansori di antara karya-karya lanskap arangnya. (Photo DOC. BIASA Art)

Proses menggambarnya bergerak secara terbalik. Alih-alih menambahkan garis, Jasmine menghapus jejak yang sudah ada agar cahaya dapat perlahan membentuk citra. Metode tersebut membuat tindakan menghapus tak berakhir sebagai penghilangan, melainkan menjadi cara untuk mengingat. Lanskap pun tak sekadar hadir sebagai pemandangan, namun juga sebagai ruang antara mata dan pikiran, tempat sebuah impresi bertahan setelah tubuh meninggalkannya.

“Alih-alih menambahkan garis pada permukaan, saya menghapus jejak yang telah ada dan membiarkan cahaya yang muncul menuntun gambar menuju bentuk akhirnya. Setiap tindakan menghapus menjadi tindakan mengingat: sebuah pencarian akan tempat cahaya keluar dari kegelapan.”

JASMINE ANSORI

Instalasi Karya Jasmine Ansori; (Photo DOC. BIASA art)

Kedalaman gambar-gambar ini lahir dari ketelitian, namun tak lantas menutup akses bagi penonton. Sebaliknya, suasana yang ambigu justru memberi ruang bagi setiap orang untuk membentuk lanskap batinnya sendiri. Dengan memperlambat pandangan, detail-detail kecil menjadi pintu menuju pembacaan tentang ingatan, perubahan, dan kefanaan.

Permukaan yang Menyimpan Sentuhan

Josephine Kingsley (lahir 2000), berlatar pendidikan Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura, mengembangkan praktiknya melalui eksplorasi independen. Ia banyak bekerja dengan lukisan dan media campuran untuk mengamati hubungan antara ingatan, materialitas, dan tempat. Tekstur, ketidaksempurnaan, hingga kualitas fisik material menjadi cara untuk membaca bagaimana benda sehari-hari menyimpan pengalaman personal maupun kolektif.

Josephine Kingsley bersama rangkaian karya yang memadukan gestur, lapisan, dan material reflektif. (Photo DOC. BIASA Art)

Melalui pastel minyak, akrilik, dan lembaran metalik, Josephine membangun permukaan yang mempertahankan ketegangan antara struktur dan kelembutan. Fragmentasi tidak ditempatkan sebagai keretakan, melainkan sebagai kondisi yang memungkinkan beberapa keadaan hadir bersamaan. Lapisan demi lapisan mencatat waktu, keraguan, keputusan, serta negosiasi antara kendali seniman dan respons material.

“Saya tertarik pada bagaimana permukaan mengingat sentuhan dan bagaimana lapisan merekam waktu, keraguan, serta keputusan. Lembaran metalik hadir bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai interupsi: jeda reflektif yang menangkap cahaya dan meminta penonton memperlambat perhatian.”

JOSEPHINE KINGSLEY

Karya-karya Josephine Kingsley (Photo DOC. BIASA Art)

Jika Jasmine menemukan terang melalui pengurangan, Josephine menghadirkannya sebagai pantulan. Pertemuan keduanya tak dipaksakan ke dalam satu bahasa visual—kekuatan ekshibisi ini justru terletak pada jarak di antara praktik mereka. Yang satu membuat bentuk muncul dari debu arang, sementara yang lain menyusun pengalaman melalui akumulasi warna dan juga material. Keduanya sama-sama meminta waktu untuk melihat, mengingat, dan menyadari bagaimana sebuah permukaan dapat menyimpan pengalaman.

Josephine Kingsley dan Jasmine Ansori di BIASA Art Ubud. (Photo DOC. BIASA Art)

Ready to Be Seen N.1 melanjutkan perhatian BIASA Art terhadap praktik berbasis material, hubungan antara seni dan kriya, serta kebebasan proses. Berdiri di Bali sejak 2005 dan kini beroperasi di Bali serta Jakarta, institusi ini telah membangun jejaring dengan sejumlah platform seni, termasuk Galeri Nasional Indonesia, MACRO Roma, Delfina Foundation London, dan Paviliun Indonesia di Venice Biennale.

Namun dalam pameran ini, skala institusional tersebut kembali diarahkan pada sebuah gestur sederhana: memberi tempat bagi dua suara artistik untuk dilihat, sekaligus memberi publik kesempatan untuk memulai hubungan yang lebih dekat dengan karya seni. Sesuai namanya, Ready To Be Seen bukan sekadar pernyataan kesiapan para seniman—ia juga menjadi undangan bagi penonton untuk benar-benar hadir dan melihat.