CULTURE

5 April 2024

Diriyah Contemporary Art Biennale: Ajang Pameran Seni Kontemporer Di Arab Saudi


Diriyah Contemporary Art Biennale: Ajang Pameran Seni Kontemporer Di Arab Saudi

Untuk kali kedua, Diriyah Contemporary Art Biennale kembali digelar yang diselenggarakan oleh Diriyah Biennale Foundation. Ajang pameran seni kontemporer bienial di Arab Saudi yang diadakan sejak 20 Februari dan berlangsung hingga 24 Mei mendatang. Pameran ini berlokasi di distrik JAX, sebuah distrik kreatif dengan warisan industri di kota bersejarah Diriyah. Diriyah adalah rumah bagi situs warisan dunia UNESCO, At-Turaif yang merupakan Ibu Kota pertama dinasti Saudi yang didirikan pada abad ke-15. Sejak kali pertama diadakan pada 2021 silam, Diriyah Contemporary Art Biennale telah menjadi pameran seni kontemporer pertama di Arab Saudi yang menyediakan platform untuk menciptakan penemuan dan hubungan ke dalam kancah budaya seni dan komunitas kreatif yang sedang berkembang di dunia global. Menampilkan karya seniman dari Arab Saudi dan seluruh dunia, pameran ini mengeksplorasi peran pameran seni bienial kontemporer di negara yang sedang mengalami perubahan sosial amat pesat. 

Tak hanya memamerkan karya seni, pameran Diriyah Contemporary Art Biennale turut menyelenggarakan acara bincang-bincang seniman, lokakarya, serta presentasi seni suara dan pertunjukan Biennale Encounters. Selain itu terdapat pula ajang teater yang dibangun khusus menampilkan sepuluh film secara bergiliran. Sedangkan di bagian lainnya terdapat area khusus yang didedikasikan untuk karya-karya berbasis penelitian. Menempati enam aula seluas 12.900m2 yang juga melebar ke area halaman dan teras yang berdekatan dengan lokasi utama dengan mengubah area menjadi wilayah seni dan ruang sosial. Menarik untuk menyimak tempat di mana pameran seni ini diselenggarakan. Pameran kali ini berlokasi di situs Diriyah Biennale Foundation dan mencakup enam bekas gudang industri yang digunakan kembali melalui area-area halaman, teras, dan kawasan di sekitar gudang. Ini menjadi cara untuk memperkenalkan beragam format dan bahasa artistik, mulai dari gambar, lukisan, seni patung, instalasi, karya fotografi, serta pertunjukan dan film. Karya-karya yang ditampilkan dikelompokkan berdasarkan isu-isu yang dimuat, mulai dari sandiwara dan penceritaan hingga permasalahan ekologi dan peran penting air bagi kehidupan.  


Tahun ini, Diriyah Contemporary Art Biennale mengambil tema After Rain yang mempertemukan para seniman dari berbagai latar belakang yang menyelidiki lebih jauh mengenai hubungan antara manusia dan alam, mengkaji persoalan lingkungan, mengamati dan berinteraksi dengan lanskap sekitar, menceritakan sejarah, serta mendorong kita untuk mendengar dan menyimak dengan lebih seksama. Sebagai platform, pameran Diriyah Contemporary Art Biennale dirancang sebagai suatu entitas yang dinamis dan bukan sebagai kerangka yang statis. Bienial ini terdiri dari pameran, rangkaian program publik bertajuk Biennale Encounters, program film, pertunjukan, dialog, dan proyek penelitian. Dalam tajuk After Rain, terdapat 177 karya dari 100 seniman dan kelompok seniman yang terlibat dalam Diriyah Contemporary Art Biennale. Lebih dari 30 di antaranya berasal dari kawasan teluk yang lebih luas. Pameran ini juga mendukung 47 komisi seni baru dari para seniman termasuk di antaranya Jumana Emil Abboud, Sara Abdu, Mohammad AlFaraj, Azra Akšamija, Tarek Atoui, Rachaporn Choochuey, Vikram Divecha, Christine Fenzl, Anne Holtrop, Armin Linke & Ahmed Mater, NJOKOBOK, dan Camille Zakharia. Selain itu juga terdapat karya seniman sekaligus fotografer asal Prancis, Tania Mouraud, dan karya seniman asal Pakistan, Mariah Lookman, yang dipresentasikan di Shamalat, sebuah ruang budaya di pinggiran Diriyah lama. Karya-karya yang diikutsertakan dalam Diriyah Contemporary Art Biennale memiliki bentuk presentasi yang berbeda-beda, mulai dari karya yang ditampilkan di ruang pameran atau di area khusus Re/Search dan bioskop di Exhibition Hall B1, hingga live event Biennale Encounters dan ruang digital. Beberapa seniman juga menyajikan kontribusi dari beragam aspek atas karya-karyanya yang ditampilkan lewat berbagai platform. 


Karya-karya seni yang dipamerkan dalam payung tema After Rain ini banyak berfokus pada kebutuhan dasar manusia seperti air, makanan, dan tempat tinggal. Karya-karya tersebut berakar pada penelitian artistik yang dirancang tim kuratorial di Arab Saudi yang menghasilkan wacana artistik multigenerasi. Diriyah Contemporary Art Biennale menghadirkan pengalaman multisensory yang melibatkan sentuhan, rasa, dan penciuman selain juga penglihatan dan pendengaran. Sebuah pameran seni yang melibatkan pengunjung untuk menjadi bagian dari perjalanan artistik yang sarat makna. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Direktur Artistik Diriyah Contemporary Art Biennale 2024, Ute Meta Bauer. “Kami dengan senang hati mempersembahkan seniman dari tiga generasi yang karya-karyanya membahas berbagai topik dan isu penting seperti kompleksitas krisis lingkungan, dampak kolonialisme dan ekstraktivisme, pertanyaan-pertanyaan tentang warisan dan konservasi, serta kecanggihan kerajinan tangan dan tradisi penggunaan bahan alami. Ajang bienial ini merupakan perjalanan yang intens dan penuh manfaat yang melibatkan ratusan orang dengan segudang keterampilan dan kreativitas. Hanya melalui dedikasi dan komitmen setiap individu yang terlibat, maka kami dapat mempersembahkan bienial yang memiliki kualitas dan skala tinggi kepada masyarakat global. Dengan tema utama After Rain, kami membayangkan sebuah ajang seni yang penuh semangat dan cinta akan kehidupan.” 

Hal senada juga diungkap oleh Aya Al Bakree, CEO Diriyah Biennale Foundation, yang menyapa ELLE Indonesia secara langsung di Diriyah Contemporary Art Biennale. “Kami sangat gembira menyambut kehadiran Anda dan para pengunjung dari seluruh dunia dalam edisi kedua Diriyah Contemporary Art Biennale ini di tengah pertumbuhan seni yang luas biasa di negara kami. Tema After Rain menjanjikan sebuah pengalaman budaya yang menggugah pikiran Anda secara mendalam dan menyajikan pengalaman multiindera bagi Anda dan pengunjung dari segala usia dan latar belakang. Keberhasilan dan pengalaman artistik di acara seni ini tidak lepas dari kerja keras tim kurator yang dipimpin oleh Ute Meta Bauer yang telah mencurahkan hati dan pikiran mereka atas kedalaman penelitian yang mereka lakukan untuk mewujudkan pameran seni skala global yang penuh makna mendalam.”