CULTURE

16 Februari 2022

Mengunjungi Kediaman Adinia Wirasti yang Sarat Karakter Personal


Mengunjungi Kediaman Adinia Wirasti yang Sarat Karakter Personal

Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah

Barisan karya seni rupa menyambut di depan pintu, mengantarkan langkah kaki saya memasuki kediaman aktris peraih dua Piala Citra, Adinia Wirasti. “Saya biasa menghabiskan waktu dengan menggambar di sini. Terkadang, saya juga kerap menjadikannya ruang kerja untuk membaca skrip film baru, atau saat meeting lewat komunikasi video,” kata perempuan yang akrab disapa Asti itu sembari menunjuk sebuah meja kayu di antara rak senada material, ketika kami berkeliling rumahnya. Sebuah ornamen wayang kuno yang diawetkan dalam bingkai rona emas beraksentuasikan ukiran klasik mengomplemen dinding di atasnya. Koleksi buku-buku novel, literatur, DVD film era ‘90-an dan awal tahun 2000-an, hingga arsip kumpulan naskah dari film-film yang diperankan oleh Asti, tampak menyusun paras rak yang berhiaskan lis rona dusty pink pada ujung-ujung sisinya tersebut secara eklektik. Rangkaian kuas berbagai tipe dan ukuran, lengkap dengan wadah catnya, menata format artistik di atas meja. Secarik kertas putih terlukis gajah yang dilapis plastik transparan turut tergeletak. “Saya menyukai gajah,” tutur Asti tersenyum menceritakan arti hasil karyanya.

Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah
Photography Agus Santoso Yang

Asti tumbuh besar di keluarga yang kaya akan jiwa seni. “Bapak saya menekuni bidang arsitek interior dan kakak laki-laki saya adalah seorang ilustrator. Lalu nenek dari ibu saya, beliau sangat mahir melukis gaya realism,” Asti duduk di sofa putih bercorak biru. Saya menyimaknya berkisah dari kursi tanpa lengan warna kuning lemon di hadapannya. Terbiasa dikelilingi oleh seniman rupa telah menumbuhkan kecintaannya pada dunia seni itu sendiri. “Sejak dulu saya memiliki kebiasaan berkegiatan sembari doodling. Percaya atau tidak, hal itu membantu saya mengerjakan apa pun dengan lebih fokus. Lama-kelamaan, menggambar menjadi salah satu bentuk journaling buat saya,” kisahnya. Sejajar garis lurus dari meja ini terlihat dapur yang menggandeng area makan. Di seberangnya, living room berlatarkan dinding bata tampil cerah dengan penempatan sofa warna biru berbentuk siku-siku ditemani meja kayu berdiri di atas permadani bercorak floral. Fakta bahwa setiap ruangan berada dalam jangkauan sudut pandang dari tengah hunian hanyalah salah satu karakteristik yang membuat desain interiornya menarik hati.

Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah
Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah

Rumah ini ditemukan oleh Asti, lima tahun silam, dalam konsep properti cluster. Ia menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk merenovasi konstruksi ruangnya demi mewujudkan tempat tinggal sebagaimana yang diimpikan. “Rumah adalah tempat di mana saya bisa merasa nyaman, aman, dan bebas menjadi diri sendiri tanpa harus memiliki atribut untuk menjadi ‘seseorang’, baik ketika seorang diri atau ada orang lain,” kata Asti. Membuat saya teringat pada ucapan sosok sinematik James Dean; bahwa profesi aktor mampu menempatkan seseorang dalam kondisi kesepian yang di mana ia hanya bergelut seorang diri dengan pikiran dan imajinasinya; dan terkadang menenggelamkan pribadinya demi menjelmakan sesosok karakter. Rasanya masuk akal bila kemudian Asti menginginkan oasis di mana ia dapat melucuti seluruh atribut yang menyelimuti sosoknya di dunia luar dan kembali pada jati dirinya.

Ia mempercayakan Arka Narandera dan Abimantra Pradhana, dua arsitek pendiri APLUSARCHITECT, serta bekerja sama dengan desainer interior Adit Kok—ketiganya masih merupakan sahabat baik Asti—untuk menggarap desain barunya. Rancangan awal bangunan yang memecah hunian ke dalam dua level massa dipertahankan. Tingkat atas mengakomodir ruangruang privat, sementara lantai bawah dibuka sebagai ruang publik. Improvisasi yang dilakukan lebih kepada penciptaan dimensi ruang lebih besar, dan denah yang bersifat kohesif dengan meminimalisir penempatan sekat. “Saya menyukai spasial yang saling terkoneksi satu sama lain-lain, dengan penataan ruang yang kompak. Saya tidak terlalu suka ruangan yang minim isi, rasanya hampa dan terkesan dingin. Saya menginginkan rumah yang hangat,” ungkapnya.

Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah
Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah

“Desain awal bangunan rumah ini adalah ruang terbuka dengan banyak permainan cahaya natural. Saat mendiskusikan desain baru, kami memutuskan untuk memanfaatkan elemen natural seperti kayu sebagai material utama, dan menyelaraskannya dengan dinding warna gading alih-alih putih yang terang,” tuturnya. Pertimbangan tersebut berhasil menciptakan komposisi interior nan hangat. Langit-langitnya yang tinggi diekspos bergaya industrial. Pada lantainya, manifestasi tradisional semen acian menyuntikkan nuansa sejuk di telapak kaki. “Idenya berasal dari desain rumah joglo. Atmosfer rumah-rumah tempo dulu di Yogyakarta begitu adem berkat lantai acian semen,” ungkap Asti.

Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah
Adinia Wirasti At Home With ELLE Indonesia February 2022 photography Agus Santoso Yang styling Sidky Muhamadsyah

Adakalanya hidup di kota besar dengan segenap teknologi canggih yang dapat menjauhkan seseorang dari lingkungan sekitarnya. Namun sebuah dialog antar manusia dan alam terjalin harmonis di kediaman Asti. Ia menempati rumahnya secara resmi enam bulan sebelum pandemi menyelimuti dunia, diikuti praktik lockdown yang membelenggu manusia dalam kesendirian. “Momen lockdown di awal pandemi membuat saya berhenti bergerak, dan dalam keterbatasan itu saya menemukan kegembiraan dalam merawat tanaman,” ceritanya. Ia mulai mengumpulkan lebih banyak tanaman. “Sebagian besar juga saya dapatkan dari pemberian teman,” katanya.

Dua tahun berselang, kini serangkaian tanamannya hidup di setiap sudut rumah; dalam pot-pot yang mengaksentuasi anak tangga, menggantung di living room, menghiasi rak-rak, hingga tumbuh subur mempercantik taman di bagian belakang rumahnya. Lanskap hijau nan indah itu terpaparkan lewat pintu kaca berbingkai kayu di ujung dapur. “Barangkali tidak besar, tapi taman kecil ini membuat lebih dekat dengan alam,” pungkas Asti seraya membuka pintunya lebarlebar. Seketika angin berembus dan udara dalam ruangan kian segar.