LIFE

11 Maret 2026

Amanda Rawles Berhasrat Bermain Peran yang Substansial


PHOTOGRAPHY BY Thomas Sito

Amanda Rawles Berhasrat Bermain Peran yang Substansial

style editor Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Stellarissa; makeup Archangela Chelsea; hair Eva Pical

Amanda Rawles membangun jejak keaktoran dengan menjelmakan rupa-rupa sosok perempuan baik hati, yang mudah didekati dan dicintai. Baik ketika ia memerankan Salma yang optimis meyakini cinta sejati di trilogi Dear Nathan, mualaf yang belajar ikhlas dalam Merindu Cahaya de Amstel, atau tritagonis di A World Without; daya tariknya selalu bertumpu pada sifat feminin sarat kelembutan. Berhadapan langsung dengannya di kehidupan nyata, pribadi perempuan kelahiran Jakarta tahun 2000 itu memang sangat hangat. Pada malam sebelum pemotretan ELLE: Women in Cinema, ia baru saja mendarat di Jakarta dari Surabaya—usai merampungkan syuting panjang proyek serial yang judulnya masih dirahasiakan. Namun auranya tetap bersemangat. Bahkan saat sesi pengambilan gambar hari itu menantangnya berbagai pose, senyumnya senantiasa ramah.

Kelembutan, pada sosok Amanda Rawles, seolah-olah menemukan substansi wujudnya sebagai kekuatan. Penampilannya di sejumlah layar lebar Indonesia tahun 2025 silam memperkuat perspektif tersebut. Dalam 1 Kakak 7 Ponakan, ia memperlihatkan kejujuran emosi perempuan yang berupaya menaklukkan ego di tengah merengkuh realitas pahit pasangannya sebagai generasi sandwich. Karakter Amanda sebenarnya bukanlah figur pertama yang terdampak langsung, namun tidak berarti posisinya lantas mudah. “Ada rasa patah hati yang tidak seharusnya, dan terasa memalukan untuk diakui oleh Maurin,” kata Amanda tentang perannya. Saya bisa melihat maksudnya ketika menonton film karya Yandy Laurens itu. Melalui karakter Maurin, kita ditunjukkan kedalaman emosi yang menyesakkan manakala seseorang merasa tidak berdaya atau bahkan tak diizinkan membantu orang terkasih; dan Amanda Rawles menggambarkan emosi tersebut dengan cara yang sangat manusiawi. Ada momen di mana Anda berempati dan ingin memeluk Maurin; lalu di adegan lain, sikap kepeduliannya justru terasa mengganggu hingga mencetuskan kekesalan. “Menariknya, dalam upaya membedah karakter Maurin, saya justru belajar mengenali emosi diri sendiri, terutama pada saat hidup berjalan tidak sesuai harapan. Saya merasa dimengerti,” ujar Amanda. Mampu membuat seseorang merasa terlihat, di mata saya, merupakan sebuah wujud kekuatan peran.

“Saya rasa apa yang disebut sebagai kekuatan, pada akhirnya, kembali pada sudut pandang masing-masing dan bagaimana kita mendefinisikannya,” kata sang aktor yang tahun ini meraih nominasi Pemeran Utama Terbaik di Festival Film Bandung dan Indonesian Movie Actor Awards penuh kerendahatian, “Dari tiap karakter yang telah saya perankan, saya menemukan kekuatan hadir melalui sikap rapuh. Ketika seseorang bersedia memahami keadaannya, sekalipun artinya harus berani mengakui limitasi diri sendiri. In that moment, we’re not only taking accountability of ourselves but also of the people who live around us.”


Amanda juga bermain peran dalam drama keluarga Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Lakonnya menjadi anak tengah yang naif menyoal hubungan orangtua di atas dinamika kehidupan keluarganya. “Semula, saya sempat kesulitan memahami sudut pandang karakternya. Tapi friksi tersebut mengajarkan saya pentingnya menghormati jarak dengan karakter,” ujar sang pemeran. Di sini, ia tampil bersama tiga aktor perempuan lain; Sha Ine Febrianti yang mengambil peran ibu, Eva Celia bermain sebagai anak sulung, sementara sang adik diperankan Nayla Purnama. Di lingkungan yang ramai figur perempuan itu, Amanda merasakan sebuah kekuatan yang memantik gairah seninya semakin kreatif. Kehadiran Sha Ine misalnya, diungkap Amanda, “Ia membukakan cara pandang berakting yang baru, yang bahkan tak terlintas di benak saya sebelumnya.”

Amanda kemudian bicara terbuka tentang bagaimana ia kerap menciptakan kedekatan emosional dengan peran-perannya lewat pemanfaatan pengalaman personal. Pendekatannya tidak salah, sebagaimana ada banyak penerapan metode seni peran. Namun, “Berperan dengan mbak Ine membuat saya menyadari bahwa pendekatan itu juga bisa dikatakan tidak sepenuhnya jujur. Sebab, belum tentu pengalaman saya sama dengan apa yang sebenarnya dirasakan karakter,” kisahnya. Amanda tidak sedang merasa lebih kecil—apabila demikian yang Anda pikirkan—ia berkontemplasi. “Di sinilah saya mendapat pemahaman tentang pentingnya boundaries antara pemeran dan karakternya, sebagai bentuk pemaknaan berakting yang jujur,” katanya, “Alih-alih bersandar pada memori pribadi, dalam beberapa tahun terakhir, saya belajar untuk berakting dengan seutuhnya memahami kehidupan setiap karakter; perasannya, pola pikirnya, dan mencoba menempatkan diri di posisi karakter yang saya perankan. Because acting is not about imitating, it really is about understanding.”


Amanda Rawles naik panggung sinema lewat penampilan singkat di sinetron, lalu menapaki layar lebar pada 2015. Ia melangkah tanpa menyandang latar belakang pendidikan seni peran yang formal. Kemampuannya terasah seiring pengalaman di lapangan. “Tanpa basic acting, di awal karier, tidak jarang orang orang memandang sebelah mata terhadap kemampuan saya. Sempat ada fase ketika saya terus-menerus ingin membuktikan diri kepada mereka. Ugh, titik itu benar-benar melelahkan,” kisahnya lugas, “Sampai akhirnya saya bertanya pada diri sendiri, akan hakikat hidup dalam dorongan pembuktian.”

Kini, menginjak dekade kedua periode kariernya, Amanda telah membebaskan diri dari penelisikan validasi. Yang lebih penting adalah mengetahui nilai diri sendiri, dan menjaganya tanpa menjadi arogan, sambil terus bertumbuh. “Sekarang saya hanya berkeinginan lebih mencipta karya yang dapat berdampak, untuk diri sendiri maupun orang lain,” katanya. Sepenggal narasi bijak Rintik yang ditulis Garin Nugroho—dan diperankan oleh Amanda­ —dalam karya Siapa Dia (2025) rasanya tepat menggambarkan langkah Amanda berkiprah: Semua orang hidup dalam panggung, entah jadi peran apa pun. Kehidupan adalah temanya. Seseorang harus bisa menulis untuk jalannya sendiri. Amanda menuliskan jalannya dengan berangsur merancang standar—yang sama sekali tidak muluk—untuk pelan-pelan memilih penceritaan dan karakter yang ingin dimanifestasikan.

“Bagi saya, akting menjelmakan ruang dialog dengan setiap karakter. Selayaknya proses batin, yang menempa kepekaan sekaligus memperdalam empati saya sebagai manusia,” ujarnya, “Sebab itu semangat saya lebih menggebu-gebu menantikan kesempatan bermain dalam proyek-proyek yang memiliki value, entah yang lahir dari kegelisahan personal sang filmmaker atau dorongan untuk memberi dampak sosial yang lebih besar." Ia tidak tertarik sekadar membuat karya yang disukai penonton, terlebih lagi proyek berlandaskan tren. Ia mengukuhkan orientasi pada lebih banyak tawaran berperan dalam narasi-narasi substansial, “Yang dikisahkan penuh kejujuran kepada penonton,” tegasnya.