LIFE

21 April 2026

Dr. Tan Shot Yen Menata Ulang Cara Pandang tentang Gizi, Literasi Pangan, dan Akal Sehat


PHOTOGRAPHY BY Dr. Tan Shot Yen

Dr. Tan Shot Yen Menata Ulang Cara Pandang tentang Gizi, Literasi Pangan, dan Akal Sehat

Di tengah negeri yang kaya pangan namun miskin literasi pangan, Dr. Tan Shot Yen hadir dengan satu gagasan yang tenang sekaligus radikal: gizi bukan perkara produk, melainkan cara hidup. Melalui dapur, keluarga, dan kebiasaan sehari-hari, ia merajut pemikiran tentang kesehatan yang berakar pada budaya, akal sehat, dan tanggung jawab antargenerasi. Keberanian seorang perempuan yang memilih berpikir pelan di zaman serba instan berpaut pada keyakinan bahwa masa depan bangsa dibentuk oleh apa yang kita makan, pahami, dan wariskan setiap hari.

Di sebuah negeri yang tanahnya subur dan lautnya kaya, ironi terbesar justru hadir di meja makan. Indonesia—dengan ribuan varietas umbi, ikan, sayur, dan buah—masih bergulat dengan persoalan gizi yang tak kunjung usai. Di tengah statistik yang dingin dan jargon kesehatan yang kerap memekakkan, Dr. Tan Shot Yen memilih jalur yang sunyi namun teguh: kembali ke rumah, ke dapur, ke kebiasaan paling dasar manusia: makan. Ia bukan dokter yang gemar menyederhanakan masalah dengan resep instan. Ia juga bukan figur yang tergoda popularitas di tengah hiruk-pikuk media sosial. Cara bicaranya lugas, pikirannya tertata, dan keberaniannya terletak pada satu hal yang kian langka hari ini: kesediaan untuk berpikir pelan, dalam, dan bertanggung jawab. “Gizi itu bukan penyakit,” katanya suatu kali. “Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di sanalah letak radikalnya.

Dr. Tan Shot Yen tumbuh sebagai “ekor” ayahnya, seorang dokter generasi lama, era 1960–1970-an, ketika praktik medis masih sangat manusiawi: dokter datang ke rumah pasien, duduk, mendengar, berbincang. Dari sana, ia belajar bahwa kesehatan bukan hanya soal menyembuhkan, tetapi tentang relasi dan pengetahuan yang dibagikan. Ia memilih menjadi dokter bukan demi prestise, melainkan karena melihat kemungkinan: menjadi jembatan antara ketidaktahuan dan pemahaman. Namun perjalanan intelektualnya tidak berhenti di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Ia justru mengambil jeda—menjadi ibu, membangun keluarga, menjalani peran domestik yang sering diremehkan, namun justru menjadi fondasi cara berpikirnya hari ini. “Saya ini perempuan,” katanya tenang. “Saya ingin mengalami dulu bagaimana rasanya membangun keluarga.” Sepuluh tahun kemudian, kegelisahan muncul. Praktik medis terasa seperti bengkel: pasien datang, diperbaiki, lalu kembali rusak karena pola hidup yang sama. Di sanalah ia menyadari bahwa persoalannya bukan semata tubuh, melainkan manusia itu sendiri: cara berpikirnya, kebiasaannya, nilai yang ia anut.

Ia lalu menempuh Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Di ruang-ruang kelas bersama romo dan ustaz, ia “digodok” untuk berpikir disiplin: setiap pernyataan harus punya dasar, tak ada ruang bagi “katanya” atau “kayaknya”. Filsafat, baginya, bukan gelar, melainkan latihan akal sehat. Dari sana, ia melangkah ke studi doktoral gizi masyarakat—sebuah titik temu antara klinis, perilaku manusia, kebijakan publik, budaya, dan masa depan generasi. Di tengah maraknya MPASI instan, Dr. Tan sering disalahpahami sebagai sosok yang “anti-produk”. Padahal yang ia kritik bukan produknya, melainkan cara berpikir di baliknya. MPASI, menurutnya, adalah proses belajar makan. Anak belajar tekstur, rasa, ritme, dan interaksi sosial. Ia belajar bahwa makan bukan soal membuka kemasan, melainkan sebuah aktivitas yang melibatkan tangan, mata, waktu, dan kebersamaan. “Anak yang sejak kecil diajari membuka bungkus bubur instan berbeda dengan anak yang belajar mengupas telur atau jeruk,” ujarnya. “Yang satu belajar menjadi konsumen, yang lain belajar menjadi manusia.” MPASI rumahan memungkinkan anak mengenal pangan lokal dan musiman, beradaptasi dengan makanan keluarga, serta membangun relasi sehat dengan makanan. Sebaliknya, ketergantungan pada produk instan berisiko menggeser peran orang tua—dari pengasuh menjadi operator produk—dan menumbuhkan ketakutan yang tak perlu. “Makan itu proses,” katanya. “Bukan ujian.”

Dr. Tan kerap berbicara dengan nada emosional ketika topik pangan lokal dibahas. Bukan tanpa alasan. Data Riset Kesehatan Dasar 2023 menunjukkan 97 persen orang Indonesia kurang konsumsi sayur dan buah. Di saat yang sama, masyarakat justru membanggakan pola makan berbasis terigu—mie, roti, pasta—padahal gandum tak tumbuh di tanah ini. “Orang Indonesia kalau tidak mau makan nasi, harusnya bisa makan ubi, singkong, kimpul, garut,” katanya. “Itu pangan kaya nutrisi. Tapi malah dianggap rendahan. Sakit hati saya dengarnya.” Ia geram melihat anak-anak Indonesia dibesarkan dengan nugget dan sosis, sementara makan soto ayam justru dianggap aneh. Baginya, itu bukan sekadar soal gizi, melainkan kehilangan martabat budaya.

Dr. Tan bukan anti-teknologi. Ia justru pengagumnya. Teknologi membuat hidup cepat, efisien, dan akurat. Namun ia mengingatkan satu hal penting: biologi tidak bekerja seperti teknologi. Kehamilan tetap sembilan bulan. Pertumbuhan anak tak bisa dipercepat tanpa konsekuensi. Ketika industri terlalu jauh masuk ke ranah biologis, ekosistem terganggu—bukan hanya pada tubuh manusia, tetapi juga lingkungan. Ultra processed food, menurutnya, bukan musuh mutlak. Ia punya tempat dalam kondisi medis khusus. Namun menjadikannya makanan harian anak sehat di negeri yang kaya pangan adalah kekeliruan logika dan etika. “Lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya. “Dan pencegahan itu dimulai jauh sebelum anak lahir—bahkan sebelum orang tuanya menikah.”


Anda sering mengatakan bahwa makan adalah proses belajar. Apa yang sebenarnya sedang “dipelajari” seorang anak ketika ia makan—selain soal kenyang?
“Sejak kecil kita menanamkan satu pemahaman dasar: bahwa makan adalah kebutuhan hidup. Tapi di saat yang sama, makanan juga adalah kenikmatan, bagian dari perayaan, bahkan ekspresi rasa syukur. Hampir semua momen penting dalam hidup manusia selalu melibatkan makanan—kelahiran, ulang tahun, kenaikan jabatan, hari raya, bahkan kematian. Itu menunjukkan bahwa makan bukan sekadar urusan biologis, melainkan bagian dari kebudayaan manusia.

Namun yang sering luput kita sadari, terutama pada anak-anak, adalah bahwa makan merupakan proses pembentukan kebiasaan. Anak sedang belajar tentang keteraturan, komposisi, kesabaran, dan penghargaan terhadap proses. Ada perbedaan besar antara anak yang sejak kecil dibiasakan membuka kemasan makanan instan dengan anak yang belajar mengupas telur, membuka kulit jeruk, atau melihat bagaimana makanan disiapkan. Saya selalu menganalogikan piring makan seperti menyusun mainan. Ada nasi atau sumber karbohidrat, ada protein, ada sayur, ada buah. Ketika ini dilakukan berulang-ulang, ia membentuk pola pikir. Perilaku terbentuk dari kebiasaan, kebiasaan bertumbuh menjadi gaya hidup. Dan gaya hidup inilah yang pada akhirnya menentukan kualitas kesehatan seseorang di masa depan. Jadi yang dipelajari anak saat makan bukan hanya rasa, tapi cara hidup.”

Di tengah maraknya MPASI instan dan standar pengasuhan yang dianggap “ideal”, beban apa yang paling sering Anda lihat ditanggung ibu—namun jarang dibicarakan?
“Beban terbesar itu sering kali bukan pada praktiknya, melainkan pada rasa tidak cukup. Banyak ibu hari ini dibebani standar yang tidak realistis: harus sempurna, harus sesuai panduan, harus mengikuti tren, harus tidak salah. Padahal keluarga sejatinya adalah kerja bersama antara ibu dan ayah. Beban itu bisa sangat diminimalkan jika sejak awal orang tua memahami bahwa membangun keluarga bukan sekadar perkara lucu-lucuan atau ikut arus sosial. Saya selalu mengatakan, kita ini bertanggung jawab melahirkan generasi yang bisa dibanggakan. Generasi seperti apa? Generasi yang sehat secara fisik, mental, dan sosial. Itu tidak mungkin lahir dari keluarga yang bingung, panik, dan terus-menerus merasa kurang.

Dalam konteks makan, saya sering menggunakan konsep traffic light. Ada pangan hijau—yang makin sering dimakan justru makin baik: sayur, buah, kacang-kacangan, ikan, ayam, telur, selama diolah secara wajar. Ada pangan kuning—boleh, tapi harus hati-hati: gorengan, makanan tinggi lemak, olahan tertentu. Dan ada pangan merah—ultra processed food—yang sejatinya tidak dikenal alam. Masalahnya, banyak ibu tidak pernah diberi kerangka berpikir seperti ini. Yang mereka terima hanya larangan dan anjuran tanpa konteks. Akhirnya muncul rasa takut, rasa bersalah, dan kelelahan mental. Padahal makan seharusnya menjadi ruang pendidikan, bukan ruang kecemasan.”

Ketika seorang ibu datang dengan rasa takut “salah memberi makan anak”, apa yang menurut Anda lebih mendesak untuk dipulihkan terlebih dahulu: ilmunya atau rasa percaya dirinya?
“Saya hampir selalu memulai dari refleksi diri. Ibu itu makan apa sehari-hari? Bagaimana gaya hidupnya? Karena perilaku anak sangat kuat meniru orang tua. Tidak masuk akal berharap anak makan ikan dan sayur jika setiap hari yang dikonsumsi orang tuanya adalah mie instan, gorengan, atau minuman manis. Jadi yang perlu dipulihkan pertama kali adalah kesadaran dan kejujuran pada diri sendiri. Ilmu itu penting, tentu. Tapi ilmu tanpa keteladanan tidak akan hidup. Anak tidak belajar dari apa yang kita ucapkan, melainkan dari apa yang kita lakukan. Ketika ibu mulai memperbaiki pola makannya sendiri, perlahan rasa percaya diri akan tumbuh. Ia tidak lagi merasa sedang “mengikuti aturan”, melainkan sedang menjalani hidup yang ia pahami. Di situlah pendidikan gizi menjadi membebaskan, bukan menakutkan.”

Anda kerap mengkritik pendekatan gizi yang terlalu medis dan produk-oriented. Di mana letak persoalannya?
“Masalahnya muncul ketika gizi diperlakukan seperti penyakit. Pendekatannya menjadi diagnosis, angka, dan solusi cepat yang sering kali berujung pada produk. Padahal gizi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, sangat dipengaruhi oleh budaya, ekonomi keluarga, relasi orang tua dan anak, serta kebiasaan rumah tangga. Pendekatan yang terlalu medis cenderung mencabut makan dari konteks sosialnya. Orang tua merasa dirinya tidak mampu, tidak cukup pintar, atau tidak layak tanpa bantuan produk tertentu. Ini berbahaya karena menciptakan ketergantungan. Saya lebih percaya pada logika dapur daripada logika laboratorium semata. Bukan berarti ilmu tidak penting, justru sebaliknya. Ilmu harus membumi, bisa dipraktikkan, dan relevan dengan kehidupan nyata. Pengetahuan yang tidak membebaskan, bagi saya, kehilangan nilai etikanya.”

Di tengah budaya solusi instan dan polarisasi di media sosial, bagaimana Anda menjaga diri agar tetap berpikir jernih tanpa harus menjadi populer?
“Prinsip saya sederhana: saya harus yakin bahwa saya berada di jalan yang benar, dan jalan itu bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk masyarakat luas. Keyakinan saja tidak cukup—harus ada dasar ilmiah yang kuat, evidence-based science. Saya juga sadar bahwa tidak semua ruang harus saya masuki. Saya memilih untuk berada di lingkungan edukasi, di tengah orang-orang yang mau belajar dan berdiskusi, bukan sekadar berdebat. Kita sebagai manusia punya hak memilih kolam mana yang ingin kita masuki. Popularitas tidak pernah menjadi tujuan saya. Jika suatu pemikiran benar dan baik, ia akan menemukan jalannya sendiri.”

Sebagai perempuan yang kerap bersuara kritis di ruang publik, bentuk resistensi apa yang paling sering Anda hadapi?
“Syukurnya, saya tidak pernah mengalami serangan yang membahayakan secara fisik. Namun resistensi itu sering hadir dalam bentuk meremehkan, menyederhanakan, atau menstereotipkan. Tapi saya memilih untuk tidak menghabiskan energi di sana. Saya lebih memilih bekerja bersama masyarakat yang memang membutuhkan suara saya. Perempuan punya kekuatan untuk menentukan di mana ia berdiri, dengan siapa ia berjalan, dan untuk apa ia bersuara. Bagi saya, keberanian bukan soal melawan semua orang, melainkan tentang konsisten pada nilai dan tujuan.”

Nilai atau prinsip apa yang paling Anda jaga agar tidak hilang, meski bekerja di bidang yang penuh tekanan, kepentingan, dan opini
“Bahwa semua hal yang benar harus baik, dan semua kebaikan harus berada di jalan yang benar. Kebenaran tanpa kebaikan akan menjadi dingin dan kejam. Kebaikan tanpa kebenaran akan kehilangan arah. Dalam isu gizi, kesehatan, dan masa depan generasi, nilai ini sangat penting. Kita tidak hanya bicara tentang tubuh yang sehat, tetapi tentang manusia yang utuh—yang hidupnya bermartabat, berakar pada budayanya, dan bertanggung jawab pada generasi berikutnya.”