11 Maret 2026
Raihaanun TakTergesa Membangun Eksposur
PHOTOGRAPHY BY Thomas Sito
style editor Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Sean Sheila; makeup Ryan Ogilvy; hair Yez Hadjo
Raihaanun bekerja dengan cara yang tidak lazim di industri yang gemar merayakan kebisingan. Ia jarang muncul, tidak tergesa membangun eksposur, dan hampir selalu memilih untuk membiarkan perannya berbicara lebih dulu. Kehadirannya terasa tenang—namun justru karena itulah ia tinggal lebih lama. Esai ini menelusuri perjalanan Raihaanun sebagai aktris yang dibentuk oleh kesabaran, ketepatan hadir, dan keberanian untuk tidak menjelaskan segalanya; tentang perempuan yang memilih diam bukan karena tak punya suara, melainkan karena tahu kapan suara perlu dilepaskan.
Lahir pada 7 Juni 1988 dengan nama Siti Hafar Raihaanun Nabilla, langkah awalnya ke dunia publik dimulai dari modeling. Ia menjadi finalis Gadis Sampul 2003—sebuah pintu yang kala itu membuka banyak peluang ke layar kaca. Raihaanun menjalani fase sinetron dengan ritme yang padat, bermain dalam berbagai judul, dari Senandung Masa Puber hingga sejumlah produksi populer lain. Namun, seperti perjalanan kariernya kelak, langkah itu tidak ia jalani sebagai tujuan akhir. Ia bekerja, mengamati, dan menyimpan jarak. Popularitas datang, tetapi tidak pernah ia perlakukan sebagai kompas. Titik balik penting terjadi pada 2007 melalui Badai Pasti Berlalu, film panjang perdananya. Remake dari film klasik 1977 ini menempatkannya dalam dialog lintas generasi—dari Christine Hakim ke dirinya—dan sekaligus memperkenalkan Raihaanun sebagai aktris yang mampu menahan emosi tanpa menghilangkan daya getarnya. Sejak awal, ia tampak lebih tertarik pada ketepatan daripada ledakan perasaan. Ia tidak berlomba menjadi yang paling terlihat; ia memilih menjadi yang paling tepat.

Cara memilih itu konsisten. Ketika sebuah tawaran datang, Raihaanun mengukurnya bukan dari besarnya peran, melainkan dari bobot kontribusinya pada cerita. “Saya bertanya pada diri saya sendiri, seberapa besar dan sejauh mana pengaruh peran ini terhadap penceritaan dan keutuhan sebuah karya film,” ujarnya. Ia menilai apakah karakter itu memungkinkan eksplorasi—apakah ada ruang untuk kreativitas, untuk meninggalkan kesan yang bertahan. Jika peran itu monoton, minatnya surut. Ketertarikan muncul ketika ada kemungkinan untuk bekerja lebih dalam.
Keheningan menjadi salah satu ciri paling kuat dalam peran-perannya. Bagi Raihaanun, diam bukan absennya kekuatan. “Diam itu kadang menjadi sebuah bentuk kekuatan yang luar biasa,” katanya. Dalam keheningan, ia menemukan ruang untuk mengenali emosi dan menyentuh sisi spiritual. Bersuara memang berdampak besar, tetapi berdiam diri, dalam konteks tertentu, sama pentingnya. Di layar, keheningan perempuan sering disalahpahami sebagai pasif; pada Raihaanun, ia menjadi sikap artistik—cara bekerja yang sadar akan ritme dan makna.
Pilihan-pilihan itu mengantarnya pada peran-peran yang membangun reputasi artistik, bukan sekadar daftar kredit. Lovely Man (2011), di mana ia beradu akting dengan Donny Damara sebagai seorang transpuan yang juga ayah kandung karakternya, menuntut empati dan kepekaan yang tak bisa disederhanakan. Film ini berkeliling festival dan membuka percakapan tentang identitas, keluarga, dan penerimaan—dengan Raihaanun sebagai poros emosi yang tertahan, bukan dramatis.

Penghargaan datang, tetapi lagi-lagi bukan sebagai tujuan. Perannya sebagai Binaiya dalam Salawaku (2016) membawanya meraih Piala Citra Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik FFI. Berlatar Pulau Seram, Maluku, film ini memperlihatkan bagaimana tubuh dan lanskap bekerja bersama; Raihaanun hadir tanpa berusaha mendominasi ruang, justru menyatu dengannya. Tiga tahun kemudian, 27 Steps of May (2019) menjadi salah satu puncak perjalanan kariernya. Sebagai May—penyintas kekerasan seksual dalam konteks kerusuhan Mei 1998—Raihaanun memainkan trauma dengan kesenyapan yang nyaris menyakitkan. Tidak ada ledakan emosi berlebihan; yang ada adalah kehadiran yang jujur. Peran ini mengantarkannya meraih Piala Citra Pemeran Utama Perempuan Terbaik FFI 2019.
Di sela-sela itu, ia tetap memilih keberagaman tanpa kehilangan benang merah. Twivortiare (2019) menunjukkan sisi lain dari dirinya dalam drama relasi kontemporer, sementara Everyday Is a Lullaby (2020) dan Affliction (2021) kembali menuntut kerja emosi yang tertahan. Pada 2023, ia tampil dalam Puisi Cinta yang Membunuh karya Garin Nugroho, sebuah kolaborasi yang menegaskan minatnya pada sinema sebagai ruang eksplorasi bahasa dan tubuh. Proyek-proyek berikutnya, termasuk Perempuan Pembawa Sial (2025), memperlihatkan konsistensinya memilih karakter yang berdiri di persimpangan moral dan pilihan personal.
Bagi Raihaanun, sinema adalah ruang ekspresi yang luas terutama bagi perempuan yang tidak selalu ingin menjelaskan dirinya. “Sinema memberi ruang yang cukup luas bagi perempuan, apalagi perempuan-perempuan yang mungkin introver, untuk bisa berkomunikasi lewat bahasa tubuh di medium film,” katanya. Ia melihat film sebagai medium yang memungkinkan gagasan hadir tanpa harus diterjemahkan menjadi pidato. Bahasa tubuh, jeda, dan tatapan sering kali lebih jujur daripada kata-kata. Di balik layar, ia menjaga batas yang tegas antara diri pribadi dan karakter. “Saya harus paham benar, kapan saya sedang berakting dan kapan saya sedang menjadi diri sendiri,” ujarnya. Mawas diri menjadi penyangga agar batas itu tidak kabur. Sikap ini bukan dingin; justru memungkinkan dirinya bertanggung jawab secara penuh pada karakter tanpa menukar kehidupan personal sebagai bahan bakar. Jarak yang sehat membuatnya tetap utuh. Keberhasilan paling personal, menurut Raihaanun, bukanlah piala atau sorotan. “Ketika penonton bisa merasakan keterhubungan dengan peran yang saya mainkan,” katanya. Bagus atau tidak sebuah film bersifat subjektif; yang ia jaga adalah keterkaitan—apakah pesan tersampaikan, apakah karakter hidup di benak penonton. Di sanalah ia merasa berhasil.
Hari ini, ia merasa lebih bebas sekaligus tetap selektif. Bebas untuk mengeksplorasi karakter dan rentang emosi yang belum pernah ia jajal; selektif untuk menjaga prinsip—termasuk keengganan memerankan karakter yang mereduksi perempuan. Di luar itu, ia membuka diri pada berbagai genre dan kemungkinan. Kebebasan, baginya, bukan tanpa batas, melainkan bertumpu pada kejernihan.
Dalam kerja yang ia jalani bertahun-tahun, Raihaanun memilih untuk tidak tergesa menjadi pusat perhatian. Ia membiarkan karakter bekerja pelan, memberi ruang pada jeda, dan percaya bahwa tidak semua emosi perlu dijelaskan dengan kata-kata. Di situlah kekuatannya tumbuh, pada ketepatan membaca waktu dan kesediaan untuk tidak mendominasi cerita. Kehadirannya mungkin tidak selalu riuh, tetapi justru karena itu ia tinggal lebih lama di ingatan.