17 Juni 2026
Luna Maya dan Maxime Bouttier Bicara Realitas dari Hati ke Hati
PHOTOGRAPHY BY Hillarius Jason
styling Ismelya Muntu; fashion Onitsuka Tiger; makeup Archaangela Chelsea, Aditya Vagueskin; hair Rangga Yusuf, Yez Hadjo
"Bèbè," Maxime Bouttier memanggil Luna Maya. Bébé adalah panggilan mesra mereka terhadap satu sama lain. Apabila Anda baru kembali dari detoks hiruk-pikuk budaya pop Tanah Air, salah satu headline selama setengah dekade terakhir: Luna Maya dan Maxime Bouttier adalah sepasang kekasih. Pada 7 Mei 2025 silam, keduanya meresmikan hubungan dalam sebuah ikatan pernikahan setelah kurang lebih dua tahun berpacaran. “What’s your perfect day at the golf course?” Maxime membuka pertanyaan kepada sang istri. Luna menjawab dengan antusias, “Saat cuaca cerah, dan permainanku sedang bagus.” Wajahnya tampak berseri. “Bisa menyelesaikan par 4 dengan sempurna,” katanya diiringi senyuman kecil, “Bogey tak masalah, selama tidak double atau triple. Tapi kalau bisa birdie, wah, rasa puasnya lebih maksimal!” Maxime tertawa ringan mendengarkan istrinya menggebu-gebu membicarakan perihal skor. Faktanya, saat ini mereka tidak sedang berjalan menelusuri padang rumput golf. Mereka malah duduk berdampingan di sebuah sofa di dalam studio. Keduanya menjalin percakapan hati ke hati untuk pengisahan ELLE.
Topik seputar golf terangkat secara kasual dalam obrolan mereka lantaran kurasi wardrobe syuting hari itu banyak melibatkan infusi atribut golf: siluet polo, celana pendek, dan sepatu bersol gerigi anti-selip. “Olahraga ini juga cukup fashionable,” Maxime melanjutkan wacana manakala menelusuri pilihan busananya. “Bisa dibilang demikian, desain outfit-nya memang mulai lebih inovatif beberapa tahun belakangan,” kata Luna menyetujuinya. “Itu sebabnya setiap kali travelling, kita enggak pernah enggak berburu outfit golf ?” sela Maxime menyeringai jahil, “Literally everywhere we go!” Luna tertawa. “Tapi, kan, beberapa atributnya multifungsi dipakai untuk tenis,” ujarnya setengah membela diri.
Fikasi Luna terhadap golf sesungguhnya telah jauh melampaui kode busana lapangan yang modis. Baginya, olahraga keprofesian Nelly Korda tersebut menjelmakan semacam oasis ketenangan di tengah derap kehidupan yang nyaris tanpa pernah benar-benar melambat. Kendati golf bukan satu-satunya olahraga yang ditekuninya, namun menurutnya, “Apa yang menyenangkan dari golf adalah olahraga ini sangat menenangkan. Setengah hari berada di lapangan yang dikelilingi hamparan hijau sejauh mata memandang; sambil mendengarkan musik sayup-sayup dari mini speaker; atmosfernya benar-benar bikin rileks.”

Ruang relaksasi barangkali memang apa yang dibutuhkan seseorang dengan denyut aktivitas seperti Luna Maya. Selama lebih dari dua dekade, perempuan kelahiran Bali tahun 1983 ini hidup di bawah ritme industri hiburan yang tidak pernah benar-benar memberinya ruang melambat. Berangkat dari panggung modeling (usai menjuarai pemilihan model majalah remaja tahun 1999), ia berevolusi menjadi salah satu figur infinit pentas hiburan Tanah Air. Kiprahnya bergerak lintas peran: aktor, presenter, produser, hingga kini entrepreneur yang giat membangun ekosistem kreatif di balik layar— lewat sejumlah lini bisnis modern yang bergerak sama kompetitifnya dengan bidang entertainment.
Ia meluncurkan merek kecantikan NAMA Beauty (bersama Marcel Lukman) pada 2019, yang kemudian memperoleh pendanaan awal senilai USD5 juta dan sekarang tengah giat memperluas jangkauan ke pasar Asia Tenggara. Di saat bersamaan, kolaborasi bisnis Luna dan Marianne Rumantir dalam TS Media merajut kredibilitas sebagai salah satu platform hiburan terintegrasi di lanskap media digital. Per tahun 2024, kesibukan Luna bertambah dengan membidani talent agency Role Entertainment yang menjadi rumah berkarya bagi sejumlah figur berbakat— termasuk di antaranya Maxime Bouttier.
Luna Maya adalah sebuah fenonema, diutarakan Maxime, “You’re a phenomenon.” Sebagian orang luar mungkin membaca ritme produktif Luna sebagai ambisi melestarikan eksistensi. Tetapi hidup di industri hiburan yang bergerak secepat algoritma, relevansi memang tidak pernah bersifat permanen. Perihalnya perlu terus dinegosiasikan dengan waktu, dipelihara, dan terkadang dibangun ulang mengikuti perubahan zaman. Dalam konteks itu, laju kehidupan Luna terasa lebih menyerupai naluri bertumbuh daripada ambisi semata. “Pengalaman telah menempaku menjadi orang yang tidak hanya menunggu bola datang,” prinsip Luna, “Aku menciptakan peluang sendiri.”
Mulai dari wira-wiri panggung entertainment hingga mengasuh berbagai bisnis rintisannya yang semakin memperluas portofolio, mobilitas Luna seakan-akan tak mengenal ruang jeda. Tidak heran bilamana golf— sebagaimana penggambaran Luna—dapat menjadi ruang yang memberikan jeda kepadanya untuk bernapas lapang di antara kesibukan pekerjaan. Sekalipun tak sedang memukul bola di lapangan, dalam benak Luna kerap tebersit pikiran akan agenda merumput selanjutnya yang membangkitkan semangat. Begitu pula ketika mereka berbincang siang itu. Di kepalanya, berkembang gagasan menjajal lapangan golf di Jepang seiring rencana perjalanannya pada akhir bulan Mei 2026 yang semakin mendekat. “Sudah ada rencana main golf di Jepang?” tanya Maxime. Luna tergelak ringan tatkala pola pikirnya terdeteksi tanpa terucapkan lantang. Jika ada hal yang sangat dipahami oleh Maxime tentang istrinya setiap kali travelling—selain kecenderungan berburu atribut golf, dan pada dasarnya atribut mode apa pun—adalah Luna hampir tak pernah melewatkan kesempatan menjajal lapangan golf di kota atau negara persinggahannya. Sebetulnya main golf di Jakarta maupun luar negeri sama- sama menenangkan bagi Luna, meski begitu, “Tiap arena golf di berbagai negara memiliki atmosfer tersendiri, sehingga bikin pengalamannya terasa menarik untuk ditelusuri,” katanya.

“Yeah, suasananya cukup menyenangkan ketika kita main golf di Italia,” kata Maxime teringat pengalaman keduanya semasa pelesiran bulan madu. Luna dengan cepat menimpali, “Dan kamu akan lebih menemukan kenikmatan golf kalau saja konsisten menggeluti permainannya.” Keduanya lalu tergelak bersama.
Tidak seperti Luna yang menekuni golf secara berkala. Relasi Maxime dengan lapangan golf lebih bersifat musiman—tatkala ia travelling bersama Luna, misalnya. Frekuensi Maxime turun merumput barangkali bisa dihitung jari. Ia beralasan minim rekan main—selain Luna, tidak ada teman dekatnya yang menggeluti golf. “We’ve been saying, ‘let’s go to the golf course, but Luna will kick our butts!’ celotehannya kepada sang istri. Ucapan Maxime dan teman- temannya sekadar gurauan belaka. Meski begitu, bilamana menyoal hobi, laki-laki kelahiran Prancis 1993 ini memang lebih gemar bermusik. Ia mendalami instrumen gitar sejak usianya 15 tahun. Suatu kegemaran yang terus berkembang secara kompeten sampai hari ini berjalan berdampingan dengan kiprah keaktorannya, mewujud bersama grup musik Dear9Three. Pada saat travelling, eksplorasi Maxime lebih berpusat pada hal-hal yang berhubungan dengan musik, toys, dan automotif; atau ia cukup bahagia menghabiskan waktu bersantai di hotel (preferensinya yang satu ini tak jarang memantik kegemasan Luna).
Terlepas dari semua candaannya, Maxime sesungguhnya berpikir Luna bisa menjadi pegolf profesional—jika ia menginginkannya. “I do think you’re a good golf player tho,” katanya. Intonasinya telah berubah serius. Pujiannya tulus. Luna tersenyum.

Hubungan Luna Maya dan Maxime Bouttier mencuri atensi publik sedari awal, terutama karena perbedaan di antara mereka. Kendati demikian, barangkali untuk memahami dinamika hubungan pasangan ini, Anda perlu melihat bagaimana keduanya justru saling tertarik pada hal-hal yang membuat mereka bertolak belakang; dan bagaimana mereka tumbuh bersama dengan menghargai perbedaan tersebut.
Di luar minat kesukaan, karakter serta selisih usia kerap kali memengaruhi cara mereka memandang sesuatu. Luna mengakuinya tanpa basa-basi. “Jika bicara perbedaan usia, memang tidak terelakkan bahwa ada gap mencakup pengalaman kita berdua akan hidup,” katanya mengontemplasi alur hubungan mereka yang kini menginjak hampir empat tahun kebersamaan. Ia mengilas balik momen-momen, pada awal kebersamaan, di mana keduanya enggan saling mendengar dan keras kepala mempertahankan kehendak masing-masing. “Di setiap momen itu, aku disadarkan bahwa tiap orang berproses dengan cara yang belum tentu sama,” ungkapnya, “Aku pun belajar untuk membiarkanmu menjalani alurmu sendiri. Bahkan di saat aku merasa, you know, ‘been there, done that.’” Kesediaan untuk toleran disertai ketenangan hati menjadi sikap yang dipelihara Luna dalam memperkuat landasan hubungannya. “Ya menjalani kehidupan hampir miriplah seperti main golf. Ada hari ketika semua terasa ringan dan pukulan kita tepat sasaran; di lain hari, pukulan bola yang sudah dilatih berkali- kali pun masih meleset,” ujar Luna beranalogi, “We just need to be patient, consistent, dan senantiasa berkeyakinan dalam prosesnya.” Main golf sesungguhnya memang menuntut ketenangan melampaui fokus, serta kemampuan berserah; barangkali itu juga yang membuat Luna menyukai golf.
“Berikan waktu untuk membentuknya,” ujar Maxime merangkum renungan Luna, dan dibalas dengan sebuah anggukan kepala nan mantap. “Jadi, tumbuh bersamaku ibarat main golf? Butuh kesabaran, namun precise,” lanjut Maxime seraya menyunggingkan senyum kecil. Luna memutar bola mata mendengar godaan sang suami, meski rona tersipu sulit ia sembunyikan dari wajahnya. Pada titik ini, percakapan mereka jelas telah bergerak ke luar topik seputar ‘prinsip-prinsip’ golf. “Pada akhirnya kita harus menerima bahwa setiap orang berbeda,” ujar Luna. “Setiap orang berbeda. Waktu mereka juga berbeda,” sahut Maxime.
Mereka bicara dengan saling menyahuti, menggoda, bahkan menambahkan satu sama lain tanpa dorongan untuk mendominasi. Ada dinamika yang terasa ringan, jauh dari performatif, sekaligus dewasa dalam interaksi mereka. Di balik citra pasangan romantis yang terus dilekatkan publik, Luna dan Maxime menampilkan sinergisme secara natural. Mungkin ini pula sebab keduanya masih cenderung menjaga jarak dari tawaran proyek fiksi romantis. “Aku rasa bakal awkward kalau bertingkah romantis dengan pengaturan naskah di depan kamera,” ujar Luna terus terang. Maxime tertawa kecil, lalu mengangguk setuju. “Akan jauh lebih menarik bila kita adu peran dalam cerita yang memberi ruang bagi individualitas masing-masing,” katanya.

Kedekatan Maxime dengan Luna terjalin dalam pola yang tidak serta-merta instan. Maxime adalah pribadi yang membutuhkan cukup banyak waktu untuk benar- benar membuka diri, terutama kepada orang-orang di luar lingkar sosialnya. Di lain sisi, presensi Luna kerap diikuti ledakan energi yang kontras dengan pribadinya. Alih-alih melebarkan jarak, perbedaan justru mentransformasikan ruang yang memperlihatkan bagaimana keduanya dapat belajar memahami ritme satu sama lain. “Menarik bagaimana kini, setelah kita bersama, aku bisa belajar untuk jadi pribadi yang lebih mudah terbuka. Bubble yang selalu aku ciptakan ketika menghadapi orang baru, seolah- olah perlahan pecah dengan sendirinya,” kata Maxime.
Keterbukaan dirinya perlahan mengubah cara Maxime memandang hubungan sebagai ruang untuk belajar keluar dari dunianya sendiri dan bertumbuh bersama orang lain. “Lalu setelah menikah, aku merasa jauh lebih mengerti arti berkompromi,” kata Maxime. Pertumbuhan karakter yang dirasakan Maxime tersebut tak luput dari pandangan Luna. Di matanya, Maxime semakin menunjukkan kematangan dalam bersikap, terutama perihal memaknai tanggung jawab. “Hal yang paling aku suka dari dirimu, bahkan sejak masih pacaran, adalah bagaimana kamu selalu bertanggung jawab,” ungkapnya penuh kejujuran, “Dan kualitas itu semakin kuat kamu tunjukkan setelah menikah.”
Satu tahun berumah tangga telah membangkitkan kesadaran baru dalam pribadi Maxime dan Luna. Lebih dari sekadar babak lanjutan atas romansa sebuah hubungan, pernikahan sejatinya adalah proses pembelajaran secara terus-menerus, tentang bagaimana dua orang memilih untuk tetap berjalan beriringan dan tumbuh bersama di tengah perubahan diri masing-masing. Cinta pada dasarnya ialah sebuah perasaan. Sifatnya dinamis. Ia dapat berubah bentuk, menjadi kian solid atau bahkan melemah hingga pudar seiring waktu. “Jika akhirnya cinta kita memudar,” Luna berandai-andai seraya menatap Maxime, “Aku selalu berharap cinta kita selalu hidup, tentu saja. Hanya jika... ketika tiba suatu hari rasa itu tidak lagi sebagaimana sedia kala, aku harap kita tidak berpaling dari satu sama lain. We just need to choose each other over and over again.” Alih-alih sekadar bersandar pada emosi yang diharapkan bertahan selamanya, Luna berpegang pada keyakinan akan komitmen berpasangan untuk terus mengusahakan kebersamaan
Maxime tersenyum, “Aku selalu bersyukur dengan kemampuan kita berdua dalam hal berkomunikasi, bahkan semenjak sebelum menikah. Rasanya komunikasi adalah pilar kekuatan hubungan kita.”
Sepanjang menyimak Luna dan Maxime berbincang dari kursi orang ketiga, saya rasa, benar adanya bahwa komunikasi adalah kunci hubungan Luna dan Maxime. Tampak jelas betapa keduanya bisa dengan lugas menyampaikan perasaan serta logika masing-masing terhadap satu sama lain. Argumentasi kecil terselip di antaranya, tentu saja; tidak semua hal mereka seia sekata. Bagaimanapun hubungan dua orang bukan hasil variabel nilai yang identik layaknya rumusan dalam matematika. Bagi Luna dan Maxime, titik temu keharmonisan justru mereka temukan lahir dari berbagai unsur pembeda yang bergerak beriringan.