26 Juni 2026
Raisa Selalu Manifestasikan Ruang untuk Seseorang Merasa Terlihat Lewat Musiknya
PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar
styling Ismelya Muntu; fashion Louis Vuitton; makeup Aditya Vagueskin; hair Ibay; location Okuzono Japanese Dining
"Saya ingin memperdengarkan sesuatu kepada Anda,” ujar Raisa. Ia mengeluarkan ponsel dari tas Louis Vuitton Speedy monogram hijaunya, lalu sibuk menelusuri galeri media. Tak lama ia menemukan file yang dicari, dan membukanya. Seketika alunan string mengudara dari pengeras suara ponsel. Tidak ada tembang; hanya bunyi megah dalam melodi berlapis yang terasa membius. Orkestrasinya menjalar hingga ke relung terdalam, dan menggetarkan emosi dengan keindahan nan menyayat hati. “Bagus,” saya menilainya, kendati berbeda dari gaya musik Raisa yang biasa. “Sekarang bayangkan Anda mendengarnya dalam sebuah pertunjukan live orchestra,” katanya antusias.
Musik yang kami dengar bersama itu merupakan komposisi karya Andi Rianto. Sang komponis pemimpin Magenta Orchestra secara khusus menggubahnya untuk aransemen pengiring konser tunggal Raisa pada 6 dan 7 Juni 2026. Dalam gelaran yang bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) tersebut, “Akan ada sekitar 50 hingga 60 musisi dari Magenta yang nantinya tampil mengiringi jalannya konser,” Raisa bercerita tatkala kami berjumpa di bulan April silam, “Kali pertama workshop, saya sampai menangis menyaksikannya.” Wajahnya berseri penuh semangat. “Mungkin saya bias karena ini adalah karya sendiri, ditambah pada dasarnya saya adalah orang yang gampang menangis—semua teman saya pun sering kali meragukan air mata saya,” katanya dengan selipan kejenakaan yang memecahkan tawa, dan selalu bisa ditemukan manakala Anda berbincang bersamanya, “Tapi bagaimana saya tidak menangis jika ide-ide yang lahir dari ruang kecil di kepala saya bisa mewujud jadi seindah ini.” Saya tersenyum, dan menyetujuinya: adalah wajar bilamana ia menitikkan air mata haru.
Bagi Raisa, kemegahan orkestra dalam konsernya bukan sekadar tambahan lapisan string yang mempercantik pertunjukan. Ia menggambarkan proses selayaknya reimajinasi menyeluruh. “Kami mengaransemen ulang setiap lagu yang akan ditampilkan dalam setlist; juga merancang komposisi baru untuk intro dan outro, di mana orkestra akan mengambil alih pertunjukan pada beberapa segmen,” ungkapnya, “Yang barusan kita dengar adalah intro lagu Terserah di babak ketiga.”
Diawali lagu pengantar, diakhiri penutup, dan pertunjukan disusun dalam pembagian babak. Penjelasannya terdengar mengisyaratkan sebuah pendekatan konseptual; seolah-olah seluruh aransemen dirancang untuk menjalin atmosfer pertunjukan yang bertumpu pada narasi, alih-alih sekadar konser musik. “Setiap orang memiliki satu lagu—atau beberapa—yang, begitu mendengarnya, seketika bisa membawa kita kembali pada momen dalam hidup. Semacam itulah idenya untuk tema konser ini, menempatkan lagu-lagu Raisa sebagai soundtrack bagi perjalanan hidup setiap pendengar,” ujar Raisa menegaskan premis dalam benak saya.

fashion Louis Vuitton.
“Penonton ‘menang banyak’ sih di konser ini,” ujarnya tergelak ringan. Intonasinya misterius, seperti menyiratkan sebuah kejutan yang belum terungkap. Setelah berceloteh maju mundur perihal lain, akhirnya ia membocorkan bahwasanya Anggun, Ariel Noah, Barsena Bestandhi, dan Rony Parulian akan hadir dalam penampilan spesial. “Konser ini akan menjadi pengalaman yang sangat berbeda,” katanya. Ia tidak sekadar menyoal skala produksi sebagai pencapaian personal, tetapi juga gestur penghormatan kepada para pendengar. “Para pendengar telah menemani perjalanan bermusik saya sedari awal. Rasanya seperti mereka ikut tumbuh bersama saya. Jadi saya berharap bisa menggelar pertunjukan yang sekaligus dapat mengapresiasi kehadiran mereka,” katanya.
Berhadapan langsung dengan para pendengar dari atas panggung merupakan salah satu momen yang paling intim dalam kehidupan seorang musisi. Di momen itulah terjalin keterhubungan yang begitu nyata. Buat sebagian, titik itu juga menghadirkan rasa keberdayaan yang sangat kuat. Sebuah kemampuan untuk menggerakkan emosi untuk larut dalam kesatuan harmoni. “Obviously, karena seluruh elemen pertunjukan telah dirancang sedemikian rupa agar penonton terhibur maksimal,” kata Raisa. Namun, apakah berdiri di atas panggung kemudian menjadi puncak kekuatan seorang musisi? Tidak, setidaknya tak selalu bagi Raisa.
Titik di mana Raisa menemukan bentuk keberdayaan yang terasa paling utuh sebagai musisi adalah studio rekaman. Ia sangat menyukai rekaman, sebagaimana penuturannya, “Karena, selama proses rekaman, saya benar-benar memegang kendali penuh atas rasa atau emosi yang terbentuk di sebuah lagu untuk dirasakan oleh pendengar.” Ia menyebut satu per satu elemen desainnya: nada, tempo, cara bernyanyi, penekanan vibrasi, artikulasi lirik, hingga lapisan backing vocal. Seluruhnya dirangkai presisi bersama tim produser kepercayaan. “Saya pikir, tidak ada yang lebih kuat dari keberdayaan seorang musisi saat mencipta,” kata peraih empat kali penghargaan Artis Wanita Pop Terbaik Anugerah Musik Indonesia itu (termasuk kemenangan terbarunya pada 2025 lewat karya Terserah).

fashion Louis Vuitton.
Raisa pertama kali menginjak dapur rekaman tatkala berusia 20 tahun. Ia merilis lagu hit Serba Salah (2010). Disusul debut album eponim, yang mengantarkan ia naik ajang Anugerah Musik Indonesia dan menerima piala Penyanyi Pendatang Baru Terbaik tahun 2012. Dalam rentang 16 tahun berkiprah, Raisa tercatat telah merekam hampir 70 lagu yang mencakup single non-album, soundtrack, hingga rangkaian karya dalam lima album studio yang beberapa di antara karyanya memenangkan penghargaan Album Terbaik ajang AMI.
“Ironinya, di usia karier sekarang, proses rekaman justru berjalan semakin lama,” katanya menyadari sebuah paradoksal kecil selagi berkontemplasi. Secara logika, pengalaman membuat seseorang bergerak lebih efisien. Lalu mengapa Raisa berlaku sebaliknya? “Keinginan saya dalam mengeksplorasi terus bertambah setiap waktu,” ujarnya tergelak, “Saya bisa merekam satu bait dalam beberapa versi—yang menurut orang lain saya terdengar sama—hingga berkali-kali.” Gelaknya kian pecah mengenang bagaimana ‘obsesinya’ akan detail tak jarang membuat timnya geleng-geleng kepala. Meski begitu, tak jua dipungkiri oleh timnya, gairah eksploratif Raisa dalam mengulik kreativitas menular layaknya energi positif yang mendorong seluruh tim menghasilkan karya terbaik. “Setiap kali mencipta lagu, saya semacam menetapkan benchmark personal: karya saya berikutnya harus setidaknya menyamai, atau bahkan bisa melampaui, nilai karya-karya saya sebelumnya,” jelasnya. Ia bukan bersikap keras pada dirinya sendiri. Ia memastikan agar tidak tertambat di zona nyaman.
Album kelima Raisa, ambiVert, jadi manifestasi teranyar atas gairahnya berevolusi sebagai musisi. Ia mengeksplorasi ritme waltz untuk aransemen lagu Bila. Pada Terserah, olah vokalnya menjangkau nada-nada lebih panjang dengan pendekatan menyanyi yang lebih agresif. “Saya tak pernah berpikir bisa menyanyikan Terserah sebagaimana rekamannya, karena jangkauan vokalnya di luar kapasitas saya biasanya. Tapi saya telah membentuk visi tersendiri untuk lagu tersebut di dalam kepala, dan ingin sekali merealisasikannya,” ceritanya. Maka ia menantang dirinya melampaui batas. Melalui proses intens bersama Barsena Bestandhi, vocal director sekaligus kolaboratornya dalam lagu Awal Kisah Selamanya, “Kami mengulik perihal vokal dengan mencoba berbagai kemungkinan, berulang-ulang, hingga menemukan versi yang paling tepat. Proses yang benar-benar fun!”

fashion Louis Vuitton.
Sejak kemunculannya di tahun 2010, musik Raisa melekat di telinga pendengar lewat gubahan lirik yang sentimental. Narasinya, seperti banyak penyanyi pop pendahulunya, berakar pada romantisisme menyoal cinta dan patah hati. Namun, Raisa menonjol karena sajaknya secara lugas memadukan bait puitis dengan bahasa keseharian. Tatkala beberapa tahun belakangan kebanyakan lagu-lagu Raisa lebih dominan metafora, karakter kelugasan itu pun sempat meredup. Di ambiVert, larik Raisa kembali bersuara lugas. Bahkan pilihan katanya merangkul bahasa yang semakin dekat keseharian. “Di saat diri tengah emosional, saya pikir, tidak ada orang yang ingin berpikir keras menerjemahkan kata-kata kiasan dalam lagu. Kita hanya ingin mendengar apa adanya, dan kalau bisa, menemukan apa yang tengah dirasakan dari sebuah lagu,” jelas Raisa.
Bersajak lugas bukan hal baru bagi perempuan kelahiran Jakarta 1990 ini. Kendati demikian, pendekatan tersebut malah mencuatkan tantangan selama penciptaan ambiVert. “Membuat bahasa keseharian beresonansi tanpa terasa berlebihan benar-benar tricky. Beberapa frasa terasa terlalu sederhana; dan beberapa yang lain malah terdengar cringe,” cerita Raisa tergelak ringan. Proses tersebut menuntut keberaniannya membantah keragu-raguan. “Sering kali, rasa tidak percaya diri muncul karena tidak terbiasa, ditambah kekhawatiran akan dihakimi,” ujarnya, “Setelah diucap berulang-ulang, lama-lama kami merasa sama sekali tidak ada yang cringe dari kata-kata tersebut.” Ia lalu mengurai proses kreatif di balik tiap lagu, yang ironisnya justru dipenuhi oleh percobaan kalimat-kalimat ‘terlalu biasa’ hingga ‘terlalu cringe’. Beberapa lagu bahkan lahir dari gurauan spontan: Ternyata Tanpamu (Cantik). “Saya dan teman-teman sedang bercanda menyoal kecantikan perempuan-perempuan single di tengah workshop lagu baru,” katanya sembari menyanyikan sepenggal bait yang dimaksud, “Sampai akhirnya terinspirasi mengangkatnya ke dalam lagu, candaan kami terlanjur menempel di kepala; akhirnya kami putuskan untuk menuangkannya apa adanya.”

fashion Louis Vuitton.
Ada cukup banyak lagu-lagu bersajak jenaka di ambiVert. Tapi jangan tertipu, di balik kejenakaan itu, tersurat spirit yang cukup mampu mengangkat semangat pendengarnya. It’s Okay to not be Okay misalnya, dan bahkan Pengganti Aku yang dengan cara tertentu memanifestasi afirmasi terhadap diri sendiri. Raisa tertawa mengetahui interpretasi pribadi saya. “Jujur, saya sama sekali tidak pernah melihat lagu ini sebagaimana Anda memandangnya,” ujarnya, “Saya justru membayangkannya seperti sebuah film, di mana saya menciptakan karakter di dalamnya.” Ia tidak bermaksud membenarkan, pun ia tidak merasa disalahpahami oleh pandangan saya. Bilamana menyoal musik, perbedaan interpretasi adalah lumrah. That’s the beauty of music.
ambiVert dirilis pada bulan Juni 2025. Di periode yang sama, kehidupan pribadi Raisa tengah melankolis. Dalam dinamika tersebut, efeknya pun tak terelakkan, tidak sedikit orang yang “membaca” album ini layaknya kepingan puzzle atas kisah hidup Raisa. Terlebih dengan bahasa lagu ambiVert yang terdengar selayaknya percakapan kasual yang nyaris tanpa jarak. “Saya bermusik, tapi juga pendengar musik. Jadi saya cukup mengerti bahwa akan selalu ada dua narasi meliputi sebuah karya; narasi pencipta dan narasi pendengarnya,” ujarnya dilukis senyuman. Selang sepersekian detik, ia melanjutkan sembari setengah berkelakar, “Jika inspirasi bermusik semata-mata selalu datang dari pengalaman pribadi, sepertinya saya tidak bisa hidup tenang. Rasanya saya harus terus mencari gara-gara dalam hidup setiap kali membuat album. Jelas bukan cara hidup yang sehat.” Kami terbahak bersama—bukan lantaran ucapannya ringan, justru sebaliknya. Gagasan bahwa yang paling personal kerap menjadi hal paling kreatif bukan sesuatu yang ia bantah. “Saya percaya. Karena ketika sesuatu terasa personal, biasanya mengalir tanpa dipaksakan dan penuh kejujuran,” lanjutnya. Namun di titik itu pula ia menarik garis batas yang tegas. Pengalaman pribadi barangkali lebih selayaknya brankas penyimpan kekayaan emosi yang dapat dipinjam sewaktu-waktu, sebagai bahan bakar bergerak kreatif.