Musik Bukan Sekedar Hobi

timothy marbun opinion elle indonesia

Hanya menggambarkan musik sebagai suara sama sekali tidak menyentuh arti dari apa itu musik sebenarnya. Oleh TIMOTHY MARBUN.

“Apa hobi Anda?”—Pertanyaan yang sebenarnya mudah untuk dijawab, namun saya selalu merasa bingung untuk menentukannya. Saya tidak pernah mengoleksi jam tangan, tidak menjalani kegiatan olahraga tertentu, tidak bisa memancing, apalagi baking.

Lalu, bagaimana saya menghabiskan waktu luang? Nah, apabila kalimat pertanyaan dirubah menjadi seperti itu, maka saya bisa dengan mudah menjawab: musik! Tapi bukankan itu hobi? Tentu tidak. Karena bagi saya, music is more than just a hobby.

Whitney Houston in The Bodyguardphoto courtesy Warner Bros.

Bohemian Rhapsody. Saya yakin sebagian besar pembaca ELLE mengenal lagu ini. Bayangkan perasaan yang muncul saat Anda mendengar nada-nada masuk di awal lagu, saat piano berdenting lembut, kemudian Freddy Mercury menyanyi. “Mama… Just killed a man…” —bait lagu yang sangat terkenal, dan sangat mungkin bagi Anda untuk melanjutkan lirik berikutnya tanpa rencana. Kita coba contoh lain. Saat Whitney Houston menarik napas panjang, disusul dentuman irama drum dan dilanjutkan dengan nyanyian, “And I… will always…”. Sebagian besar orang sangat hafal kelanjutan lirik ini. Lengkap dengan vibrato dan improvisasi sempurna khas Whitney Houston. Membaca barisan kalimat ini pun mungkin cukup membuat Anda terpancing untuk memutar lagunya.

Music is magical. Terdiri dari variasi nada, dirangkai ulang menurut imajinasi penciptanya, hingga menghasilkan sebuah karya yang bisa memiliki beragam makna. Dalam bentuk dasarnya, musik adalah bunyi atau suara. Bahkan tanpa notasi, musik tetap bisa tercipta. Namun menurut saya, hanya menggambarkan musik sebagai suara sama sekali tidak menyentuh arti dari apa itu musik sebenarnya.

Saya jelas bukan seorang musisi. Namun letak indahnya musik berada pada fakta bahwa medium ini dapat dinikmati oleh siapapun yang bukan paktisi sekalipun. Bahkan bagi saya, kehadiran penikmat musik sama pentingnya dengan adanya pencipta dan pelantun itu sendiri. Musik tentu diciptakan dengan tujuan—sebagai manifestasi kreativitas dan perasaan penciptanya. Musik juga dibuat untuk dinikmati bersama dengan peminatnya. Namun setelah memasuki telinga, musik bisa menjadi apa saja.

online course guittar lessons
Image source: Getty Images

Musik merupakan kehampaan yang kembali dirasakan saat kita mendengarkan lagu yang sama dengan momen ketika kita kehilangan cinta. Musik adalah ruang, tempat kita berada saat remaja, dengan segala kelakuannya. Musik ialah bara, yang seketika mampu membakar semangat lewat hentakan dentumnya. Musik bisa menjadi sahabat, yang menemani kesendirian tanpa mengusik riuhnya pikiran di kepala. Musik menjadi bahasa yang dipahami jiwa—meski tanpa lirik sekalipun, ia tetap mengantarkan makna. Musik adalah dia, wajah yang muncul di kepala saat kita menyimak suatu lagu yang mengingatkan kita tentang cinta.

Saya yakin ada banyak definisi dan pemahaman lain tentang musik. Walau alunan nada dan rangkaian lirik sebuah lagu terdengar sama bagi semua orang, namun emosi yang disematkan saat mendengarnya adalah sesuatu yang menyuntikkan nilai personal pada lagu tersebut.

Cher-at-grammys-GettyImages-74256945
Images source: Getty Images

Ada musik yang saya senangi dan telah didengarkan berkali-kali. Namun tidak semuanya memiliki arti khusus. Bagi saya, sebuah lagu bisa memiliki makna istimewa hanya jika perasaan itu kembali datang saat saya mendengarnya bertahun-tahun kemudian. Sekian lama lagu itu tak terdengar, apabila melodi dan liriknya hadir kembali, seketika saya seperti terbawa dalam mesin waktu menuju momen, lokasi, dan perasaan yang sama saat awal lagu tersebut memberikan makna.

Barangkali saya tidak sendiri. Ada orang lain yang pernah mengalami situasi serupa. Tidak perlu membahas lagu-lagu karya musisi legendaris. Bahkan saat mendengar lagu Doraemon yang terkenal itu, jiwa kanak-kanak di dalam diri kita seketika tersenyum. Ketika mendengar lagu dari film-film Warkop DKI secara tidak sengaja (Anda mungkin lupa lagu tersebut dimainkan di film Warkop yang mana), Anda terbawa kenangan ke masa lalu di saat tontonan itu Anda nikmati dalam kehangatan di ruang keluarga bersama ayah dan adik. Bukan hanya memori, namun perasaan pun ikut serta terbawa.

Lewat hal sederhana—semisal lagu parodi Warkop DKI—karya musik mampu membawa kenangan dan peristiwa masa silam. Ia bisa segera menciptakan rasa rindu kepada orang yang kita sayangi. Seandainya musik adalah mesin waktu, pasti ada banyak orang ingin menaikinya dan menghabiskan waktu untuk menikmati musik dan film tersebut bersama sang ayah. Musik jelas bukan hanya suara tanpa makna. Musik mampu menggerakkan jiwa dan raga secara bersamaan. Usai membaca tulisan ini, saatnya Anda memutar lagu kesayangan yang sudah bertahun-tahun tidak Anda dengarkan. And enjoy the ride.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.