21 Juni 2026
Adikara dan Bahasa Baru Maskulinitas Modern
PHOTOGRAPHY BY NORMAN FIDELI
photography NORMAN FIDELI styling ALIA HUSIN
Adikara berbicara seperti seseorang yang tidak merasa perlu menaklukkan ruangan. Nada suaranya rendah, ritme kalimatnya stabil, dan hampir setiap jawaban keluar tanpa tergesa-gesa, seolah ia memberi waktu bagi pikirannya untuk benar-benar tiba sebelum diucapkan. Di tengah generasi yang tumbuh bersama budaya tampil—di mana kecepatan respons sering disamakan dengan kecerdasan dan intensitas dianggap sebagai karisma—Adikara justru bergerak dalam tempo yang berbeda. Kalimat-kalimatnya tidak pernah terdengar meledak-ledak. Ia berbicara dengan nada rendah, stabil, nyaris seperti seseorang yang lebih tertarik memahami dunia daripada menaklukkannya.
Di usia 25 tahun, ia sudah menjadi salah satu nama paling khas di generasi baru musisi Indonesia: penyanyi, penulis lagu, dan musisi dengan spektrum bunyi yang bergerak di antara R&B, soul, jazz, dan pop modern. Sejak memulai karier musiknya pada 2016, namanya perlahan tumbuh lewat konsistensi karakter musikal yang terasa matang di usia muda. Ia pernah masuk dalam daftar nominasi Anugerah Musik Indonesia untuk kategori Artis Jazz Vokal Terbaik dan Artis Jazz Kontemporer Terbaik—sebuah penanda bahwa sejak awal ia sudah terbaca sebagai penyanyi dengan identitas musikal yang cukup spesifik. Namun menariknya, perjalanan itu tidak membentuknya menjadi figur yang terasa terlalu sibuk membangun persona. Justru sebaliknya: semakin lama diamati, semakin tampak bahwa yang dijaga Adikara bukan sekadar citra, melainkan konsistensi karakter.
Ketenangan itu juga terasa dari cara ia membawa dirinya sendiri. Rapi, tetapi tidak kaku. Hangat, tetapi tidak berlebihan. Ia tampak memahami sesuatu yang sering terlambat disadari banyak orang: bahwa kelas tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari kendali diri. Bahwa karisma tidak selalu lahir dari agresi, tetapi dari kemampuan menjaga ketenangan di tengah tekanan. Ada suatu masa ketika kata gentleman identik dengan jas rapi, sopan santun, dan kemampuan membuka pintu untuk orang lain. Hari ini, definisinya bergerak ke wilayah yang lebih subtil. “Gentleman modern tidak lagi semata perkara penampilan, melainkan cara hadir bahwa kita tahu kapan berbicara, kapan mendengar, kapan memimpin, dan kapan memberi ruang,” ujarnya.
Dalam lanskap itu, Adikara menjadi representasi menarik dari generasi baru laki-laki yang tidak merasa perlu meninggikan suara untuk diperhitungkan. Di usianya yang masih muda, ia memadukan ketenangan, disiplin, selera, dan sensitivitas emosional. Sebuah kombinasi yang dulu jarang dirayakan dalam citra maskulinitas populer. Pada generasi sebelumnya, laki-laki sering didorong untuk terlihat kuat dengan cara menekan rasa. Kerentanan dianggap kelemahan. Kelembutan dicurigai sebagai kehilangan wibawa. Namun generasi baru mulai memahami bahwa kekuatan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir justru dalam kemampuan mengelola emosi, bersikap tenang di tengah tekanan, dan berani menunjukkan kasih sayang tanpa rasa malu. Adikara mewakili bahasa baru itu.
Musiknya pun bergerak dalam spektrum yang sama: lembut, detail, dan tidak tergoda untuk berteriak demi didengar. Lagu-lagunya mengalir pelan, intim, dan presisi, seperti cara ia membangun personanya sendiri. “Saya tidak menciptakan musik yang memaksa untuk segera disukai; saya mencoba membangun suasana agar pendeng dapat masuk perlahan dan tinggal lebih lama. Saya sebenarnya hanya berusaha menjadi diri sendiri, termasuk dalam bermusik,” katanya.

Pernyataan itu menjelaskan mengapa seluruh estetika hidupnya terasa begitu kohesif. Musiknya yang romantis dan sedikit lawas berjalan selaras dengan selera personalnya terhadap mobil antik, pakaian klasik, dan ketertarikannya pada hal-hal yang punya karakter. Dalam banyak hal, Adikara terdengar seperti penyanyi muda yang lahir di zaman yang salah—atau mungkin justru sangat tepat untuk zaman ini, ketika publik mulai lelah pada persona yang terlalu dibentuk demi algoritma. Menariknya, energi tenang itu sering membuat orang salah menebaknya. “Sebagian orang menyangka saya pendiam,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Padahal mungkin saya cuma agak sulit memulai percakapan dengan orang baru.” Ia memang tidak datang dengan energi dominan yang ingin segera menguasai ruangan. Namun justru dari situ karismanya bekerja: ia lebih memilih mengamati daripada memotong pembicaraan, lebih tertarik memahami daripada sekadar terlihat menonjol.
Hal itu terasa pula dalam cara ia memandang proses kreatif. Di tengah industri musik yang semakin dipengaruhi ritme algoritma dan tuntutan untuk terus viral, Adikara tampak memilih membangun sesuatu yang lebih personal. “Saya tidak anti dengan keviralan, tapi agak sulit buat saya mengikuti sesuatu kalau itu bukan bagian dari jati diri saya,” katanya. Pernyataan itu menjelaskan mengapa musik dan kehidupannya terasa begitu kohesif. Lagu-lagunya yang romantis dan sedikit nostalgik berjalan seiring dengan ketertarikannya pada mobil antik, pakaian klasik, dan hal-hal yang memiliki karakter kuat. Ia tidak menciptakan identitas artistik yang terpisah dari kesehariannya. Pendekatan itu membuat lagu-lagunya terasa personal tanpa menjadi sentimentil.
Salah satu contohnya adalah Primadona, lagu yang ia tulis setelah pertama kali bertemu Nazla Alifa—perempuan yang kini menjadi istrinya—di sebuah acara di Bali. “Saya naksir dan jatuh cinta pada pandangan pertama,” katanya sambil tertawa kecil. Dari pengalaman itu lahir lirik: “Ku bertemu dia sepulang kerja di lantai berdansa / Gaya penuh irama, kemayu parasnya / Menawan gayanya, elok pun caranya bicara / Primadona Kota Jakarta, tak ada dua.” Menariknya, lagu itu tidak terdengar seperti deklarasi cinta yang meledak-ledak, melainkan observasi yang tenang terhadap seseorang yang memikatnya. Bahkan ketika ia menulis “Entah ini sekadar cinta atau romansa semata / Rayuan belaka, harapan yang fana,” ada keraguan yang sengaja dibiarkan hidup di dalam lagu. Adikara tidak menulis cinta sebagai sesuatu yang selalu pasti; ia membiarkan cinta tetap memiliki ruang untuk ambigu, rapuh, dan manusiawi.

Sebagai musisi, pendekatan Adikara terhadap cinta pun bergerak lewat medium yang paling ia pahami: lagu. Setelah beberapa kali ajakannya pergi ditolak Nazla, ia tidak memilih gestur besar yang dramatis atau pendekatan penuh permainan. Ia justru merekam potongan lagu sederhana menggunakan ponsel, lalu mengirimkannya lewat Instagram Reels. Dari situ lahir potongan lirik: “A star in her own right / A queen by the moonlight / At the top of the town / As she dances, as she turns it around.” Lirik-lirik itu memperlihatkan cara Adikara menulis rasa: penuh admiration, tetapi tidak posesif; romantis, tetapi tidak manipulatif. Ia menulis seperti seseorang yang genuinely terpesona pada pribadi orang lain, bukan sekadar pada gagasan tentang jatuh cinta itu sendiri. Tidak ada kebutuhan untuk terdengar paling puitis atau paling menguasai situasi. Yang terasa justru kejujuran seorang laki-laki muda yang mencoba mendekati seseorang dengan cara yang paling dekat dengan dirinya sendiri—musik.
Pendekatan yang sama juga terasa pada Katakan Saja, salah satu lagu yang paling banyak beresonansi dengan pendengarnya karena kesederhanaan emosinya. “Jika memang tak lagi sama, katakan saja,” nyanyi Adikara dengan nada yang tidak terdengar marah ataupun manipulatif. Di tangan banyak penyanyi lain, lagu tentang perpisahan mungkin akan dipenuhi ledakan emosi atau permainan saling menyalahkan. Pada Adikara, rasa sakit justru hadir dalam bentuk yang lebih tenang: kesediaan menghadapi kejujuran. Lagu itu berbicara tentang keberanian menerima perubahan dalam relasi tanpa harus mengubah cinta menjadi arena pertarungan ego. Barangkali karena itu musik Adikara terasa relevan bagi generasi yang mulai lelah dengan romantisme performatif dan relasi yang dibangun dari permainan tarik-ulur emosional.
Lagu-lagunya tidak berteriak untuk didengar; ia bergerak pelan, intim, dan presisi, seperti cara ia membangun personanya sendiri. Bahkan dalam lagu terbarunya, Can I Tell the World I Love You? yang lahir berdekatan dengan kelahiran putrinya, Alaira, Adikara kembali memperlihatkan kecenderungan yang sama: menulis cinta dengan keterbukaan yang nyaris tidak defensif. Can I tell the world that I love you? terdengar bukan hanya sebagai kalimat romantis, tetapi manifesto kecil tentang keberanian seorang laki-laki untuk menunjukkan kasih sayang secara terbuka tanpa merasa perlu menyamarkannya sebagai ironi.

Di luar musik, hidup Adikara kini bergerak dalam ritme baru. Ia sedang menyiapkan tur, merampungkan album terbaru, dan menjalani kesibukan panggung dari satu acara ke acara lain. Namun di sela semua itu, ada kehidupan lain yang kini menjadi pusat gravitasinya: perannya sebagai ayah dari seorang anak perempuan bernama Alaira. “Kiblat saya sekarang adalah istri dan anak,” katanya pelan. Menjadi ayah di usia muda membuatnya membaca ulang banyak hal, termasuk hubungannya sendiri dengan orangtua. “Saya baru sadar ternyata butuh waktu dua puluh tahun lebih untuk benar-benar mengerti bahwa orangtua saya sayang banget sama saya.” Ada jenis kedewasaan tertentu yang memang tidak lahir dari pencapaian profesional atau sorotan publik, melainkan dari rutinitas hadir setiap hari untuk orang lain. Cara Adikara berbicara tentang pernikahan juga memperlihatkan bagaimana ia memandang relasi sebagai partnership, bukan sekadar romantisme. Ia tidak percaya pada silent treatment, permainan emosi, atau kebutuhan membuat pasangan menebak isi pikiran. “Menurut saya pernikahan itu isinya ngobrol,” ujarnya. Bahkan ketakutan terbesarnya hari ini bukan kegagalan karier, melainkan kehilangan kendali atas amarah di depan anak dan istrinya. Memori melihat pertengkaran orangtuanya ketika kecil membuatnya sadar bahwa nada bicara dapat tinggal lama di kepala seorang anak.
Pada akhirnya, Adikara menarik bukan karena ia berusaha tampil berbeda, tetapi karena ia tampak cukup nyaman untuk tidak terus-menerus membuktikan dirinya. Di tengah budaya yang sering mendorong laki-laki terlihat dominan, dingin, dan sulit disentuh, ia justru memperlihatkan kemungkinan lain: bahwa kelembutan tidak selalu identik dengan kelemahan, dan ketenangan bukan berarti ketiadaan daya. Barangkali itu sebabnya musik dan sosoknya terasa relevan hari ini. Bukan karena ia menawarkan jawaban besar tentang bagaimana laki-laki modern seharusnya hidup, melainkan karena ia memperlihatkan bahwa kedewasaan sering lahir dari hal-hal yang tampak sederhana: cara berbicara, cara mendengarkan, cara menjaga emosi, dan cara hadir bagi orang-orang yang dicintai.
“Saya rasa kelembutan jadi sesuatu yang seksi banget buat laki-laki,” katanya suatu ketika. “Laki-laki yang bisa dan berani mengutarakan perasaannya, laki-laki yang tidak menghindar dari masalah. Rasanya ada kualitas yang jauh lebih menarik dari sekadar tampil macho yaitu tanggung jawab dan kelembutan.” Dalam kalimat itu, Adikara seperti sedang merangkum generasinya sendiri: generasi laki-laki yang mulai memahami bahwa kekuatan tidak selalu harus terdengar keras untuk bisa terasa dalam.