16 Agustus 2026
Claresta Taufan Bertransisi Profesi penuh Semangat dan Kedisiplin Mengembangkan Diri
PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar
styling Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Dior; makeup Rommy Andreas; hair Yez Hadjo; production assistants Rachel Noriska, Kayla Shabia, Sarah Aliyyah
Sebagian orang menghabiskan hidupnya untuk menemukan jati diri. Sebagian yang lain membangunnya, berkali-kali, dengan keberanian meninggalkan kehidupan yang telah dikenal demi memasuki wilayah yang sama sekali baru. Claresta Taufan tidak pernah terlalu terikat pada satu identitas, sebab baginya bertumbuh berarti bersedia menjadi seseorang yang baru. Dari karate, dunia presenter, hingga seni peran, hidup Claresta bergerak melalui serangkaian perubahan yang tampak tidak berhubungan. Namun jika ditarik ke belakang, seluruh perjalanan itu sesungguhnya bertumpu pada satu fondasi yang sama: disiplin.
Dalam beberapa tahun terakhir, perfilman Indonesia melahirkan generasi baru dengan latar yang semakin beragam. Mereka datang bukan hanya dari sekolah seni, tetapi juga dari olahraga, dunia akademik, hingga komunitas independen. Claresta termasuk bagian dari gelombang baru itu. Ia membawa disiplin seorang atlet ke dalam profesi yang selama ini identik dengan spontanitas dan intuisi. “Kedisiplinan menjadi benang merah dalam semua yang saya jalani. Mulai dari manajemen waktu, konsistensi berlatih, sampai komitmen untuk terus meningkatkan kemampuan.” Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menjelaskan hampir seluruh perjalanan hidupnya.
Jauh sebelum namanya dikenal lewat Badarawuhi di Desa Penari, Abadi Nan Jaya, hingga Pangku, Claresta seorang anak yang jatuh cinta pada karate sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia melihat anggota keluarganya berlatih, lalu memutuskan ikut mencoba. Keputusan kecil itu kemudian membawanya bertahun-tahun hidup dalam ritme latihan yang keras: bangun pagi, mengulang gerakan yang sama, menerima kekalahan, lalu kembali berlatih. Prestasi demi prestasi datang kemudian—medali di tingkat nasional hingga internasional, sabuk hitam, dan pengalaman mewakili daerah di berbagai kejuaraan.
“Saya dididik untuk tidak mudah patah, tidak gampang layu, dan memahami bahwa kalah maupun menang adalah hal yang wajar. Sampai sekarang pun saya masih berlatih supaya karate tidak benar-benar lepas dari diri saya.” Ada sesuatu yang menarik dari kalimat “tidak mudah layu”. Ia tidak bicara soal menjadi yang paling kuat, melainkan tentang kemampuan bertahan. Barangkali karena itu pula, ia tidak pernah benar-benar melihat perpindahan profesinya sebagai lompatan yang drastis.
Selepas kuliah Arsitektur di Universitas Bina Nusantara, ia sempat menjadi presenter olahraga, lalu membawakan Jejak Petualang. Dunia akting datang perlahan, bukan sebagai mimpi masa kecil, melainkan sebagai rasa ingin tahu yang terus tumbuh. “Saya baru mulai bermain FTV ketika kuliah. Setelah lulus, saya masuk dunia akting. Waktu itu diam-diam ikut kelas akting untuk saya belajar vokal,tari tradisional, tari modern. Saya mulai merasa profesi ini menarik sekali karena dalam satu pekerjaan saya bisa belajar begitu banyak hal.”
Claresta selalu tertarik pada proses yang menuntutnya menjadi murid. Karate mengajarkannya disiplin tubuh. Arsitektur melatih cara berpikir yang sistematis. Seni peran mempertemukannya dengan bahasa, musik, tari, psikologi, dan kehidupan manusia yang nyaris tak berbatas. Karena itu ia tidak pernah melihat perjalanan hidupnya sebagai serangkaian profesi yang berdiri sendiri. “Semuanya menuntut konsistensi. Semuanya mengharuskan saya menjadi gelas kosong. Tidak ada proses yang sia-sia. Bahkan karate ternyata berguna ketika saya bermain film.” Baginya, setiap fase kehidupan saling mempersiapkan fase berikutnya. Sesuatu yang dahulu terasa seperti rutinitas ternyata diam-diam sedang membangun fondasi bagi masa depan yang bahkan belum dapat ia bayangkan.
Perlahan, kesempatan-kesempatan yang dulu hanya sebuah kemungkinan mulai berubah menjadi kenyataan. Claresta dipercaya membintangi Ronggeng Kematian, kemudian Badarawuhi di Desa Penari, Sakaratul Maut, Abadi Nan Jaya, hingga memerankan Sartika Puspita dalam Pangku, film panjang perdana garapan Reza Rahadian sebagai sutradara. Karakter itu bukan hanya membawanya berkeliling ke festival film internasional, tetapi juga mengantarkannya meraih penghargaan Rising Star di Marie Claire Asia Star Awards dalam Festival Film Internasional Busan, nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik di Festival Film Indonesia 2025, serta Aktris Utama Pilihan di Festival Film Tempo 2026.
“Mungkin orang lain melihat perkembangan karier saya sangat cepat. Padahal sejak kuliah saya berkali-kali ikut casting dan sering ditolak. Jalan baru terbuka pada 2022, ketika mungkin saya sudah lebih siap.” Di sini ada letak perbedaan antara cara publik membaca keberhasilan dan cara seseorang mengalaminya. Orang lain melihat hasil akhirnya; pelakunya mengingat tahun-tahun yang dipenuhi penolakan, latihan, dan kesabaran.
Ketika ditanya hal paling mengejutkan dalam perjalanan hidupnya, ia tidak menyebut film besar atau karpet merah, melainkan fakta bahwa ia bisa menerima penghargaan di luar dunia karate. “Saya dari kecil hanya fokus di karate dan sekolah, tiba-tiba berkesempatan main film lalu mendapat penghargaan. Itu sesuatu yang benar-benar tidak pernah saya bayangkan. Dari awal saya masuk industri ini, tujuan saya sebatas bekerja dan berkarya.” Claresta tampak lebih tertarik menjaga proses daripada mengejar validasi. Baginya, disiplin bukan sekadar kebiasaan, melainkan kompas yang menjaga agar ia tidak kehilangan arah ketika pencapaian mulai berdatangan. “Bakat mungkin penting, tetapi ada satu hal yang menurut saya jauh lebih sulit dikalahkan, yaitu kedisiplinan. Bakat tanpa disiplin bisa menjadi sia-sia. Justru disiplin yang membentuk karakter dan menjaga kita tetap berada di jalur.”
Setelah Pangku, Claresta kembali memperluas lanskap perannya melalui sejumlah proyek baru, termasuk film aksi-noir Ratu Malaka garapan Angga Dwimas Sasongko, yang mempertemukannya kembali dengan dunia fisik yang selama ini akrab dengannya. Menariknya, keterampilan yang dibangun bertahun-tahun di dojo kembali menemukan relevansinya di depan kamera. Bagi Claresta, pengalaman itu seperti mengingatkan bahwa tidak ada proses belajar yang sia-sia. Latihan-latihan yang pernah terasa melelahkan pada akhirnya menemukan waktunya sendiri untuk berguna.
Lalu, di tengah begitu banyak identitas yang pernah ia jalani—atlet, presenter, aktris—identitas apa yang paling dekat dengan dirinya hari ini? “Saya sebenarnya lebih ingin menjadi Claresta sebagai manusia. Saya ingin orang melihat saya tanpa embel-embel profesi, tanpa dihitung prestasinya, tanpa ditelusuri pernah main film apa saja.” Sejatinya Claresta tidak sedang berusaha meninggalkan masa lalunya sebagai atlet, atau menukar identitas itu dengan identitas baru sebagai aktris. Ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: menjaga agar seluruh pencapaian tidak mengambil alih dirinya sebagai manusia. Claresta Taufan tampaknya belum selesai berproses. Dan karena itu, perjalanannya terasa begitu menarik untuk terus diikuti—sebab ia tidak sedang mengejar satu tujuan akhir, melainkan terus membangun dirinya, dengan disiplin yang sama seperti hari pertama ia belajar berdiri di atas tatami.