19 Februari 2026
Dari Tanah Sulawesi yang Subur, Sheherazade Mendirikan PROGRES yang Memperjuangkan Konservasi Spesies Keanekaragaman Hayati
Di jantung Sulawesi, di mana pegunungan hijau menjulang dan kabut pagi menari di atas lembah, seorang perempuan muda bernama Sheherazade menenun kisahnya sendiri, kisah tentang cinta pada tanah, pengetahuan, dan keberanian untuk bertahan. Nama itu, yang dulu hanya hidup dalam legenda Seribu Satu Malam, kini menjelma dalam wujud nyata seorang ilmuwan konservasi dari Palu, Sulawesi Tengah. Seperti tokoh fiksinya yang cerdas dan berani menyelamatkan banyak perempuan lewat cerita, Sheherazade masa kini juga menggunakan kisah dan pengetahuannya untuk menyelamatkan kehidupan—bukan di istana, melainkan di hutan tropis dan lembah-lembah yang menjadi rumah bagi ribuan spesies langka yang tak bersuara.
Perempuan kelahiran 12 Desember 1993 ini sedang menempuh pendidikan doktoral di bidang Environmental Sciences, Policy, and Management di University of California, Berkeley, salah satu kampus terkemuka dunia. Namun, di antara hiruk-pikuk riset internasional dan forum akademik global, pikirannya tak pernah lepas dari kampung halamannya di Sulawesi. Di sanalah ia bersama Asnim Alyoihana Lanusi atau Bi Anim mendirikan Prakarsa Konservasi Ekologi Regional Sulawesi (PROGRES), sebuah organisasi yang memperjuangkan konservasi spesies terancam punah yang selama ini luput dari perhatian negara. Melalui PROGRES, dua perempuan Sulawesi ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik menara gading, tapi juga alat untuk memberdayakan masyarakat lokal, melestarikan alam, dan menumbuhkan harapan bagi generasi muda. Bersama rekan-rekannya, termasuk Asnim Alyoihana Lanusi atau Anim, Shera memimpin sebuah gerakan yang tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial, membangun kapasitas masyarakat lokal, dan memupuk rasa bangga akan identitas Sulawesi.
Kecintaannya pada alam bermula sejak kecil, di sebuah dusun yang tak jauh dari Taman Nasional Lore Lindu. Ia tumbuh melihat orang asing datang dengan teropong dan buku catatan, mengamati burung dan kelelawar di antara pepohonan. “Saya sempat heran, kok jauh-jauh mereka datang hanya untuk melihat burung,” kenangnya sambil tersenyum. Namun dari keheranan masa kecil itulah muncul kesadaran mendalam: bahwa hutan dan satwa di tanah kelahirannya memiliki nilai luar biasa. Bukan sekadar objek riset, melainkan warisan yang harus dijaga. Sejak Alfred Russel Wallace menapakkan kaki di pulau ini dan membantu melahirkan teori evolusi bersama Darwin, Sulawesi telah menjadi laboratorium alami bagi sains dunia. Tapi bagi Shera, kekayaan biodiversitas itu tak seharusnya hanya dinikmati oleh peneliti luar; ia harus dipahami dan dijaga oleh mereka yang hidup bersamanya.
Dari sekian banyak makhluk yang ia temui di lapangan, kelelawar Sulawesi (Acerodon celebensis)—atau poniki, dalam bahasa lokal—memikat hatinya paling dalam. Bagi Shera, poniki adalah penjaga malam dan penyerbuk kehidupan. Mereka menyerbuki buah-buahan tropis termasuk durian, menekan populasi serangga hama, dan bahkan menyuburkan tanah dengan kotorannya. Namun ironisnya, makhluk penting ini justru diburu untuk konsumsi, mengancam keseimbangan ekosistem. Melalui risetnya yang memenangkan Peter Aston Prize (2020), Shera menunjukkan bahwa setiap kelelawar yang hidup berarti satu langkah kecil menuju kelestarian hutan dan ekonomi lokal yang lebih kuat. Ia menyadarkan dunia bahwa konservasi bukan sekadar upaya menyelamatkan spesies, melainkan menjaga keterhubungan antara kehidupan, antara manusia, alam, dan masa depan yang layak diperjuangkan. Bahwa pengetahuan bisa menjadi bentuk aktivisme paling halus. Sheherazade meretas jarak antara laboratorium dan ladang, antara jurnal ilmiah dan kebijaksanaan adat, antara sains dan cinta. Bagi Shera, konservasi bukan sekadar wacana pelestarian, tetapi gerakan sosial yang menumbuhkan martabat dan kemandirian. Seperti kelelawar yang ia pelajari, ia bekerja dalam senyap namun memberi kehidupan bagi banyak hal yang tumbuh di sekitarnya.
Nama Anda, Sheherazade, memiliki makna yang kuat: simbol kecerdasan, keberanian, dan daya juang perempuan. Bagaimana makna nama itu Anda artikan dalam perjalanan hidup dan kerja-kerja Anda hari ini?
“Saya selalu merasa nama itu seperti doa yang terus hidup. Sheherazade dalam kisah Seribu Satu Malam bukan sekadar pencerita, tapi penyelamat, perempuan yang bertahan melalui narasi dan kebijaksanaannya. Dalam konteks saya, mungkin cerita saya adalah tentang alam, dan narasi yang ingin saya selamatkan adalah tentang hubungan manusia dengan lingkungan. Saya ingin memperlihatkan bahwa perempuan juga bisa menjadi penjaga Bumi, bukan hanya pendengar kisahnya.”
Anda tumbuh di sekitar Taman NasionalLore Lindu dan sering melihat para peneliti asing datang untuk mengamati keanekaragaman hayati. Bagaimana pengalaman masa kecil itu membentuk cara Anda memandang alam dan tanggung jawab terhadapnya?
“Saya melihat mereka datang dengan rasa ingin tahu yang besar, tapi saya juga menyadari satu hal: yang punya rumah jarang diajak bicara. Anak-anak lokal seperti saya hanya menjadi penonton. Dari situ saya belajar bahwa konservasi tidak bisa dibawa dari luar, ia harus tumbuh dari dalam, dari orang-orang yang mencintai dan hidup bersama alam itu sendiri.”
Dalam banyak cerita, anak muda dari daerah sering didorong untuk pergi demi masa depan yang lebih baik. Anda justru memilih untuk tinggal dan berjuang di Sulawesi. Apa titik balik yang membuat Anda mengambil keputusan itu?
“Mungkin karena saya tidak ingin menjadi penonton lagi. Saya pernah meninggalkan Sulawesi untuk belajar, tapi setiap kali kembali, ada rasa bersalah yang sulit dijelaskan. Saya melihat banyak hal berubah: hutan yang makin berkurang, sungai yang tak lagi jernih, dan generasi muda yang merasa jauh dari alamnya sendiri. Di titik itu saya sadar, masa depan yang lebih baik itu bukan hanya tentang ‘ke mana kita pergi’ tapi ‘apa yang kita perjuangkan di tempat kita berdiri’.”
Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, namun juga menghadapi ancaman besar. Bagaimana Anda mendefinisikan konservasi dalam konteks lokal?
“Konservasi bukan sekadar menjaga pohon dan satwa, tapi menjaga hubungan manusia dengan alam. Di Sulawesi, alam bukan hanya sumber daya, tapi bagian dari identitas. Maka konservasi bagi kami adalah soal keberlanjutan hidup, bagaimana masyarakat bisa tetap sejahtera tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga alam.”
Penelitian Anda tentang kelelawar juga dikenal luas. Apa yang membuat spesies itu begitu personal dan penting bagi Anda?
“Kelelawar sering disalahpahami, dianggap menakutkan atau pembawa penyakit. Padahal mereka pahlawan ekosistem yang sesungguhnya. Mereka membantu penyerbukan, mengendalikan serangga, menjaga keseimbangan alam. Saya merasa kelelawar itu seperti metafora untuk banyak hal: tentang makhluk yang bekerja dalam diam, tak terlihat, tapi berperan besar. Mungkin itu juga cara saya melihat pekerjaan kami di PROGRES.”
Anda menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal. Apa tantangan terbesar dalam menjembatani dua dunia ini?
“Tantangannya adalah kepercayaan. Ilmu pengetahuan sering datang dengan bahasa yang tidak dipahami masyarakat, sementara kearifan lokal sering dianggap tidak ilmiah. Kami mencoba menjembatani itu dengan mendengarkan dulu. Kadang, untuk menjelaskan konservasi, tidak perlu istilah latin, cukup dengan cerita leluhur tentang sungai yang punya penjaga atau burung yang membawa pesan musim. Itu jauh lebih membekas."
PROGRES tumbuh menjadi gerakan anak muda yang kuat. Bagaimana Anda menjaga agar semangat idealisme tetap seimbang dengan realitas operasional di lapangan?
“Di sinilah peran Bi Anim sangat besar. Ia memastikan semua ide bisa diterjemahkan menjadi aksi yang berkelanjutan. Kami berdua punya keseimbangan yang baik: saya banyak bergerak di arah visi dan narasi, sementara Bi Anim memastikan langkah kami tetap membumi: dari keuangan, pelibatan masyarakat, hingga kampanye kesadaran.”
Bi Anim, sebagai Co-Executive Director PROGRES, bagaimana Anda melihat dinamika ini dari sisi operasional?
“Kami belajar untuk tidak hanya ‘mencintai’ alam, tapi juga mengelolanya dengan tanggung jawab. Menjalankan PROGRES berarti menyeimbangkan antara idealisme dan realita lapangan, antara kebutuhan finansial dan nilai-nilai yang kami perjuangkan. Tantangan terbesar kami justru bukan pada sumber daya, tapi pada keberlanjutan: bagaimana memastikan gerakan ini bisa hidup lebih lama dari kami sendiri.”
Bi Anim, Anda juga menulis buku cerita anak tentang satwa liar Sulawesi. Apa harapan Anda dari karya tersebut?
“Saya ingin anak-anak Sulawesi tahu bahwa mereka hidup di tempat yang luar biasa. Bahwa burung yang mereka lihat setiap hari atau kelelawar yang hinggap di atap rumah bukan sekadar hewan, tapi bagian dari kisah besar yang layak dibanggakan. Menulis untuk anak-anak adalah cara saya menanamkan cinta pada alam, karena perubahan besar selalu dimulai dari rasa sayang yang kecil.”
Kembali ke Anda, Shera. Dalam konteks pemberdayaan perempuan, bagaimana Anda melihat peran perempuan dalam menyelamatkan alam dan membangun masa depan komunitas?
“Perempuan selalu punya hubungan yang khas dengan alam karena kami tahu rasanya memberi, menumbuhkan, dan kehilangan. Di banyak komunitas, perempuan adalah penjaga air, penanam benih, dan pendidik pertama di rumah. Jika kita ingin alam lestari, maka dengarkanlah perempuan.”
Jika boleh menggambarkan impian Anda untuk Sulawesi dalam satu dekade ke depan, seperti apa wujudnya?
“Saya ingin melihat generasi muda yang bangga menyebut dirinya orang Sulawesi, bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi karena tanggung jawab mereka menjaganya. Saya ingin melihat gerakan ini terus tumbuh, melahirkan lebih banyak storyteller, peneliti, dan penggerak yang tahu bahwa rumah mereka layak diperjuangkan.”