LIFE

24 Februari 2025

Heart Evangelista Menemukan Cara untuk Memanusiakan Dirinya


PHOTOGRAPHY BY Vicky Tanzil

Heart Evangelista Menemukan Cara untuk Memanusiakan Dirinya

styling Ismelya Muntu; fashion Vone; makeup Memay Francisco; hair Ghil Sayo

Nama adalah sebuah doa. Setidaknya itu yang dikatakan banyak orang ketika membicarakan keindahan sebuah nama. Tak hanya dipilih berdasarkan keindahannya, sepenggal nama turut menyimpan harapan dan doa pemberinya—yang kebanyakan diberikan oleh orangtua—agar dapat menjalani kehidupan sesuai nama yang dianugerahkan.

Heart Evangelista menjadi sosok sempurna untuk mendemonstrasikan gagasan tersebut. Pribadinya hangat dan penuh kasih selaras dengan nama aslinya, Love Marie Payawal Ongpauco. Tak seperti kebanyakan selebritas yang kerap menciptakan ‘jarak’ dengan para penggemarnya, Heart hampir tak pernah menolak ajakan berswafoto yang dilayangkan penggemarnya. Ia melakukannya dengan rendah hati dan selalu dengan penuh senyuman. Hal-hal kecil seperti ini yang membuatnya berbeda dan begitu dicintai, baik oleh para penggemar film-filmnya, para pemerhati mode, hingga 16 juta pengikutnya di Instagram.

Heart Evangelista sendiri adalah seorang sosok multitalenta yang telah mengukir nama besarnya di dunia perfilman Filipina. Ia dikenal lewat kemampuannya membawakan peran-peran kompleks  dengan keanggunan dan kedalaman emosional yang memikat. Popularitas yang melampaui layar kaca, menjadikannya salah satu aktris paling dihormati dan berpengaruh di industri hiburan Asia Tenggara. Selain dunia akting, Heart juga menjelajahi ranah mode dan seni rupa dengan penuh percaya diri. Kehadirannya yang memukau di acara-acara mode internasional, seperti Paris Fashion Week, telah menjadikannya ikon mode global yang disegani. Ia juga tak pernah malu-malu dalam mengekspresikan kepekaan artistiknya melalui sejumlah kreasi lukisan yang sempat dipamerkan di sebuah pameran tunggal, memperkuat posisinya sebagai seorang seniman visual yang patut diperhitungkan.

Dengan kombinasi kecemerlangan di bidang film, mode, dan seni, Heart Evangelista pun menjadi simbol perempuan berdaya yang terus mampu menginspirasi para pengikutnya. Meski demikian, ia juga tak pernah takut untuk menunjukkan sisi rentannya kepada dunia, yang mana memanusiakannya dan membuatnya tak berbeda dengan perempuan kebanyakan.

Heart, Anda kerap disebut-sebut sebagai seorang ikon di industri mode dan juga menjadi seorang advokat bagi perempuan dan anak perempuan. Apakah Anda melihat diri Anda sebagai seorang panutan?

“Tergantung dengan apa yang Anda percayai akan bagaimana seorang panutan seharusnya bersikap. Apabila Anda membicarakan soal kehidupan yang sangat sempurna, tentunya saya bukan lah seorang panutan. Tapi apabila Anda berbicara tentang seseorang yang telah mengarungi kehidupan dan memiliki perjuangan serupa dengan kebanyakan orang, memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan, terus melanjutkan hidup dengan tekad bulat dan keanggunan; maka saya ingin menjadi panutan seperti itu. Karena saya telah melewati begitu banyak hal dalam hidup; dan bisa berdiri di sini di hadapan Anda dengan sebuah senyuman di wajah saya dan dikelilingi oleh orang-orang yang begitu berarti dalam hidup saya, maka saya dapat dengan bangga mengatakan bahwa saya telah melewati hal-hal terburuk dalam hidup dan terus bertahan.”

Gagasan untuk menjadi seorang panutan memberikan banyak tekanan bagi kebanyakan orang. Bagaimana Anda mengimbangi ekspektasi orang-orang sekaligus tetap setia pada keotentikan diri Anda?

“Saya tumbuh besar sebagai seorang aktris, saya telah berada di industri ini selama 27 tahun, saya telah memainkan berbagai peran, dan saya tahu rasanya dicintai saat tidak menjadi diri saya sendiri. Oleh karenanya, ketika saya dapat ‘terbebas’ dari telenovela dan film, saya mulai menjadi diri saya sendiri dan ada begitu banyak reaksi yang berdatangan. Ada yang menyukai saya, ada juga yang tidak. Tetapi saya menginginkannya just right, atau gabungan dari keduanya, karena masih terasa riil. Saya rasa orang-orang lebih menghargaimu ketika Anda menjadi otentik dan memperlihatkan sisi rentan Anda, sisi baik dan buruk Anda. Karena memerlukan banyak keberanian untuk menjadi diri Anda sendiri.”


Pada titik apa Anda menyadari bahwa Anda ingin bergelut di industri kreatif secara profesional?

“Saya bahkan tidak tahu apakah saya memiliki kesadaran akan hal tersebut. Sejak kecil, saya sangat ekspresif; saya kerap melukis di dinding hingga meminjam baju-baju ibu saya. Saya ekspresif, namun tidak secara vokal maupun secara verbal. Saya gemar menyanyi, menggambar, dan melukis. Saya merasa beruntung karena dapat berkarier secara kreatif. Tetapi untuk menentukan bahwa hari ini saya akan memulainya, saya rasa saya terlahir dengan bakat kreatif. Ada kelebihan dan kekurangannya, tapi saya bahagia dapat menemukan cara untuk mengekspresikannya. Karena apabila tidak, rasanya akan membuat Anda begitu frustrasi.”

Anda telah memainkan begitu banyak peran sepanjang karier Anda, mulai dari menjadi seorang aktris, seniman visual, dan juga seorang fashion influencer. Bagaimana Anda mengimbangi aktivitas artistik Anda dalam akting, melukis, dan mode?

“Saya berusaha untuk tidak merasa tertekan, karena saya ingat betul bahwa saya sering merasa tertekan karena saya tidak dapat melukis sebanyak biasanya, tetapi saya merasa ada alasan dan waktu yang tepat untuk segala hal. Kadang kala kita diarahkan untuk berhenti saat melakukan sesuatu. Awalnya saya kerap merasa frustasi, namun kini saya mengerti bahwa ada alasan di balik segala hal yang terjadi and just go with the flow. Saya percaya apapun itu yang terjadi, hal tersebut terjadi untuk yang terbaik bagi kita.”


Seperti apa hubungan Anda dengan fashion dan bagaimana pendekatan Anda berkembang seiring dengan pertumbuhan pribadi dan karier Anda?

“Pada mulanya saya menyukainya, kemudian fashion berkembang menjadi gaya hidup saya, lalu berkembang menjadi cara saya mengekspresikan diri. Berdandan, mengunjungi pekan mode, hingga melihat langsung kreasi-kreasi mengagumkan secara langsung. Lalu ketika ia berubah menjadi sebuah pekerjaan, saya pun merasa memiliki kewajiban. Dan ketika saya merasa ‘sebuah keharusan’, keajaibannya seakan sirna. Jadi saya kembali menjadikan fashion sebagai metode untuk mengekspresikan diri saya sendiri, sesuatu yang membuat saya bahagia, dan saya akan berusaha sebisa mungkin untuk melupakan bahwa itu adalah sebuah pekerjaan. Karena kita harus memikirkan kembali mengapa kita hidup. Kita harus bisa menikmati apa yang kita kerjakan dan apabila Anda mengubah sesuatu yang kamu cintai menjadi sesuatu yang harus kamu lakukan, maka Anda akan kehilangan arti ekspresi sebuah kehidupan. Jadi, saya rasa saya sangat sadar akan hal itu. Karena pada akhirnya, saya ingin bisa menikmati apa yang saya kerjakan.”

Di sebuah dunia di mana tren mode selalu berubah, prinsip atau estetika penting apa yang tetap Anda pegang teguh?

“Saya berusaha untuk tidak terlalu mengikuti tren, meski terkadang saya menyerah dan akhirnya mencoba beberapa tren. Tetapi, Anda hanya perlu menjadi diri sendiri dan memikirkan bagaimana caranya membuat diri Anda merasa paling nyaman. Kadang kala, dengan mengikuti tren, Anda kehilangan suara, arahan, dan otoritas untuk melakukan apa yang ingin dilakukan. Anda hanya perlu berbusana untuk diri sendiri dan tidak untuk orang lain. Dan Anda tidak akan pernah tahu, bisa saja itu yang menjadi tren. Sejujurnya, apapun yang Anda kenakan, baik itu sedang tren ataupun tidak, apabila merasa nyaman dengan diri Anda sendiri, you’ll look good. Dan saya mengatakan hal ini karena saya telah melihatnya berulang kali!”


Anda juga merupakan seorang advokat isu kesehatan mental. Seberapa pentingkah Anda menggunakan platform Anda untuk meningkatkan kesadaran terhadap topik tersebut?

“Inilah maksud saya ketika saya mengatakan bahwa kita perlu menjadi sisi paling otentik dalam diri kita. Karena tidak akan ada yang sempurna, dan semua orang melakukan kesalahan. Dan apabila hal tersebut membuat Anda gila dan mengganggu kesehatan mental Anda—yang mana sudah terjadi berulang kali dalam kasus saya di masa lampau—maka saya lebih memilih untuk menjadi rentan. Lagipula, saya juga sudah menampilkan begitu banyak sisi kehidupan saya ke publik. Say your truth. Saya paham tentunya ada beberapa kekurangan dalam diri yang tidak ingin Anda bahas, tapi penting rasanya bagi orang-orang untuk mengetahui siapa diri Anda dari awal, sisi baik maupun buruk. Karena itulah yang memanusiakan Anda. Apabila Anda berupaya untuk selalu terlihat sempurna, makan jalan Anda tampaknya salah. Dan itu berhubungan erat dengan kesehatan mental Anda sekarang. Anda ingin media sosial untuk tidak memperlihatkan kesempurnaan, tapi justru memperlihatkan kehidupan apa adanya. Jadi akan ada hari-hari di mana Anda merayakan sesuatu, tapi ada juga hari-hari di mana pengikut Anda menggenggam tangan Anda di ketika sesuatu yang buruk terjadi.”

Apakah menurut Anda generasi muda sekarang memiliki lebih banyak suara dibandingkan sebelumnya?

“Tentu saja! Hal tersebut mengerikan tapi begitu penting. Saya pikir, saya lebih memilih mereka mengatakan apapun yang ada di kepala mereka dan menjadi jujur secara brutal daripada menekan perasaan mereka, yang mana biasanya sebanyak 100% menjadi hal buruk. “

Ada pepatah yang mengatakan ‘the most iconic women are the ones who unapolgetically take up space’. Seperti itukah Anda berharap untuk menjalani hidup Anda?

“Hmmm, saya tidak membutuhkan lebih banyak tempat, tetapi saya ingin tanpa menyesal menjadi diri saya sendiri. Saya tidak ingin menghindari orang-orang tertentu. Bukannya saya ingin menjadi bossy atau congkak, but enough with the judgement. Saya menghakimi diri saya setiap hari. Inilah diri saya sebenarnya dan saya bangga dengan siapa saya sekarang. Dan saya rasa semua orang harus merasa bangga dengan diri mereka sendiri dan saling merayakan.”