LIFE

22 November 2022

Julie Estelle Masuki Babak Baru Kehidupan dengan Mengatur Ulang Prioritas


Julie Estelle Masuki Babak Baru Kehidupan dengan Mengatur Ulang Prioritas

Dari kisah penuh kesenangan bermain dalam dunia teater dan keseruan memasuki babak baru kehidupan berumah tangga, Julie Estelle menceritakan tentang upayanya untuk mengatur ulang prioritas hidup tanpa mengorbankan apa yang dicintainya.  

Tahun lalu saat kondisi pandemi cenderung lebih mengerikan dibanding sekarang, saya masih ingat betapa jarangnya saya pergi ke bioskop. Bukan apa-apa, waktu itu ada aturan pembatasan kapasitas penonton yang akhirnya membuat bioskop sepi dan film-film yang tayang di bioskop tak sebanyak tahun ini. Maka kemudian, hiburan untuk menonton mulai beralih ke platform digital dan beberapa judul film Indonesia yang ramai dibicarakan publik adalah Ali & Ratu Ratu Queens dan Penyalin Cahaya. Film yang terakhir disebut malah berhasil memborong 12 Piala Citra di Festival Film Indonesia 2021. Kendati sempat terseok-seok akibat diterjang pandemi, nyatanya kreativitas pelaku seni tak bisa dibendung. Dunia seni pertunjukan di Indonesia dan para pekerja seni selalu menemukan cara untuk terus hidup dan berkembang dalam situasi dan kondisi apa pun. Tak hanya film-film yang marak muncul di aplikasi streaming, sajian menarik dari pementasan teater turut hadir melalui kanal YouTube.


Pertunjukan teater bertajuk Mereka yang Menunggu di Banda Naira menjadi pementasan pertama selama pandemi yang digelar secara hybrid yakni dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta dan dokumentasi pementasannya ditayangkan di YouTube selama 6 bulan sejak Desember 2021. Tergabung dalam pementasan tersebut adalah Reza Rahadian (Sutan Sjahrir), Lukman Sardi (dr. Tjipto Mangoenkoesoemo), Verdi Solaiman (Iwa Koesoema), Tanta Ginting (Mohammad Hatta), Willem Bevers (Kloosterhuis), dan salah satu aktris film yang baru pertama kali menjejakkan kaki di panggung teater, Julie Estelle yang memerankan Maria Duchtaeau. Julie sedang berada di Amerika Serikat ketika ia menerima ajakan bermain teater dari Happy Salma, produser teater sekaligus pendiri Titimangsa Foundation sebagai penyelenggara pertunjukan. Tawaran diterimanya dengan sukacita meski saat itu Julie harus berlatih teater beberapa kali melalui Zoom dengan kontras perbedaan waktu antara dua negara, kemudian berlatih secara intens ketika ia pulang ke Jakarta. “Untuk memerankan karakter Maria, saya melakukan riset dengan membaca bagaimana sosok Maria dan seperti apa perempuan asal belanda yang sudah memiliki dua anak itu kemudian jatuh cinta dengan Sutan Sjahrir. Beradu akting di atas panggung teater ternyata berbeda dengan film. Kami mengasah vokal, melatih stamina, dan membuat penonton bisa menangkap apa yang sedang kami bicarakan di atas panggung. Serunya di teater adalah saya bisa merasa dekat dengan penonton karena dapat melihat dan merasakan secara langsung ekspresi dan energi mereka. Dan meskipun sudah terbiasa di depan kamera, rasanya di atas panggung teater itu bikin jantung deg-degan! Saya takut tiba-tiba lupa naskah atau salah blocking, sementara teater adalah salah satu bentuk seni yang paling jujur. Tidak ada manipulasi, enggak ada pengulangan apalagi editing. Pertama kali bermain teater benar-benar pengalaman yang sungguh menyenangkan. Suatu wilayah seni yang berbeda dan tentunya bisa memperkaya pengalaman keaktoran,” cerita Julie Estelle.



Blus dan celana, Fendi.

Sebagai penonton, tentu saya ikut senang melihat kreativitas tak kenal batas yang dilakoni para pelaku seni di Indonesia. Di tengah pandemi, mereka menemukan solusi hiburan seni peran yang mengedukasi dan menambah wawasan para penikmat seni. Terlebih orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah sosok yang tak asing di perfilman Indonesia dan ada rasa antusias ketika melihat Julie Estelle muncul di daftar nama pemain. Kita tentu masih ingat sepak terjang aktor ini di film laga The Raid 2: Berandal dan The Night Comes for Us. Penampilannya juga sangat mengagumkan ketika Julie memerankan Larasati dalam film Surat dari Praha yang terinspirasi dari sejarah kisah para pelajar Indonesia di luar negeri yang tak bisa pulang ke Tanah Air pasca Gerakan 30 September 1965. Bukan hanya membuahkan prestasi kemenangan sebagai Pemeran Utama Wanita Terfavorit dari ajang Indonesian Movie Actors Awards 2016, Surat dari Praha juga menjadi debut Julie Estelle menyanyikan lagu dalam sebuah film.


Kepiawaian dan keberanian Julie Estelle untuk mencoba berbagai hal baru memang semestinya tak membuat kita meragukan kapabilitasnya. Namun ketika ia muncul sebagai pemain teater, besar keinginan saya untuk bertanya tentang alasan di balik pemilihan Julie Estelle untuk memerankan tokoh Maria Duchtaeau. Terlebih aktor teater konon tidak sama dengan pemain layar lebar. Namun Happy Salma punya alasan sendiri mengapa memilih Julie Estelle dan percaya dengan aktor tersebut yang telah 17 tahun berkiprah di perfilman tapi belum pernah sekalipun menyentuh wilayah teater. “Bekerja sama dengan Julie Estelle adalah cita-cita lama yang akhirnya terwujud. Dari dulu saya ingin melibatkan dia di panggung teater. Kami sempat bertemu untuk sebuah proyek tapi sayangnya belum berjodoh. Namun ketika saya dan tim di Titimangsa bertemu Julie, sebenarnya waktu itu kami sedang melakukan casting terselubung. Diam-diam kami memerhatikan bagaimana antusiasme dan keseriusan Julie, termasuk ketika ia merespons kami dalam proses casting tersembunyi. Saya sangat selektif dan ketat dalam persyaratan pemilihan pemain, terlebih soal kedisiplinan, etos kerja, dan keseriusan dalam belajar. Julie memiliki kecerdasan tubuh, punya talenta, dan bahkan bisa bernyanyi. Ia salah satu aktor berbakat yang bukan hanya andal di depan kamera film, tapi juga bisa berproses tumbuh menjadi aktor panggung. Alhasil saya tak punya alasan untuk tidak melibatkan Julie Estelle di pementasan teater kami,” kata Happy Salma saat saya hubungi melalui pesan Whatsapp.



Gaun midi, tas By the Way, dan sepatu pumps, Fendi.

Selama sekitar 120 menit, Mereka yang Menunggu di Banda Naira menceritakan kisah pertemuan empat tokoh pergerakan Indonesia: Bung Sjahrir, Bung Hatta, Bung Tjipto, dan Bung Iwa di tanah pembuangan Banda Naira. Tahun 1936, Sjahrir dan Hatta tiba di Banda Naira sebagai tahanan politik. Di tengah pengasingannya, Sjahrir diliputi perasaan gelisah karena terpisah dengan kekasih hatinya, Maria Duchtaeau, yang berada di Belanda. Kenangan indah bersama Maria membuat Sjahrir setia menanti Maria datang ke Banda Naira. Bisa membawakan sebuah cerita secara langsung dan lengkap dengan latar tempat dan waktu yang deskriptif di atas panggung menjadi tantangan seorang pemain teater. Kejelian dan kegigihan para pemain dalam mengolah rasa dan mengomunikasikan bahasa tertulis agar dapat menggerakkan emosi penonton adalah misi utama penuh tuntutan. Kiprah Julie Estelle di panggung teater memang masih terlalu dini untuk dinilai, namun ia menjadi salah satu pemain baru yang mampu menyampaikan elemen tersebut dengan baik. Julie Estelle bercerita, “Satu hal yang membuat saya tak kuasa menolak tawaran bermain teater adalah karena kesempatan tersebut mengajak saya keluar dari zona aman. Saya senang dengan tantangan dan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Bertarung dalam film laga atau bernyanyi di genre drama menjadi kekayaan tersendiri dalam perjalanan karier saya di dunia seni peran. Sementara pengalaman bermain teater bisa jadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak pemain, tak terkecuali diri saya. Keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk belajar menjadi bekal penting untuk memasuki dunia yang baru. Saya tidak jera bermain teater, malah sangat tertarik ingin mencoba peran-peran yang berbeda. Terlebih saya merasa nyaman dengan jam kerja teater yang cenderung lebih luwes, fleksibilitasnya cocok buat saya yang kini sudah berumah tangga dengan prioritas yang tak lagi sama dibanding waktu masih lajang.”  


                                                                 ustier, celana, dan tas Fendigraphy, Fendi.            


Tiga setengah tahun Julie Estelle dan sang kekasih berpacaran sampai akhirnya keduanya memutuskan menikah pada Februari tahun lalu. Memasuki babak baru kehidupan rumah tangga, Julie Estelle tak serta-merta meninggalkan karier keaktoran yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama belasan tahun terakhir. Ia memilih untuk merombak ulang tentang apa yang dianggap penting dan apa yang diletakkan di bawah prioritas. “I feel like I’ve been working for my whole life. Dari usia 15 tahun saya sudah mulai bekerja, syuting iklan kemudian masuk perfilman. Dan sekarang saatnya saya mengutamakan kepentingan keluarga dan kehidupan personal. Bukan berarti sudah tidak cinta dengan dunia film atau ingin menarik diri mundur dari industri ini, saya hanya merasa prioritas hidup bisa berubah dan saya perlu meletakkan pekerjaan di samping fokus utama saat ini yaitu keluarga. Dulu pas belum jadi istri, rasanya tiada hari berlalu tanpa disibukkan dengan rentetan kerutinan dalam pekerjaan. Tapi sekarang saya sedang berada dalam fase kehidupan baru yang buat saya rasanya tak kalah menyenangkan. Meskipun ada sih pusing-pusingnya apalagi sekarang kami sedang proses membangun rumah yang ternyata lumayan menguras pikiran, tapi tetap rasanya bahagia mungkin karena dijalani berdua. Bersyukur sekali bisa bersama dengan seseorang yang mencintai kita sepenuh hati, tapi yang tak kalah penting adalah suami sangat mendukung apa pun yang saya lakukan. Baik itu mengerjakan syuting film, mengambil tawaran bermain teater, atau mencoba hal-hal baru sebagaimana saya memang senang dengan tantangan, semuanya mendapat dorongan positif dari mereka yang saya cintai. Hanya saja memang saat ini saya memilih untuk menahan diri agar tidak terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Nanti ada waktunya saya kembali dengan spirit produktivitas dalam rutinitas pekerjaan. But for me now, I just want to enjoy the moment and cherish the present,” ungkap Julie.


photography ZAKY AKBAR
styling SIDKY MUHAMMADSYAH
interview RIANTY RUSMALIA

Makeup RYAN OGILVY

Hair YEZ HADJO