20 Februari 2026
Kamila Andini & Garin Nugroho Saling Membuka Komunikasi yang Setara
PHOTOGRAPHY BY Julius Juan
styling Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Kamila Andini in Sean Sheila; Garin Nugroho in Jan Sober; makeup Ranggi Achmad; hair Sunny ; location The Dharmawangsa Jakarta
Apel jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu kerap membuat kehadiran Kamila Andini di jagat sinema seolaholah tertulis sejak awal. Ia adalah putri sulung pasangan Rani Ikaswati dan Garin Nugroho, yang merupakan maestro perfilman Indonesia. Maka tidak heran bilamana kemudian ia menelusuri jejak sang ayah. Benarkah? Sejak kanak-kanak, Kamila tumbuh dalam lanskap seni yang nyaris organik, yang ditanamkan Garin lewat kebiasaankebiasaan kecil sehari-hari. Namun tak pernah terlintas dalam benak Garin untuk putrinya menyusuri jalan hidup serupa. Sampai suatu hari, Kamila melontarkan keinginan membuat film usai pulang dari kuliah di Australia.
Di ranah sinema, relasi Kamila dan Garin berdiri sebagai pertemuan dua generasi yang saling berkelindan, tapi tak saling membayangi. Dialog kreatif di antara mereka berlangsung setara—sebagaimana komunikasi di ruang keluarga. Garin membiarkan Kamila menemukan bahasanya sendiri, sementara Kamila merawat sensibilitas yang tumbuh dari nilai-nilai yang ia serap dari keluarganya. Jauh dari kondisi rumit yang kerap kali membayangbayangi relasi keluarga. Keduanya saling berproses.
Apakah kehadiran Kamila di dunia sinema merupakan suatu kebetulan, atau ada peran arahan?
Garin Nugroho: “Menjadi seniman itu rumit, kompleks, dan penuh ketakpastian. Jalan hidupnya berat. Jadi saya tidak pernah bermimpi anak saya harus mengikuti jejak profesi yang sama dengan saya.”
Bagaimana sosok Garin Nugroho di rumah?
Kamila Andini: “Papa sejatinya adalah seorang budayawan. Sebab sebagaimana ia berekspresi di dunia luar, pola asuh papa di dalam rumah pun berhubungan dengan seni, budaya, kecintaan pada lingkungan, serta segala sesuatu yang berkenaan dengan sosial. Ia kerap membawa saya dan adik-adik mengunjungi pameran, nonton pertunjukan, atau menyusuri tempat-tempat yang terkadang di luar zona nyaman kami sebagai anak-anak kala itu. Ia mendorong anak-anaknya untuk bersikap adventurous. Satu kebiasaan khas papa: setiap kali bepergian, ia selalu meminta kami menulis puisi tentang apa pun yang kami lihat atau alami dalam perjalanan hari itu.”
Garin Nugroho: “Memang saya memaparkan anakanak pada bentuk-bentuk ekspresi seni sejak mereka kecil. Tetapi bukan semata-mata menanamkan fondasi agar anak-anak jadi seniman, lebih kepada pijakan untuk mereka lebih peka dalam memahami kehidupan. Buat saya sensitivitas terhadap kehidupan adalah satu hal sederhana, namun mendasar, untuk bekal manusia tumbuh menjadi pribadi yang baik, melalui apa pun kiprahnya.”
Sebagai ayah, nilai penting apa yang berusaha Anda tanamkan kepada anak-anak?
Garin Nugroho: “Humanisme. Sebuah nilai kemanusiaan yang, saya rasa, paling rentan di dunia ini.”

Bagaimana rasanya tumbuh di keluarga yang dekat dunia seni?
Kamila Andini: “Sewaktu kanak-kanak, kebiasaan ‘kecil’ dari papa tersebut sangat melelahkan. Namun beranjak dewasa, saya menyadari bahwasanya dari pola pengasuhan itulah, saya belajar banyak sekali kepekaan yang memperkaya nilai dan intuisi secara personal, yang mempengaruhi cara saya berkarya.”
Anda berdua menekuni profesi yang sama. Apakah memotivasi atau justru menjadi “tekanan”?
Kamila Andini: “Saya lebih melihatnya sebagai privilese. Tanpa benar-benar disadari, saya tumbuh dengan literasi seni dan budaya yang membuat saya mampu memahami berbagai perspektif local wisdom. Hal-hal inilah, yang rasanya, membentuk ketertarikan khusus saya setiap kali mencipta karya. Walau begitu, tetap muncul tantangan: apakah saya bisa memberikan sesuatu yang berbeda, yang tidak ditemukan dalam karya papa maupun seniman lain. Saya tumbuh dengan menonton film-film papa, tentu saja ada pengaruh beliau dalam sisi artistik saya—pun saya tidak menolak jika kerap disandingkan dengannya. Pada akhirnya, proses ini lebih kepada tentang bagaimana saya menemukan suara saya sendiri, dengan cara saya sendiri.”
Garin Nugroho: “Sebagai sineas, saya perhatikan Dini telah berhasil menemukan signature yang membuat ia berbeda, mulai dari film pendeknya yang pertama (Sendiri Diana Sendiri). Dari Dini juga saya banyak belajar. Di atas segalanya, Dini telah tumbuh menjadi manusia yang berkarakter dan memiliki prinsip. Yang terpenting dan paling membanggakan bagi orangtua—setidaknya buat saya—bukanlah sejauh apa pencapaian anak, melainkan kemampuannya menghadapi tantangan, mampu membentuk karakter personalitasnya, dan berbahagia atas hidupnya sendiri. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.”
Apakah Anda saling bertukar visi artistik, atau justru menjaga jarak dari ranah masing-masing?
Kamila Andini: “Di awal kiprah, papa bersikap layaknya orangtua pada umumnya yang mengkhawatirkan tiap langkah anaknya. Meski begitu, beliau tidak pernah mencampuri proses saya dalam berkarya, bahkan di saat namanya tercantum dalam jajaran produser. Tetapi saya bisa merasakan, saya tahu betul bahwa ia senantiasa memperhatikan dari kejauhan.”
Garin Nugroho: “Saya ingat ketika Dini memilih lokasi di tengah laut di Kendari untuk film pertamanya, saat itu saya pikir, ‘ini berat sekali.’ Namun saya biarkan. Saya percaya, penting buat anak menempa jalannya sendiri. Ketika dihadapkan tantangan, pengalaman semacam itu merupakan sekolah terbaik: ruang pelatihan yang membentuk ketahanan, sekaligus mempertajam karakternya.”

Bagaimana Anda menjaga komunikasi yang terbuka, sambil tetap menghormati ruang pribadi?
Garin Nugroho: “Hubungan orangtua dan anak pertama itu tidak rumit tapi juga tidak gampang—saya kira hal ini berlaku di banyak keluarga. Komunikasi kami sering kali terasa ‘ajaib’; tanpa banyak kata terucap, kami bisa saling memahami. Ada waktunya kami mengkritisi satu sama lain. Ketika teguran itu terucap dari anak, saya tahu betul bahwasanya teguran itu datang sejatinya atas dasar rasa cinta yang begitu besar.”
Kamila Andini: “Setiap anak pernah memiliki momen ketika kita merasa tidak ada seorang pun yang dapat mengerti kita. Tatkala momen itu terjadi, papa membuka komunikasi yang jujur dan setara. Di titik itu, saya merasakan jarak antara kami mengecil. Saya merasa diperlakukan sebagai teman, diajak berproses dan bertumbuh bersama. Sejak itu, saya mulai memahami lebih banyak tentang perspektif antara orangtua dan anak. Rasa nyaman tumbuh. Barangkali tidak semua hal dapat kami ceritakan satu sama lain, dan orangtua bukanlah the first person yang saya datangi ketika sesuatu terjadi di hidup saya. Namun justru dalam batas-batas itulah kami menemukan cara untuk saling mengenal lebih dalam dan tetap saling menghargai satu sama lain.”