20 Februari 2026
Laura Basuki & Reza Rahadian Bicara 15 Tahun Persahabatan di Tengah Industri Film Indonesia
PHOTOGRAPHY BY Julius Juan
styling Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Laura Basuki in Stellarissa; Reza Rahadian in Lanvin; makeup & hair Sissy Sosro, Akris, Farhan Nabil; location The Dharmawangsa Jakarta
Di sebuah industri yang kerap diselimuti ambisi, kompetisi, dan sorotan publik yang tak henti menyala, persahabatan yang benar-benar tulus adalah sebuah kemewahan. Begitu pula pertemanan antara Reza Rahadian dan Laura Basuki—dua nama besar perfilman Indonesia yang perjalanan kariernya berjalan sejajar selama lebih dari satu dekade. Reza, aktor dengan kemampuan transformasi mengagumkan yang kerap memimpin layar; dan Laura, aktris dengan subtilitas emosi yang membuat setiap perannya menetap lama dalam ingatan. Keduanya berdiri sebagai definisi aktor modern Indonesia: berkelas tanpa sensasi, matang tanpa banyak bicara. Namun di balik gelar bergengsi dan rentetan karakter yang mereka hidupi, tersimpan sebuah cerita relasi yang jauh lebih manusiawi: persahabatan yang lahir dari rasa saling percaya, saling jaga, dan kehadiran yang selalu ada meskipun sunyi.
Mereka bertemu di usia dua puluhan, pada awal karier ketika semuanya masih terasa serba baru, penuh kemungkinan, penuh pencarian. “Sejak itu,” ujar keduanya berulang kali, “kami tidak pernah tidak berteman.” Tidak pernah ada deklarasi pertemanan. Tidak ada unggahan publik yang memastikan kedekatan mereka. Tidak ada panggung dan tepuk tangan untuk relasi ini—justru karena hubungan ini dibangun bukan untuk penonton. Persahabatan mereka tumbuh dalam ruang-ruang privat: obrolan larut malam, dukungan yang datang sebelum diminta, dan telepon yang selalu diangkat tanpa menunggu dering kedua. Inilah cinta tanpa kepemilikan—cinta dalam bentuknya yang paling dewasa: tenang, konsisten, dan bertumbuh bersama waktu.

Masih ingat bagaimana pertama kali kalian bertemu?
Laura Basuki: “Kami bertemu di 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta tahun 2010. Tapi sebelum itu, saya sudah nonton Reza di Hari untuk Amanda. Scene-nya singkat, tapi saya langsung terpikat. Ada sesuatu dalam gestur dan ekspresinya yang terasa… jujur. Saya ingat berpikir, ‘Saya ingin bekerja dengan aktor ini suatu hari nanti.’ Sebulan kemudian semesta menjawab: kami dipertemukan di satu proyek. Reading pertama, ngobrol pertama, semuanya mengalir tanpa usaha keras seolah kami hanya melanjutkan percakapan yang sudah dimulai jauh sebelum kami saling mengenal.”
Seperti apa impresi awal masing-masing?
Laura Basuki: “Ia datang sebagai seorang aktor dengan disiplin tinggi dan kepekaan emosional yang matang untuk usia semuda itu. Ketika kamera mati, ia tetap hadir sepenuhnya: mendengar, memperhatikan, menghargai. Buat saya, itu karisma sejati.”
Reza Rahadian: “Laura punya kediaman yang kuat. Tidak banyak bicara, tapi aura dan pikirannya terasa bekerja pada frekuensi yang dalam. Dari awal saya tahu ia sangat cermat membaca situasi dan karakter. Ia tidak mencoba memukau dan justru itu yang membuat orang terpikat. Saya langsung merasa: ini orang yang bisa diajak ngobrol hal-hal serius tanpa perlu banyak pengantar.”

Pada momen apa hubungan ini berubah menjadi persahabatan yang dekat?
Reza Rahadian: “Ada titik di lokasi syuting ketika pembicaraan kami tidak lagi soal adegan atau blocking, tetapi tentang kehidupan. Tentang kegelisahan, mimpi, dan ketakutan yang jarang saya bagi pada orang lain. Dan Laura mendengar—dengan cara yang membuat saya tidak merasa dihakimi. Dari situ saya mengerti: hubungan ini punya kedalaman yang tidak bisa saya abaikan.”
Laura Basuki: “Saya merasa aman bersama dia. Begitu saja. Tidak banyak orang di hidup saya yang bisa memberi rasa itu tanpa banyak kata. Dan rasa aman itu, bagi saya, adalah fondasi sebuah persahabatan yang tahan seumur hidup.”
Bagaimana kalian menjaga kedekatan di tengah intensitas industri film?
Reza Rahadian: “Kami tidak selalu bertemu. Tapi kami selalu hadir. Itu bedanya. Kadang saya muncul tiba-tiba ke lokasi syutingnya hanya karena rindu ingin bilang, “Kamu baik-baik saja?” Kadang kami hanya duduk, minum kopi dalam diam, dan itu cukup. Kehadiran tidak selalu butuh percakapan panjang.”
Industri hiburan kerap menciptakan relasi yang serba taktis. Bagaimana kalian memastikan hubungan ini tetap tulus?
Laura Basuki: “Kami berteman sebelum segala hiruk pikuk karier. Tidak ada kepentingan, tidak ada personal branding. Selama lima belas tahun, kami hampir tidak mempublikasikan kebersamaan kami. Dan saya bersyukur persahabatan ini tumbuh di ruang yang sunyi, karena sunyi itu justru bukti bahwa hubungan ini tidak dibuat untuk ditonton.”
Reza Rahadian: “Tidak ada yang perlu dibuktikan. Our friendship is not based on our works.”

Apa yang tetap sama dan apa yang berubah dari Reza selama lima belas tahun ini?
Laura Basuki: Yang tetap: kerendahan hati. Kesetiaan pada nilai kerja. Tidak pernah menciptakan jarak karena kesuksesan. Tidak ada kebutuhan untuk memamerkan apa pun. Yang berubah: ia semakin sibuk sebagai aktor, produser, sutradara. Tapi jika saya butuh dia, dia tetap orang yang akan datang lebih dulu sebelum saya minta.”
Bagaimana Anda melihat sosok Laura, dulu dan kini?
Reza Rahadian: “Saya merasa Laura tetap menjadi dirinya sendiri, dan itulah konsistensi terindah. Lebih matang, lebih tenang sebagai istri dan ibu, tapi hatinya tetap sama: tulus, apa adanya, dan tidak pernah mencari pujian. Ia bertumbuh tanpa berubah menjadi orang lain. Dan bagi saya, itu sebuah integritas yang langka.”
Menurut Anda, apa peran persahabatan dalam lanskap relasi manusia?
Reza Rahadian: “Dari banyak dinamika manusia yang saya jalani, salah satu yang paling saya syukuri adalah persahabatan dengan Laura.’
Laura Basuki: “Saya mencintai keluarga saya, tapi sebagai individu saya tetap butuh ruang bertumbuh di luar itu. Reza adalah ruang itu—tanpa tekanan, tanpa peran.
Sejauh apa kalian saling memengaruhi?
Reza Rahadian: “Hidup Laura stabil. Saya belajar tentang ketenangan darinya. Tentang memilih mana yang benar-benar penting untuk diperjuangkan, dan mana yang cukup dibiarkan lewat begitu saja.”
Laura Basuki: “Reza mengajari saya untuk lebih berani. Keberaniannya dalam bersuara, mengambil risiko, dan berdiri pada apa yang ia yakini itu menular. Ia membantu saya percaya bahwa menjadi manusia bukan hanya tentang menjaga ketenangan, tapi juga tentang bergerak saat diperlukan.”
Dari sisi-sisi yang rumit, apa yang kalian terima dari satu sama lain?
Reza Rahadian: “Laura itu tertutup. Introver. Tetapi itu justru keindahan dirinya. Yang dianggap “kekurangan” kadang adalah alasan seseorang dicintai. Saya menerima seluruh dirinya. Tidak ada bagian yang ingin saya ubah.”
Laura Basuki: “Reza bisa sangat emosional kalau menyangkut hal yang ia yakini benar. Ketika ia turun ke aksi demonstrasi, saya bangga sekaligus takut. Tapi saya tahu ia melakukannya karena ia peduli.”
Apa percakapan terdalam yang pernah kalian bagi?
Laura Basuki: “Kami pernah bicara panjang soal hidup di usia 20-an, 30-an, nanti 40-an, bahkan masa pensiun. Reza berkata, ‘Teman banyak, tapi sahabat itu kamu.’ Dan kalimat itu menetap.”
Reza Rahadian: “Kami berteman bukan karena sama-sama orang film. Bahkan jika dunia perfilman berhenti hari ini, kami tetap ada untuk satu sama lain.”

Bagaimana persahabatan ini memengaruhi relasi lain dalam hidup kalian?
Reza Rahadian: “Persahabatan kami membuat saya melihat ulang konsep loyalitas dan dedikasi emosional. Saya jadi jauh lebih menghargai kehadiran orang-orang yang benar-benar peduli, bukan yang hanya muncul ketika saya bersinar.”
Laura Basuki: “Ia menjadi contoh bahwa perbedaan tidak perlu membuat jarak. Ia mengajari saya bahwa keseimbangan tercipta dari keberanian menerima keunikan orang lain.”
Dalam satu kalimat, apa arti kehadiran sahabat Anda?
Laura Basuki: “Ia adalah harta yang saya syukuri dan akan saya jaga baik-baik.”
Reza Rahadian: “Ia rumah yang selalu bisa saya datangi tanpa mengetuk.”
Pelajaran terbesar tentang mencintai manusia dari persahabatan ini?
Laura Basuki: “Tulus itu sederhana, tapi mahal. Menjaga rahasia adalah bentuk cinta.”
Reza Rahadian: “Cukup ada. Waktu dan kehadiran adalah bentuk cinta paling jujur. Dalam lima belas tahun, tidak pernah ada telepon dari Laura yang tidak saya jawab. Saya tidak ingin abai ketika seseorang yang saya sayangi sedang butuh saya. Sebab kehilangan itu sering kali datang saat kita menoleh ke arah lain.”