20 Februari 2026
Mikha Tambayong dan Deva Mahenra Merawat Cinta yang Dipilih Setiap Hari
PHOTOGRAPHY BY Julius Juan
styling Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Louis Vuitton; makeup Claudya C. Purba; hair Ichana; location The Dharmawangsa Jakarta
Bagi Deva Mahenra dan Mikha Tambayong, perjalanan tidak pernah soal siapa yang tiba lebih dulu, melainkan tentang bagaimana saling memilih dengan tenang, hari demi hari. Keduanya membangun karier bukan dengan percepatan, melainkan dengan ketekunan; bukan dengan sensasi, melainkan dengan kualitas. Deva menghadirkan akting yang bekerja di lapisan-lapisan sunyi—emosi ditahan dalam gestur kecil, makna disampaikan lewat tatapan yang tak pernah tergesa. Sementara Mikha menapaki transisi yang jarang mulus: dari figur remaja ke perempuan dewasa yang reflektif, berdaya, dan berani mengambil keputusan atas hidupnya sendiri. Bersama, mereka merepresentasikan generasi yang memahami bahwa keberhasilan tidak selalu harus dirayakan dengan gegap gempita—dan bahwa cinta tidak perlu panggung untuk menjadi nyata.
Pernikahan mereka, yang tumbuh dari persahabatan panjang, rasa saling hormat, dan pilihan yang disadari sepenuhnya, menawarkan cara pandang lain tentang romantisme. Bukan letupan euforia sesaat, melainkan keteguhan yang berulang; bukan peleburan identitas, melainkan kerja kolaboratif dua pribadi yang tetap utuh. Rumah, bagi Deva dan Mikha, adalah ruang aman tempat peran dilepaskan dan manusia hadir tanpa topeng. Di sana, cinta dirawat lewat kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten, percakapan yang jujur, serta kesediaan untuk terus belajar satu sama lain. Dalam percakapan panjang berikut, keduanya menelusuri bagaimana pertemuan awal bertransformasi menjadi pernikahan; bagaimana empati profesional dapat menjadi penopang—atau tantangan—dalam kehidupan domestik; dan bagaimana cinta, pada akhirnya, mereka pahami sebagai pilihan harian untuk saling menjaga—tanpa kompetisi, tanpa kehilangan diri.
Bagaimana pertama kali kalian saling mengenal?
Mikha Tambayong: “Tahun 2016 kami mulai benar-benar berkenalan, meski sejak 2011 sudah saling tahu lewat mutual friend kami, Mas Fafa—yang kini menjadi manajer Deva. Saya pertama kali menonton Deva di Sabtu Bersama Bapak. Tiga tahun kemudian, kami bertemu di sebuah proyek iklan; sebelumnya sempat satu film di Slank Nggak Ada Matinya (2013), tapi tidak pernah satu scene. Kedekatan baru terbangun saat Belok Kanan Barcelona (2018). Kami berteman dekat tanpa relasi spesial karena sama-sama punya pasangan. Sempat lost contact, lalu ketika ibu saya meninggal, Deva menghubungi. Dari situ, 2019 kami memutuskan pacaran—tak lama kemudian pandemi datang.”
Deva Mahenra: “Kami tidak relevan dengan konsep “cinta pada pandangan pertama”. Hubungan ini bertumbuh dari pertemanan: kagum, percaya, respek, lalu sayang—hingga akhirnya keputusan untuk menjadi pasangan suami istri.”
Apa kesan awal yang muncul satu sama lain?
Deva Mahenra: “Mikha bukan tipikal anak manja. Ia tangguh, mandiri, dan cerdas. Kemandirian itu menumbuhkan kagum, lalu respek, lalu cinta. Saat itu saya berada di fase yang cukup menyebalkan: emosional, kekanakan. Ketenangan dan kematangan Mikha menutup kekurangan saya.”
Mikha Tambayong: “Deva itu hangat, ramah, lucu, dan sangat supel. Ia mudah dekat dengan keluarga saya, membuat suasana cair. Bersamanya, tawa selalu menemukan jalannya.”
Pada titik apa kalian menyadari hubungan ini bergerak ke arah yang lebih serius?
Deva Mahenra: “Belum ada orang yang bisa mengubah saya seperti Mikha. Saya mudah memaafkan, tapi sulit mengubah amarah. Mikha satu-satunya yang mampu. Ketenangan dan kematangannya membuat saya jatuh cinta.”
Mikha Tambayong: “Bersama Deva, saya bisa menjadi diri sendiri tanpa berpura-pura. Ada rasa aman yang sulit dijelaskan. Sejak awal pacaran, saya tahu saya akan menikah dengannya. Ia tidak pernah terintimidasi oleh pencapaian perempuan; ia mendukung mimpi saya. Dan itu yang saya butuhkan.”
Apa kualitas yang membuat kalian merasa “aman” untuk melangkah lebih jauh?
Mikha Tambayong: “Rasa aman itu lahir dari kebebasan menjadi diri sendiri. Saya tidak dibatasi, tidak diperkecil, tidak ditarik mundur dari ambisi.”
Deva Mahenra: “Kejujuran dan ketenangan. Saya merasa diterima apa adanya, dan itu fondasi penting.”
Apa tantangan terbesar berada di industri yang sama dan bagaimana menyiasatinya?
Mikha Tambayong: “Waktu. Kami berusaha tidak syuting bersamaan agar ada yang menjadi penopang emosional. Jika harus bersamaan, komunikasi dijaga dan pertemuan di sela kerja diupayakan.”
Deva Mahenra: “Prinsipnya sederhana: jangan meninggalkan pasangan sendirian terlalu lama dengan lelahnya.”
Setelah menikah, apa yang paling mengejutkan?
Mikha Tambayong: “Rasanya seperti pacaran, bedanya kami tinggal satu rumah. Empat tahun pacaran membuat kami saling mengenal. Yang mengejutkan justru transisi meninggalkan rumah orang tua dan membangun rumah berdua, sebuah kejutan yang menyenangkan.”
Deva Mahenra: “Saya menikahi sahabat saya. Itu membuat banyak hal terasa natural.”
Bagaimana definisi cinta berubah setelah menikah?
Mikha Tambayong: “Tahun 2019 mengubah hidup saya: kehilangan ibu, lalu menemukan pasangan hidup. Saya belajar tentang banyak jenis cinta—anak kepada ibu, suami kepada istri. Cinta menjadi lebih dalam dan berlapis.”
Deva Mahenra: “Cinta dalam pernikahan adalah kesediaan untuk terus mengenal. Manusia berlapis; tugas kita memahami lapisan-lapisan itu seiring waktu.”

Dalam hubungan jangka panjang, cinta sering kali adalah pilihan. Bagaimana kalian mempraktikkannya?Mikha Tambayong: “Cinta berarti memberi: waktu, kehadiran. Tidak ada hubungan 50:50; kadang 30:70, bergantian. Ketika marah, yang dipilih adalah memaafkan. Menikah adalah keputusan untuk menjaga, membela, dan mencintai seumur hidup."
Deva Mahenra: Hubungan dibangun dengan memberi, bukan menuntut. Nol ekspektasi. Fokus saya: memastikan kebahagiaan Mikha.”
Bagian mana dari pasangan yang paling kalian terima, meski tidak selalu mudah?
Mikha Tambayong: “Dulu Deva terbiasa mengambil keputusan sendiri. Saya belajar menyampaikan kebutuhan untuk dilibatkan. Kami juga berbeda dalam cara menghadapi konflik, saya ingin cepat selesai, Deva perlu jeda. Saya belajar memberi waktu.”
Deva Mahenra: “Perbedaan itu bukan ancaman; ia petunjuk cara merawat hubungan.”
Bentuk dukungan paling sederhana tapi paling berarti?
Mikha Tambayong: "Kehadiran. Deva ada di momen besar maupun kecil."
Deva Mahenra: "Transparansi. Saya mengajak Mikha ke lokasi, memperkenalkan dunia kerja saya. Saya ingin ia tenang karena ketenangan saya lahir dari ketenangannya."
Bagaimana melatih self-love dalam pernikahan?
Mikha Tambayong: “Ibu saya mengajarkan kemandirian, menjadi “penuh” sebelum menikah. Dengan begitu, kita berbagi kebahagiaan. Saya tetap merawat diri dan mencipta bahagia, dengan atau tanpa peran istri.”
Deva Mahenra: “Kami memberi ruang untuk diri sendiri. Menikah bukan mengorbankan kebahagiaan personal.”
Apa yang sering dilupakan orang tentang pernikahan jangka panjang?
Deva Mahenra: “Bahwa mencintai adalah pilihan harian. Godaan dari luar tidak mungkin ada kalau benteng itu dibangun dari dalam, dengan menghargai pasangan setiap hari.”
Mikha Tambayong: “Orang lupa menikmati hubungan. Padahal waktu terbatas. Menikah seharusnya bisa dinikmati dalam baik dan buruk, dengan kekompakan.”
Bagaimana mempraktikkan cinta tanpa tuntutan dalam keseharian Anda berdua?
Mikha Tambayong: “Deva adalah sosok suami yang nyaris tidak pernah menuntut. Ia tidak menuntut saya harus bisa memasak, tidak mewajibkan saya bangun lebih pagi darinya. Jika saya memasak, itu karena saya ingin, bukan karena peran yang dipaksakan. Ia tidak ingin saya melakukan sesuatu yang tidak saya nikmati. Termasuk soal memiliki anak. Deva memahami sepenuhnya bahwa keputusan untuk mengandung dan melahirkan adalah milik saya. Ia tidak memaksa jika saya belum atau tidak menginginkannya. Bagi Deva, yang terpenting adalah saya sehat dan bahagia. Ia tidak ingin saya menjalani sesuatu yang justru membuat saya menderita.”
Deva Mahenra: “Usia pernikahan kami memang masih muda, dan perjalanan ke depan tentu panjang. Namun sejak awal kami sepakat menjaga prinsip yang sama sebagai bentuk komitmen: rasa hormat satu sama lain, serta kesediaan untuk benar-benar mendengar. Bukan sekadar mendengar kata-kata, tetapi memahami isi hati pasangan.”