Benarkah Memiliki Pasangan Dapat Meningkatkan Performa di Dunia Kerja ?

people do beyond their limit when they’re in love!

Di balik karya distinguished Taj Mahal dengan latar historikal yang penuh cerita lovey-dovey antara Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, ataupun track fenomenal berperingkat #1 di tangga lagu dunia selama setahun penuh (yes, it’s the legendary Queen’s Love of My Life), terdapat landasan emosi positif yang menggelora di dalam proses produksinya. Walau terdengar klise, emosi positif ini biasa kita sebut dengan kata ‘cinta’. Bukan hal asing pula bila kita kerap menemui teman atau cerita yang membuktikan bahwa seseorang mampu melakukan hal gila saat mereka jatuh cinta. Namun definisi ‘gila’ yang saya maksud di sini merupakan produktivitas yang dihasilkan berkat radiasi emosi penuh positivity tersebut. Psikolog Amina Özelsel, Jens Förster, dan Kai Epstude dari University of Amsterdam pernah menguji hipotesis romantis ini, bahwa seseorang cenderung berpikir lebih kreatif saat jatuh cinta. Hasilnya? Positivity yang dihadirkan dari cinta terbukti turut memengaruhi proses berpikir kreatif melebihi ‘doping’ dari seks. What a contagious machine!

Love Boosts

“Hubungan saya dan Reno sedang hangat-hangatnya, baik saat di kantor maupun di luar. Apalagi karena kami satu kolega di kantor, ada gerakan dalam diri yang ingin bisa dipandang ‘something’ olehnya. Saya pun jadi lebih intens belajar walau itu di luar bidang profesi saya. Bahkan, saya meriset terlebih dahulu tentang suatu topik yang nanti sore akan dibahas saat meeting kami. Selain agar membuat sesi profesional ini menjadi diskusi dua arah, namun bisa sekaligus menambah quality time dengannya,” ujar Karista sang pelaku eksekutif bisnis asuransi yang sedang menjalin fase hubungan baru beberapa bulan terakhir ini.

Peningkatan kemampuan dalam berkreasi berkat jalinan hubungan romansa yang positif juga terjadi pada teman saya, pasangan jurnalis-pebisnis yang akan memasuki anniversary ke satu dekade tahun ini. “Setelah hidup bersama selama itu, dan walau rasa positivity dari cinta tak se-eksplosif dulu, namun memiliki seorang pasangan rasa partner justru mampu menambah keterampilan soft skill saya. Memang berbagi cerita dengannya tak selalu menyelesaikan masalah utama dalam kantor yang membutuhkan keahlian saya, namun dengan berbagi dengannya yang berhubungan dengan publik masif, justru mengajarkan saya mengenai manajemen sumber daya manusia, yang pada akhirnya membantu kinerja saya secara profesional.”

Faktanya, emosi memiliki power untuk memberi dampak pada performa kita. Seperti yang dialami Beyoncé, “Setiap sebelum naik ke atas panggung, saya mengalami nervous berat. Tapi saya akan lebih takut lagi bila saya tidak merasa gugup, karena artinya saya tidak menampilkan yang terbaik dari diri saya.” Sesederhana analogi merancang strategi terkreatif untuk memberi kejutan distingtif pada pasangan yang berulang tahun dalam bentuk hadiah liburan berdua ke Yunani, romantisme sekaligus sexual desire yang dirasakan dari hubungan turut membuat kita berpikir lebih global dari berbagai perspektif untuk menghasilkan karya yang terbaik, layaknya mengeluarkan usaha extra miles untuk mensukseskan proyek photo shoot dengan living legend Robert De Niro di New York.

Work-Love Wins

Seperti yang kita tahu, hubungan hadir dalam satu paket. Ia melibatkan rasa cinta, bahagia, takut, risiko, anxiety, hingga anger. Dan yang kita semua tahu, sejak emosi memiliki peranan pengaruh terhadap kinerja saat berprofesi, isi paket dalam hubungan yang bukan cinta dan bahagia kerap hadir menyelingi, memberi ruang untuk self and relationship-development. Bahkan Napoleon Hill, sang penggagas literatur genre motivasi dan self-help, menekankan bagaimana ketidakbahagiaan memiliki potensi menghancurkan segala ambisi. Di sini, komunikasi menjadi kunci krusial untuk menjembatani masalah dalam hubungan agar menemui solusi yang tepat.

“Tekniknya adalah untuk menyisihkan semua rasa dan urusan personal hingga jam kantor berakhir. Lalu duduk berdua untuk mendiskusikan konfliknya, solve it once and for all,” ujar salah seorang teman saya saat makan malam after office kami. “‘Finish or Forget’,” balas teman saya yang lain, “Saya adalah tipe yang tidak bisa menumpuk masalah saat bekerja. Jadi bila ada hambatan dengan pasangan saat di kantor, we’ll finish this now, or forget this forever,” jelasnya. Apapun metode preferensinya, kita menyadari bahwa tak ada hasil yang memuaskan bila hanya memberi 50:50 pada masing-masing kehidupan personal dan profesional. Seperti yang Maria Sharapova – petenis profesional sekaligus silver medalist World Olympic – akui bahwa ia tak suka menggunakan kata ‘seimbang’, karena artinya ia hanya memberi setengah hasil pada pekerjaan dan hubungan privatnya. The only trick is to push 100% limit of effort, to both of your relationship-life and your work-life.

Pada akhirnya, term work-life-balance pun berevolusi menjadi work-life-flexibility. Hubungan modern yang melibatkan dua individu aktif dan dinamis dalam satu pasang justru makin membuat hardships terlalui bersama. Jadi, pastikan untuk hidup full time dan berjangka panjang dengan seorang lover slash partner yang mampu memberi nafas kehidupan kembali saat kita sedang terlalu lelah, rumah yang dituju untuk pulang, dan alasan untuk selalu menanti hari esok. Tak salah bila kutipan klasik menganjurkan untuk mengelilingi diri dengan lingkaran individu yang positif, karena nyatanya, ucapan suportif dari daftar nama prioritas Anda mampu membuat Anda do-the-tango dengan stilletto secara penuh percaya diri dan progresif. Bagi saya, emosi cinta dan produktivitas layaknya dopamine yang mampu membuat setiap hal yang dikerjakan berhasil dengan kualitas, dan itu terjadi secara adiktif. When you’re already with the positive one, who give you pleasure yet challenge yourself to strive more, don’t let them go.

Comments

Share this article: