Bukti Kesuksesan Karier walau Latar Akademik Berbanding Terbalik

Tina Talisa Mempelajari Kedokteran Gigi, Berprofesi sebagai Jurnalis “Saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak bisa menjalani dua profesi. Harus memilih salah satu antara menjadi dokter gigi sesuai studi saya atau menjadi jurnalis. Tapi pilihan yang saya buat adalah menjadi jurnalis. Pertimbangan untuk keputusan saya adalah passion dan kontribusi. Saya yakin betul kalau hasrat saya… View Article

Tina Talisa
Mempelajari Kedokteran Gigi, Berprofesi sebagai Jurnalis
“Saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak bisa menjalani dua profesi. Harus memilih salah satu antara menjadi dokter gigi sesuai studi saya atau menjadi jurnalis. Tapi pilihan yang saya buat adalah menjadi jurnalis. Pertimbangan untuk keputusan saya adalah passion dan kontribusi. Saya yakin betul kalau hasrat saya ada di dunia penyiaran sebagai jurnalis. Di saat bersamaan, saya sadar bahwa saya punya potensi untuk dioptimalkan, dan bisa berkontribusi di bidang jurnalisme ini untuk orang banyak. Saya selalu yakin tidak ada ilmu yang percuma, pasti ada manfaatnya. Bagi saya, bukan ilmu saja yang paling penting, tapi pola pikir yang bisa menjadi bekal, seperti menyerap semua yang telah dipelajari dari dunia kedokteran gigi. Saat kuliah, saya dibiasakan dengan banyak hapalan, sehingga saat kerja, daya ingat saya sudah terasah dan terasa jauh lebih ringan dibanding materi kuliah yang harus diingat dari buku-buku tebal itu. Demikian pula daya tangkap. Walau saya berasal dari dunia eksak yang serba pasti, saat belajar ilmu sosial sebagai jurnalis, saya tidak merasa kesulitan karena daya tangkap sudah dilatih. Juga kemampuan menganalisa. Sebagai jurnalis, sangat diperlukan kecerdasan menganalisa. Seperti dari sisi ketepatan dan kepedulian pada hal-hal detail. Profesi dokter dan dokter gigi tidak boleh ceroboh, harus selalu teliti. Jadi saat bekerja sebagai jurnalis, saya sudah punya kesadaran yang baik soal betapa petingnya hal-hal detail seperti saat menulis atau menyampaikan berita. Saya sama sekali tidak menyesali keputusan berprofesi di luar latar belakang akademik. Kenali passion dan potensi diri sendiri yang bisa memberi kontribusi bagi orang lain. Bidang apa yang paling membuat Anda bahagia dan merasa ‘hidup’? Ingatlah bahwa potensi apapun yang dimiliki selalu bisa dioptimalkan, sehingga bukan hanya berkarier sesuai passion, namun bisa membawa manfaat bagi banyak orang.”

Nurulita
Mempelajari Teknik Kimia, Berprofesi sebagai Fotografer
“Rasanya senang memiliki pekerjaan yang berbeda dengan jalur pendidikan, sebab saya bisa mengetahui dua dunia yg berbeda dan networking-nya pun menjadi ganda. Awalnya saya sempat merasa terasing ketika teman-teman satu angkatan kuliah sibuk melamar pekerjaan di bidang Teknik Kimia, sedangkan saya malah sibuk menggeluti dunia fotografi. Ketika teman-teman saya sudah settle di korporat, saya masih struggle. Tapi memang selalu butuh pengorbanan untuk meraih sesuatu yang worth it! Dukanya mungkin karena saya harus memulai dari nol, karena tidak mengenal siapa-siapa di bidang yang sangat baru dari studi Teknik Kimia saya. Namun menariknya, saya jadi bisa menggabungkan cara berpikir dari dunia Teknik Kimia ke dalam dunia seni. Detail, sistematis, logika, dan komprehensif milik dunia teknik yang saya tempuh saat studi, saya terapkan ke dalam dunia seni fotografi. Hingga kini, saya sangat puas terhadap apa yang saya kerjakan. Saya percaya di mana ada keinginan, di situ pasti akan ada jalan. Ikuti passion dan insting, serta jangan menyerah terhadap kegagalan atau rintangan yang mungkin akan membuat Anda berhenti, atau bahkan berbalik arah.”

Ardistia Dwiasri
Mempelajari Manajemen Teknik, Berprofesi sebagai Fashion Designer
“Sejak kecil saya sudah tertarik dengan dunia desain dan fashion, terutama ilustrasi. Namun di waktu bersamaan, saya juga tertarik dengan dunia sains. Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya saya memilih jurusan industrial engineering dan meneruskan ke program pascasarjana jurusan engineering management. Lalu akhirnya saya pun memutuskan untuk melanjutkan studi ke Parsons School of Design, New York. Meski akhirnya berkarier di dunia fashion yang jauh berbeda dengan ilmu yang saya dapatkan, tetapi saya harus selalu mengambil manfaatnya untuk apapun yang saya lalui. Karena, toh, dunia fashion bisnis juga berhubungan dengan produksi, manufacturing, cost, efisiensi, dan output system. Hingga kini, problem-solving skill yang saya dapatkan pun berasal dari proses analisis di dunia engineering dulu. Meski terlihat jauh berbeda, namun saya bisa melihat sisi positifnya. Menurut saya, ilmu selalu berguna serta berharga, dan tidak akan sia-sia selama kit

Existing Users Log In

   
a menggunakannya dengan maksimal. Strength, natural talent, passion adalah sebuah blessing tersendiri dalam hidup. Kita sebagai individu, harus bertanya pada diri sendiri terutama mengenai karier kita. Apakah yang kita kerjakan telah sesuai dengan apa yang kita inginkan? Jika tidak, maka jangan buang-buang waktu untuk mengerjakannya. Passion itu penting sebab ia ibarat bara api dalam diri kita. Belajarlah untuk mendengar apa yang paling kita suka dan cintai dari dalam hati kita.”

Comments

Share this article: