Designers To Watch! 3 Highlight Copenhagen Fashion Week 2017

Meet the Danish brands worth introducing to your wardrobe.

Anda mungkin menyadari kemewahan dan keagungan beberapa pekan peragaaan busana terkemuka, seperti Paris, London, New York, dan Milan, namun Copenhagen memiliki sebuah pendekatan dan mood yang berbeda. Dengan para tamu yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuk menghadiri presentasi – yang dikenal selalu bermulai 30 menit sampai satu jam di belakang jadwal, kami memperhatikan adanya laid-back vibes yang mencerminkan cara hidup orang Denmark. Tapi, jangan sampai Anda salah mengira, karena suasana santai tidak berarti gaya berbusana yang asal-asalan. Sementara identik dengan busana seperti blazer bermotif checkered, jeans, dan sepatu bertumit tinggi, Danish (sebutan untuk orang Denmark) juga merupakan master dalam padu-padan print dan warna-warna vibran nan bold. Mulai dari motif bunga yang berlebihan, sampai gaun musim panas dalam nuansa kuning cerah, merah terang, dan biru elektrik dalam merayakan minggu akhir dari musim panas ini.

Inspirasi berbusana kemudian berlanjut di atas catwalk, juga dengan para tamu yang berkeliaran untuk memamerkan tampilannya pada lokasi-lokasi historis, seperti halaman istana Charlottenborg yang megah dan sebuah gudang terpencil di luar kota yang disebut Christania. Dari estetika athleisure modern Astrid Andersen, sampai ekstravaganza feminin Stine Goya, koleksi teranyar mereka membuktikan mengapa Copenhagen Fashion Week berkembang dengan sangat pesat dalam perjalanannya untuk bersaing dan meraih statusnya di samping kota-kota mode lainnya.

Berikut, kami telah mengumpulkan tiga desainer yang berhasil mencuri perhatian kami dalam presentasi musim spring 2018:

  1. Astrid AndersenSetelah didukung oleh Fashion East dan Newgen, yang ditetapkan sebagai pemain kunci dalam jadwal London Fashion Week Men, dan berkolaborasi dengan M.I.A dalam serangkaian merchandise turnya, Astrid Andersen adalah desainer yang tidak ingin dilewatkan. Musim ini menandai presentasi womenswear khusus kedua desainer asal Denmark ini. Dan sekali lagi, ini membuktikan kemampuannya untuk mengambil inspirasi dari koleksi sebelumnya dan menerapkannya secara mulus ke estetika baru. Astrid terkenal dengan busana yang terinfluensi dari sportswear, namun ia menambahkan sentuhan segar dengan siluet kontemporer dalam kain tradisional.Jaket hoodies-nya yang waterproof  dirancang untuk busana festival nan fashion-forward. Kami membayangkan crop top dan jaket kimononya akan dipakai semua musisi papan atas, mulai dari Rihanna sampai FKA Twigs pada musim depan. Dan sebenarnya menurut kami, koleksi Astrid dapat dikatakan sangat musician-approved, terutama dengan penyanyi Denmark, MØ, yang berjalan di runway presentasi tersebut.
  2. GanniBerjalan delapan tahun dalam bisnisnya, Ganni tampaknya selalu memiliki sesuatu yang fresh serta penemuan kembali yang melampaui gaya berbusana yang aman untuk menangkap gaya keren perempuan Denmark kontemporer. Perempuan Ganni di Copenhagen secara praktis merupakan iklan berjalan untuk brand tersebut. Bayangkan Emili Sindlev, Jeanette Madsen, dan Pernille Teisbaek. Brand tersebut berhasil melewati garis tipis antara desain kelas atas dan fashion yang terjangkau, membuatnya menjadi sangat diminati namun tetap accessible. Mulai dari gaun yang mengarah ke siluet wrap dress, t-shirt dengan slogan yang cerdas, Ganni telah menjadi benchmark bagi ready-to-wear dressing dengan benar.Musim ini, Ganni membawa kembali konsep koboi ruang angkasa, dengan kacamata hitam futuristik dan denim potongan rendah yang dipadu dengan blus motif gingham, serta boots koboi putih. Creative Director Ditte Reffstrup memiliki titik lemah untuk gaun, yang menjadikan koleksi tersebut sarat busana yang pastinya akan membalut street stylers pada musim semi mendatang, mulai dari gaun mid-length dengan lengan balon yang dipasangkan pada celana panjang kerja, gaun a’la prom yang dikenakan di atas kemeja biru, sampai wrap dress motif pinstripes.
  3. Stine GoyaPresentasi Stine Goya merupakan sebuah surga pastel dengan kembalinya sang desainer ke jadwal Copenhagen Fashion Week, setelah tiga tahun berlalu dengan ledakan palet khasnya, yaitu coral, mawar, dan fuchsia. Hiper-feminitas koleksi tersebut diimbangi oleh soundtrack suara industrial yang berlangsung di dalam sebuah gudang berhiaskan lampu neon, yang terletak di area pelabuhan Nordhavn. Stine sering terinspirasi oleh seni pertunjukan, dan koleksi ini tidak berbeda. Para model berjalan mengelilingi ruangan, di belakang layar tembus pandang dan dari panggung ke panggung, mendorong para tamu untuk berinteraksi dengan busana tersebut, daripada hanya menonton dari tempat duduk mereka.Riasan mata glitter eyeshadow sangat sesuai dengan alas kaki nan gemerlap, yang juga dilansir dalam meterial suede dan brokat, seolah membawa kemeriahan pada busananya. Tema dongeng dan putri pun tampak meresap ke dalam koleksi. Mustard dan fuchsia tone mengikat keseluruhan dari blus pussybow hingga gaun panjang nan flowy, sedangkan dalam ranah outerwear hadir overcoat a’la laboratorium di samping jubah yang menyerupai kimono. Sementara sebagian besar koleksi membawa estetika yang ekstra girly, penampilan favorit kami adalah two-piece nan abstrak. Print nan bold khasnya terlihat dalam setiap koleksi, namun kali ini, corak Matisse-esque ini lah yang mencuri perhatian kami.

 

Comments

Share this article: