In Praise of Singledom: Hubungan Tanpa Melibatkan Kata “I do.”

Selamat datang di sebuah kultur urban yang muncul sebagai realita baru.

ELLE Amerika Serikat pernah mengadakan survei yang melibatkan perempuan berusia 25 hingga 35 tahun untuk mendapati gaya hidup generasi abad ke-21 dalam berbagai bidang. Mulai dari work, life, hingga relationship. Salah satu risetnya dilakukan pada perempuan single atau yang sedang tidak berada dalam hubungan serius. Dan mereka menemukan bahwa 57% respondennya mengatakan, “I could have a happy and complete life if I remain single.” Hasil penelitian lainnya, 75% mengatakan bahwa mereka sulit menemukan seseorang untuk menjalani suatu hubungan bersama, lalu 39% bilang bahwa mereka lebih bahagia daripada kebanyakan teman-teman mereka yang sudah menikah. Kesimpulannya, they are single and sort of loving it.

Mungkin bila menilik fenomena ini di era kontemporer, sudah bukan hal yang tak lazim bila perempuan mampu memilih untuk tidak menikah, atau at least stay uncoupled. Tapi sebenarnya, term ini telah ada bahkan jauh sejak Middle Ages, dan kata spinster menjadi istilahnya. Awalnya, definsi ini diberikan pada perempuan yang bekerja jauh dari rumah hingga berakhir tidak menikah. Istilahnya kian populer ketika peradaban awal Amerika mengatakan perempuan yang belum menikah hingga berusia 23 tahun, akan menjadi komunitas negatif di masyarakat. Namun sejak era ‘80-an, tak ada lagi yang menganggapnya serius. Tapi ideologi dan joke-nya tetap sama: perempuan tua kesepian yang hidup bersama banyak kucing peliharaan.

Saya pun baru mengenali kata ini sejak membaca buku Spinster karangan Kate Bollick yang mengundang provokasi namun moving. Ia meredefinisi kembali kata spinster sebagai bentuk kebebasan dalam memutuskan pilihan hidup sendiri. Tentang melepaskan diri dari kepanikan saat belum menikah di usia 30-an, dan cara untuk embrace kehidupan yang sebenarnya pretty great. Setelah saya membaca esai yang ditulisnya perihal mengapa ia berakhir memilih untuk tidak menikah, saya merasa harus menghubunginya. Historinya layaknya perempuan pada umumnya, ia menjalani hubungan serius dengan seseorang, namun ia sadar bahwa hubungan dapat menyakiti seseorang, tak terkecuali yang dilakukan Kate pada hubungannya sendiri. Ia mengaku telah melakukan sebuah kesalahan yang buruk, tapi ia tidak menyangkal bahwa it was the best thing that happened to her. Sejak itu, ia merasa lebih bahagia dengan hidupnya sendiri – tanpa harus menyakiti atau tersakiti – dan lebih leluasa dalam mengejar hal-hal yang diimpikannya.

Nope, keputusannya untuk tidak menikah bukan sebagai bentuk hukuman diri setelah suatu hubungan yang tidak sukses. Hal itu justru membukakan pikirannya lebih jauh tentang ide benefit dan kepuasan yang bisa didapatkannya tanpa harus terikat dengan pernikahan. And there she goes, Kate adalah penulis New York Times Best Seller yang turut berkontribusi dalam berbagai kolom di media massa bergengsi dunia.

LOVE IS AN OPEN DOOR

Kate mengaku ia lebih banyak pergi berkencan dibanding teman-temannya yang memiliki standar kencan yang divergen. Saking terbukanya, she nearly giving anyone a chance. “Kegiatan itu hanya satu atau dua jam dalam hidup Anda. Jika tidak berjalan lancar, you move right on, dan Anda bisa belajar sesuatu yang menarik dari situ,” jelasnya. Tak berarti seseorang yang single seperti Kate tak punya konsep ideal akan sebuah hubungan. Dari pertanyaan yang saya lontarkan pada Kate, ia menginginkan sebuah romantic relationship di mana kedua partner saling mendukung dan membantu masing-masing tujuan, serta dalam taraf intelektual yang sama.

Saya pun teringat dengan hasil lain dari survei ELLE tentang marriage stuff. Yang menarik, mereka membuat sebuah komparasi respon generasi perempuan pada tahun 1985 dan tahun 2015. Bila 30 tahun lalu 34% perempuan ingin menikah dan memiliki anak tanpa harus punya pekerjaan full-time, maka generasi perempuan kini hanya vote sebesar 28% pada opsi tersebut. A decline to the will of a stay-at-home parent. Mungkin fenomena ini juga didukung oleh mengapa 42% responden mengatakan bila mereka akan bersifat supportif jika sang calon pasangan mau tetap berada di rumah saat sang perempuan mengejar karier di luar rumah. Seperti film A Pretty OK Guy, musisi yang rela meninggalkan karier musiknya untuk merawat kedua anaknya lantaran sang istri yang berprofesi sebagai dokter bedah syaraf yang super sibuk. Adapun respon signifikan bahwa sebesar 40% perempuan masa kini menginginkan pernikahan, plus anak, plus a full-time job sekaligus. Sounds familiar?

THE “IT” CULTURE

Sejak tahun 2014, sensus mengatakan bahwa terdapat 53 juta perempuan single di Amerika. Walaupun dengan banyaknya aplikasi online dating yang fun dan modern (sebut saja Tinder, atau sexting…), era digital turut meredefinisi romansa menjadi suatu hal yang dinamis. Perempuan tetap menerima cinta – atau kesenangan – di dalam hatinya (atau dalam kasus tertentu di atas tempat tidurnya). Ini adalah sebuah pop culture sekaligus realita baru karena perempuan generasi kini menjadi single atas nama pilihan, and yes, perempuan menikmatinya.

Saya pun mengenal beberapa perempuan minoritas lintas usia, baik dia 19 tahun atau 35 tahun, yang tahu sejak awal bahwa keinginannya adalah untuk tidak menikah. Atau beberapa perempuan yang melalui proses masuk keluar hubungan di umur 20-an dan 30-an sambil berasumsi bagaimana kehidupan bila menikah. Atau saya dan beberapa perempuan yang sadar bahwa kebebasan saat being single is the absolute best time of our lives.

Di sesi perbincangan dengan Kate, saya bertanya bagaimana sebagai seorang unattached dapat selalu merasa bahagia, atau bereaksi terhadap rasa sepi. “Loneliness is part of life, baik Anda single atau berpasangan,” jawabnya. Tapi yang dialaminya saat mulai hidup sendiri di usia 30, ia justru menemukan cara untuk menyeimbangkan hidup di antara sibuknya pekerjaan, kebutuhan sosialisasi, romance, hingga solitude. “Kadang ada rasa iri saat melihat teman saya memiliki pasangan yang membantu mereka melewati masa sulit, namun di saat itu juga saya menyadari bahwa untuk memenuhi diri dan hidup, tak hanya didapat dari titel ‘coupled’. Friendships are the central to my wholeness.”

Dengan kesempatan dalam finansial dan edukasi untuk perempuan yang kini tinggi di sepanjang sejarah manusia, rasanya tak ada yang menjadi tantangan terbesar untuk being unmarried. Bahkan sangat memungkinkan untuk memiliki hubungan romantis jangka panjang tanpa terlibat pernikahan. Lihat Amy Schummer, Lena Dunham, Kristen Wiig. Mereka mendapat kehidupan yang fulfilled di luar pernikahan: karier, sosial, romansa. Sama seperti yang ditulis Kate pada bukunya, “Spinster is a shorthand for holding on to that in you which is independent and self-sufficient, whether you’re single or coupled.” Pada akhirnya, menjadi single atau menikah adalah sebuah pilihan, dan sudah menjadi tugas Anda untuk menerjemahkan kodenya. Just remember to take time for yourself.

 

PHOTOGRAPHY: Shutterstock

Comments

Share this article: