Menanggulangi Perbedaan Generasi di antara Kolega untuk Menghindari Selisih

Telusuri solusi dari perbedaan yang sebenarnya adalah hal positif.

Sempat teringat ketika seorang teman berkomentar betapa sang atasan yang terpaut usia hmm.. 1 dekade dengannya, dan juga seorang teman yang mengeluh betapa sulitnya bekerja dengan tim yang berusia lebih muda di bawahnya. Mungkin Anda pernah berada di antara dua situasi seperti tersebut? Atau justru terjebak di antara situasi tersebut setiap harinya.

Realita bahwa kantor adalah lingkungan heterogen tidak bisa dielakkan. Ketika terjun ke dunia kerja maka menemukan rekan kerja yang berusia sama dengan Anda bisa jadi sebuah bonus tersendiri. Setidaknya dalam sisi pola pikir serta etos kerja yang terbentuk dalam sisi generasi yang sama.

Namun tidak semua orang seberutung itu. Dalam dunia kerja kompleksitas selalu menyatu di dalamnya, empat generasi berbeda bukanlah tidak mungkin berkumpul dalam satu atap. Linda Gravett dalam bukunya Bridging the Generation Gap memaparkan empat generasi yang mengisi kehidupan dimulai dari Veterans (1922-1945), Baby Boomers (1946-1964), Generation X (1965-1980), Generation Y atau Millenial (1981-2000). Setiap generasi dipastikan memiliki pola pikir serta nilai yang berbeda satu sama lain. Penelitian dari Brad Sago, DBA dari Anderson University tahun 2000 berjudul Mending the Generation Gap at Work menunjukkan bahwa perbedaan generasi membuat banyak hal spesifik mengalami perbedaan mulai dari gaya komunikasi, sistem bekerja, attitude dalam dunia kerja kehidupan, adaptasi terhadap teknologi dan perubahan.

Menurut survey yang dilakukan oleh Deloitte tahun 2015 dengan judul Mind The Gaps Infographic menunjukkan bahwa generasi millennial berpikir bahwa bisnis harus mengalami perubahan dengan memiliki efek yang positif bukan sekedar profit  dan keuntungan personal, tetapi juga memberikan kemajuan bagi kehidupan sosial mereka. Seperti contohnya Cindy 28 tahun, seorang General PR Manager dan Buisness Director dari perusahaan ritel berskala internasional, ia telah bekerja di beberapa negara bagian di dunia dan saat ini ia membawahi 10 divisi berbeda dengan heterogenitas di dalamnya. Dalam sebuah project menuntutnya untuk berhubungan dengan Julie, 42 tahun seorang Marketing Manager. Keduanya dituntut untuk saling bekerja sama agar project tersebut berjalan lancar serta profit yang maksimal.  Maka dua generasi berbeda tersebut pun akhirnya melakukan serangkaian riset dan mencari cara sama agar project tersebut sukses dengan profit yang didapatkan pun sesuai dengan estimasi budget list yang telah disiapkan serta meraih awareness publik dan pada akhirnya menguntungkan satu sama lain.

Tentu tidak selamanya perbedaan generasi menjadi hal yang buruk. Here’s some tips to make it easy, less-iritating but still professional!

 1. Listening

Minimnya keinginan untuk mendengarkan satu sama lain menjadi sebuah pemicu dari permasalahan lantaran perbedaan generasi. Mulailah untuk bertanya pada diri sendiri apakah selama ini keinginan untuk mendengarkan orang lain sudah cukup besar. Jika belum, maka kutipan dari Ralph Nicols mungkin bisa membantu. “Hal paling mendasar yang dibutuhkan manusia adalah untuk mengerti dan dimengerti. Cara terbaik untuk memahami orang lain adalah dengan mendengarkan mereka!”

2. Knowledge and Skill

Pengetahuan dan skill memegang peranan penting dalam dunia bekerja. Umur bukan penghalang untuk mengasah pengetahuan dan juga skill. Karena hal ini mampu menunjukkan kinerja yang baik dengan skill serta attitude yang saling berkolerasi dan tetap saling professional satu sama lain.

3. Communication Preference

Memahami mode pilihan berkomunikasi saat bekerja sangat dibutuhkan. Jika atasan Anda lebih suka berkomunikasi via telefon atau bertatap muka maka lakukanlah. Begitu pula jika rekan satu tim Anda yang mungkin merasa jauh lebih fleksibel dan cepat dalam berkirim informasi menggunakan aplikasi chatting atau media sosial.

4. Stay Calm

Adanya perbedaan yang terjadi mungkin akan mendatangkan  challenge serta  kritik bagi masing-masing pihak. Stay calm dan jagalah emosi. Ketika kesal umumnya manusia akan meluapkannya dan justru akan mendatangkan judgement yang negatif, namun dengan berpikiran rasional hal itu akan membantu untuk menjaga kredibilitas di lingkungan kerja.

5. Set Interaction

Jeanne C. Meister and Karie Willyerd, penulis buku The 2020 Workforce – How Innovative Companies Attract, Develop, and Keep Tomorrow’s Employees Today, menjelaskan bahwa interaksi antara cross-generational  menjadi sangat penting dalam membangun sebuah hubungan di tempat kerja sehingga seluruh pihak harus secara cermat menciptakan interaksi tersebut.

Comments

Share this article: