Career Tips

A Maximizer: Memaksimalkan Potensi Diri dan Karier dalam Jalur Positif

27 Feb 2017 11:30 by: Givania Diwiya Citta

Mungkin Anda pernah mendengar istilah maximizer atau mengenal seseorang yang memiliki kecenderungan sebagai seorang maximizer. Seorang maximizer adalah seseorang yang bisa dibilang lebih dari perfeksionis; selalu ingin yang terbaik, dan oleh sebab itu menjadi picky. Misalnya jika ia sudah menentukan pilihannya untuk membeli pencil skirt warna hijau, seorang maximizer akan merasa ada tone warna hijau yang lebih baik.

Perbedaan seorang maximizer dengan perfeksionis adalah, jika perfeksionis akan merasa puas dengan hasil kerja yang sudah ia lakukan dengan cara yang menurutnya sudah terbaik, maka seorang maximizer tidak akan pernah puas dengan apa yang ia lakukan.

Sebetulnya dalam satu atau berbagai cara,kita  kerap merasa tak puas dengan apa yang kita dapatkan dalam hidup. Kebanyakan dari kita selalu merasa harus menganalisa segala opsi sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu, orang-orang seperti ini senantiasa merasa bahwa di ‘luar sana’ ada pekerjaan yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, pasangan yang lebih menyenangkan, atau tawaran belanja yang lebih murah. Yang pasti, they will never settle.

“Saya tidak tahu apakah saya seorang maximizer ‘sejati’,” ujar Tiara Adikusumah, 28 tahun, seorang Art Director. “Tapi yang pasti, saya sering merasa ‘hampa’ ketika sudah berada di comfort zone. Padahal gaji melebihi dari cukup, pekerjaan juga bagus,but I want more.”

I want more. Tampaknya kalimat sederhana itu kerap terngiang dalam benak para maximizer. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, karena jika salah, para neanderthal tak akan pernah keluar dari gua tempat mereka tinggal, atau Steve Jobs tak akan melahirkan ide untuk iPhone, iPad, dan reinkarnasi produk Apple lainnya. Kita semua ingin hal yang lebih baik.Namun hal tersebut bisa menjadi salah apabila seseorang selama seumur hidupnya tidak pernah merasa puas, yang akibatnya berujung pada ketidakbahagiaan.

“Sampai batas tertentu, sah-sah saja jika orang ingin sesuatu yang ‘lebih’ dalam hidup mereka, karena karakteristik seorang maximizer menunjukkan bahwa orang tersebut ingin maju,” ujar psikolog dra. Catherine DML Martosudarmo, M.SC. “Tetapi jika hal ini membuat mereka kelelahan dan merasa adanya ‘kekosongan’, maka hal itu sudah tidak sehat lagi. Orang tersebut jadi tidak punya waktu untuk melihat ke dalam dirinya dan bercermin secara internal. Hatinya menjadi gelisah dan akhirnya muncul perasaan hampa. Relasi dengan orang lain pun tidak pernah mendalam, sehingga sulit bagi dia untuk mempunyai teman baik.”

Sebuah studi yang dilakukan oleh Psychological Science menunjukkan bahwa walaupun mahasiswa yang jatuh dalam kategori maximizer mendapatkan gaji $7,400 (atau sekitar 95 juta rupiah) lebih besar, secara emosional dan psikologis, mereka justru kurang bahagia. Hal ini dikarenakan seorang maximizer ingin mencetuskan keputusan sebaik mungkin, dan demi menghindari  risiko buruk, mereka rela menghabiskan waktu berlarut-larut dalam segala macam analisa. Mereka berpikir terlalu banyak mengenai semua hal,dan oleh karena itulah mereka justru bisa menjadi pengambil keputusan yang terburuk. Apabila itu terjadi, timbul dampak-dampak psikologis seperti penyesalan, self-blame, tak memiliki komitmen, dan kurang bahagia. “Karena segala pilihan bisa dijejerkan di hadapan Anda,” ujar Barry Schwartz, pengarang buku The Paradox of Choice.

Commitment Issue

Berbicara mengenai komitmen, kata ini tidak melulu berhubungan dengan pasangan. Seorang manajer human resources saat merekrut karyawan, tentu akan memeriksa dengan detail CV seorang pencari kerja untuk melihat seberapa besar komitmen mereka terhadap suatu perusahaan. “Seseorang yang pindah kerja karena ingin mendapatkan salary lebih besar mungkin lebih saya pahami dibandingkan mereka yang menjelaskan alasan mereka pindah hanya karena mereka ingin ‘mencari peluang lebih baik’,” ujar Marina, mantan manajer human resources sebuah perusahaan asuransi. “Kata-kata itu mungkin simpel dan klise, tapi bisa menunjukkan bahwa ia memiliki karakteristik seorang maximizer,karena ia tak pernah puas dengan pekerjaan yang ia dapatkan. Memang selalu ada peluang yang lebih baik, tapi di poin tertentu,Anda juga mesti menentukan apa yang Anda inginkan dalam hal karier. That shows commitment.”

Kehadiran internet juga membuat manusia modern semakin sulit untuk membuat keputusan, karena segala macam pilihan tersedia hanya dengan satu klik atau tap. Dan berkat beragam media sosialyang menjadi materi bacaan favorit mayoritas pekerja di waktu senggang, maka tak bisa dihindari akan timbul kecemburuan sosial saat melihat foto-foto liburan seseorang di Alaska, atau ketika melihat sahabat Anda baru saja dipromosikan menjadi General Manager. Maximizers are always a FOMO (Fear of Missing Out) person.

Maximizer bisa juga dikatakan sebagai orang yang ambisius. Ambisi memang bagus, tapi hal tersebut bisa jadi bumerang saat tak mengetahui goal hidupnya. Namun Nadia Felicia (30) seorang jurnalis, tidak setuju generalisasi antara maximizer dengan seseorang yang ambisius. “Maximizer sepertinya bisa diartikan sebagai seseorang yang berlomba dengan diri sendiri dalam tahap yang sehat,” ujar Nadia. “Sementara, orang yang ambisius bisa melebar ke tipe yang membuat orang lain rugi demi kepentingan pribadi. Maximizer akan kerja ekstra keras, tapi dampaknya akan berimbas ke dirinya sendiri, seperti kelelahan misalnya.”

The Satisficer

Kebalikan dari maximizer disebut sebagai satisficer. Mereka adalah yang menyadari bahwa ‘life is short’, jadilebih baik merasa betah dan berdamai dengan apa yang dimiliki. Asal gaji mencukupi untuk menghidupi keluarga, hangout bersama sahabat saat akhir pekan, dan untuk pelesir sekali hingga dua kali dalam setahun, that’s enough. Dan biasanya, they can’t stand with the maximizer.

“Saya punya teman yang selalu plinplan,” ujar Joanna Wulan (28), seorang staf marketing untuk sebuah fashion brand. “Hampir setiap kali chatting, dia selalu mengeluh betapa ia tidak puas dengan pekerjaannya; entah ingin bos atau manajemen yang lebih baik, atau gaji yang lebih besar, sampai lokasi kantor yang lebih dekat. I say: be grateful with what you’ve got. It’s better to have a job than no job at all, right?”

Dan kalaupun para satisficer ini mulai merasa adanya ketidakpuasan dalam pekerjaan, perasaan itu muncul karena honor kecil, soal comfort zone, atau... iri melihat status teman di media sosial. “Kadang-kadang terasa stuck,” kata Nadia. “Apalagi jika melihat di media sosialorang-orang yang sudah level up dengan hidupnya; sudah berkeluarga, karier bagus, dan sebagainya. Sebenarnya soal kerjaan, ada saatnya saya merasa bersyukur dan puas dengan apa yang ada. Bahkan pernah sangat puas. Walaupun itu tidak selalu terjadi.”

Lalu jatuh dalam kategori manakah Nadia? A little bit of both, namun mungkin bila diberikan tugas yang jauh lebih menantang daripada yang ia tangani sehari-hari, maka kepuasan kerja Nadia akan kembali. Sementara bagi seorang maximizer, they will be too busy looking for better opportunities to realize what a comfort zone is.

Menariknya, walaupun self-awareness merupakan bagian dari karakteristik seorang maximizer (terutama soal standar hidup), tapi hal tersebut malah alpa saat mereka tengah mempertimbangkan berbagai opsi di hadapan mereka.  Justru sifat utama yang melekat pada mereka adalah neuroticism atau kegelisahan konstan.

Don’t Cross The Line

Merupakan sifat dasar manusia untuk tidak pernah merasa puas dengan kehidupan. Tak ada yang mau bekerja di entry level selama hidupnya. Bedanya: para satisficer kelak akan settle dengan posisi middle management dengan honor cukup, fasilitas kesehatan, dan dana pensiun yang memadai. Sementara para maximizer ingin melaju ke posisi puncak dengan mengerahkan segala keunggulan mereka dan berasumsi segala safety net seperti dana darurat dan asuransi akan datang dengan sendirinya seiring dengan terwujudnya karier impian.

Be Happy with What You’ve Got

Bila setelah membaca artikel ini Anda merasa masuk dalam kategori seorang maximizer yang negatif, jangan khawatir. Ikuti beberapa langkah mudah berikut untuk menjadi yang terbaik dalam arah dan jalur yang positif:

  1. Tentukan batas waktu saat melakukan riset. Semisal dua jam untuk menganalisa satu tugas, atau, bila Anda gemar online shopping, satu jam untuk mencari tawaran terbaik untuk apapun yang ingin Anda cari.
  2. Stick to the same brands you always buy. Ini akan menghindari keinginan untuk membanding-bandingkan beragam brand lainnya.
  3. More is less. Menurut Schwartz, terlalu banyak pilihan justru akan membawa kebingungan. Maka berpikirlah secara matang sebelum Anda mulai ‘menenggelamkan’ diri dalam beragam pilihan.
  4. Punya prioritas. Tentukan apa yang terpenting—keluarga, pasangan, atau karier dalam hidup. Hal ini otomatis akan menjadi penunjuk jalan Anda menuju kepuasan hidup.
  5. Be grateful. Tak hanya untuk pekerjaan yang Anda miliki, tapi juga be grateful untuk keluarga dan pasangan yang menyayangi Anda, bahkan hingga rumah atau mobil yang jadi aset Anda.

 

Maximizer Confession

“YesI’m a maximizer, and picky, and ambitious. Menjadi maximizer bukanlah untuk menjadi kaya, tetapi untuk menjadi orang yang berkualitas, membuat sesuatu yang berkualitas, dan bisa membantu banyak orang. Saya cukup puas dengan apa yang saya punya dari membantu dan menginspirasi banyak orang. So sure, I’m happy!” Andhika Zulkarnaen – Online Publisher ‎Men Style Indonesia

“Menjadi seorang maximizer, berarti menjadi seseorang yang well plannedwell organizedmulti-tasking, serta yang mengatur waktunya dengan baik. Saya adalah seorang maximizer dalam memilih pekerjaan sesuai dengan kemampuan juga pengalaman, serta mampu menggali lebih luas mengenai informasi yang mendukung keberhasilan kinerja. And I’m absolutely happy with what I got now.” Najwa Asrorina – Brand & Business Development Specialist PT Sewu Segar Primatama

 

 

TEXT: Sahiri Loing

BAGIKAN HALAMAN INI:

Updates
Horoscope
Aquarius
Wujudkan rencana seru bersama teman – teman
20 JANUARI – 18 FEBRUARI
Virgo
Hadapi godaan dengan sabar
22 AGUSTUS – 22 SEPTEMBER
Sagittarius
Keep everything simple
23 NOVEMBER – 20 DESEMBER
Libra
Recharge pikiran dengan melakukan hobi
23 SEPTEMBER – 22 OKTOBER
Pisces
Cek kembali strategi untuk mencapai goal
19 FEBRUARI – 20 MARET
Cancer
Akan terjadi perubahan signifikan
21 JUNI – 20 JULI
Capricorn
Latih kemampuan untuk bisa presisi di pekerjaan
21 DESEMBER – 19 JANUARI
Taurus
Bersiaplah akan hal yang menguras energi
21 APRIL – 20 MEI
Scorpio
Mimpi Anda bisa jadi clue masa depan
23 OKTOBER – 22 NOVEMBER
Aries
Jangan ragu memulai hal baru
21 MARET – 20 APRIL
Gemini
Istirahat cukup merupakan hal yang tepat
21 MEI – 20 JUNI
Leo
Saatnya memberi keputusan
21 JULI – 21 AGUSTUS