From The Expert

Tough in Rough Land: Kisah Dian Siswarini, CEO PT. XL Axiata

07 Oct 2016 17:00 by: Giovani Untari

Suatu sore, tim ELLE menemui Dian Siswarini di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ia terlihat ramah namun lekat dengan kesan karimatik. Pribadi yang multi-tasking tampak dimiliki oleh perempuan berambut bob tersebut. Buktinya saat photo shoot berlangsung, Dian tetap memeriksa berkas yang dibawa oleh sekertaris yang memerlukan tanda tangannya, sambil fokus terhadap sesi foto yang berlangsung.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT. XL Axiata bulan April 2015 silam mengantarkan nama Dian Siswarini sebagai CEO XL Axiata setelah tiga bulan sebelumnya mengisi posisi Deputy CEO dari perusahaan tersebut. Berangkat sebagai lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, Dian telah memulai kariernya pada perusahaan tersebut sejak tahun 1996. Konsistensi, profesionalisme, dan semangat itulah yang akhirnya membawa Dian untuk level up mencoba tantangan lainnya, termasuk bagian bisnis yang membawanya pada babak baru seorang profesional. Kini satu tahun masa kepemimpinannya sebagai CEO XL Axiata, Dian Siswarini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kapabilitas dalam memimpin industri yang bahkan didominasi oleh lelaki.

ELLE: Mengapa Anda memilih dunia telekomunikasi?

Dian Siswarini (DS): Waktu saya duduk di sekolah menengah, saya gemar membaca koran dan majalah, di situ saya sadar bahwa teknologi akan mengubah dunia. Dan perkembangan teknologi telekomunikasi adalah yang paling cepat berkembang menurut saya.

ELLE: April tahun lalu Anda resmi diangkat menjadi CEO PT. XL Axiata, bagaimana perasaan Anda menjadi CEO di industri yang didominasi kaum laki-laki?

DS: Tentu ada positif dan negatifnya. Sisi positifnya, bila kita menjadi minoritas dalam suatu komunitas, kita akan terlihat menonjol jika tampil maksimal. Namun sebaliknya, jika performa kita tidak maksimal, kekurangan kita akan jauh lebih terekspos. Untuk sisi negatif, tidak ada, saya lebih memilih menyebutnya sebagai tantangan.

ELLE: Termasuk tantangan saat Anda harus menaiki tower?

DS: Ya! Karena saya berangkat dari profesi sebagai engineer, tentu hal tersebut bukan hal yang asing lagi. Dulu, tools untuk telekomunikasi belum secanggih sekarang, jadi kita harus mencari sendiri apa penyebab dari suatu masalah yang ada dengan riset, termasuk dengan cara menaiki tower. Sebagai engineer, bila saya bilang saya perempuan dan tidak mau naik tower, maka habislah karier saya. Saya percaya bahwa jika kita ingin sesuatu, kita juga harus siap take the pain.

ELLE: Apa Anda pernah merasakan diskriminasi kala berada di industri yang didominasi laki-laki?

DS: Saya beruntung karena perusahaan ini cukup fair pada pekerja perempuan, bahkan saya tidak merasa dibedakan. Menurut saya, diskriminasi muncul karena pekerja perempuan yang membuat diskriminasi tersebut. Seperti halnya harus naik menara, bila perempuan menganggap dirinya tidak mampu, maka perusahaan juga menjadi berpikir bahwa perempuan benar-benar tidak bisa melakukannya.

ELLE: Ada strategi khusus bagi karyawan perempuan saat Anda menjabat sebagai CEO?

DS: Kami bersikukuh encourage mereka, karena kebanyakan perempuan bekerja, namun mereka tidak memilih untuk berkarier. Kami memberi pemahaman 'if you choose to be a career woman, what should you do?' Sebagai perempuan, saya pun masih sering mendapat pertanyaan “Dia adalah CEO perempuan, apakah ia capable?” Pertanyaan seperti itu yang pada akhirnya menjadi kesempatan kita untuk membuktikan bahwa kita mampu. Sehingga secara pribadi, saya lebih banyak membimbing karyawan perempuan atau manager perempuan di XL Axiata agar mereka selalu termotivasi.

ELLE: Sebagai pelaku industri telekomunikasi, bagaimana cara Anda belajar menyesuaikan dengan industri yang sangat dinamis tersebut?

DS: Caranya kita harus sering berinteraksi dengan anak muda, dan keep up. Generasi muda zaman sekarang lebih tahu teknologi dibandingkan generasi di atasnya, jadi tugas kita memang harus terus belajar. Dan jujur, saya sendiri tidak pernah bosan berada di industri ini berkat hal tersebut. Kita belajar terus-menerus, berganti dari sisi IT, Marketing, bisnis, gadget, semuanya sangat dinamis sekaligus menantang karena kami sebagai pemberi servis, wajib untuk selalu tahu hal terbaru.

ELLE: Saya dengar Anda punya kebijakan menarik dengan memberlakukan pelatihan militer bagi karyawan level managerial, apa yang membawa Anda melakukan hal tersebut?

DS: Yang saya lihat, perusahaan telekomunikasi yang beroperasi 24 jam memiliki armada dan karyawan yang sangat banyak. 3600 karyawan ini harus bekerja seirama, untuk itu leaders di XL Axiata harus diarahkan agar hasilnya sesuai. Supaya orang bisa bekerja ke arah yang sama dengan ritme yang sama. Maka dari itu dibutuhkan disiplin dan kerja sama. Harus ada strategi yang melibatkan kerjasama dan teamwork. Untuk mendapat irama kerja yang baik, hal itu harus dimulai dari seorang manager. Saya pikir, di mana tempat yang bisa mengasah itu semua kecuali di militer? Ibarat perang, di sini kita juga bertempur dengan market dan kompetitor, bukan? Akhirnya, karyawan pun mampu menilai itu sebagai sebuah pengalaman yang menarik dan tidak terlupakan.

ELLE: Goal Anda di tahun 2016 ini?

DS: Fokus pada data bisnis terutama layanan data dengan platform 4G LTE yang sudah ada di 36 kota. Tahun ini, kami merencanakan pembangunan platform ini di 80 kota, mulai dari kota-kota besar secara berkala. Yang pasti tetap dengan target revenue tumbuh sesuai industri. Saya menyebutnya mid to high single digit, mungkin antara enam hingga tujuh persen.

ELLE: Sebagai seorang CEO, apa pesan yang bisa Anda bagikan kepada perempuan karier di luar sana?

DS: Menurut saya, you should own your own career. You must own it! Kadang perempuan memilih pasrah, seperti 'terserah perusahaan menginginkan saya ditempatkan di mana'. Anda harus punya target dan road map karier secara pribadi, agar selalu bertanggung jawab dan menjadi pengingat jika ada jalan karier kita yang melenceng. You must have ambition too. Punya ambisi itu tidak salah, karena jika kita tidak punya ambisi, itu artinya kita mati. Tetapi jangan sampai terobsesi, karena integritas harus tetap dijaga. 

 

PHOTOGRAPHY  Herry Ananta

STYLING Elvira Sundari

Kemeja detail denim, dress, dan celana, Max Mara. Handbag, Louis Vuitton. Sepatu, Tory Burch.

BAGIKAN HALAMAN INI:

Updates
Horoscope
Aquarius
Wujudkan rencana seru bersama teman – teman
20 JANUARI – 18 FEBRUARI
Scorpio
Mimpi Anda bisa jadi clue masa depan
23 OKTOBER – 22 NOVEMBER
Pisces
Cek kembali strategi untuk mencapai goal
19 FEBRUARI – 20 MARET
Virgo
Hadapi godaan dengan sabar
22 AGUSTUS – 22 SEPTEMBER
Libra
Recharge pikiran dengan melakukan hobi
23 SEPTEMBER – 22 OKTOBER
Leo
Saatnya memberi keputusan
21 JULI – 21 AGUSTUS
Taurus
Bersiaplah akan hal yang menguras energi
21 APRIL – 20 MEI
Cancer
Akan terjadi perubahan signifikan
21 JUNI – 20 JULI
Aries
Jangan ragu memulai hal baru
21 MARET – 20 APRIL
Capricorn
Latih kemampuan untuk bisa presisi di pekerjaan
21 DESEMBER – 19 JANUARI
Gemini
Istirahat cukup merupakan hal yang tepat
21 MEI – 20 JUNI
Sagittarius
Keep everything simple
23 NOVEMBER – 20 DESEMBER