Andien Aisyah: Kanker Telah Menjadikan Saya Pribadi yang Lebih Baik

Andien Aisyah elle indonesia

“Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya—yang saat itu berusia 16 tahun—harus menjalani operasi pengangkatan tumor di payudara.” Andien Aisyah menuliskan pengalamannya.

Saya ingat betul waktu itu ketika sedang mandi, beberapa kali saya bisa merasakan ada benjolan di payudara. Awalnya saya merasa itu hanya sekadar benjolan biasa. Tapi lama-kelamaan benjolannya terasa makin nyata.

Setelah berhasil mengumpulkan nyali dan keberanian, saya ditemani ibu pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Hasilnya? Benjolan itu ternyata tumor dan harus segera diangkat. Yang saya pikirkan waktu itu hanya satu pertanyaan, mengapa ini terjadi pada saya? Seorang anak usia 16 tahun terkena tumor payudara. Kenyataan itu memunculkan seribu tanda tanya
di kepala. Mengapa saya heran? Sebab saya bukan perokok, tidak ada riwayat sakit tumor, dan masih muda. Bagaimana mungkin dengan rekam jejak seperti itu kemudian saya harus mengalami kejadian ini? Sungguh sedih sekali rasanya.

Sejujurnya, dulu saya tidak pernah menerima informasi yang akurat dan komprehensif tentang apa itu kesehatan payudara. Persoalan tumor dan kanker payudara hadir sebatas desas-desus yang bisa dibilang tak jelas faktanya. Katanya kalau sudah usia 30-an kita rentan terkena tumor payudara. Katanya orang yang bisa kena kanker payudara itu adalah mereka yang sudah punya anak. Katanya kanker payudara terjadi pada orang-orang yang tidak menyusui. Dan segudang “katanya” lain yang justru bikin saya makin tidak jelas memahaminya. Informasi lengkap dan akurat mengenai penyakit ini baru saya peroleh ketika penyakit itu terjadi pada diri saya. Seorang dokter yang merawat saya usai proses operasi menjelaskan panjang lebar tentang penyakit ini.

Jo Kruk (Selective Management) for ELLE Indonesia October 2021 photography Marta Surovy styling Agnieszka Nowicka

Semenjak itu saya jadi tahu bahwa salah satu penyebab adanya tumor di payudara adalah gaya hidup. Jika dikerucutkan, terutama soal makanan. Dulu ketika usia belasan tahun, saya banyak sekali mengonsumsi makanan ‘ultra-processed’. Sesuatu yang perlahan mulai saya kurangi seiring bertambahnya usia sekaligus semakin meningkatnya kesadaran saya tentang gaya hidup sehat.

Tak hanya mengubah cara saya dalam mengonsumsi makanan, pengalaman terkena tumor payudara turut mengubah sisi lain dari diri saya. Peristiwa itu menggerakkan hati saya hingga akhirnya saya bertekad untuk bisa menolong orang-orang sekaligus menyebarkan edukasi mengenai penyakit pembunuh perempuan nomor satu ini.

Keinginan itu akhirnya membawa saya terlibat dalam kegiatan di Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Bersama kawan-kawan, saya turun langsung ke lapangan. Mengunjungi beberapa rumah sakit di Jakarta untuk mencari data akurat tentang jumlah penderita kanker atau tumor payudara yang usianya di bawah 25 tahun. Data yang kami peroleh saat itu, ternyata angka jumlah penderitanya naik dan usianya melebar. Bahkan anak usia 14 tahun bisa mengalaminya!

Hasil temuan itu kemudian saya tuliskan untuk karya skripsi bertema sosialisasi tumor atau kanker payudara kepada para remaja. Mengapa saya melakukan ini? Sebab semakin dini para perempuan menerima informasi akurat soal kanker dan tumor payudara, maka semakin besar peluang perempuan untuk berupaya mengurangi jumlah orang yang terkena penyakit ini. Dan kerap kali ketidaktahuan kita pada isu-isu penting justru berisiko untuk membahayakan hidup dan masa depan kita.

Kini saya telah menjadi orangtua dari dua orang anak. Bicara soal peran sebagai ibu, orangtua turut memiliki andil besar dalam mengedukasi anak-anaknya mengenai perilaku dan gaya hidup sehat. Pentingnya mengonsumsi makanan sehat bernutrisi dengan gizi yang seimbang, sekaligus mengurangi asupan makanan yang diproses secara berlebih. Hal ini yang saya berusaha terapkan kepada anak-anak saya.

Tentu tidak pernah ada jaminan bahwa gaya hidup sehat kelak pasti menghasilkan hidup yang selalu baik-baik. Namun paling tidak, kita berupaya menjalankan kebiasaan dengan selalu mengadopsi cara-cara yang baik dan sehat. Mengelola stres, serta mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat bagi tubuh adalah sebagian bentuk ikhtiar kita sebagai manusia untuk merawat kehidupan dan menjaga tubuh dari apa pun yang bisa membahayakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.