Indra Herlambang: Liberasi, Usia, dan ‘Bulu mata’

indra herlambang elle indonesia - liberasi usia dan bulu mata

Rasa takut itu wajar, tapi harus dikendalikan. Salah satunya dengan berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Oleh INDRA HERLAMBANG

Beberapa waktu lalu pikiran saya terusik oleh curhat dua orang sahabat. Yang pertama, perempuan pekerja kantoran berusia 38 tahun. Ia sedang excited sekaligus waspada menghadapi kehamilan anak keempatnya, sementara yang kedua masih ‘single’ dan mulai gemas menghadapi permintaan sang ibu untuk segera menikah. Padahal usianya baru 25 tahun.

indra herlambang elle indonesia - liberasi usia dan bulu mata
photography TERRY TSIOLIS styling ANNA TREVELYAN for ELLE Indonesia September 2018.

Mereka punya kekhawatiran yang berbeda, tapi sama-sama berhubungan dengan usia. Si perempuan yang tengah hamil menghadapi ketakutan ketika memilih untuk hamil di umur beresiko tinggi. Si lajang ketar-ketir karena dihantui ‘deadline’ menikah yang semakin mendekati.

Sepertinya kedua sahabat saya ini mewakili spektrum luas permasalahan perempuan yang tidak pernah absen dalam setiap fase kehidupan. Waktu ‘single’ dituntut segera menikah. Setelah menikah, diminta untuk segera punya anak. Sudah punya anak? Ditanya lagi kapan nambah. Dan ini baru urusan anak dan rumah tangga. Belum persoalan tuntutan pekerjaan, aktualisasi diri, pergaulan, hingga penampilan. Kedua sahabat saya yang berbeda generasi dan berbeda permasalahan ini ternyata disatukan oleh problema serupa: persoalan extension bulu mata.

indra herlambang elle indonesia - liberasi usia dan bulu mata
photography AGUS SANTOSOYANG styling ISMELYA MUNTU for ELLE Indonesia September 2018.

“Sekarang perempuan harus memperhatikan penampilan, apalagi yang belum nikah. Saingan kan banyak. Kalau enggak pintar menjaga kecantikan, tidak akan laku.” Begitu kata Si Lajang di tengah sesi curhat, waktu saya mengomentari matanya yang sedang “gatal meradang”.

Ok. Jawaban yang masuk akal walaupun cukup menyakitkan (karena membuat semua laki-laki seolah dangkal yang hanya melihat calon istri dari bentuk fisik semata). Lalu apa alasan dari Si Bumil yang jelas-jelas telah menikah dan punya tiga anak?

“Gini ya, gue gak mau saat lahiran nanti terlihat kucel dan menderita. Maunya saat difoto bersama bayi tetap ‘stunning’. Dan salah satu cara yang paling praktis, ya tanam bulu mata lah!”

Wow. Ijinkan saya berdiri sambil bertepuk tangan sebagai bentuk penghormatan dan kekaguman kepada semua calon ibu di luar sana; yang masih memikirkan penampilan ketika harus meregang nyawa saat membawa nyawa baru ke dunia.

Anda semua juara!

Saya sungguh berharap mereka melakukannya demi memenuhi keinginan diri sendiri, bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain. Karena harus diakui, zaman modern ini, isu kesetaraan dan pemberdayaan sudah begitu sering digaungkan, namun masih terlalu banyak tuntutan yang dibebankan kepada perempuan untuk jadi ‘sempurna’. Menurut saya, sangat wajar jika pada akhirnya terlalu banyak kekhawatiran dan ketakutan yang mengiringi setiap langkah perempuan di dalam semua sisi kehidupannya.

Lalu bagaimana agar perempuan terbebas dari semua ketakutan?

indra herlambang elle indonesia - liberasi usia dan bulu mata
photography HENDRA KUSUMA styling ISMELYA MUNTU model SARITHA THAIB for ELLE Indonesia September 2018.

Well, dari beberapa artikel yang saya baca, langkah pertama adalah menyadari bahwa rasa takut itu anugerah. Manusia dibekali rasa
takut sebagai bagian dari mekanisme ‘survival’ untuk bertahan hidup. Saat merasa takut, otak otomatis terstimulasi dan bekerja lebih baik untuk mendeteksi dan menghadapi hadirnya bahaya. Ketika kita dicemplungkan ke dalam situasi menakutkan atau beresiko tinggi, kita terpancing untuk lebih kreatif memecahkan masalah. Rasa takut bukan harus dihilangkan, tapi dikendalikan. Bukan dijadikan beban, namun dimanfaatkan sebagai pacuan.

Langkah berikutnya lebih sulit: mencintai dan menghargai diri sendiri. Kita harus bisa melihat dengan jelas maksud di balik setiap tindakan yang kita lakukan. Apakah pilihan itu diambil karena keinginan, kebutuhan, atau sekadar untuk memenuhi harapan orang lain? Pengorbanan memang bagus. Tapi apakah perlu mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi memenuhi tuntutan orang lain?

Satu hal sederhana, namun sulit dilakukan: berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Karena sesungguhnya menjalani kehidupan bukan seperti menyeberang jalan, tidak perlu tengok kanan kiri supaya aman. Comparing ourselves to others will simply waste our energy. Sebab inilah sumber dari beragam ketakutan dan ‘insecurities’ yang sebenarnya tak perlu.

indra herlambang elle indonesia - liberasi usia dan bulu mata
photography HENDRA KUSUMA styling ISMELYA MUNTU model SARITHA THAIB for ELLE Indonesia September 2018.

Mungkin Anda berpikir; “Nulis sih gampang, tapi tahu apa kamu tentang beratnya jadi perempuan?”. Sebagai lelaki jomblo minim pengalaman, saya memang bukan orang paling tepat untuk membahas permasalahan pelik ini. Namun percaya lah, saya beruntung dikelilingi perempuan-perempuan hebat yang memberi banyak pelajaran. Semua punya cara sendiri untuk menaklukkan ketakutan dan tuntutan kehidupan. They all liberated in their own way.

Dari mereka saya belajar satu hal: pada dasarnya, perempuan mahkluk yang sangat luar biasa. Dengan atau tanpa tambahan bulu mata.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.