Velove Vexia Bergerak Atas Rasa Cinta

velove vexia interview elle indonesia - photography ifan hartanto styling ismelya muntu - writer rianty rusmalia

Sikap positif seolah jadi vaksin yang menyibak secercah harapan di tengah ketidakpastian. Velove Vexia yakinan bahwa cinta dan optimisme itu lebih cepat menular dari wabah apa pun.

Jakarta menjadi episentrum penularan Covid-19, penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 yang sejak enam bulan lalu menyebar secara cepat ke banyak negara. Sebelum ada vaksin dan terapi ampuh untuk mengatasi virus yang menular lewat percikan liur ini, manusia mesti membatasi jarak dengan manusia lain.

Di awal bulan puasa tahun ini, saya berbincang dengan Velove Vexia melalui sambungan telepon. Setelah saling menanyakan kabar, saya bertanya buku apa yang sedang dibaca oleh perempuan yang sejak kecil sangat suka membaca ini. “Sekarang lagi baca 13 Things Mentally Strong Women Don’t Do dan The Power of Focus. Sebetulnya dua buku ini sudah pernah dibaca dua tahun lalu. Namun situasi pandemi ini sejujurnya membuat saya sedikit gelisah. Dan membaca ulang buku-buku ini serta melihat lagi poin-poinnya rasanya seperti memberi semangat baru,” katanya. Velove mengaku senang berada di rumah. Ia menyukai kesendirian. Kendati demikian, ia tak bisa menghindari rasa cemas atas hidup yang kini serba tak pasti.

velove vexia interview elle indonesia - photography ifan hartanto styling ismelya muntu - writer rianty rusmalia
Knitwear dan jaket, FENDI.

Yang jadi masalah dari pandemi ini adalah karakter virus SARS-CoV-2 betul-betul baru dan sulit dideteksi. Masa inkubasinya saja bisa 14 hari. Seseorang yang tadinya negatif, bisa jadi besok positif. Para ilmuwan pun belum sampai pada satu kesimpulan yang sama tentang virus tersebut. Ketidakpastian dari pandemi ini kemudian memunculkan banyak problem lain. Sejumlah perusahaan terpaksa ‘merumahkan’ karyawannya. Sebagian mengalami pemutusan hubungan kerja. Tak sedikit orang yang akhirnya kehabisan uang, bergantung pada bantuan sosial untuk bertahan hidup. Wajar jika kehidupan yang tak lagi normal tersebut menimbulkan kecemasan.

“Apakah saya akan tertular? Kapan vaksinnya ditemukan? Kapan pandemi ini berakhir? Ketakutan-ketakutan ini bahkan tak seorang pun tahu jawabnya. Rasanya sulit sekali untuk mengatakan dengan pasti bahwa masa depan itu baik adanya,” katanya diikuti helaan napas panjang.

velove vexia interview elle indonesia - photography ifan hartanto styling ismelya muntu - writer rianty rusmalia
Jaket, kemeja, celana bermuda, dan topi seluruhnya koleksi DIOR.

Kendati demikian, Velove mengisi hari-harinya di rumah dengan produktif. Ia disibukkan dengan kegiatan penggalangan dana bersama organisasi Kitabisa.com sekaligus bekerja sama dengan berbagai organisasi non-profit untuk menangani kebutuhan kaum perempuan yang terkena dampak Covid-19. Di rumah, Velove juga mengikuti online courses di Stanford University dan berbagai online seminar dari Harvard University.

“Saya berusaha agar setiap hari itu terlewati tanpa sia-sia. Tentu ada kalanya seharian saya nonton Netflix. Di hari lain, saya fokus belajar atau sibuk dengan crowdfunding. Selain tetap rutin berkomunikasi dengan teman dan anggota keluarganya lainnya lewat video call,” cerita perempuan kelahiran 13 Maret 1990 ini. Ditatapkan pada pandemi Covid-19, Velove menyadari keterbatasannya sebagai manusia, tetapi sekaligus juga menolak untuk menyerah. “Virus ini terbukti telah mengubah kebiasaan seharihari manusia dalam waktu singkat. Dan sejak hari ini, hidup kita tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya. Namun saya percaya, manusia selalu mampu beradaptasi dalam kondisi seekstrem dan sesulit apa pun. Saya sendiri ingin memberi makna lebih pada hidup. Sebab di tengah ketidakpastian ini, apa lagi yang bisa kita lakukan jika bukan membuat kepastian-kepastian kecil untuk menjadikan hidup tetap bermakna di hari-hari ke depan,” ujar Velove.

velove vexia interview elle indonesia - photography ifan hartanto styling ismelya muntu - writer rianty rusmalia
Gaun, VALENTINO.

Ia salah satu figur publik yang tidak rutin muncul di layar lebar, sekali dalam satu tahun pun belum tentu. Saya sendiri terakhir menyimak penampilannya dalam tayangan video musik karya Yovie Widianto, Tulus, dan Glenn Fredly berjudul Adu Rayu di mana Velove beradu akting dengan Nicholas Saputra dan Chicco Jerikho. “Tahun 2017, saya disibukkan dengan dua film layar lebar. Dan selama itu, hidup rasanya selalu tentang diri saya. Sesungguhnya saya takut tidak bertumbuh sebagai manusia. Dan karena itu, saya mengambil jeda untuk fokus pada pekerjaan di bidang lain,” ungkapnya.

Sejak 2015, Velove Vexia bergabung dengan UN Women dan membantu memperkuat kerja-kerja advokasi UN Women dalam memperjuangkan hakhak perempuan sekaligus menyuarakan berbagai isu yang dihadapi kaum perempuan. Aksinya dimulai dengan mengunjungi kaum perempuan di berbagai wilayah di Indonesia seperti Sumba dan Papua. “Pengalaman bersama UN Women menjadi amat penting karena saya selalu percaya, begitu perempuan menyadari hak-haknya, maka berbagai kejahatan dan kekerasan terhadap perempuan pun berkurang dengan sendirinya,” terang Velove.

velove vexia interview elle indonesia - photography ifan hartanto styling ismelya muntu - writer rianty rusmalia
Atasan, GIVENCHY.

Pandemi Covid-19 mengenai semua orang tanpa kecuali, tetapi berbagai data, salah satunya disajikan LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan), memperlihatkan perempuan mengalami dampak yang lebih besar. “Tekanan ekonomi yang dialami perempuan menjadi lebih berat sebab ketika lapangan pekerjaan kian terbatas, lazimnya perempuanlah yang diminta mengalah untuk tidak bekerja. Kebijakan ‘school from home’ ikut ‘membebani’ perempuan untuk bertanggung jawab pada kegiatan belajar anak di rumah. Belum lagi beban para perempuan yang menjadi kepala keluarga yang mau tidak mau tetap harus mencari nafkah meskipun dibayang-bayangi terpapar virus baru yang sedang merebak. Selain itu, UN Women melansir laporan yang memperlihatkan naiknya kekerasan terhadap perempuan pada saat pandemi. Termasuk di Indonesia. Diberlakukannya PSBB berpotensi melahirkan gesekan yang tak terelakkan antara pelaku dan korban ketika kini semua orang diharuskan berdiam di rumah. Kekerasannya bisa berupa kekerasan fisik, psikologis, ekonomi, dan seksual. Perempuan menerima beban yang berlapis-lapis. Pandemi Covid-19 ini jelas memberi dampak yang berbeda dan kompleks bagi kaum perempuan,” ujar Velove.

velove vexia interview elle indonesia - photography ifan hartanto styling ismelya muntu - writer rianty rusmalia
Gaun HERMÈS.

Dalam keputusasaan menghadapi pandemi ini, kita ditempa agar terus berharap. Dan rasanya kita perlu mengingat Paradoks Stockdale. Sebuah cara berpikir yang mempertahankan keyakinan bahwa kita akan menang pada akhirnya, terlepas apa pun kesulitannya. Belajar memelihara harapan. Berharap pada kenyataan seperti apa? Bahwa kita semua sedang berada di rumah yang artinya kita tengah memutus rantai penyebaran virus korona. Bahwa kita hidup dalam kemajuan teknologi yang memungkinkan kita berkegiatan positif walaupun dari rumah masing-masing. Dan ada banyak sekali penggalangan dana untuk membantu penanganan Covid-19.

Pada jarak yang memisahkan semua orang, kini kita justru menemukan cinta dan kepedulian yang mendekatkan semua orang dari berbagai lapisan. “Mempunyai harapan itu penting agar seseorang tetap positif dalam melewati ketidakpastian. Hingga saatnya nanti kita bersama kembali, simpanlah optimisme di dalam hati. Sebab hari ini, satu-satunya senjata yang kita miliki adalah harapan. Dan harapan sering kali muncul dari kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan setiap harinya,” pungkas Velove.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.