Mengenal Marc Alary Sang Pendongeng Ulung

Bak seorang pendongeng, Marc Alary menyematkan beragam kisah dalam setiap karya perhiasannya yang kerap memikat hati.

Marc Alary memiliki kecintaan yang besar terhadap satwa liar dan permata. Hal ini tampak nyata lewat upayanya yang kerap meleburkan berbagai siluet hewan seperti gajah, macan kumbang, buaya, dan zebra di dalam karyanya. Baik materi platinum, emas, ataupun bebatuan mulia sekalipun, hanya lewat koleksi perhiasan Marc Alary maka Anda akan menemukan seekor burung flamingo berinteraksi dengan seekor kera yang memegang erat batu safir, rubi, ataupun zamrud pada ekornya.

Karya-karya Marc Alary yang unik sekaligus inovatif mengantarkan dirinya pada sebuah nominasi penghargaan bergengsi dari Council of Fashion Designers of America (CFDA) pada 2013. Di tahun berikutnya, ia dinominasikan untuk penghargaan Swarovski Award for Accessory Design dari CFDA Fashion Awards 2014, yang mengakui kontribusi Marc Alary bagi industri mode Amerika Serikat. Marc Alary menunjukkan taringnya sebagai seorang desainer perhiasan kaliber dunia. Kepada ELLE Indonesia, ia mengakui kebahagiaan lainnya yakni menjadi seorang pendongeng.

ONCE UPON A TIME

Marc Alary menghabiskan masa kecilnya di Toulouse, Prancis, sebelum kemudian pindah ke Paris. Di kota tersebut,ia berkesempatan mengenyam pendidikan desain grafis dan ilustrasi di institusi pendidikan prestisius, Ecole Supérieure de Design, d’Art Graphique et d’Architecture Intérieure ESAG. Usai meraih gelar sarjananya pada 2003, ia kemudian memutuskan pindah ke New York, Amerika Serikat.

“New York adalah kota yang luar biasa,” ujar Marc Alary membuka perbincangan. “Saya memutuskan pindah karena menurut saya kota tersebut menawarkan peluang pekerjaan terbaik bagi saya. Di New York, apa pun mungkin terjadi dalam waktu satu atau dua hari saja. Ketika Anda memiliki proyek yang membutuhkan teknologi atau keahlian tertentu, Anda akan selalu menemukan seseorang yang dapat membantu Anda mewujudkannya,” kenangnya.

Kepindahan Alary ke New York menjadi awal karier profesionalnya. Kepiawaiannya dalam berkreasi membuat Alary dilirik oleh nama-nama besar dan dilibatkan dalam pembuatan desain motif, grafis, dan kaus, untuk DKNY dan Louis Vuitton—Alary bahkan turut mendesain motif sulaman untuk rumah mode asal Prancis tersebut.

Dua tahun kemudian, Alary mulai mendesain secara lepas untuk Marc Jacobs, mulai dari grafis untuk desain kaus, gaun, jaket, dan kain lining, hingga merancang hardware pelengkap tas. Perlahan namun pasti, keterlibatan Alary menjadi begitu esensial dalam lini utama Marc Jacobs
dan lini-lini difusinya yang masih beroperasi saat itu; Marc by Marc Jacobs dan Little Marc Jacobs. Bekerja di bawah label-label besar kenamaan dunia tentunya menjadi bekal tersendiri bagi Alary. “Saya belajar untuk tidak takut berbeda dan menjadi diri saya sendiri, mengikuti insting, dan tidak ragu-ragu dalam mendesain. Saya belajar untuk mendorong diri saya lebih jauh,” ujarnya.

INTO THE JUNGLE

Pada tahun 2009, Marc Alary mulai merancang perhiasan untuk dirinya sendiri—sebagai bentuk ekspresi diri sekaligus memenuhi permintaan teman-teman terdekatnya. Ia menemukan kebahagiaan kala mengerjakannya, di mana ia melihat karya-karyanya sebagai sesuatu yang benar-benar menjadi miliknya sendiri, yang ia kerjakan dari awal hingga akhir, sebagai sesuatu yang ia yakini. Pada musim gugur 2011, Alary pun memutuskan mengundurkan diri dari Marc Jacobs dan fokus pada permintaan label eponimnya yang kian meroket.

Alary kemudian meluncurkan koleksi perhiasan debutnya yang diberi tajuk Ménagerie. Mengusung siluet beragam hewan yang kini menjadi ciri khasnya, koleksi perhiasan tersebut sepenuhnya terinspirasi dari masa kecilnya, di mana berbagai benda antik serta pernak-pernik tetap hidup dalam ingatan sang desainer dan menjadi sumber ilham yang tak ada habisnya, Kecintaan sang ibu terhadap hewan yang diturunkan kepadanya turut berperan besar dalam koleksi tersebut.

Gelang Elephant Caravan kreasi Marc Alary.

“Hewan akan selalu menjadi bagian besar dalam hidup saya. Saya merasa tak ada batasan dalam menginterpretasikan alam atau melihat seekor hewan karena mereka selalu berubah,” jelasnya. “Ketika Anda melihat seekor hewan, ada banyak cara untuk menginterpretasikan hewan tersebut. Semuanya bergantung pada momen ketika Anda melihatnya; suasana hati dan cerita yang Anda kisahkan tentang hewan tersebut.”

Narasi menjadi elemen krusial dalam karya- karya Alary. Adalah kebahagiaan baginya saat melihat setiap hewan yang ia ciptakan mampu menuturkan kisahnya masing-masing—seperti sepasang kera yang tengah memperebutkan sesisir pisang atau sepasang burung yang membawa buah arbei. Tak lupa, ia pun menginjeksikan unsur jenaka ke dalamnya. Sebuah cincin berbentuk kepala buaya misalnya, dirancang sedemikian rupa agar tampak sedang memakan jari pemakainya dan membuat siapapun yang melihatnya tersenyum. Alary turut mengembangkan bisnisnya berdasarkan inspirasi dan kisah-kisah yang ingin ia sampaikan. “Bagi saya, setiap potong perhiasan adalah sebuah kisah dan saya adalah seorang pendongeng. Maka, saya akan terus mendongeng hingga tak ada lagi yang bisa diceritakan,” tutupnya penuh arti.

Bicara mengenai proses kreatif, Alary menjunjung tinggi keseimbangan antara inovasi dengan craftmanship sebagai faktor penting untuk menghasilkan karya-karya yang orisinil. “Saya ingin menampilkan karya yang orisinil, sesuatu yang dapat dipahami oleh orang-orang yang melihatnya, sekaligus yang tak pernah terpikirkan sebelumnya,” ungkapnya. Kegiatan mendesain pun menjadi begitu alamiah bagi Alary. “Saya tidak melihat apa yang saya lakukan sebagai sebuah pekerjaan. Saya menciptakan sesuatu karena saya membutuhkannya, dan karena itulah saya merasa ‘penuh’ dalam hidup.”

TO BE CONTINUED

Setelah 18 tahun berkarier di New York, Marc Alary telah membuka lembaran baru di Biarritz, Prancis Selatan. Ia memutuskan kembali ke Prancis agar dapat menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarganya. Ia tetap merindukan New York dan masih menganggapnya sebagai kota yang menakjubkan, namun ia menyadari bahwa dirinya telah siap menyambut sesuatu yang baru. “Saya telah berpikir bahwa kehidupan yang lebih lamban rasanya lebih selaras dengan apa yang saya inginkan untuk masa depan saya, setidaknya untuk saat ini.”

Padu-padan koleksi cincin Marc Alary.

Perubahan perspektif sedikit banyak memengaruhi proses pendewasaan diri Alary. Ia bahkan tak malu untuk mengaku bahwa dirinya memiliki begitu banyak keraguan dalam berkarya. “Tentu saja! Saya tak percaya siapapun yang mengatakan mereka tidak pernah ragu,” ungkapnya. “Saya rasa semakin orisinil karya-karya seseorang, semakin sulit untuk menyikapinya. Rasanya seperti menyusuri jalan baru dan orang-orang belum siap untuk mengikuti Anda. Tapi Anda harus belajar untuk percaya pada diri Anda sendiri, dan ketika semuanya berhasil rasanya begitu luar biasa.”

Padu-padan koleksi cincin Marc Alary.

Marc Alary telah mengubah pemikirannya, namun ia tetap berkomitmen menjadi seorang pendongeng sejati lewat karya-karya yang mengundang senyum. “Ketika saya tahu bahwa karya saya telah menyentuh hati banyak orang, maka saya akan terus bergerak maju. Saya akan terus mendongeng dan menuturkan kisah, serta terus melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang-orang sekitar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.