Chanel Luncurkan Koleksi Haute Couture Pertamanya di Bawah Arahan Virginie Viard

Virginie Viard layangkan ode bagi Gabrielle Chanel dan Karl Lagerfeld lewat koleksi haute couture pertamanya untuk Chanel.

Pada tanggal 2 Juli 2019 silam, Chanel menghelat kembali sebuah pagelaran mode untuk meluncurkan koleksi adibusana teranyarnya. Koleksi haute couture musim gugur/dingin 2019/20 ini menjadi koleksi adibusana pertama Chanel dibawah pimpinan direktur artistik terbarunya, Virginie Viard. Seperti biasa, helatan mode ini digelar di Grand Palais, Paris.

Inspirasi utama koleksi adibusana perdana Viard untuk Chanel ada pada kecintaan sang pendiri rumah mode asal Prancis tersebut, Gabrielle Chanel, pada buku. “Buku-buku adalah sahabat saya,” ujar Gabrielle Chanel suatu kali pada penulis Paul Morand. Sejak kecil, buku-buku menjadi bagian penting dalam hidup Gabrielle Chanel. Terlebih ketika ia banyak menghabiskan waktu sendiri saat tinggal di panti asuhan Aubazine.

Apabila Anda pernah berkunjung ke apartemen milik Gabrielle Chanel yang berada di atas butik Chanel di 31 rue Cambon, Anda akan melihat sepasang kacamata baca yang tergeletak di atas meja, di samping sebuah buku yang terbuka. Di sekitar salon miliknya, dinding-dinding dipenuhi oleh beragam buku. Tak ada yang dapat meragukan kecintaan sang legenda mode akan aktivitas membaca.

Seperti Gabrielle Chanel, Karl Lagerfeld juga merupakan seorang kutu buku. Sang mendiang desainer bahkan mengoleksi lebih dari 300.000 buku, yang terbagi-bagi di perpustakaan pribadinya, di studio foto, hingga di toko buku 7L miliknya. “Ini merupakan sebuah penyakit yang tidak malu saya akui. Perpustakaan saya beragam, ada beberapa buku biografi, juga album dan buku seni. You see how consuming this passion is!”, ujar sang perancang.

Sebagai seorang kolektor, Karl Lagerfeld berbagi kecintaannya akan buku dan literatur dengan Virginie Viard selama hampir tiga puluh tahun. Kini, Virginie Viard melayangkan ode kepada dua ikon mode paling berpengaruh dunia tersebut lewat koleksi adibusana perdananya. Ribuan buku ditata dalam rak-rak buku dari kayu, membentuk perpustakaan melingkar lengkap dengan berbagai kursi-kursi. Ia hadir bak sebuah ruang membaca yang begitu tenang dan damai.

Dekor ini tentunya menjadi latar yang sempurna bagi jajaran busana bersiluet lurus ala tahun 1930-an yang dipersembahkan. Permainan volume diwujudkan Viard lewat penggunaan ikat pinggang ataupun sematan pita yang menghiasi bagian pinggang. Mantel bak jubah dan mantel tweed dihadirkan untuk menyuarakan kesan maskulin. Sementara potongan bolero atau jaket bomber, dipadankan dengan potongan gaun strapless ataupun rok dari materi tweed.

Seperti pada helatan adibusana Chanel pada umumnya, busana pengantin dipersembahkan sebagai penutup acara. Alih-alih mempertunjukkan sepotong gaun pengantin putih, Virginie memilih untuk menampilkan seorang bride yang mengenakan piyama dan mantel berwarna pink pucat. Aksen lipit dan sulaman bulu yang menghiasinya, membuat sang pengantin tampil penuh fantasi dengan sebersit pesona acuh tak acuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *