Difusi Historis Dalam Inovasi Rasa Pantja

pantja restaurant review elle indonesia - photography Togi Panjaitan - review by Ayu Novalia

Pantja menyentuh selera masyarakat Jakarta lewat kelezatan hidangan berbahan dasar natural dan kilasan kisah masa lampau.

Pantja (baca: panca) kaya akan referensi historis. Mulai dengan namanya yang diambil dari kitab Sanskerta; Pantja yang berarti lima mengandalkan lima unsur dalam menciptakan formula penawar penat, “Makanan lezat, minuman pemanja rasa, tata ruang menawan, musik pembangkit suasana, dan atmosfer yang ramah,” kata salah satu pemiliknya menjabarkan.

Memasuki Pantja seperti rekreasi dalam bungker. Restoran dan bar teranyar di jalan Senopati ini menyuguhkan interior bergaya industrial era Inggris lama, dengan bentuk langit-langit melengkung tersusun atas materi bata merah. Nuansa masa kini tetap hadir lewat estetika furnitur bergaris rancang modern dibalut warna abu-abu gelap, cokelat bahan kayu, serta kuningan yang mengaksentuasi lampu-lampu dinding secara mewah. Pencahayaan dipasang temaram. Tak sekadar efek dramatis, tetapi menciptakan intimasi di dalam atmosfer. Suasananya pun menjadi lebih nyaman alih-alih suram.

Mulai beroperasi bulan November 2019 silam, Pantja telah mencetak reputasi sebagai destinasi bersantai yang ‘padat’ pengunjung. Di area makannya yang meliputi dua lantai, dan mampu mengakomodir 140 orang secara bersamaan, hampir jarang terlihat kursi tanpa penghuni. Apabila tidak berniat mengantre daftar tunggu di resepsionis, tamu disarankan untuk terlebih dahulu reservasi.

Adalah kinerja dapur pimpinan Chef Rapha yang tak berhenti menarik tamu datang berkunjung. Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun di dunia kuliner, Chef Rapha—juga salah satu pendiri Pantja—menyajikan rangkaian menu olahan sendiri yang fokus pada orisinilitas bahan makanan berkualitas.

Konten menunya dibagi tiga kelompok: grain (pasta berbahan dasar gandum), fire (hidangan panggang), dan farm (menggunakan bahan musiman hasil kebun dan ternak organik). Salah satu kreasi terbaiknya yakni Bucatini black pepper yang dihidangkan bersama telur mata sapi setengah matang, lembaran tipis keju pecorino, plus opsi protein: pork tesa, kepiting, atau jamur.

Namun sebelum mencicipi kelezatan pasta bertekstur creamy tersebut, awali sesi bersantap dengan Novio Farms Carrot. Presentasi wortel panggang kombinasi potongan jeruk merah yang sarat warna menggugah selera. Opsi lain hadir dari kelompok fire, yakni Fuji Apple yang menyajikan potongan buah apel dengan karamelisasi, irisan jamon iberico (daging ham), serta keju ricotta dalam penataan cantik bertabur walnut dan mizuna. Menyoal rasanya, kombinasi manis yang sedikit gurih beraroma daun mizuna, pecah secara lezat di mulut.

pantja restaurant review elle indonesia - photography Togi Panjaitan - review by Ayu Novalia
Fuji Apple (Rp155.000,-)

Chef Rapha menerapkan metode memasak cara lampau, yakni menggunakan kayu (batang pohon rambutan) bakar serta arang kecil untuk memanggang sayuran secara perlahan, sehingga rasa asli bahan makanan mencuat kuat.

Selagi menunggu pesanan diantar ke meja Anda, tidak ada salahnya menelusuri daftar minuman dari bar. Menu cocktail hadir dalam resep klasik dari abad ke-16 hingga abad ke-18. Jika tak menemukan menu favorit Anda, pilih saja berdasarkan kategori dasarnya: punch, spirit & stirred, sours & fixes, collins & fizzes, dan light & low.

“Di sini, kami ingin tamu lebih mengeksplorasi rasa dengan mengenal apa yang mereka minum dan yang membuat mereka nyaman.” Kami memilih Improved Whisky Fix dalam deretan sours & fixes. Terbuat dari campuran whisky, white wine, herbal liquer,dan buah nanas serta lemon, menciptakan kesegaran bagi pikiran yang tengah rumit.

PANTJA
Jl. Senopati No. 37, Jakarta Selatan
T: (021) 5213010

Photo DOC. ELLE INDONESIA photography TOGI PANJAITAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.