Riri Riza: Maskulinitas Sebagai Produk Budaya

riri riza - elle indonesia - maskulin - produk budaya

Sutradara Riri Riza berpendapat bahwa kebudayaan membentuk cara kita memahami kelaki-lakian yang berubah seiring zaman.

Saya pernah membaca bahwa konsep maskulinitas tidak terbentuk begitu saja sejak kita lahir. Ia dibentuk oleh kebudayaan. Masyarakat membentuk konsep tentang seperti apa laki-laki harus menjalankan hidupnya. Bahwa laki-laki itu kuat, berkuasa, memegang kendali, mandiri, dan bekerja.

Akhir tahun ’80-an ditandai dengan maraknya televisi swasta, ramainya film-film impor Hollywood, dan revolusi musik pop. Saya hidup dalam rangkaian konsep tentang maskulinitas. Film turut membentuk konsep tersebut dan terus-menerus menawarkan alternatif serta paradoks.

photography NORMAN FIDELI styling SIDKY MUHAMADSYAH model ANTHONY TRAN – WYNN

Tokoh Rocky Balboa dalam film Rocky (1976) yang diperankan Sylvester Stallone mungkin adalah konsep maskulinitas yang cukup berpengaruh dalam dunia film. Skenario film yang meraih Oscar ini ditulis sendiri oleh Stallone. Menggambarkan seorang Rocky Balboa, laki-laki yang hampir tersingkir dari kompetisi dan kembali bangkit untuk bertarung mati-matian di ring tinju.

Konstruksi maskulinitas Rocky sesuai dengan tokoh Herakles dalam mitologi Yunani: tegap dan tinggi dengan otot yang menyembul. Sekaligus pula digambarkan penuh kegelisahan dan luka masa lalu. Saya tertarik meletakkan Rocky sebagai salah satu konsep maskulinitas karena ia dikisahkan bersikap lembut. Upaya Rocky mempertahankan sikap ini membuatnya menangis dalam beberapa bagian cerita. Namun ia tetap bangkit menghajar satu per satu lawannya untuk kemudian menjadi juara.

riri riza - elle indonesia - maskulin - produk budaya

Dalam film Indonesia, kita melihat konsep maskulin Rocky dalam film yang dimainkan aktor Barry Prima atau Advent Bangun. Mungkin kita bisa melihat konstruksi maskulin ala Rocky dalam beberapa film yang diperankan aktor Chicco Jerikho. Kita tidak terlalu pusing memikirkan kapan laki-laki tampan ini melakukan pushup dan sit-up atau memakan putih telur minimal 20 butir sehari untuk membentuk ototnya. Namun penonton segera meyakini bahwa laki-laki dalam film itu sebaiknya berdada bidang dan bertubuh atletis.

Selain itu ada maskulinitas yang diartikan ulang oleh Vino G. Bastian dan Herjunot Ali dalam Realita, Cinta, dan Rock ‘n’ Roll. Jika dulu laki-laki maskulin adalah mereka yang berotot, sutradara Upi membentuk Vino dan Junot dalam gaya ‘kering’. Sekali lagi, penonton tidak terdengar protes dan mempertanyakan di mana adegan mereka berolahraga dan berkeringat habis sit-up.

Konsep maskulinitas ala Herakles sangat menginspirasi banyak laki-laki urban belakangan ini. Minimal bisa dilihat dari ramainya pusat kebugaran. Ada banyak laki-laki yang mencoba memenuhi konsep maskulin lewat otot yang menyembul.

elle indonesia-vino g bastian-interview-2
photography HARYONO HALIM styling ISMELYA MUNTU ass. styling GHINA RIZQI

Hollywood menawarkan pemikiran berbeda. Tom Cruise sebagai Ethan Hunt dalam film Mission Impossible atau Matt Damon sebagai Jason Bourne dalam film Bourne. Konsep maskulin yang diusung keduanya sedikit membumi karena dituntut memiliki misteri dalam peran penyamaran. Walau selalu berakhir menang dalam perkelahian, Tom Cruise tidak perlu memperlihatkan konstruksi fisik maskulinnya; bertubuh atletis dengan otot kencang. Bentuk tubuhnya cukup berada dalam imajinasi penonton.

Miles Film, tempat saya berkarya, melahirkan sosok laki-laki ikonis dalam dunia film Indonesia; Rangga, yang diperankan Nicholas Saputra, dalam film Ada Apa Dengan Cinta?. Menarik untuk menyimak konsep laki-laki ala Rangga. Seorang pencari jati diri, gelisah dengan kepalsuan masyarakat, yang membuatnya muak sekaligus marah.

Konsep maskulin ala Herakles tidak ada dalam presentasi Rangga. Ia bahkan suka menulis, membaca puisi, dan menyimpan kenangan-kenangan lama. Ia juga nyaman memasak di dapur. Walau ia dominan dan bisa marah, maskulinitas Rangga cukup ditandai dengan tinggi badan, tubuh kurus, dengan bonus sepasang mata yang tajam menyerang.

riri riza - elle indonesia - maskulin - produk budaya
photography RAJA SIREGAR styling ISMELYA MUNTU

Lewat film, maskulinitas bukan mustahil ditampilkan dengan konsep yang lembut dan sensitif.

Rangga menembus batas-batas yang dimiliki Rocky bahkan Ethan atau Bourne. Rangga menawarkan paradoks dalam maskulinitas. Dan sinema menjadi produk budaya yang membentuk cara kita memahami kelaki-lakian. Konsep maskulinitas sendiri jadi lebih sehat jika terus dipertanyakan dan didiskusikan, agar kita tak menjadi manusia yang terjebak dalam pemikiran sempit. Misalnya menyimpulkan bahwa laki-laki maskulin adalah mereka yang berkuasa atas perempuan. Atau laki-laki sejati adalah mereka yang rajin berolahraga di pusat kebugaran.

Sinema telah menyuguhkan pemikiran-pemikiran yang lebih terbuka dalam konsep maskulinitas. Hal ini penting sebab kita hidup di Indonesia, negara yang mewariskan keragaman budaya sekaligus memiliki konsep maskulinitas yang beragam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.