Afgan Merangkul Kebangkitan Identitas

Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim

Sang musisi bicara tentang kebaruan karya, reputasi, dan kebahagiaan menjadi diri sendiri.

9 April 2021 menandai era baru dalam kehidupan Afgansyah Reza. Sejak hari itu, di mana ia merilis album teranyarnya yang bertajuk Wallflower, dunia telah mengenal sisi lain seorang Afgan—panggilan akrab sekaligus representasi profesionalnya di atas panggung musik—yang tidak pernah ia perlihatkan secara utuh sebelumnya. Wallflower, secara teknis, merupakan album studio keenam Afgan, namun karya perdana setelah album ‘best of the best’, Dekade (2018), yang semakin memperkuat transisinya sebagai musisi pemilik suara dan bukan sekadar produk bisnis label. Go big or go home, begitulah album ini bagi Afgan. Sebuah inisiasi debut di kancah global seiring kontrak mutakhirnya bersama label rekaman asal Amerika Serikat, Empire.

Afgan mengetahui Empire dari rekomendasi seorang teman—yang ia jaga identitasnya—kala ia tengah berkunjung ke London, Inggris, “Dia mengatakan bahwa suara musik kami selaras dan menyarankan saya untuk bekerja sama. Saya pikir kenapa tidak dicoba,” Bersama tim labelnya di Indonesia, Trinity Optima Production, Afgan kemudian mengatur pertemuan dengan tim Empire beberapa tahun sebelum pandemi Covid-19. “Saya menyukai sudut pandang mereka yang sangat terbuka. Mereka berorientasi tidak hanya kepada bisnis, tetapi juga menghargai karakter seorang musisi. Merasa cocok dan sejalan dalam visi, kami pun memutuskan untuk menjalin kerjasama,” ceritanya. Tahun 2019, Afgan resmi bernaung di bawah Empire sebagai label internasionalnya.

Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim
Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim

Sepuluh hari menuju perilisan Wallflower, saya bertemu dengan Afgan di studio pemotretannya bersama ELLE. Ia tampak bergerak dinamis. Berganti-ganti pose di depan kamera diiringi lagu-lagu dari The Weeknd, N.E.R.D., hingga Drake, yang ia putar dari playlist musik pribadinya. Ia terlihat berbeda. Penampilannya lebih loose dan ia tidak lagi berkacamata. Usai sesi pemotretan, kami duduk berdampingan seiring petang berganti malam. Semburat lelah tampak bersembunyi di pelupuk matanya. Bagaimana tidak, ia baru saja menggelar konser virtual bersama Rossa dan tengah disibukkan persiapan peluncuran album yang tinggal menghitung hari. Walau begitu, suaranya masih bersemangat menyapa saya.

Beberapa minggu sebelumnya, saya berkesempatan mendengar sepuluh lagu yang menyusun daftar putar albumnya tersebut; dan untuk pertama kalinya, saya memandang Afgan secara berbeda. Empat album karya Afgan di masa lampau menerima nominasi Anugerah Musik Indonesia sebagai Album Pop Terbaik. Mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu penyanyi pop solo terbaik (plus terfavorit) di Indonesia. Kredibilitasnya bahkan turut diakui di Asia Tenggara. Lebih dari 100 juta kali lagu-lagu Afgan telah di-streaming lewat platform digital. Tetapi Wallflower memperdengarkan musikalitasnya jauh dari suara pop. Laki-laki yang dahulu melantunkan balada Terima Kasih Cinta di tangga lagu Top 40, kini menyuarakan Say I’m Sorry dan M.I.A. bersama rapper asal Tiongkok, Jackson Wang, dalam perpaduan irama kontemporer RnB, trap hingga synth. “Kolaborasi Jackson sesungguhnya di luar rencana. Saat bertemu dengannya di belakang panggung sebuah acara penghargaan di Seoul, Korea Selatan, tahun 2019, kami telah menyelesaikan produksi Wallflower. Tapi saya pikir akan sangat estetis jika bisa bekerja sama dengannya untuk lagu M.I.A. Saya kemudian memperdengarkan lagunya pada Jackson, dan ia menyukainya. Akhirnya kami sepakat untuk menjadikan lagu ini sebagai proyek kolaboratif,” kisah Afgan tentang karya yang menjadi lagu pembuka albumnya itu. Ia melanjutkan, “Pengerjaan ulang lagunya berjalan cukup cepat dan menyenangkan. Saya memberi kebebasan berkreasi kepada Jackson dalam menulis bagian liriknya, serta menyanyikan sesuai artistiknya.”

  • Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim
    Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim

Tetapi eksperimen Afgan mengeksplor genre di luar pop bukan sebuah keinginan impulsif atau sekadar mengikuti tren. Ia telah memendam hasrat itu sejak pertama kali memutuskan hidup bermusik. “Sebagai generasi yang tumbuh di era ’90-an, referensi musik saya banyak dipengaruhi musisi-musisi RnB, hip hop, dan soul. Saya selalu berkeinginan untuk menciptakan musik yang berkontribusi menginspirasi keseharian saya,” tuturnya. Namun mengawali debut dengan merilis album Confession No. 1, yang penuh lagu-lagu cinta bersajak sentimental dibalut irama mendayu-dayu, di tahun 2008 justru membangun persona Afgan lekat musik pop ballad. Bahkan ketika ia mulai mencoba menuangkan aspirasi musiknya secara perlahan lewat beberapa lagu di dua album studio sebelumnya, publik masih memandangnya sebagai bintang pop.

“Saya tidak kemudian antipati dengan musik pop ballad. Dan saya sangat menghargai lagu-lagu saya sebelumnya. Hanya saja, saya sudah cukup melakukannya selama hampir 13 tahun,” katanya memastikan agar saya tidak salah paham. Saya tersenyum, paham akan maksudnya. Anda tahu apa yang berkolerasi dengan menjalani rutinitas lebih dari satu dekade? Rasa jenuh. “Bertahan di satu titik dalam waktu yang lama membuat saya merasa stagnan, dan mulai mempertanyakan kapasitas pribadi dalam mencipta musik secara kreatif. Saya merasa publik telah menetapkan ekspektasi mereka tentang siapa itu Afgan. Seorang penyanyi pop ballad. Saya tidak keberatan dipandang begitu, ataupun bernyanyi pop. Tetapi saya yakin memiliki sesuatu yang lain untuk diperdengarkan,” ujar peraih piala Mnet Asian Music Awards (MAMA) kategori Best Asian Artist tahun 2018 itu.

Afgan telah melewati sebuah fase di mana ia berkarya untuk memenuhi kebutuhan orang lain (industri dan mengikuti selera pasar). Suatu masa di periode awal perjalanan kariernya, yang ia gambarkan penuh tekanan hingga membuat gairah musiknya nyaris senyap. “Benar-benar bikin depresi. Saya merasa hidup saya dikendalikan secara karya maupun sebagai manusia,” ceritanya kala itu. Pengalaman pada akhirnya memperkaya perspektif Afgan dalam membentuk sikap berkesenian secara matang di hari ini. “Sekarang saya berjalan di jalur yang mana saya buat sendiri, dengan kebahagiaan menjadi satu-satunya tujuan,” katanya.

Kontemplasi perjalanan 13 tahun bermusik itu melahirkan ketegasan orientasi melodi di album barunya. Rangkaian lirik lagu-lagunya pun turut mengalami pendewasaan. Dari membicarakan Jodoh Pasti Bertemu, bahasan Wallflower turut menarasikan permasalahan rasa gelisah yang mengoyak kesadaran individu. “I can’t take no more. Really thought this would be done. But I’m losing every round. Right now I need some peace of mind. By now I know what you gonna try to do. I know, happens everytime. Can’t sleep at night.” Ekspresi miris tersebut merupakan narasi lagu Hurt Me Like You yang menjadi track nomor 5. “Lagu ini menceritakan depresi dan anxiety seseorang melawan rasa cemasnya,” kata Afgan.

Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim
Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim

Ia pernah berujar bahwa ia hanya menulis sesuatu yang ia pahami. Saya lantas bertanya, apa yang membuat pikirannya kalut saat menggarap album ini? “Ada momen di mana saya merasa down saat akan berangkat ke Amerika untuk mengerjakan album ini. Sebab, saya sama sekali tidak familiar dengan lingkungan kerja dan belum mengenal orang-orangnya,” ujar Afgan. Kegelisahannya kian bertambah ketika ia dipertemukan dengan para penulis lagu yang menjadi kolaboratornya. “Saya sempat merasa terintimidasi,” ungkapnya. Butuh beberapa waktu untuknya menyesuaikan diri, namun ia berhasil menaklukkan kekhawatiran pribadi dan berkarya penuh kepercayaan diri. Tujuh dari sepuluh lagu dalam albumnya menjadi bukti atas andil kreativitasnya. “Berada di lingkungan baru membuat saya belajar lebih yakin terhadap diri sendiri,” katanya.

Laki-laki yang menjadi nominator Best Asian Artist di ajang MTV Europe Music Awards tahun 2018 itu menganggap musik sebagai remedi. “Saya ingin karya saya bisa berdampak positif dan membuat seseorang mendapatkan perasaan lebih baik ketika mendengarnya,” kata Afgan. Oleh karenanya, setiap lagu dalam albumnya ditulis untuk mewujudkan kejujuran emosi yang beragam. Tidak lagi melulu tentang cinta, meskipun tema romantisme itu senantiasa hadir dalam nada Afgan. “Hubungan manusia adalah bagian dari hidup yang saya jalani dan saksikan di depan mata sehari-hari. Pengaruhnya akan selalu berperan dalam penciptaan kreativitas saya. Tapi saya tidak ingin orang berpikir bahwa saya selalu bahagia. Saya ingin mereka memadang saya selayaknya manusia normal yang memiliki semua rasa. Saya ingin orang merasa terhubung dengan saya,” pungkasnya.

Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim
Afgan for ELLE Indonesia May 2021 photography Zaki Akbar styling Sidky Muhamadsyah wardrobe Louis Vuitton grooming Bhiemo Salim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.