Preview Pameran Yayoi Kusama di Museum MACAN

Mengintip seni kontemporer karya Yayoi Kusama “Life is the Heart of A Rainbow” di Museum MACAN, sebelum pembukaan resmi ekshibisinya pada 12 Mei 2018.

Sesuai tajuk utamanya: Life is the Heart of A Rainbow. Ekshibisi seni kontemporer karya Yayoi Kusama ini begitu berwarna, meskipun pelangi hanya tujuh rona. Konteksnya bukan hanya artian sebenarnya, tetapi juga menyiratkan makna.

Rencananya, baru akan dibuka untuk umum mulai 12 Mei 2018 dan bakal berlangsung hingga 9 September 2018. 7 Mei lalu, kami berkesempatan menikmatinya lebih awal.

yayoi kusama - flower - museum macan

“Flower” (1953)

Sekiranya ada lebih dari 130 kreasi ciptaan sang maestro asal Jepang tersebut dipajang memenuhi setiap sudut Museum MACAN. Terdiri dari puluhan lukisan, patung, video, dokumentasi foto, serta lima instalasi seni yang jadi primadona. Dikurasi selama tujuh dekade kariernya, terhitung mulai era 1950-an. Menelusurinya, Anda dibawa menyaksikan perkembangan artistik Yayoi. Sekaligus menyelami gagasan dan perasaannya.

Sebongkah labu raksasa berwarna kuning menyambut di muka galeri, The Spirit of the Pumpkins Descended Into the Heavens (2015). Di belakangnya, Dot Obsession (2002) yang merupakan rangkaian bola-bola besar berwarna senada dengan motif polkadot hitam tampil meriah.

yayoi kusama - The Spirit of the Pumpkins Descended Into the Heavens - museum macan

Pengunjung mengintip ke dalam alam “Dots Obsessions” lewat celah sebesar bola mata.

Salah satu bola-nya memiliki lubang lensa. Jika mengintip ke dalamnya, Anda bisa melihat ruangan terbuat dari kaca yang memantulkan bayangan beberapa bola tersebut jadi berjumlah tak terhingga.

Versi besar dari ruangan itu pun berdiri di bilik sebelahnya untuk Anda masuki dan merasakan pengalaman visual yang menakjubkan. Jika Anda pernah berkunjung ke Museum MACAN, visualnya mengingatkan pada the infinity mirrored room – Brilliance of the Souls (2014) yang sudah dipamerkan sebelumnya.

Namun, ruangan berbentuk kubus yang disusun dari potongan cermin ituhanya menata bola-bola warna kuning corak polkadot. Alih-alih ‘kamar’ dengan gantungan bola warna-warni yang menyala dalam gelap.

yayoi kusama - The Spirit of the Pumpkins Descended Into the Heavens

Dimensi tanpa batas di balik celah “Dots Obsessions” (2015)

yayoi kusama - The Spirit of the Pumpkins Descended Into the Heavens - museum macan

“The Spirit of the Pumpkins Descended Into the Heavens” (2015)

Beranjak ke dalam, reka visual Narcissus Garden (1966/2018) langsung menarik perhatian. Karya ini menggambarkan atraksi Yayoi sebagai penjual bola cermin seharga USD2 pada 1966. Kala itu, Yayoi menyuarakan situasi ekonomi yang tengah berlangsung dan berdampak terhadap produk seni.

yayoi kusama - Narcissus Garden 1966

“Narcissus Garden” (1966/2018)

Di ruangan berikutnya, mata Anda bakal disuguhi ragam mahakarya lukis. Dirangkai per tema dan sesuai fase karier serta hidup si seniman. Salah satunya, My Eternal Soul yang kaya warna di permukaan tembok putih. Seri lukisan ini mengombinasikan pola figuratif dan abstrak; ramai permainan warna untuk menciptakan ilusi optikal bagi mata penikmatnya.

yayoi kusama - my eternal soul - museum macan

“My Eternal Soul” (2009)

yayoi kusama - my eternal soul

Seorang pengunjung berhenti sejenak untuk memotret keindahan warna “My Eternal Soul”

Pindah ke bilik lain, Anda bisa temukan kreasi hitam-putih Love Forever terpampang menghias partisi bercatkan gelap. Karya ini menyertakan simbol kanak-kanak.

Di tengah ruangan, berdiri I Want to Love on a Festival Night (2017). Sebuah instalasi rangka cermin segi enam dengan beberapa celahnya bolong. Intip ke dalam dan Anda akan melihat versi mini Brilliance of the Souls. Penuh lampu menyala yang merangkai pola serta berubah warna beberapa kali.

yayoi kusama - I Want to Love on a Festival Night

Seri lukisan “Love Forever” mengelilingi kotak cermin intip “I Want to Love on a Festival Night”.

Naik ke lantai atas, Anda akan menemukan area khusus The Obliteration Room (2002). Ruangannya memvisualkan sebuah rumah tinggal, lengkap dengan furniturnya. Seluruh instalasi dicat warna putih dan ditempeli stiker warna-warni bentuk polkadot.

yayoi kusama - the obliteration room

“The Obliteration Room” (2002)

Butuh satu hingga dua jam untuk mengitari seluruh lantai galeri sampai habis. Waktu yang sebentar, sebenarnya, untuk menikmati keindahan dan meresapi karya Yayoi. Tetapi amat berkesan.

Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara) menjadi lokasi ketiga, sekaligus pelabuhan terakhir, ekshibisi karya Yayoi Kusama. Setelah sebelumnya dipertontonkan di dua galeri internasional: National gallery Singapore serta Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art di Brisbane, Australia.

yayoi kusama - untitled - child mannequin - museum macan

“Untitled: Child Mannequin” (1966)

(Museum MACAN AKR Tower Level M, Jl. Panjang No. 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. T: (021) 22121888).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *