Eddie Hara Mengembara Di Dunia Imajinasi Penuh Warna

Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 cover - photography Nils Fisch

Lewat karya anti kemapanan dan subkulturnya di tengah kancah seni rupa dunia, Eddie Hara memelihara keliaran ekpresi di atas kanvas yang merayakan visual.

Kesetiaan Eddie Hara pada seni lukis dengan menjelajahi teknik dan mengulik elemen estetik menjadikannya sosok fenomenal dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Ketika pada umumnya perupa merambah medium instalasi atau seni performans, Eddie justru semakin kuat mendekap medium konvensional yakni kanvas dan kertas. Namun kendati setia pada seni melukis, ia tetap memelihara keliaran ekspresi dan mengembara di dunia imajinasi penuh warna serta figur-figur tak terduga. Eksplorasi rupa dan kecerdasan artistik Eddie Hara mencairkan ketegangan tematik dengan meminjam bahasa visual yang mencitrakan garis kekanak-kanakan, sebagaimana ia kerap terinspirasi dari objek rekaan budaya pop. Eddie menafsir ulang tokoh komik dan kartun modern seperti Batman, Mickey Mouse, Hello Kitty, Power Rangers, dan sebagainya. Bukan seperti bentuk aslinya, melainkan mereduksi figur-figur tersebut dengan sangat ekstrem. 

Dalam lukisan bertajuk Mickey’s Dead, sosok Mickey Mouse telentang di bawah kaki Power Rangers yang membawa pistol di tangan kanan dan pisau di tangan kiri. Tidak seperti bentuk Mickey pada umumnya, Eddie membuatnya mirip makhluk luar angkasa. Kaki dan kepala menyatu, mulut menyeringai, dan memiliki dua tanduk di kepala. Ketika mengedepankan isu keberlanjutan, Eddie menuliskan “Seafood is Not Cool, Save Our Empty Ocean” yang bermakna tragis. Restoran seafood menjamur di mana-mana, tapi lautan isinya kosong. Dalam lukisannya, Eddie Hara menghadirkan makhluk-makhluk aneh yang menyerupai ilustrasi buku cerita anak-anak. Sosok berhidung panjang, kepala menggelembung, mulut menyeringai, mata melotot, lidah menjulur, dan kaki panjang ramping. Ia membangun figur dari tumpukan cat warna berlapis-lapis dan bentuknya digarap secara tidak proporsional yang menghasilkan citra monster atau makhluk hasil metamorfosis. Namun di tangan Eddie Hara, sosok yang mengerikan menjadi figur yang menyenangkan mata. Kanvasnya seolah jadi arena karnaval dan perayaan visual.

Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 cover - photography Nils Fisch
Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 photography Nils Fisch/DOC. Eddie Hara

Laki-laki kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, tahun 1957 ini sudah suka menggambar sejak usianya 9 tahun dan mulai melukis di usia 14 tahun. Lulus SMA, Eddie gigih ingin kuliah seni dan berhasil diterima di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, yang kini berganti jadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia kuliah sejak tahun 1980, lalu keluar di tahun 1989. Eddie kemudian melanjutkan pendidikan ke Academie Voor Beeldende Kuntse (AKI) Enschede Belanda. Pada awal 1990-an, namanya mencuat bersama dengan teman kuliahnya di ISI, Heri Dono dan Dadang Christanto. Ketiganya dianggap perintis pameran seni di luar negeri. Sejak 1997, Eddie kini bermukim di Basel, Swiss, bersama istri dan kedua anaknya. Dikenal sebagai ‘Om Punk‘ seni kontemporer Indonesia, Eddie Hara salah satu seniman Indonesia pertama yang gemar melawan arus besar. Ia membawa gaya visual street art ke dalam karya dan gemar membubuhkan tulisan langsung di atas lukisan.

Eddie Hara berhasil membawa karya-karya anti kemapanan dan subkulturnya di tengah kancah seni rupa dunia. Ia seniman yang beruntung sebab mampu melihat sisi gelap realita dengan cara yang ringan. Seolah ingar-bingar persoalan hidup merupakan sesuatu yang hanya perlu dinikmati. Pada karya Eddie Hara, kita bisa menikmati karya lukis sambil membebaskan diri dari dorongan untuk menafsirkan simbol visual. Ia menekuk realitas ke dalam visualisasi yang telah direkayasa agar kemudian menggembirakan siapa pun yang memandangnya. Bagi Eddie Hara, hidup itu sendiri sudah cukup sulit sehingga tak perlu disikapi terlalu serius yang membuat kening berkerut. Sikap yang cenderung “easy going” inilah yang mendasari seluruh karya seni rupanya sejak ia memutuskan menjadi seniman sejak 38 tahun silam.

Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 cover - photography Nils Fisch
Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 Cover photography Nils Fisch

Apa yang ingin Anda sampaikan melalui kolaborasi karya sampul majalah ELLE edisi ini?

“Di mata saya ELLE adalah media yang sangat populer di dunia. Di sini (Basel) saya sering melihat majalah ELLE edisi Bahasa Jerman yang memang beredar di Swiss. Memiliki kekhasan dan kualitas sebagai sebuah majalah sekaligus mempunyai jumlah pengikut yang cukup besar. Sehingga jadi suatu kehormatan bagi saya bisa membuat karya untuk sampul majalah ELLE. Saya merasa senang sekaligus bangga di mana karya saya melebur dengan dunia mode dan gaya hidup yang diusung oleh ELLE. Lukisan ini dibuat di masa pandemi dan saya sendiri pernah merasakan terkena Covid-19 dan bersyukur akhirnya sembuh. Dengan pengalaman tersebut serta kesadaran akan pentingnya menjaga imunitas dan menerapkan social distancing, maka saya menuliskan ‘We Are Survivors‘ dan ‘Covid Delta Go Home‘ yang dilebur dengan figur-figur khas buatan saya.”

Ayah Anda seorang tentara dan menginginkan Anda masuk akademi militer. Tapi Anda menolak. Bahkan diam-diam mendaftar ke Institut Seni Indonesia. Bagaimana kisah awal kecintaan Anda pada seni hingga sebegitu kuatnya keinginan Anda untuk menjadi seniman? 

“Sejak kecil, waktu sekolah dasar, saya suka menggambar menggunakan pensil dan cat air. Ketika masuk SMP 1 Purwokerto, seorang guru melihat saya menggambar lalu mengatakan bahwa saya punya bakat. Guru itu kemudian bilang bahwa pihak sekolah mau bikin ekstrakurikuler menggambar dan saya diminta ikut terlibat. Akhirnya kami sama-sama belajar menggambar. Wkatu itu kami diajarkan teknik melukis dengan cat minyak. Seru banget! Sangat menantang karena kita harus menunggu warnanya kering sebelum menimpanya dengan warna lain. Suatu hari sekolah mengadakan pameran lukisan murid-murid. Lukisan saya dibeli salah satu orangtua murid seharga Rp1.000,-. Waktu itu tahun 1970-an. Saya ingat sekali, uangnya saya pakai untuk membeli cat air dan kanvas baru. Rasanya senang sekaligus jadi punya keyakinan bahwa melukis adalah jalan hidup saya. Namun ayah saya yang mulai gelisah karena melihat anaknya sibuk menggambar melulu. Beliau seperti orang tua kebanyakan pada masa itu. Menilai seniman dengan kesan buruk. Penampilan berantakan, hidup enggak keruan, masa depan tidak jelas. Terlebih waktu itu ada salah seorang tetangga yang bekerja sebagai seniman tapi hidupnya morat-marit. Istrinya tidak terurus, laki-laki itu menikah lagi dengan perempuan lain. Jadilah kesan seniman itu semakin buruk di mata bapak saya. Namun saya bilang pada bapak, tidak semua seniman seperti itu. Saya perlihatkan sosok Affandi dan Basuki Abdullah di koran, yang pada masa itu sedang banyak bikin pameran di luar negeri, tetap saja beliau melarang anaknya jadi seniman. Saya ingin masuk ASRI Yogyakarta tapi dilarang keras oleh bapak. Beliau bilang, saya harus masuk sekolah militer. Dan boleh tidak masuk akademi militer, tapi pilih jurusan selain seni rupa. Kalau saya bersikeras masuk sekolah seni, bapak tidak mau membayar uang kuliahnya. Saya sempat merajuk, satu tahun menganggur. Tahun 1978, akhirnya kami ambil jalan tengah dan saya masuk Sastra Inggris di IKIP Semarang. Walau selalu dapat nilai bagus dan kuliah selalu lancar, tapi saya tidak betah. Keinginan menjadi seniman terus menggebu-gebu. Maka diam-diam saya mendaftar ke ASRI di Yogyakarta. Ketika diterima, saya bingung bagaimana membayar kuliahnya. Ayah sudah pasti menolak. Saya tidak berani bicara ke bapak. Akhirnya orang tua pacar saya yang membayar. Ayah kemudian tahu lalu murka. Ibu saya diam-diam menyisihkan uang belanja dan mengirim uang sebesar Rp25.000,- lewat wesel tiap bulan. Waktu itu awal tahun 1980-an, uangnya cukup untuk saya bayar kos dan beli makanan. Hubungan saya dan ayah renggang cukup lama. Sampai akhirnya suatu hari ibu mengirim telegram yang isinya menyuruh saya pulang karena bapak sakit. Di akhir menjelang beliau wafat kami sudah berdamai. Beliau bahkan sempat menanyakan kabar perkuliahan saya. Saya juga sempat menyumbang darah saat beliau sakit karena hanya darah saya yang cocok untuknya.”

photo DOC. Eddie Hara

Di Institut Seni Indonesia, Anda satu sekolah dengan Heri Dono dan konon Anda berdua gemar melanggar arus besar dalam gaya melukis. 

“Di kampus saya satu kelas dengan Heri Dono, sampai sekarang kami bersahabat dekat. Beberapa kali dia mampir ke rumah saya sewaktu dia mendatangi Venice Biennale. Kami juga beberapa kali bertemu di pameran Art Basel Hongkong dan Art Singapore. Ya, dulu kami memang suka menentang cara-cara lama. Pada zaman itu dekorativisme, ekspresionisme, abstrak, dan surealisme sangat mendominasi di kampus ASRI. Lukisan-lukisannya selalu berwarna kecokelatan, rona earth tone yang cenderung gelap. “Waduh berat-berat ya ini,” kata saya waktu itu. Saya kemudian mengajak Heri Dono berkreasi dengan warna-warna cemerlang: hijau, oranye, merah, biru, dan sebagainya. Saya bersama Heri Dono dan Dadang Christanto waktu di kampus bisa dibilang gemar melanggar arus besar. Di kelas ada 40 orang murid, hanya kami bertiga yang lulus dengan nilai pas-pasan. Kami kerap melukis dengan memakai warna-warna cerah. Karya saya pernah dikritik dan ditolak ikut pameran di kampus. Bahkan lukisan saya pernah ditunjuk-tunjuk pakai kakinya dosen. Kecewa, tapi ya sudah saya tetap konsisten melukis sampai hari ini.”

Komik dan street art memengaruhi karya-karya Anda di mana Anda kerap memasukkan karakter kartun dan gemar membubuhkan tulisan atau teks langsung di atas lukisan yang kini kerap dilakukan pelukis muda Naufal Abshar dan Eko Nugroho. Apa yang melandasi keputusan Anda untuk meletakkan figur pop culture pada karya Anda?

“Ada beberapa tokoh komik seperti Mickey dan Hello Kitty, tapi semua itu tidak dalam bentuk yang realistis. Saya menjadikannya tengkorak. Artinya saya ingin “membunuh” mereka karena buat saya budaya pop sudah terlalu menjejali generasi muda sehingga mereka lebih mengenal figur-figur ciptaan Walt Disney ketimbang sosok Malin Kundang, Yuyu Kangkang, atau Sangkuriang. Hal ini kemudian menjadi menarik ketika ia dileburkan dengan isu-isu aktual misal politik atau lingkungan. Selain supaya menarik secara visual, penempatan komik dan teks juga untuk menyuarakan protes sekaligus memancing diskusi.” 

photo courtesy DOC. Eddie Hara

Anda menggambar Minnie Mouse berwarna cerah sedang tertawa sambil memegang belati. Lewat karya yang mengedepankan self-irony seperti ini, apakah artinya Anda mengajak orang untuk mengkritisi dirinya sendiri?

“Ya, sesekali kita juga perlu kritis dengan diri sendiri. Ada baiknya kita tidak selalu memuja diri.  Saya pernah menulis Uncle Edd is Fat di karya lukis saya dan ini merupakan cara saya untuk mengritik sekaligus menertawakan diri sendiri. Bentuk self-irony yang mengingatkan saya bahwa obesitas itu tidak bagus tapi gemuk juga bukan hal buruk asalkan tubuh sehat bugar.”

Karya-karya Anda kerap menyatukan daya kritis dan kreativitas. Hal ini mengingatkan saya pada teori dunia mimpi yang pernah dibahas Sigmund Freud. Bahwa mimpi adalah alam bawah sadar manusia yang berisi ketakutan dan kemarahan yang seringkali tak disadari karena terkekang. Keberuntungan seorang seniman yakni memiliki kanvas untuk menyatakan kegelisahan sekaligus membebaskan diri dari banyak hal yang belum selesai. Lewat karya seni, apakah Anda sedang berusaha membahasakan kegelisahan Anda?

“Di Eropa, ada tradisi bahwa seniman itu bagian dari kaum intelektual. Barangkali di Indonesia juga demikian. Artinya mereka memiliki pemikiran dan kepedulian pada persoalan sosial, politik, lingkungan, dan lainnya. Buat saya, pelukis tidak hanya bertugas melukis keindahan tapi juga harus aktif mengemukakan permasalahan agar publik mengetahuinya. Di karya lukis, saya sempat menulis ‘Say No to Plastic‘. Saya juga pernah menyinggung persoalan kekerasan terhadap perempuan dan pelecehan seksual. Seniman harus peka pada berbagai isu dan menyuarakannya agar orang lain tahu bahwa dunia ini juga memiliki sisi gelap.”

Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 photography Nils Fisch DOC. Eddie Hara
Eddie Hara for ELLE Indonesia September 2021 photography Nils Fisch/DOC. Eddie Hara

Pilihan Anda pada gaya street art dan graffiti mengacu pada kehidupan subkultur yang mengusung spirit kebebasan. Gaya lukisan ditambah gaya penampilan membuat banyak orang mengira Anda masih muda. Apakah Anda memang berusaha memelihara semangat kemudaan dan melihat bahwa jiwa muda cukup penting dimiliki oleh seorang seniman?

“Sejak pertengahan 1980, gaya saya memang cukup eksentrik. Berambut gondrong, memakai tato, serta mengenakan anting di telinga kiri. Pernah beberapa tahun lalu di suatu ruang pameran, seseorang mengira saya mahasiswa seni yang baru lulus. Dia kaget ketika saya bilang bahwa usia saya sama dengan umur bapaknya. Saya tidak pernah berlagak muda, saya sadar dan bangga dengan usia saya. Namun buat saya, usia itu tidak lebih dari sekadar angka. Prinsip ini seperti bertemu jodohnya ketika saya pindah ke Basel dan mengenal kultur orang-orang Eropa. Di sini, kemapanan dan tidak melakukan apa-apa adalah sesuatu yang dilawan. Bahwa penuaan itu sesuatu yang mesti dirayakan, alih-alih diratapi. Saat usia di atas 60 tahun, kita bisa beraktivitas dan berkreasi seperti kaum muda. Menjadi relawan di museum, bekerja di yayasan, atau berkeliling dunia. Usia boleh tua, namun ketimbang memasuki masa pensiun dengan pasif, lebih baik melakukan sesuatu yang bisa dikenang atau menciptakan sejarah dalam hidup.”

Selain visual artist, Anda juga househusband dan family man. Bagaimana status sebagai suami dan ayah kemudian memengaruhi perjalanan berkesenian dan hidup Anda?

“Pada saat anak-anak saya masih kecil, ada beberapa kesempatan yang tak bisa saya jalani karena tanggung jawab saya sebagai seorang ayah. Terutama terkait residensi jangka panjang. Ketika punya anak, saya membatasi paling lama satu bulan untuk residensi. Akhirnya saya sering menolak kesempatan residensi karena jarang sekali residensi yang hanya satu bulan. Namun saya senang sekaligus bangga dengan status sebagai seorang ayah. Salah satu yang saya senangi di Swiss, menjadi househusband dianggap sama dengan para pekerja. Sebab househusband juga membantu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mengurus anak, dan sebagainya. Di sini, mengurus rumah tangga dianggap sebagai suatu pekerjaan. Dan menjadi househusband adalah hal yang lazim dan sama sekali tidak dilihat sebagai suatu masalah.” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.