6 Desain Furnitur Ramah Lingkungan

desain produk furnitur eco friendly

Perbincangan tentang ancaman segala jenis polusi menginspirasi beberapa desainer furnitur merancang kreasi eco-living yang dikemas dalam tampilan chic.

Mycelium Lights karya Nir Meiri

Studio asal London kembali meluncurkan rancangan yang dekat dengan alam. Bekerjasama dengan BIOHM, sebuah instalasi peduli lingkungan, Nir Meiri memilih mycelium yang merupakan bagian dari jamur sebagai material utamanya. Material organik ini merupakan proyek yang sedang fokus diteliti untuk mengurangi penggunaan plastik pada furnitur. Diberi nama Mycelium Lights, table lamp ini menampilkan perpaduan esensi organis sebuah bentuk asli jamur dan material baja hitam yang solid.

Stool Nero karya Xavier Lorand

Aroma khas secangkir kopi di pagi hari menjadi inspirasi utama desainer asal Meksiko, Xavier Loránd dalam karya terbarunya bertajuk Nero. Stool bergaya modern berbalut unsur industrial ini bermaterial ampas kopi yang sudah dicampur dengan bio resin dan beton. Berkolaborasi dengan brand beton dekoratif ternama, Muro Blanco, stool Nero dihadirkan dalam pilihan warna natural dengan permainan tekstur yang mengingatkan akan sebuah secangkir kopi.

Pearl Collection dari brand Listone Giordano karya Irma Orenstein.

Brand flooring kenamaan asal Italia merangkul Irma Oresntein, arsitek asal Israel dalam merancang koleksi parket yang bertajuk Pearl Collection. Layaknya koleksi-koleksi sebelumnya, Listone Giordano tetap berpegang teguh pada prinsip eco-friendly dari proses pengaturan jumlah pohon di hutan pedalaman Burgundy, Perancis, sampai pada proses finishing pada parket kayu dengan teknologi yang menghasilkan hasil akhir alami namun berkualitas. Keunikan desain motif yang menyerupai efek kilau pasir di dasar laut menjadi nilai kemewahan yang ditawarkan koleksi yang diluncurkan dalam 5 opsi warna.

Anima karya Kosuke Araki

Berbeda dari tableware kebanyakan, koleksi bertajuk Anima ini menggunakan sisa makanan sehari-sehari sebagai material utamanya. Koleksi yang terdiri dari piring, mangkok, gelas, dan vas yang didominasi warna hitam ini merupakan kelanjutan dari koleksi Food Waste Ware karya Kosuke Araski di tahun 2013 silam. Kali ini, desainer asal Jepang ini menggunakan Urushi, cairan vernis yang sangat kental akan sejarah pembuatan keramik asli Jepang. Nilai limbah sisa makanan pun seakan lenyap dalam esensi budaya khas Jepang yang menawarkan bentuk sederhana berbalut keanggunan.

Wreck karya Bentu Design

Studio kenamaan asal Guangzhou, Tiongkok, Bentu Design kali ini meluncurkan koleksi furnitur terbarunya yang merupakan aksi kepedulian mereka akan fenomena limbah industri keramik di kota Chaozhou. Eksperimen material dan bentuk yang diawali dengan penemuan 1000 ton limbah keramik tiap tahun di kota kecil tersebut menghasilkan rancangan simpel namun masif dalam dominasi warna abu-abu yang netral. Koleksi furnitur yang terdiri dari lampu gantung, bangku, meja, dan stool diluncurkan bersamaan dengan pameran instalasi bertajuk Wreck.

Koleksi funitur anak dari brand Ecobirdy

Diluncurkan saat event besar Maison et Objet tahun ini berlangsung, koleksi playful dengan opsi warna pastel, yang terdiri dari kursi Charlie, meja Luisa, lampu Rhino, serta lemari berbentuk burung Kiwi muncul menjadi sorotan. Kumpulan desainer asal Antwerp, Belgia, membangun brand Ecobirdy dengan fokus utama mendaur ulang limbah-limbah menjadi furnitur yang kontemporer. Kali ini, untuk koleksi pertamanya, Ecobirdy memanfaatkan limbah mainan plastik sebagai material utama dalam koleksi furnitur khusus untuk anak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.