Sarah Sechan: Bukti Eksistensi Tidak Termakan Usia

sarah sechan interview elle indonesia

Energi Sarah Sechan kerap dikagumi bidikan lensa dari masa ke masa. Ia berbagi cerita tentang transisi di balik layar yang seringkali terjadi, namun tak pernah mengubah prinsipnya yang hakiki.

Shoku, seekor anjing toy poodle warna cokelat, bisa jadi salah satu hewan paling tenar di Indonesia. Shoku bagaikan Air Bud masa kini di dunia maya. Ia memiliki akun Instagram yang diikuti 125 ribu follower. Lewat akunnya, Shoku berbagi kegiatan dan rupa-rupa wujudnya yang lucu dari berbagai angle lewat media sosial, dilengkapi caption-caption jenaka yang menggelitik.

Karenanya, kolom komentar pun tak kalah meriah–mulai dari ucapan-ucapan yang meluapkan rasa gemas pada anjing berusia 2 tahun tersebut, hingga berbagai pertanyaan yang penasaran akan eksistensi Sarah Sechan, “ibu” Shoku, yang jelas-jelas bertanggung jawab sepenuhnya akan pengelolaan akun ini. Tulisan-tulisan seperti: “Kangen Ibu di TV”, “Shoku aku penggemar Ibumu, sampaikan kalau aku rindu dia kembali ke IG yah”, atau “Kangen nonton Sarseh kalau pagi-pagi”, hanya segelintir dari sekian banyak komentar yang berceceran.

28 Februari 2017, Sarah Sechan mengunggah sebuah boomerang selfie sebagai post terakhir di akun Instagram-nya. Caption-nya ditulis cukup panjang, menyatakan bahwa ini adalah kali terakhir ia mengunggah foto diri di Instagram dan Twitter. “I need to really start living and enjoy every moment of my life, not busy trying to make a point or seek approval from strangers. I want to whisper my gratefulness (and dissapointments!) to my Creator only, because we all know God listens to our heart, not reading our captions” – sepenggal kutipan dari pernyataannya saat itu.

Lalu beberapa bulan kemudian di bulan April, Shoku yang saat itu baru diadopsi dan berusia tiga bulan, muncul sebagai ‘pemegang’ baru di akun tersebut. Since then, the ‘world’ revolved around Shoku, and still is. Lantas tepat di tanggal 28 Februari 2019 (dua tahun setelah Sarah ‘menukar’ dirinya dengan Shoku di media sosial) di sebuah hari Kamis yang mendung, ia duduk berbincang dengan saya. Ia berbagi cerita tentang hidupnya yang kini lebih matang dalam tujuan. Kami juga bicarakan pekerjaan barunya yang bersahabat dengan jadwal harian, dan tentunya, kisah di balik inaugurasi Shoku sebagai ikon baru di akun Instagramnya.

sarah sechan interview elle indonesia

Busana: MAXMARA (rompi), MASSIMO DUTTI (celana), GIVENCHY (sepatu)

“Karena Shoku lebih lucu dari saya!,” ujarnya tergelak sambil menikmati bekal makan siang. “Saya rasa sudah cukup banyak orang yang memperlihatkan kehidupan sehari-hari atau curhat lewat media sosial. Saya hanya ingin kasih lihat sesuatu yang lucu dan enggak bikin orang mikir atau baper!”

Walau Sarah sesungguhnya sangat menyadari bahwa rejekinya pun ‘ada’ di sosial media, tapi karena pekerjaannya yang terdahulu dan sekarang sudah menyediakan akun Instagram sendiri untuk mewakili program-program yang di-host oleh Sarah, ia merasa tidak perlu lagi untuk memiliki akun sendiri. Dan lain hal yang juga utama sebagai pertimbangannya saat itu; opini Rajata, anak semata wayang dari pernikahannya yang terdahulu.

Sesungguhnya, dunia Sarah berputar mengelilingi Rajata, bukan Shoku (walau Shoku tetap pemegang hati Sarah peringkat ke-2 setelah Rajata). “Sangat penting untuk saya kalau anak saya berpikir bahwa Ibunya itu keren!” Ia tidak bercanda.

Rajata diceritakan sangat mirip dengan Ayahnya (yang tidak memiliki akun sosial media apa pun) dan hanya memiliki lima post di akun Instagramnya tanpa menunjukkan wajahnya dalam satu unggahan pun. “Jadi karena dia lihat bapaknya begitu, dia lihat saya itu lebay. Dia pernah bilang ke saya, “Ibu hari ini sudah post dua kali lho, memang menurut Ibu itu penting?” Hati saya seperti ditusuk JLEB,” ia kembali tertawa dan menjelaskan bahwa akhirnya ide itu pun datang dari Rajata untuk menjadikan Shoku sebagai ikon Instagram Ibunya.

Dari kecil, Rajata hanya tahu kegiatan Sarah hanya syuting dan meeting (tanpa memahami syuting untuk tujuan apa). Setiap bepergian, seringkali fans mengajak berfoto bersama yang memberikan Rajata pertanyaan “siapa mereka?” dan Sarah selalu menjawab “mereka saudara kita”. Hingga ia kian besar dan Sarah ikut berpartisipasi sebagai judge untuk acara Indonesia Mencari Bakat, Rajata baru memahami bahwa sang Ibu selama ini bekerja untuk televisi.

Suatu hari ia pun berucap, “Ibu, I think you’re famous. Somehow I just have a feeling about that. Dan semua orang yang berfoto dengan Ibu, I don’t think mereka semua keluarga kita.” Dalam senyum, Sarah tidak pernah membalas komentar itu hingga kini. Terlebih lagi saat ini, setiap kali Rajata menonton acara Sarah dan berkomentar, “Ibu aneh di situ. Boleh ganti channel enggak?”

sarah sechan interview elle indonesia

Busana: GIVENCHY

Acara talk show yang digawangi Sarah di NET. TV bertitel Sarah Sechan, telah berlangsung selama enam tahun. Bulan Januari silam, Sarah Sechan menayangkan episode terakhirnya. Ia mengaku banyak belajar dari program televisi tersebut, dan sangat bersyukur dapat bertemu dengan banyak sosok besar yang menjadi bintang tamu acara tersebut.

Mengingat acara itu telah tayang untuk waktu yang terbilang lama, tak mengherankan bagi saya kala membaca komentar-komentar di akun Shoku yang sarat rasa rindu akan kehadiran Sarah kembali–menghiasi layar kaca para pemirsanya di pagi hari. Energi positif dan riang yang menjadi pembawaan khas karakternya seolah tak termakan waktu dan usia. Memulai hari dengan candaan jenius dan obrolan ringan namun bermutu yang ia hantar setiap pagi, tak pelik orang merasa rindu kini.

Namun bukan karena dirindukan banyak orang kini ia kembali berkiprah di ranah digital. Sarah is simply orang yang terbiasa dengan ritme bekerja dan tidak merasa perlu mengambil jeda. Tak butuh waktu lama untuk Sarah mendebutkan program Sarah Secharian di Narasi.TV – program yang muncul tiap satu minggu sekali di hari Selasa jam 5 sore mulai awal Februari silam. Sarah Secharian mengulas tentang fenomena society culture era ini, apa yang menjadi concern dan curiousity seorang Sarah Sechan dan diinformasikan dengan ringan, informatif, dan serupa karakternya; seru.

Topik-topik seperti Body Goals, membuat makeup tutorial, dan satu hari menjadi Crazy Rich Jakartan, yang juga kerap menghadirkan para pakar topik tersebut, telah sukses merebut kembali atensi penggemar Sarah Sechan (yes, penggemar yang familiar akan kiprah awalnya sejak menjadi model majalah remaja dan VJ Mtv di tahun ’90-an hingga berperan di sejumlah film dan teater musikal) yang di era ini kian beralih ke layar digital. People are glad that she’s back, but why so soon?

sarah sechan interview elle indonesia

Busana: MASSIMO DUTTI (mantel), MAXMARA (rok)

Why not? Saya tidak merasa perlu mengambil jeda karena di Jakarta saya hanya tinggal dengan Rajata yang sudah berumur 15 tahun dan tiap hari berangkat sekolah dari jam 6:30 pagi dan pulang sore hari. Lalu suami saya, Neil, tinggal dan bekerja sebagai chiropractor di Singapura. Kami seperti orang pacaran yang hanya bertemu dua minggu sekali. Malam hari, Rajata masuk ke kamarnya lalu main gitar, dan saya masuk ke kamar lalu facetime dengan Neil. Saya juga tidak punya perkumpulan arisan yang memberi kesibukan. Dulu lokasi SMP dan SMA saya jauh, jadi saya tidak ada keperluan reunian. Dengan kegiatan seperti itu, saya tidak merasa butuh istirahat walaupun acara terakhir sudah tayang bertahun-tahun,” ia menjabarkan hari-harinya yang tak terekspos oleh kamera. Make sense.

Lagipula, transisi ke platform digital ini adalah sebuah proses penuh hikmah bagi Sarah yang baru menikah selama empat tahun. “Dulu Neil praktik di Jakarta, tapi setelah ada kasus medical yang memberi imbas ke seluruh chiropractor di Indonesia, Neil pindah ke Singapura. It’s time for us to be together, we’ve been away from each other for too long. Lalu Rajata juga akan masuk Sekolah Menengah tahun ini. Saya dan Ayahnya sepakat untuk Rajata ikut saya ke Singapura agar melanjutkan pendidikan di sana,” Sarah lanjut bercerita tentang rencananya yang akan rutin pulang satu minggu per bulan untuk bekerja.

Program Sarah Secharian memberinya waktu bekerja yang fleksibel. Berbeda dengan program talk show yang menuntutnya untuk selalu siaran langsung setiap pagi. “Jadi everything that happened to you is suppose to happen. I believe it. Dengan transisi pekerjaan ini, saya bisa dekat dengan Neil dan makin dekat dengan Rajata. Dan saya berharap that I’m supposed to be pregnant!,” ia kembali tergelak.

sarah sechan interview elle indonesia

Busana: MASSIMO DUTTI

Bagi Sarah, motherhood is rewarding. “Kita kan sebagai Ibu tugasnya menyiapkan manusia baru. Anak melihat apa yang kita lakukan. Anak saya kan cuma Rajata dan Shoku,” ia menyelipkan senyum. “Rajata itu sangat beruntung. Dia looks up to his father dan his stepfather yang keduanya punya pola hidup sehat dan selalu memberikan Rajata yang terbaik. Lalu saya sebagai Ibu, saya bilang ke Rajata bahwa semua yang saya lakukan itu untuk dia. Saya tahu tiap perempuan punya prioritas yang berbeda, tapi personally untuk saya, peran sebagai Ibu untuk Rajata adalah tugas utama.”

Apa yang Sarah maksud dengan ‘mempersiapkan’ Rajata adalah persiapan untuk di kemudian hari saat ia  beranjak dewasa, kelak memiliki detachment dengan Sarah, ia siap untuk menjadi manusia yang mampu meng-inspire others atau menjadi tokoh bagi sebuah society. “Menjadi ‘tokoh’ itu kan enggak harus publicly. Anda bisa menjadi tokoh di rumah dan jadi idola untuk anak Anda. Jadi saya, Neil, dan Emir, selalu memberi contoh terbaik untuk Rajata. I want my son to be a gentleman. Kalau Rajata ribut dengan orang lain, jangan volume suaranya yang dibesarkan, tapi kata-katanya yang di-elevate. See, we don’t raise our voice, but we raise our words.”

Idealisme Sarah dalam berperan sebagai Ibu juga tampak di rutinitas paginya. Tak perduli harus terburu-buru atau ada banyak helper yang bekerja di rumah, yang menyiapkan sarapan Rajata harus Sarah. “Walaupun hanya roti dan cokelat meses, tapi saya ingin Rajata memulai setiap harinya knowing I’m around for him. Tidak perduli akan rasa bahagia apabila misalnya dapat kesempatan untuk wawancara David Beckham, tapi kalau anak saya bilang “terima kasih Ibu, roti buatan Ibu enak sekali”, no superstar can top that feeling,” ia berucap dengan prinsip.

Perbincangan ini membuka mata saya. Sejujurnya saya tidak mengira bahwa di balik lensa, obrolan dengan seorang Sarah Sechan ternyata mencakup intonasi paling asasi di ranah motherhood. Dengan energi yang tak lekang waktu, ia mengayomi peran sebagai Ibu seutuhnya dan menjunjung prinsip itu lebih tinggi dari apa pun di dunia. Oh Shoku, you lucky dog you.

(Photo: DOC. ELLE Indonesiaphotography AGUS SANTOSOstyling SIDKY MUHAMADSYAH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *