Hannah Al Rashid: Feminis Tanpa Menjadi Arogan dan Extrem

hannah al rashid interview elle indonesia - juni

Menjadi feminis artinya menjadi manusia yang adil. Hannah Al Rashid menyingkap isi hatinya yang lantang menyuarakan keadilan bagi perempuan dalam semangat kemanusiaan.

Laki-laki tak kenal takut mungkin jamak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan perempuan bernyali yang suaranya tak bisa dibungkam? Saya menemui Hannah Al Rashid, perempuan dengan karakter tersebut. Jika biasanya saya sering memulai dengan pertanyaan, kali ini saya mengawali obrolan dengan mengapresiasi film The Night Comes For Us dan memuji aktingnya yang spektakuler di film tersebut.

Di hari pertama film itu dirilis di Netflix, saya segera luangkan waktu demi menontonnya hingga selesai. Film yang sadis, brutal, tapi menyenangkan sampai-sampai sulit untuk berhenti di tengah adegan seru. Setidaknya bagi saya, film ini menarik karena menampilkan perempuan-perempuan cantik namun tidak mengeksploitasi kecantikannya demi tujuan yang dangkal.

Hannah Al Rashid adalah salah satu pemain yang menekankan premis tersebut. Di The Night Comes For Us, Hannah tidak tampil sebagai pemanis layar kamera untuk kemudian beradu peran dengan aktor-aktor lainnya. “Konon, saya ini dianggap standar ‘kecantikan’ paling umum. Berkulit putih, blasteran, dan bertubuh proporsional. Tapi, saya tidak ingin berakting jika adegannya sekadar mengandalkan kulit mulus dan wajah cantik,” ujar Hannah. Di film karya sutradara Timo Tjahjanto tersebut, Hannah mencukur rambutnya lalu mengecat dengan warna pirang. Sepanjang film, ia tidak banyak berbicara. Tapi kerap melakukan manuver yang membuat lawan mainnya kocar-kacir.

hannah al rashid interview elle indonesia - juni

Busana seluruhnya koleksi FENDI.

Sebagai sebuah profesi, bermain film sesungguhnya bukan pekerjaan gampang. Film menjadi sarana edukasi yang mampu mengubah persepsi. Karena demikian, para pelakunya memikul tanggung jawab besar terhadap apa yang mereka kerjakan. Bagi Hannah, film menjadi salah satu saluran untuk menyuarakan isu kesetaraan dan pemberdayaan perempuan.

“Dalam memilih peran, saya berpikir cukup keras, apakah peran perempuan yang hendak saya mainkan ini akan melanggengkan prasangka yang subjektif terhadap perempuan atau tidak. Mungkin film dan feminisme tidak selalu bersinggungan, tapi sebagai pemain film, saya punya tanggung jawab dalam membentuk persepsi dengan tidak memainkan peran yang justru melestarikan label-label negatif yang kerap dituduhkan pada perempuan,” tegas Hannah.

Karakter Elena, seorang lesbian yang tidak banyak bicara namun seolah tak punya rasa takut pada apapun, sukses diperankan Hannah dengan gemilang. Lewat karakter tidak lazim, ia menunjukkan kemampuannya berkelahi secara brutal yang seolah mematahkan asumsi bahwa perempuan itu lemah dan tidak bisa mengontrol situasi. Tidak melulu film laga yang berdarah-darah, Hannah juga tak ingin berperan sebagai perempuan tanpa ‘power’ kendati dalam sebuah film komedi.

“Sejak dulu, karakter perempuan di film-film Warkop DKI sering kali memperlihatkan kemolekan tubuh perempuan yang memancing hasrat laki-laki. Untuk memainkan peran Sophia di Warkop DKI Reborn, saya berbincang dengan Om Indro Warkop. Kami sepakat untuk merepresentasikan perempuan yang berbeda dengan film-film Warkop DKI zaman dulu. Saya dan beliau tidak ingin menampilkan perempuan sebagai objek kesenangan lewat bentuk tubuh dan kecantikannya.

Saya selalu percaya, pelaut yang ulung tidak lahir dari laut yang tenang. Ada sederet pengalaman dan peristiwa hidup yang sering kali menjadi tiang-tiang kokoh yang menegakkan prinsip hidup kita kelak di masa depan. Sejak usia belasan tahun, Hannah sudah menunjukkan sikapnya yang tegas menolak diskriminasi.

“Mengenal kata ‘feminisme’ pun belum, namun saya tidak suka diperlakukan berbeda dengan laki-laki. Saya tidak pernah ragu untuk bersuara jika saya tahu ada sesuatu yang tidak adil. Dan ketika saya pindah ke Indonesia, keberanian itu semakin menjadi-jadi,” Hannah lantas menceritakan beberapa peristiwa tidak mengenakan yang pernah ia alami.

hannah al rashid interview elle indonesia - juni

Busana: MAXMARA (atasan dan celana), FENDI (sepatu dan anting).

Berbagai macam bentuk pelecehan seksual, verbal maupun fisik, pernah dialami perempuan kelahiran London tahun 1986 ini. “Catcalling saat saya jalan di tempat umum. Seseorang memegang bokong dan payudara saya lalu kabur sambil tertawa. Menggesekkan tubuhnya ke badan saya saat saya sedang naik bus umum. Dan betapa menjijikannya ketika tahu saya menjadi objek masturbasi seorang laki-laki. Semua ini terjadi pada siang hari. Saya begitu sedih, tapi juga sangat marah. Kegeraman ini yang akhirnya membakar energi saya untuk selalu menyuarakan keadilan dan keberpihakan pada korban,” cerita Hannah.

Kekerasan terhadap perempuan, apapun bentuknya, bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Ada sebuah kultur yang dipelihara sehingga persoalannya pun kemudian dianggap perkara enteng. Jika catcalling dianggap hal sepele, maka jangan heran jika kemudian seseorang berani meletakkan tangannya di tubuh kita tanpa permisi. Dari sebuah komentar porno bernada lelucon, maka lahirlah sikap-sikap melecehkan yang kerap berujung pada pemerkosaan harga diri perempuan.

“Tentu kita butuh bantuan pemerintah dengan mendesak agar segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Namun kita semua, atas nama kemanusiaan, selalu bisa ikut bersuara. Melalui media sosial ataupun turun ke jalan, yang harus dilakukan ialah menindak tegas kekerasan seksual dan membuat para korbannya berani bersuara,” ujar Hannah. Saya sepakat. Bersikap netral di tengah situasi kritis sejatinya bukan sikap yang bijak.

Kalimat ‘Countries where women have no power end up in chaos’ yang pernah saya lihat di salah satu unggahan akun pribadi Hannah di Instagram bisa jadi betul adanya. Meneriakkan kebenaran dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan menjadi sangat signifikan di tengah krisis moral. Bisa jadi ini sebabnya Hannah mengaku tidak akan berhenti untuk mengajak kaum perempuan agar berani bicara. “Saya selalu ingin membuka ruang dialog sekaligus menekankan bahwa menjadi feminis artinya menjadi manusia. Manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kesetaraan.”

hannah al rashid interview elle indonesia - juni

Kemarahan saat dilecehkan ia tumpahkan lewat berbagai tulisan yang ia rilis di situs Magdalene.co, sebuah media online yang fokus menyuarakan berbagai perspektif kaum feminis, pluralis, dan progresif. “Tanpa saya duga, komentar pembaca begitu positif. Sebuah respon yang semakin menggugah keberanian dalam diri untuk terus menulis dan menyuarakan keadilan,” ujar Hannah.

Dari menulis di portal digital, Hannah turut aktif bersuara di Instagram dan Twitter. Ia selalu membuka informasi mengenai kasus-kasus pelecehan seksual atau menuliskan kalimat-kalimat positif yang menggugah semangat perjuangan feminisme. Kekuatan itu menular. Racikan antara optimisme bercampur gagasan menjadi ramuan yang membakar energi. Terlebih jika digerakkan oleh perempuan, kaum yang tak asing pada kegelisahan akibat hal-hal diskriminatif.

Unggahan-unggahan di media sosial rupanya memancing reaksi pembacanya yang kemudian mengungkap peristiwa pelecehan yang pernah mereka alami. “Seorang anak dilecehkan ayah kandungnya. Ada perempuan diperkosa saudaranya sendiri. Dan amat menyedihkan ketika ada banyak perempuan ternyata tidak menyadari bahwa ia sedang dilecehkan. Dipukul pacar, kita bilang itu tanda sayang. Dimaki-maki suami, kita anggap itu karena dia cinta. Benarkah demikian disebut cinta? Seperti apa referensi kita dalam mendeskripsikan cinta, jika tindakan penuh amarah malah kita artikan sebagai kasih sayang?”.

Sesungguhnya perjuangan Hannah, dan para feminis lainnya, tidak pernah benar-benar mudah. Feminisme sering kali disalahartikan sebagai upaya perempuan melawan laki-laki. Dalam konteks negara, tidak sedikit pula yang menafsirkan feminisme sebagai gerakan asing atau kebarat-baratan.

“Feminisme bukanlah soal menyepakati seks bebas atau melakukan hal-hal yang dilarang agama. Pada dasarnya, feminisme berupaya membebaskan perempuan dari kungkungan, penindasan, dan ketidakadilan. Sebagai gerakan politik, feminisme mendorong perempuan untuk menyadari hak-haknya dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi saya, sederhana saja, feminisme adalah soal kesetaraan dan keadilan,” ungkap Hannah.

Ia kemudian bercerita. Ia sering kali ditentang agar tidak lagi berteriak soal kesetaraan perempuan. Ia diminta diam. Bahkan dipertanyakan keimanannya dan dicap sebagai perempuan amoral. Hannah dipaksa menerima seluruh kebencian karena ia dinilai terlalu lantang bersuara. “Yang berat dari perjalanan ini adalah saya harus menghadapi mereka yang tidak menyukai advokasi saya. Dan ketika saya harus berlapang dada pada rasa benci, rasanya lelah sekali. Sempat terpikir untuk berhenti, tapi selalu gagal karena saya tidak pernah ingin membiarkan mereka menang,” ia berbicara tegas.

hannah al rashid interview elle indonesia - juni

Yang bikin saya bangga pada Hannah adalah ketegasannya menjaga prinsip. Ia bukan perempuan yang pandai berkoar-koar, tapi nihil dalam perbuatan. Hannah lantang meneriakkan kesetaraan, namun juga tegas menolak fasilitas yang memudahkan dirinya sebagai perempuan. Ladies parking, misalnya. “Menurut saya, ladies parking itu konyol. Akses parkir khusus seharusnya ditujukan untuk masyarakat difabel dan orang-orang tua. Selain itu, saya juga tidak pernah berharap segala keperluan hidup akan selalu ditangguh laki-laki. Kemandirian bukanlah sebuah kesombongan, tapi upaya menciptakan kekuatan dari dalam diri agar perempuan berdaya di atas kakinya sendiri”. Saya kembali sepakat.

Kadang-kadang, kita berteriak soal kesetaraan tapi lupa bahwa ternyata ikut menikmati keistimewaan yang justru menyepelekan kekuatan perempuan. Parkir khusus perempuan hanya salah satunya. Yang lebih gawat lagi, kita hanya senang memakai jargon ‘pemberdayaan perempuan’ dan ‘feminisme’ dalam selebrasi spesifik. “Saya ini selalu ‘laku’ diwawancara bulan Maret, saat perayaan International Women’s Day. Well, I’m not a f***king gimmick. Saya bukan orang yang membicarakan isu feminisme hanya pada bulan tertentu. Jadi agak kesal juga ya melihat orang-orang membahasa isu kesetaraan gender hanya satu tahun sekali. Ketika ada persoalan serius yang perlu campur tangan kita, apakah kita ikut membantu? Saat ada korban pelecehan seksual yang butuh ditolong, apakah kita siap membela?”

Kepopuleran feminisme belakangan memang tak terbendung. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, popularitas feminisme meroket dan mengubah wajah dunia. Beyonce, Emma Watson, dan Katy Perry, mengklaim identitas feminis dan ikut menunjukkan citra positif feminisme di mata masyarakat. Namun, apakah popularitas berarti kemajuan? Belum tentu. Kabar baiknya, kepopuleran feminisme menciptakan citra yang lebih ‘bersahabat’. Ada semakin banyak orang tergugah untuk menyerap nila-nilai kesetaraan.

“Feminisme memang terdengar ‘seksi’ belakangan ini. Namun yang kita takutkan adalah perempuan segera meyakini pribadinya jadi lebih baik jika menyebut diri mereka feminis. Pada akhirnya, feminisme kehilangan konteksnya dan sering kali dijadikan alat pencitraan demi meraih keuntungan finansial.”

Saya kemudian bertanya pada Hannah, bagaimana caranya menjadi feminis tanpa menjadi arogan dan ekstrem? Karena sesungguhnya, saya tidak ingin meyakini sesuatu yang ujungnya menciptakan kesombongan, hanya karena saya merasa benar.

“Biasakan melihat sesuatu dari banyak perspektif. Berbincanglah dengan orang-orang yang beda pendapat, bukan malah hanya mau mendengar yang kita mau dengar. Dari perasaan eksklusif itulah arogansi kerap muncul. Dan perempuan semestinya menihilkan rasa dengki, dendam, dan cacian. Sesama perempuan semestinya saling menguatkan serta merawat kehidupan dalam iklim positif,” tutup Hannah.

(Photo: DOC. ELLE Indonesiaphotography YOHAN LILIYANIstyling SIDKY MUHAMADSYAHmakeup JESS NOVERIAhair RACHELA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *