Joko Anwar: Selalu Bicara Secara Logika

joko anwar interview - elle indonesia november 2019 - man issue - photograph by Anton Ismael

Karya-karyanya mengambil hati para pencinta film, menyabet berbagai penghargaan, membuat nama Joko Anwar telah menjadi jaminan atas kualitas sebuah film Indonesia.

Apa yang kita ingin dapat dari menonton sebuah film; hiburan penghilang penat, keyakinan atas mimpi, atau cerminan realitas dan berharap menemukan jawaban dari pertanyaan kehidupan? Kita—saya—menginginkan seluruhnya. Terhibur. Terinspirasi. Terhubung. Tidak setiap film selalu menyediakan satu paket lengkap—versi saya—kepuasan tersebut.

Malam hari itu, saya mendapatkannya saat menonton film Gundala (rilis 29 Agustus 2019) karya Joko Anwar. Naskah Gundala ditulis dengan plot sangat kuat oleh Joko. Meski kisahnya diadaptasi dari komik kepahlawanan berjudul sama karya Harya Suryaminata terbitan setengah abad silam, Joko menarasikannya dalam latar Indonesia zaman sekarang.

Konflik sosial erat persoalan kenegaraan turut disuratkan pada cerita. Tidak ketinggalan sisipan dialog satire dan menuntut berpikir yang menjadi ciri khasnya. Menontonnya bagai menyaksikan situasi di Senayan belakangan ini. Padahal, pengembangan filmnya jauh sebelum rencana pengesahan revisi sederet undang-undang negara pecah ke permukaan.

Joko bukan paranormal yang mengintip masa depan. “Saya memerhatikan symptoms yang berkembang di masyarakat,” ujar penulis skenario dan sutradara kelahiran Medan tahun 1976 itu ketika saya tanya bagaimana ia memproyeksikan alurnya.

joko anwar interview - elle indonesia november 2019 - man issue - photograph by Anton Ismael
Joko Anwar: HUGO BOSS (celana), MASSIMO DUTTI (kemeja dan sweter), ZARA (mantel)

Saya menemuinya di sebuah studio di daerah Cipete, Jakarta Selatan, di mana tim ELLE telah menyiapkan set pemotretan untuknya. Hari itu, ia akan difoto bersama tiga lelaki pemeran Gundala: Abimana Aryasatya, Aqi Singgih, dan Daniel Adnan. Kami duduk bersama sembari menunggu formasi lengkap.

“Saya terbiasa berpikir secara one plus one equal two,” lanjut Joko. Apa semua penulis dan sutradara seperti itu, atau hal tersebut berkaitan dengan pendidikan serta profesinya terdahulu? “Mungkin, itu yang saya dapatkan dari kuliah ilmu eksakta dulu. Mempelajari ilmu eksakta mengajak logika kita berjalan, karena setiap hal berisikan detail dan segalanya harus dapat dijelaskan. Dalam bercerita pun begitu, perlu adanya logika agar apa yang kita sampaikan relate. Kita juga enggak bisa cuma terpaku pada satu masa tertentu. Seorang filmmaker harus punya visi bagaimana kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu sehingga relevan dengan yang menonton,” katanya.

Riwayat hidup Joko Anwar—sebagaimana diketahui—cukup istimewa sebelum memasuki dunia sinema. Lulus dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (Institut Teknologi Bandung), ia melanjutkan bekerja sebagai jurnalis di The Jakarta Post. Suatu awalan divergen untuk profesi yang digelutinya sekarang.

joko anwar interview - elle indonesia november 2019 - man issue - photograph by Anton Ismael
Joko Anwar: HUGO BOSS (celana), MASSIMO DUTTI (kemeja), ZARA (mantel)

Walau begitu, hidup Joko bukan sebuah perjalanan tanpa rencana. Impian untuk eksis di perfilman terpupuk sejak ia kecil rajin menyambangi bioskop. Namun tantangan perekenomian yang mengikat keluarga membatasi langkahnya menuju sekolah khusus film. Universitas dengan bidang ekstrakurikuler perfilman lantas menjadi pilihan rasional baginya mewujudkan citacita.

Selesai mengantongi gelar, jalannya tidak lebih mulus. Berkali-kali ia diragukan rumah produksi karena minim jam terbang di lapangan, plus latar belakang edukasi yang tak jua bikin impresif. Tidak melihat adanya celah, Joko putar otak menjadi wartawan film dengan asa dapat mendekatkan diri di lingkaran para pelakunya. Lima tahun upayanya terbayar kala diberi tugas mewawancara Nia Dinata yang berujung sebuah penawaran menulis skenario bersama (untuk film Arisan!).

Debut sutradara Joko dimulai dengan Janji Joni pada 2005. Film komedi tentang dedikasi seseorang terhadap pekerjaan di belakang layar bioskop yang memajang wajah Nicholas Saputra itu sukses meraih jumlah penonton cukup tinggi pada masanya. Berbagai pujian datang dari kalangan sesama sineas. Cara Joko berkisah dipandang inovatif.

“Dalam menggarap naskah, saya tidak mengikuti prinsip penulisan skenario yang baku seperti sistem tiga babak atau eight sequence. Saya selalu berusaha menggali sudut pandang berbeda,” tuturnya. Dua tahun kemudian, Joko merilis Kala yang mempopulerkan namanya di festival-festival film internasional hingga diganjar penghargaan Jury Prize di New York Asian Film Festival.

Ia berbagi Piala Citra dengan Mouly Surya lewat film Fiksi di tahun 2008. Lalu tahun 2015, gelar Sutradara Terbaik pun diberikan Festival Film Indonesia berkat A Copy of My Mind.

Dengan prestasi tersebut, saya penasaran, apakah ia masih menerima penolakan? “Enggak,” jawabnya cepat. Ia melanjutkan, “Malah, ada pihakpihak yang juga tertarik memfilmkan skenario-skenario lama.”

Saya teringat ucapan Abimana beberapa bulan silam, kala wawancara bersama Tara Basro untuk ELLE Agustus 2019, “Kalau orang yang enggak kenal Joko, mungkin bakal melihat sosoknya arogan. Apalagi, pembawaan dirinya juga sering kali dibuat sok wibawa, misterius, dan angkuh,” kata pemeran Sancaka/Gundala tersebut.

joko anwar interview - elle indonesia november 2019 - man issue - photograph by Anton Ismael
Daniel Adnan: MOZZO (Suit), CALVIN KLEIN (kemeja)

Kini, saya mengerti. Jika tidak berhadapan langsung dengannya, memang akan terkesan seperti pribadi yang congkak alih-alih seseorang yang berbahagia atas diri sendiri.

“Ada beberapa teman filmmaker yang jauh lebih banyak proyek ketimbang saya, tapi selalu lesu saat ditanya kabar setiap kali kita bertemu. Padahal, kalau kita bahagia dalam melakukan sesuatu sewajarnya merasa bangga, kan? Saya bangga dengan pekerjaan saya, makanya selalu semangat jika menceritakannya.” 

Lebih dari satu dekade, eksistensi Joko semakin menyala terang. Ia telah menulis 15 skrip dan menyutradarai delapan film yang nyaris jarang gagal mengajak penonton ke bioskop. Pintu Terlarang (2009), Modus Anomali (2010), Pengabdi Setan (2017), Gundala (2019), dan Perempuan Tanah Jahanam yang meramaikan bioskop-bioskop Tanah Air mulai 17 Oktober 2019 silam dengan pekik seram para penontonnya merupakan bukti nyata.

A Film By Joko Anwar’ seolah menjadi label yang menjamin duduk di dalam bioskop tidak percuma. Tidak heran jika kemudian ia dipercaya untuk menangani pembuatan jagat sinema Bumilangit yang akan menjadi rangkaian film live-action komik-komik terbitan Bumilangit. Gundala ialah edisi prolognya.

“Kami sudah merencanakan beberapa judul hingga tahun 2025. Gundala Putra Petir (sekuel Gundala) nanti hadir di tengahtengahnya. Sekarang, kami sedang pengembangan Virgo and the Sparkling, dan Sri Asih yang akan disutradarai oleh Upi Avianto,” ungkap Joko. 

Joko Anwar: HUGO BOSS (sweter dan celana), MASSIMO DUTTI (kemeja dan jaket), ZARA (mantel) ; Aqi Singgih MASSIMO DUTTI (suit), MARKS & SPENCER (kemeja)

“Saya enggak menyutradarai dan menulis naskah semua filmnya. Tapi bisa dibilang saya berperan sebagai arsitek keseluruhan cerita, story art dan pengembangan karakternya,” tuturnya lebih jauh menjelaskan perannya sebagai salah satu produser untuk film-film Bumilangit Studio.

Bumilangit sendiri memiliki sekiranya 1.148 karakter dari ratusan judul komik yang telah terbit. Pertengahan Agustus 2019 silam, Bumilangit bekerjasama dengan Screenplay Pictures telah memperkenalkan 18 aktor yang bakal berperan dalam sederet judul live-action filmnya.

Beberapa di antaranya terlebih dahulu muncul di Gundala, seperti Pevita Pearce, Hannah Al Rashid, Kelly Tandiono, dan Tara Basro yang juga bermain di film Perempuan Tanah Jahanam

Berbicara soal pemain pilihan, sulit untuk tidak mengulik kriteria seorang Joko Anwar. “Saya hanya bekerja dengan orang yang bertalenta, punya kapabilitas, dan profesional,” tegasnya. Jika itu berarti ‘memanggil’ wajah familiar; atau perlu mengadakan audisi terbuka ke kota-kota sekitar lokasi syuting, seperti yang ia lakukan untuk Perempuan Tanah Jahanam, demi menemukan sosok terbaik, maka akan dijalaninya.

Ia tidak lagi menghiraukan sentimen publik yang mengatakan bahwa pilihannya tak berkembang. Sebuah opini konyol bagi telinganya di saat Martin Scorsese menampilkan Robert De Niro dalam sembilan filmnya dan Leonardo DiCaprio di enam lainnya, atau Woody Allen yang telah delapan kali bersama Diane Keaton. 

Syarat tersebut juga berlaku ketika memilih setiap kru, termasuk dalam hal sutradara untuk naskah tulisannya sebagaimana reboot film Ratu Ilmu Hitam (rilis 7 November 2019) diserahkan kepada Kimo Stamboel yang telah dikenalnya secara lama. “Saat kerja sama orang lain, saya tidak pernah berbeda visi,” ujarnya.

Bukan lantas Joko menyingkirkan mereka yang menolak setuju cara berpikirnya. “Jika perbedaan itu terjadi di tengah perjalanan, dan pasti terjadi sebab saya dikelilingi orang-orang yang sangat kritis, saya selalu membicarakannya secara logika. Hubungan kami tidak satu arah. Kami saling memberi ‘kekayaan’ bagi satu sama lain,” katanya.

Dalam menyatukan visi, ia pun perlu mengenal orang-orang yang bekerja dengannya. “Sumber daya manusia industri perfilman kita jujur saja masih belum ideal, bahkan untuk mengerjakan sebuah proyek secara bersamaan kami masih sering berebut tenaga yang kompeten. Saya, setiap kali terlibat sebuah produksi film, selalu berusaha membangun keluarga di dalamnya. Kami saling memotivasi untuk bekerja maksimal, menciptakan karya yang bagus dan membuat bangga. Pada akhirnya tumbuh rasa saling memiliki, terhadap filmnya juga antara satu sama lain. Selanjutnya enggak lagi sulit bagi saya untuk menemukan tim yang solid,” kisah Joko.

Salah satu yang senantiasa berkolaborasi ialah Tara Basro. Aktris pemeran Maya di Perempuan Tanah Jahanam itu terhitung sudah tampil di empat judul film Joko Anwar. “Yang saya suka dari Joko, ia selalu membangun karakter secara fungsional. Ia tidak pernah menempatkan seorang perempuan hanya karena fisiknya menarik,” kata Tara pada ELLE dalam wawancara di bulan Juli 2019.

Kepiawaian Joko mengasuh timnya juga dikagumi oleh Hannah Al Rashid (pemeran Cantika/Camar di jagat sinema Bumilangit), “Joko adalah seorang mentor hebat. Ia tidak hanya mengajarkan teknik dan proses pembuatan film, ia mampu memahami para aktornya sekaligus membantu kami mengerahkan emosi mendalami suatu karakter.”

Di hari pertemuan kami, Joko meramaikan timeline Twitter dengan thread #TanyaGundala. Ia terlihat asyik menelusuri setiap tweet yang ditujukan kepadanya; beberapa ia balas, sementara yang lain dibiarkan karena sudah dijelaskan oleh warga Twitter lain yang mengikutinya. Suatu kali ia membacakan komentar sesama netizen dengan tergelak, saya lalu bertanya apa ia juga menanggapi setiap mention selain saat promosi film. “Enggak selalu. Tapi saya biasa menimpali kalau ada yang berbicara soal film atau isu-isu yang tengah berkembang,” katanya.

Bagaimana hal itu memberikan manfaat untuknya? Ia menggeleng seraya menatap saya, “Buat saya, ada tiga poin penting untuk seorang individu berada dalam sebuah negara. Unggul di bidang Anda, berkontribusi pada masyarakat, dan menyuarakan kepentingan bersama dengan cara terbaik yang bisa dilakukan. Jika tidak melakukannya, kita hanya akan menjadi beban bagi negara,” pungkasnya.

(Photo: DOC. ELLE Indonesia; photography ANTON ISMAEL styling ISMELYA MUNTU makeup LINDA KUSUMADEWI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.