Rio Dewanto: Ambisi Tidak Perlu Diburu Cukup Dijalani

rio dewanto interview elle indonesia

Hidup tanpa mengejar ambisi tidak lantas memperlambat perjalanan atau buat tertinggal. Rio Dewanto buktikan bisa membawa langkah ke tempat lebih indah.

Tidak berarti Rio Dewanto kosong akan mimpi. Laki-laki yang segera genap berusia 32 tahun pada 28 Agustus mendatang itu hanya memilih untuk menjalani masa kini dengan tidak tergesa memburu masa depan. “Saya enggak pernah sebegitu mematok ambisi ‘Wah, mesti begini. Harus terjadi begitu’. Sudah cukup ambisinya dijalani santai saja. Mungkin itu kesamaan saya dan Bara,” ujarnya. Bara adalah tokoh fiksi yang ia lakoni dalam film Foxtrot Six, rilis di bioskop-bioskop Tanah Air bulan Februari 2019 silam.

Film besutan sutradara Randy Korompis itu sukses membuai para penonton lewat alur cerita tak terduga ditambah efek sinematografi canggih. Dalam filmnya, figur Rio Dewanto, yang sebelumnya lebih akrab dengan peran-peran drama, ditampilkan secara sangar sebagai prajurit berani mati. Wajah garang berbadan padat otot dibalut seragam militer. Lakon Rio senantiasa bersimbah darah karena ia tak berhenti menghajar lawan-lawannya. Sebuah potret yang sedikit pun tidak mencerminkan sosok laki-laki di hadapan mata saya sekarang.

rio dewanto interview elle indonesia

Rio, yang sore hari itu datang ditemani Salma (putri kecilnya bersama Atiqah Hasiholan yang kini telah berusia satu tahun lebih), begitu murah senyum. Sambil menggendong Salma, ia masuk ke dalam ruangan dan menyapa semua orang. Pribadinya hangat. “Saya baru pulang dari Amerika. Karena kemarin sempat berpisah cukup lama, hari ini saya ajak saja. Enggak apa, kan?” katanya. Rio tidak sering melakukan ini, membawa Salma bekerja. Tetapi, terlepas dari perasaan rindu, ia dan Atiqah Hasiholah (perempuan yang ia telah ia nikahi selama hampir enam tahun sekarang) memang sepakat untuk sebisa mungkin terlibat aktif dalam keseharian anak.

Kehadiran Salma membuat sesi pemotretan kami berlangsung lebih menyenangkan. Sesekali ia menyeruak ke depan kamera lalu ikut bergaya bersama Rio, atau mengambil ponsel dan memotret bapaknya. Setiap kali jeda pemotretan, Rio juga menyempatkan menengok Salma sekadar untuk tersenyum dan mencium kening sang anak. Melihat pemandangan manis itu, sulit untuk berpikir bahwa sosok Rio yang sangat kebapakan mampu membabi buta menghajar orang di layar lebar.

“Kami mendapat pelatihan dari tim Iko Uwais, Uwais Team. Saya akui, Iko sebagai pelatih sangat hebat. Dia bisa membuat pukulan kami tampak kuat, padahal orang yang dipukul enggak merasa apa-apa. Banyak adegan saya jatuh ke tanah, tapi tetap aman enggak sakit sama sekali,” cerita Rio soal kepiawaiannya dalam berkelahi. Demi sukses menghidupkan tokoh Bara yang perkasa, Rio menjalani dua bulan pelatihan fisik serta intensif mempelajari teknis koreografi bela diri. Ia juga diminta diet makanan secara ketat. Sungguh, tidak ada yang berlebihan atau pun kurang dari bentuk tubuhnya.

“Masing-masing pemeran didampingi nutritionist pribadi serta diberikan program makanan diet pagi, siang, dan malam. Mulai dari awal persiapan dan selama syuting, bahkan sampai selesai syuting juga tetap dikirimkan ke rumah.” Bukan hanya perkara fisik yang harus ia latih ekstra. Naskah film ini sepenuhnya ditulis berbahasa Inggris. Para aktor diharuskan fasih berdialog dalam logat orang Amerika. Bahasa Inggris Rio sebenarnya cukup bagus untuk seorang berdarah asli Jawa, namun ia merasa jika aksennya tetap tidak terlalu fluent. Ia bersama aktor lain pun dibekali kamus serta mengikuti sesi pelatihan berbahasa Inggris.

“Randy Korompis sangat memikirkan seluruh detail dengan serius untuk film pertamanya. Belum pernah saya berada dalam lingkungan kerja yang sangat rapi. Empat bulan syuting dengan aturan 12 jam per hari. Seumur-umur syuting di Indonesia, belum pernah saya mendapat batas jam kerja maksimal,” katanya. Pernyataan Rio kemudian membawa diskusi kami mengarungi waktu mundur ke tahun 2008, mana kala ia mengikuti audisi peran untuk pertama kalinya.

Go big or go home, begitu prinsip Rio ketika diajak masuk ke dalam industri hiburan tanah air oleh Boy Latu (managernya sampai hari ini yang ia kenal lebih dahulu sebagai kakak dari sahabatnya di sekolah dasar). “Dulu masih sok, hahaha. Saya bilang, baru mau kalau filmnya Joko Anwar,” katanya seraya tertawa. Dulu yang diceritakan Rio adalah masa di mana ia masih menjadi mahasiswa dengan ego setinggi angkasa.

Joko Anwar merupakan maestro penghasil mahakarya visual di matanya. Ia melanjutkan, “Ternyata, enggak lama Joko Anwar open casting. Waktu itu buat Pintu Terlarang dan saya pun didorong untuk ikut.” Saya kemudian mencoba mengingat peran Rio di antara Marsha Timothy, Fachri Albar, dan Ario Bayu dalam film garapan Joko Anwar tersebut. Tidak ada, saya yakin. “Waktu itu, peran saya di naskah cuma ditulis sebagai ‘Cowok Gereja’. Hahaha, bahkan karakternya enggak punya nama,” kenangnya kembali tergelak.

Industri perfilman Tanah Air membukakan pintu dan mengizinkan Rio masuk tanpa memberikannya ‘tempat duduk’. Tidak ada kursi dengan punggung yang tertera namanya, apalagi kamar ganti berpapan tanda khusus untuknya. Alih-alih, Rio diantarkan pada sebuah tangga tinggi untuk dijajaki dan ia memulai di anak tangga pertama. “Awal terlibat FTV (Film TV) juga begitu. Peran saya cuma sebagai ‘Cowok Satu’, ‘Cowok Dua’, dan tidak ada dialog. Seharian saya berada di lokasi syuting, tapi baru ambil take malam hari. Saya mengalami semua itu,” kisahnya.

Walau begitu, ia menikmati saja setiap prosesnya di lokasi syuting. Kegiatan favoritnya adalah bisa bertemu banyak pesohor film. Rio berkenalan dengan Hanung Bramantyo yang kemudian memberikannya kesempatan untuk berperan lebih besar di layar lebar. “Saat Hanung memanggil saya casting, saya tersadar bahwa ini saatnya. Saya harus tunjukkan saya mampu,” ujarnya yang saat itu sudah mulai sering unjuk gigi di depan penonton FTV.

rio dewanto interview elle indonesia

Kegigihan dan kerja keras Rio akhirnya terbayarkan. Ia berhasil mendapatkan peran besar pertamanya di layar lebar lewat ? (Tanda Tanya) yang dirilis pada 2011. Setelah itu, ritme kaki Rio berjalan menaiki anak tangga perfilman Indonesia berjalan lebih cepat. Tawaran main film datang silih berganti.

Nama Rio Dewanto selanjutnya tertera sebagai pemain—dan bukan di daftar figuran tanpa julukan—dalam film-film populer seperti Arisan! 2 (2011), Modus Anomali (2012), dan Java Heat (2013). Pada 2015, Rio Dewanto sudah mendarat di puncak tangganya. Ia merilis tujuh judul film di tahun tersebut, salah satunya Filosofi Kopi di mana ia beradu akting bersama Chicco Jerikho.

Filosofi Kopi melambungkan reputasi Rio bukan hanya sebagai aktor kelas atas, tetapi juga tukang kopi. Setelah filmnya pecah di pasaran, Rio mengembangkan perannya ke dalam realitas bersama Chicco Jerikho dengan mendirikan kedai kopi Filosofi Kopi, sebagai judul film mereka. Sejanak, terdengar seperti mendompleng ketenaran filmnya. Tetapi Rio menegaskan bahwa ini bukan sekadar proyek aji mumpung.

Buktinya ditunjukkan dengan Filosofi Kopi masih berdiri sampai hari ini di tengah gempuran kedai kopi lokal yang bermunculan. Bahkan, Filosofi Kopi yang telah menyebar di tiga kota (Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang) juga sedang merenovasi kedainya di Makassar dan bersiap membuka cabang baru di Bekasi, Depok, Malang, serta Solo.

rio dewanto interview elle indonesia

Kesuksesan membangun jaringan kedai kopi di berbagai kota Indonesia pun kemudian mendorong Rio untuk berani berinvestasi lebih dalam berbisnis. November 2018 silam, ia baru saja membeli sejumlah lahan di Gayo, Aceh, untuk dijadikan perkebunan kopi. “Enggak luas banget, cukup buat saya belajar berkebun,” katanya. Rio termotivasi untuk lebih mendalami usaha kopi usai memproduseri film dokumenter tentang seluk-beluk pertumbuhan bisnis kopi di Indonesia.

“Saya bertemu petani-petani lokal, pemilik kedai, dan stakeholder. Dari situ saya tahu jika harga biji kopi petani lokal sebenarnya lebih mahal jika dijual ke market dalam negeri, ketimbang ekspor. Tetapi, memang pesanan pembeli asing akan jauh lebih banyak daripada pengusaha kopi lokal.” Lewat kebun kopinya yang ia beri nama Finca Pablo, Rio bermimpi untuk mendukung perkembangan industri kopi Indonesia ke arah lebih maju di mana kesejahteraan para petani terjamin.

Ia menetapkan sistem bagi hasil yang rata dengan para petani di kebunnya serta mengajak kerjasama koperasi daerah setempat. “Saya bekerjasama dengan koperasi dan mereka menempatkan dua orang petani untuk merawat kebun saya. Hasilnya kemudian kami bagi sama rata, fifthy-fifthy.”

Kisah Rio tentang kebun lantas mencetuskan tanda tanya akan ke mana tujuan akhirnya. Rio belum berpikir untuk meninggalkan dunia sinema yang membesarkan namanya. Ia berikan janji akan segera merilis proyek film seri berjudul Asian Ghost Project, walaupun tanggal tetapnya belum dapat dipastikan. “Untuk setiap episode, rumah produksi memilih aktor dari berbagai negara di Asia,” katanya.

Di film seri besutan rumah produksi LeayDo Dee Studio asal Thailand tersebut, kapabilitas Rio dalam berakting disejajarkan dengan pemeran-pemeran internasional daratan Asia. Aloysius Pang dari Singapura, serta Choi Min-Ki dan Lee DongHae asal Korea Selatan adalah tiga nama yang ia sebutkan turut bekerjasama. Rio tidak mengatakan tanggal tetap perilisan film seri ini. Walau begitu, penjelasannya cukup menjadi penenang bahwa bisnis yang ia geluti bukan alasan baginya berhenti, melainkan salah satu usaha nya berkarya dalam hidup. “Sekalian untuk warisan Salma nantinya,” tutupnya.

(Photo: DOC. ELLE Indonesiaphotography NORMAN FIDELIstyling ISMELYA MUNTU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.