Mexico City: Kota Penuh Cinta, Seni, dan Perlawanan

Menyusuri Mexico City atau lokal mengenalnya sebagai Ciudad de Mexico, tidak cuma perkara melihat katedral kuno, menikmati taco atau selfie di museum Frida Kahlo. TRINZI MULAMAWITRI berbagi cerita tentang jejak-jejak perlawanan terhadap kolonialisme yang perwujudannya menjadi daya tarik utama kota ini.

Di malam pertama di Mexico City, saya sempat mengalami gempa sebesar 6,1 skala Richter yang mengguncang Oaxaca (baca: Oahaka) yang berjarak 200 km dari kota ini. Bahkan ternyata dua hari sebelumnya Oaxaca juga telah diguncang gempa berkekuatan 7,2 skala Richter. Untung pada malam itu saya cukup sigap untuk membawa segala hal penting saat keluar dari tempat saya bermalam.

Arsitektur bangunan kolonial di Campeche, Meksiko

Menurut sejarah, bencana gempa lazim terjadi di Meksiko sejak zaman penjajahan Spanyol. Pada masa kekuasaan Spanyol di abad ke-16, mereka memutuskan membangun Mexico City di atas reruntuhan ibukota Aztec, Tenochtitlan, yang sesungguhnya berdiri di atas Danau Texcoco. Spanyol sengaja mengeringkan air di sekeliling danau untuk memperluas wilayah Mexico City tanpa menghiraukan dampaknya pada kota tersebut di masa akan datang. Sekarang kota ini berdiri di atas tumpukan tanah dan pasir sedalam 91 meter yang dulunya ada di bawah danau. Di sisi lain Mexico City juga berada di atas pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Amerika Utara, lempeng Cocos dan lempeng Pacific, serta dikelilingi gunung berapi. Perpaduan alas sedimen lembut dan keadaan alam sekitarnya membuat guncangan gempa makin sering terasa dan menguatkan intensitasnya.

 

Lady of Guadalupe Sang Penyelamat 

Kita tidak keliru saat memandang arsitektur bangunan yang terlihat condong ke satu arah atau bahkan tenggelam.  Sebagai kota yang dibangun di atas danau, ketika penduduk terus mengonsumsi air di bawahnya, maka perlahan permukaan tanah menurun. Saat mengunjungi Old Basilica of Our Lady of Guadalupe, guide saya, Rene, menunjuk ke arah pagar konstruksi yang mengelilingi bagian bawah gereja. “Restorasi terus berlangsung. Bila tidak, bangunan ini akan tenggelam,” ujarnya. Saya mengamini perkataannya, terutama kala memandang posisi gereja dari bagian samping yang sangat kentara miring ke depan.

Setiap tahun jutaan orang dari Meksiko dan daerah Amerika Latin lainnya datang berziarah ke Basilica of Our Lady of Guadalupe. Interior gereja bergaya baroque berwarna keemasan khas Spanyol kuno menghiasi bangunan yang dibuat dari tahun 1561-1709. Beberapa lukisan besar tergantung di sisi kanan dan kiri gereja. Salah satunya menjelaskan prosesi perubahan kepercayaan penduduk asli Meksiko yang keturunan Indian, menjadi Katolik yang dipimpin oleh Spanyol. Altar besar dengan patung Yesus berdiri megah di bagian depan gereja. Akan tetapi pengunjung yang datang justru mengantri untuk berfoto dengan patung perempuan berkulit cokelat yang mengenakan jubah hijau dengan motif bintang emas. Inilah Lady of Guadalupe yang sosoknya dipercaya sebagai ibu penyelamat warga Meksiko yang beragama Katolik. Menurut Rene, warga Meksiko menganggap sosok Lady of Guadalupe lebih penting daripada Yesus. Pandangan tersebut bermula dari sejarah rasisme dan kolonialisme yang membelenggu Meksiko. Di masa penjajahan Spanyol, meski penduduk Meksiko sudah menganut Katolik, mereka dilarang masuk ke gereja kaum kulit putih, sekaligus dipaksa percaya bahwa Virgin Mary, sosok perempuan kulit putih, merupakan ibu penyelamat mereka.

Adalah Juan Diego, warga asli Meksiko pertama yang dianugerahi gelar Santo, yang melihat penampakan Lady of Guadalupe di bukit Tepeyac pada tahun 1531. “No estoy yo aqui que soy tu madre?” atau “Apakah aku tidak ada di sini, aku, yang merupakan ibumu?” dilontarkan Lady of Guadalupe di penampakan ketiga setelah Juan Diego berkali-kali gagal meyakinkan uskup gerejanya tentang penampakan si perempuan ini.

Akhirnya gereja Katolik mengakui eksistensinya setelah Juan Diego menunjukkan mawar yang bermekaran di bulan Desember dalam jubahnya yang  secara ajaib berlukiskan figur Lady of Guadalupe. Hingga kini, hampir lima abad kemudian, jubah tersebut masih tergantung rapi di New Basilica of Our Lady Guadalupe yang terletak di sebelah gereja yang lama. Sejarah mencatat Lady of Guadalupe juga menjadi simbol penegakan hak asasi kaum pribumi Meksiko.

 

Mengunjungi Rumah Frida Kahlo

Sejak masa Aztec, Mexico City telah menjadi pusat budaya dan seni. Mata saya dimanjakan oleh keindahan arsitektur, berbagai suvenir kerajinan tangan, grafiti, galeri dan museum. Hal yang tak boleh dilewatkan penikmat seni adalah berkunjung ke museum Frida Kahlo. Seniman perempuan yang awalnya namanya melejit karena bersuamikan pelukis ternama, Diego Rivera. Dari jauh kediaman Diego dan Frida yang dijadikan museum sudah mencuri perhatian dengan cat biru terang yang melapisinya. Orang lokal menyebutnya La Casa Azul atau The Blue House. Saya membeli tiket melalui situs museum ini dua hari sebelumnya sehingga tidak harus ikut antrian yang mengular.

Museo Frida Kahlo di kota Meksiko

 

Museum yang disebut ‘La Casa Azul’ atau The Blue House oleh orang lokal

Rumah Frida Kahlo didesain dengan gaya kolonial klasik. Sebuah taman rimbun berhiaskan kaktus, arca koleksi Diego Rivera yang disusun pada undak-undakan mirip altar berwarna biru, kuning dan terracotta berada di tengah rumahnya. Area museum terdiri dari rumah tinggal, taman, paviliun yang menjual merchandise dan paviliun di belakang taman yang memajang koleksi pakaian serta perhiasan Frida. Museum Frida Kahlo memuat perjalanan hidupnya menjadi perempuan yang melawan kematian dengan melukis. Ia terlahir di tahun 1907 dalam keadaan polio lantas mengalami kecelakaan hebat yang melukai perutnya di umur 18 tahun. Kecelakaan yang membuatnya harus bergulat dengan puluhan operasi penyembuhan serta mengenakan korset hampir seumur hidup. Deritanya tidak cuma tentang kesehatan, hubungannya dengan Diego dipenuhi pergumulan emosi antara cinta sejati dan sakit hati. Meski sempat bercerai, mereka kembali bersatu hingga Frida meninggal di usia 47 tahun. “Perhaps they expect me to wail and moan about how much I suffer living with a man like Diego. But I don’t think that the banks of a river suffer by letting it flow,” kata-kata Frida terpatri di salah satu dinding museum.

 

Piramida Teotihuacan Yang Pernah Terabaikan

Berjarak 48 km dari pusat kota Mexico City, saya berada di sebuah kota kuno yang diciptakan bangsa Aztec pada tahun 2000 SM. Seraya menaiki ratusan tangga Piramide del Sol atau Pyramide of the Sun setinggi 63,5 meter, saya berimajinasi tentang kehidupan ini pada masa kejayaannya. Seratus dua puluh lima ribu orang pernah tinggal di sini. Mereka disebut Teotihuacano. Konon setiap 52 tahun sekali, ada upacara pengorbanan manusia yang dilakukan kepada dewa agar matahari dan bulan tetap berjalan. Mereka yang menjadi persembahan dipercaya bergabung bersama para dewa di langit, sehingga tradisi ini disebut, ‘Where Men Become Gods.’ Piramida kedua disebut Piramide de La Luna atau Pyramide of the Moon setinggi 42 meter. Di antara keduanya terdapat jalanan utama yang dinamakan Calzada de los Muertos atau Avenue of the Dead. Jalanan ini digunakan untuk rapat, belanja dan berkumpul.

Mayan Temple, Monte Alban di Oaxaca, Meksiko

 

Detail unik yang terdapat pada piramida

Nasib kawasan piramida Teotihuacan terbilang beruntung dibanding peninggalan Aztec yang lain. Saat Spanyol sampai di daerah ini, sebagian besar area Teotihuacan sedang terkubur tanah sehingga lolos dari aksi penghancuran. Bandingkan di kawasan Zocalo yang sekarang sedang mengalami ekskavasi besar-besaran.

Pada masa kejayaannya, Spanyol berusaha meruntuhkan semua peradaban Aztec di Mexico City dengan mendirikan bangunan religius di atasnya. Pemaksaan dominasi spiritual ini terekam dramatis di alun-alun pusat sejarah Plaza de la Constitution atau dikenal juga dengan nama Zocalo. Di samping Metropolitan Cathedral yang spektakuler, pemerintah Meksiko meruntuhkan beberapa bangunan buatan Spanyol untuk menguak sejarah awal Meksiko. Para arkeolog menemukan banyak hal berharga yang lantas didokumentasikan dalam Museo Del Templo Mayor. Di antaranya universitas kuno, tempat beribadah dan masih banyak lagi.

Oaxaca, cafe outdoor di Zocalo, Meksiko

Bergeser sedikit di sekitar Zocalo ada suasana otentik Meksiko yang kental saya rasakan ketika makan malam di La Opera. Didirikan tahun 1906, La Opera adalah jenis cantina (restoran dilengkapi bar) yang mengambil tema baroque bernuansa merah.  Sambil menikmati hidangan Mojarra Al Gusto, sejenis ikan khas Amerika Latin yang digoreng dan dibumbui remah-remah bawang goreng di atasnya, saya mendengar alunan lagu balada khas Meksiko. Tiga orang lelaki berumur 50-an mengenakan jas perlente berkeliling dari satu meja ke meja lain menghibur tamu dengan menyanyikan lagu seraya memainkan gitarnya. La Opera cukup terkenal di kalangan turis dan lokal. Sungguh sukar dipercaya bahwa baru pada tahun 1990-an perempuan diperbolehkan masuk ke dalam cantina. Konsep machista khas Amerika Latin tercerminkan dari cantina di masa lalu yang menjadi tempat lelaki berkumpul, berjudi dan mabuk-mabukan sementara istri mengurus keluarga di rumah.

Berbagai restoran bercita rasa tinggi banyak bertebaran di Mexico City, terutama di kawasan Polanco yang juga terdapat berbagai butik desainer terkemuka. Bergeser sedikit ke La Condesa, atmosfir restoran dan seni ala hipster akan menawan kita. Jangan lupa juga menikmati taco yang dijual di kaki lima atau pasar dengan harga sekitar Rp30.000,- untuk mencicipi rasa khas Meksiko.

Bagi saya Mexico City adalah kota yang meriah, berestetika tinggi, sekaligus menawarkan latar belakang sejarah yang menawan.

 

(Teks: Trinzi Mulamawitri yang telah dipublikasikan di majalah ELLE Indonesia edisi Juni 2018, Images: IstockPhotos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *