Daya Tarik Magis Dubai yang Futuristis

travel to dubai elle indonesia

Senantiasa berkembang dengan visi yang fasih merangkul masa depan, Dubai berlumur kemewahan yang tak terbantahkan, sementara jati diri dan tradisi tetap diabadikan.

Takaran kesan sebuah destinasi, bagi saya pribadi, terukur lewat dinamika hati dan pikiran yang merespon selama durasi perjalanan. Signifikansi besarnya reaksi terhadap tiap rasa dan stimulasi indera membentuk periode rekam jejak di dalam benak. Berdasarkan analisa tersebut, kota Dubai mutlak memiliki bilik permanen di terdalam ingatan saya.

Bagaimana tidak? Tiap tenggang kunjungan saya – sejak awal menapak kaki di bandara internasional Dubai hingga enam hari berikutnya – decak kagum tak henti terucap. Bukan sekedar kekaguman pada kemegahan dan kemewahan yang membalut segara inovasi futuristik. Namun, juga pola pikir yang sangat terbuka dan berhasrat.

Ambisi kota ini nampak jelas di awal kunjungan lewat struktur bangunan tinggi berkilau emas serta jalan raya maha lebar dan beraneka label kendaraan premium yang melintas. Seringkali saya membaca tentang kemasyhuran kota ini, tapi kala menyaksikannya sendiri, segala wacana itu nampak terlampau merendahkan. Kenyataannya, mata enggan berkedip dalam takjub. Menyaksikan Dubai dari dalam, aneka wujud terobosan seolah memaksa netra dan jiwa untuk terbelalak dan menstimulasi pola pikir ke level modernisasi optimal.

Wajah Kota Futuristis

Hilton Al Habtoor City Hotel menjadi tempat saya menginap selama menjelajah kota ini. Lokasinya yang strategis nyata memberi nilai plus, namun yang terbaik ada di balik gorden kamar. Panorama downtown Dubai tersuguh dalam jarak ideal. Di tengah-tengah barisan gedung pencakar langit yang mengkilap, Burj Khalifa berdiri megah di hadapan jendela kamar menemani hari-hari saya di Dubai. Menjulang setinggi 829 meter dari permukaan tanah menjadikan Burj Khalifa sebagai gedung tertinggi di dunia. Sebuah peluang emas untuk saya dapat memijak At The Top – observation deck tertinggi di dunia yang berada di lantai 148. Dari ketinggian 555 meter ini saya mampu menyaksikan hamparan pemandangan kota yang tak bertanding. Bucket list: checked!

Bergerak turun, empat lantai terbawah bangunan Burj Khalifa adalah Dubai Mall yang glamor. Mewadahi lebih dari 1.200 toko, mal ini merupakan terbesar ke-2 di dunia yang dipadati berbagau gerai ritel mode yang tak henti memberikan penghormatan pada haute couture dan sejumlah brand dari desainer terbaik kota ini. Selain label-label high-end yang menyemarakkan pusat perbelanjaan ini, opsi rekreasi berbeda pun banyak menarik minat pengunjung berkeluarga, seperti Dubai Aquarium dan Underwater Zoo. Sempatkan makan siang di tepi Dubai Fountain dan menonton aksi semburan air yang memancarkan hingga 22.000 galon air setinggi 140 meter di udara menari-nari di kolam danau buatan – menegaskan standar hiburan mal di kalibernya sendiri.

Mall of the Emirates memiliki luas yang lebih kecil dibanding Dubai Mall, namun atraksi yang tersedia tak kalah impresif. Di dalam mal ini, sebuah bukit salju setinggi 85 meter (seukuran gedung 25 lantai), lengkap dengan beragam kegiatan olahraga musim dingin beserta elevator ski yang membawa pengunjung ke puncak bukit, terentang seluas 22.500 meter persegi. Suhu -2 derajat celsius disokong dalam ruangan sepanjang tahun. Dubai Ski menjadi salah satu atraksi yang populer di kota ini mengingat suhu yang terik di luar ruangan – membuktikan bahwa di kota beriklim tropis pun tak mustahil untuk menikmati musim salju dan segala kemeriahannya.

travel to dubai elle indonesia

Dibangun menyerupai bingkai foto raksasa berwarna emas berhias ukiran yang glamor, struktur Dubai Frame sengaja dirancang untuk memberi titik pandang terbaik ke arah downtown Dubai yang modern sekaligus ke arah kota tua yang padat peninggalan sejarah, di mana kedua panorama tersebut terbagi dari dua sisi berbeda di ketinggian 150 meter. Museum bergerak yang mengisahkan tentang Dubai di masa lampu menyambut pengunjung di pintu masuk sebelum lift mengantar ke puncak bangunan.

Panorama yang tersaji tak kalah sensasi dibanding lantai transparan yang menciutkan nyali akan ketinggian. Usai menikmati panorama dua dunia, di lantai dasar, museum simulator menarasikan masa depan yang menjadi cita-cita kota ini – mobil terbang, mesin pemulih penyakit, robot penumbuh organ anatomi. Jujur, dengan segala pendekatan futuristik dan teknologi mutakhir yang menjadi roda penggerak Dubai, visualisasi seperti ini ini tidak mustahil.

Budaya seni Dubai yang unik dan semarak ada di Alserkal Avenue yang mewadahi 39 gudang industrial yang menjadi rumah untuk galeri seni, museum, fashion retail, cafe, bioskop, dan sejumlah platform seni eklektik lainnya. Mengingat populasi Dubai yang terdiri dari 20% Emirati dan 80% pendatang, di Alserkal Avenue, budaya kreativitas dan individualisme yang semarak meletup-letup sebagai dampak dari pengaruh warga pendatang yang membentuk kancah sosial Dubai.

travel to dubai elle indonesia

Atraksi Air Spekatakuler

Area perairan Dubai memiliki pesonanya sendiri. Seperti Dubai Marina. Di mana pengunjung bisa menyusuri promenade yang dipadati barisan restoran, cafe, gedung apartemen, mesjid, hingga area tempat bermain anak. Atau, ikut serta di pelayaran dhow cruise sambil makan malam di atas kapal. Mulai appetizer, main course, sampai desert, dapat disantap kala berlayar sambil menikmati pemandangan malam bertabur gemerlap lampu di sepanjang promenade Dubai Marina.

Selain pesisir Marina, saya pun menyempatkan diri singgah di La Mer, sebuah area pinggir pantai menyajikan pengalaman outdoor yang luas dengan jalan-jalan setapak berpohon palem, mural seni grafiti, waterpark, taman bermain, serta serta jejeran pertokoan dan restoran. Area pejalan kaki ini dikurasi cantik di tepi laut dengan beraneka elemen yang instragrammable – menjadikanya salah satu tempat terbaik untuk mengambil foto liburan yang sempurna saat mengunjungi Dubai.

Ingat Hilton Al Habtoor City Hotel yang menjadi lokasi saya menginap? Hotel ini pun menjadi rumah bagi La Perle, sebuah resident live show yang digagas oleh mastermind di balik segala show Cirque du Soleil di Las Vegas, dan dikurasi hanya untuk Dubai. Inovasi teknologi magis nan ekstravagan dikemas dalam plot teatrikal sarat akrobat dan aneka manuver mencengangkan selama 90 menit. Entah mengapa, konsep air dipilih menjadi primadona ini gelaran ini. Di desain dengan ‘aqua stage’ yang menampung kolam berisi 2.7 juta liter air, tumpahan air terjun badang pun kerap terjadi menyemarakkan show.

travel to dubai elle indonesia

Warisan Budaya dan Arsitektur Historis

Jantung Dubai sesungguhnya berada di distrik kota tua yang mewadahi segala warisan budaya dan arsitektur kota ini. Berada di tepi Dubai Creek, area ini dipadati rumah-rumah desain kotak berwarna tanah yang nampak tua dari luar. Museum, kafe, penginapan, toko-toko yang menjual busana, suvenir, hingga rempah-rempah, terbungkus dalam tampilan masa lampau yang terpelihara.

Lokasi ini membuka kesempatan besar untuk berkenalan dengan cara hidup lama yang lazim di Dubai. The Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding berlokasi di area ini di mana selain dapat menikmati makan siang khas Emirati, pengunjung pun dapat bertanya jawab tentang apa pun seputar Islam dan budayanya. Sempatkan menyeberangi Dubai Creek dengan kapal Abra tradisional dan manjakan diri dengan pemandangan ramai pesisir kanal yang dipagari masjid-masjid indah, rumah-rumah kuno, untuk kemudian berlabuh di sisi lain sungai untuk menjelajah aneka souk yang menjajakan tekstil spektakuler, rempah-rempah, dan emas berlimpah.

 

Suku Bedouin adalah penghuni gurun nomaden yang telah melintasi bukit pasir keemasan dan bertahan di gurun selama berabad-abad. Sebagai penghuni tertua daratan ini, suku legenda Arab ini terkenal karena keramahan dan akal survival mereka. Perjalanan off-road dengan mobil Land Cruiser mengantar saya pada petualangan budaya dan sejarah era lampau, di mana saya mampu menikmati seluruh hari mengeksplorasi dan menikmati budaya suku Bedouin di gurun Dubai. Aktivitas Desert Safari yang berlokasi sejauh satu jam di luar kota ini membawa saya ke tengah gurun. Di sana, terdapat sebuah tenda khas suku Bedouin yang telah tertata modern dengan panggung di tengahnya.

Sebelum masuk ke kompleks tenda, di area gurun luar, terbuka kesempatan untuk menaiki unta, ATV, dan menonton show burung Falcon. Setelah menyaksikan sunset berwarna oranye di ufuk gurun, acara makan malam khas Emirati tersaji dengan hidangan beragam tarian berbudaya dari belly dance hingga tanoura yang menyilaukan. Rangkaian acara ini sejatinya memberi keseluruhan rasa dan budaya Emirati seutuhnya.

 

Kunjungan ke Dubai tidak akan pernah mencukupi durasi. Beragam pengetahuan modern dan masa lampau membangun sebuah kekaguman akan semangat kota yang tak kenal lelah, dan rasa ingin tahu yang kelak memaksa Anda untuk meng-extend masa inap. Di mana lagi di dunia ini Anda mampu mencapai target bucket list dengan kunjungan-kunjungan landmark fenomenal, bermain di lereng ski saat makan siang, menjelajahi berbagai pusat perbelanjaan dan kawasan bersejarah di sore hari, dan bersantap di tepi pantai saat matahari terbenam? Destinasi seperti ini lah yang seutuhnya memberi makna berlibur yang mengubah hidup.

(IMAGES: GETTYIMAGES, DOC. Dubai Tourism Board)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *