Warren Hue Menggebrak Panggung Musik Internasional

Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono

Lewat melodi hip-hop kontemporer yang memikat telinga, Warren Hue berani merintis mimpi jauh dari Tanah Air.

Warren Hue seharusnya telah berangkat ke Los Angeles, Amerika Serikat, dan bersiap menghadiri premier film Sang-Chi and the Legend of Ten Rings pada 3 September 2021. Kehadirannya ialah sebagai salah satu musisi—bersama Anderson .Paak, DJ Snake, Jhené Aiko, Niki, Rich Brian, Seori, dan lainnya—pengisi soundtrack film live-action pahlawan super teranyar Marvel tersebut. Alih-alih, Warren malah menghabiskan waktu bersama ELLE di sebuah studio di Jakarta. Agendanya sedikit tertunda seiring kebijakan pemerintah perihal pembatasan perjalanan selama periode PPKM; selain itu, proses izin tinggal luar negeri Warren juga masih belum rampung. Musisi muda Indonesia kelahiran tahun 2002 itu rencananya akan menjadikan Amerika Serikat sebagai domisili; lantaran kini resmi bergabung dengan label musik dan media global Asia, 88rising.

Kami duduk bersama selagi menunggu tim fotografer menyelesaikan penataan set pemotretan. Menyimak ceritanya mengingatkan saya pada sebait petuah (yang semoga saja) bijak; “Ketika kegemaran menuntun Anda pada minat dan kemudian beralih menjadi gairah yang memaknai kehidupan, maka Anda telah menemukan awal keberhasilan.” Ketertarikan Warren pada dunia musik bertumbuh sedari ia kecil. Di usia 14 tahun, ia mulai gemar bereksperimen menggubah nada; membuat remix lagu-lagu populer hingga memproduksi extended playlist bertajuk Alien (2018) lewat platform musik digital. Kala itu, ia menggunakan alias Warrenisyellow—yang merupakan manifestasi identitasnya sebagai orang Asia—sebelum mengeklaim nama Warren Hue (interpretasi nama aslinya: Warren Hui) di tahun 2019; ketika merilis album debut Sugartown yang berkolaborasi dengan musisi dan produser asal Korea Selatan, Chasu, secara independen.

Musik Warren yang meramu melodi hip-hop sarat instrumen kontemporer perlahan menarik perhatian khalayak; terlebih setelah ia mengguncang panggung pertunjukan Double Happiness Winter Festival pada akhir tahun 2020 silam. Tawaran kerjasama pun berdatangan dari berbagai label rekaman, lokal dan internasional. Kuartal pertama 2021 kemudian menandai titik awal perjalanannya merintis karier bermusik di ranah musik internasional. Ia menggebrak lewat kolaborasi grup vokal asal Jepang, Atarashii Gakko! yang bertajuk Freaks, dan lagu Omomo Punk; karya debutnya di bawah naungan 88rising. Karya teranyar Warren; California, sebuah single kolaboratif bersama Rich Brian dan Niki, telah mengudara sejak bulan Mei 2021 silam. Menyemarakkan siaran-siaran radio, hingga menjadi rekaman sensasional yang diputar lebih dari 16 juta kali di platform streaming musik digital. Tidak heran bilamana ia kemudian dijuluki sebagai rapper pendatang baru dengan bakat menjanjikan.

Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Louis Vuitton (kemeja, celana, sepatu, kalung, dan gelang)
Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Louis Vuitton (kemeja, celana, sepatu, kalung, dan gelang)

Warren, di titik apa Anda menyadari bahwa musik adalah jalan hidup Anda?

“Setelah beberapa kali membuat remix lagu-lagu musisi lain untuk unggahan platform musik digital, kemudian menciptakan musik sendiri di usia 16 tahun. Saya pikir, momen di mana saya menyadari keinginan untuk lebih intens menjalani karier di bidang musik ialah saat merilis album Sugartown di tahun 2019 silam.”

Bagaimana Anda sebenarnya ingin dipandang; sebagai rapper, produser, atau musisi?

“Musisi. Saya tidak ingin mencoba menjadi, you know, like a full rapper.

Anda memperdengarkan irama hip-hop kontemporer, dengan seni rap yang dominan. Bagaimana karakter musik tersebut merefleksikan personalitas Anda?

“Saya tumbuh besar dengan mendengarkan banyak sekali musik hip-hop, sehingga ketertarikan saya terhadap genre musik tersebut berkembang secara natural. Tetapi perjalanan saya menjelajahi bidang ini baru dimulai, dan saya tidak terpikir untuk sekadar mendefinisikan diri lewat satu genre tertentu. Untuk saat ini saya menikmati mengolah hip-hop, tetapi barangkali saya akan membuat musik rock di masa depan, atau bermain dengan instrumen elektronik. Saya juga menikmati musik R&B, pun tak jarang mendengarkan pop. Saya tidak membatasi diri dalam mengeksplorasi ragam jenis musik, demi terus memperkaya ‘suara’ saya. Sebab, saya berkarya bukan untuk dikategorikan, melainkan agar dapat didengar oleh setiap— semua—orang.”

Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Louis Vuitton (kemeja, celana, sepatu, kalung, dan gelang)
Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Louis Vuitton (atasan, celana, sepatu, kalung, dan gelang)

Apa daya tarik dari musik hip-hop/rap yang membuat Anda jatuh hati?

“Saya merasakan keistimewaan yang distingtif dalam cara musik rap mengekspresikan perasaan serta pemikiran seorang musisi perihal sesuatu. Terlepas dari aransemen kreatif dari masing-masing pencipta lagu, pengolahan lirik pada musiknya terdengar cerdas. Permainan kata-kata mampu menarasikan sebuah cerita sarat emosional, dan dapat dimaknai secara ekstensif.”

Siapa musisi yang melandasi naluri bermusik Anda?

“Saya terbilang ‘baru’ mengikuti pergerakan musik hip-hop dan rap. Kala berusia 9 tahun, saya mengetahui Eminem lewat film Reel Steal di mana ia mengisi soundtrack filmnya. Sejak itu, saya mulai menambah referensi musisi dengan mendengarkan Tyler the Creator dan banyak musisi lainnya.”

Kami mengetahui bahwa orangtua Anda menggeluti bidang industri garmen. Bagaimana latar belakang keluarga yang lekat dunia mode memengaruhi kreativitas bermusik Anda?

“Buat saya, musik dan fashion adalah dua hal yang saling berkaitan. Musik mengekspresikan perasaan lewat alunan melodi serta lirik, dan fashion memanifestasikan spirit lagu secara visual.”

Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Louis Vuitton (atasan, celana, dan gelang)

Anda kerap tampil mengenakan pakaian berwarna vibrant dan desain playful di video musik, seolah ingin memberikan suatu pernyataan karakter lewat eksperimen mode yang berani.

“Saya rasa, gaya tersebut cukup menggambarkan karakteristik musik saya yang ‘loud’ dan ‘bright’. Buat saya, cara berpakaian seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘live in the box’. Saya dibesarkan oleh orangtua yang sangat mengapresiasi fashion. Ayah saya bekerja di industri mode, dan beliau cukup ekspresif dalam bergaya. Dia adalah panutan saya untuk berani mengenakan pakaian berwarna. Plus, ibu saya; ia gemar berdandan! Ibu kerap mendandani saya dengan berbagai jenis pakaian dan aksesori, sehingga saya terbiasa mengenakan ragam atribut mode sejak kecil. Mode telah menjadi salah satu bentuk ekspresi diri buat saya pribadi. Apa yang ingin saya tunjukan adalah bahwa siapa pun dapat berpakaian apa saja, sesuai keinginan, bilamana hal tersebut mengekspresikan diri mereka seutuhnya.”

Bukan hal baru bahwasanya industri musik, sebagaimana dunia ini sendiri, dianggap bisa sangat menghakimi. Bagaimana Anda beradaptasi di lingkungan tersebut—terutama sebagai musisi Indonesia yang tengah merintis karier di negara lain?

Yeah, cukup jarang kita temukan musisi muda Asia merintis karier di ruang internasional. Tapi jika bicara jujur, sejauh ini saya tidak—atau mungkin belum—menemukan pengalaman buruk yang menjatuhkan semangat. Barangkali karena saya hanya memfokuskan diri untuk berkarya secara jujur, dan berusaha agar tidak terlalu terpengaruh oleh dinamika industri besar di baliknya.”

Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Louis Vuitton (gelang), Motoguo (knitwear)

Bagaimana cara tersebut membantu Anda memperkuat karakter sebagai musisi maupun individu?

“Bisa menjajaki ranah musik global, tentu saja, merupakan kesempatan yang berharga. Saya berusaha mempertahankan identitas sebagaimana kali pertama saya memulai membuat musik, sebelum menandatangani kontrak rekaman label dan menginjakkan kaki di panggung internasional; saya hanya ingin mengekspresikan diri dengan berkarya. Sebisa mungkin, saya berusaha tidak terpaku pada pressure, atau semata-mata mengikuti selera musik pasar demi menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saya selalu melakukan apa yang saya yakini dan mengerahkan upaya terbaik. Tak masalah jika ada yang tidak tertarik dengan karya saya. Namun jika mereka menyukainya, artinya mereka menerima diri saya yang sesungguhnya.”

Sekarang Anda telah berada di bawah naungan label musik dengan cakupan pasar global. Sebagai musisi yang memulai jalan secara independen, bagaimana transisi tersebut memengaruhi kreativitas Anda?

“Saya pikir, kesempatan ini justru semakin mengembangkan kreativitas. Saya dapat mencurahkan ide-ide dalam skala yang lebih besar. Dan 88rising cukup memberikan keleluasaan berekspresi bagi para artisnya. Saya memang memiliki manajer yang senantiasa bertukar pandangan akan hal-hal tertentu. Tetapi perihal keativitas, 88rising tidak menetapkan batasan, dan mendukung 100% visi saya dalam berkarya.”

Saya perlu menanyakan ini; apakah 88rising merupakan satu-satunya label rekaman pilihan Anda?

“Ketika 88rising menghubungi saya untuk membicarakan kerjasama, sebenarnya saya juga mendapatkan penawaran dari tiga label rekaman lain di Amerika. Saya juga pernah mendapatkan tawaran kerjasama dari label rekaman Indonesia.”

Pada akhirnya Anda memantapkan pilihan bergabung dengan 88rising…

“Sebab saya rasa 88rising suits me best. Mereka dapat mengerti karakter musik saya, serta menghargai dan memercayai visi saya.”

Warren Hue for ELLE Indonesia October 2021 photography Zaky Akbar styling Gisela Febrina Juwono fashion Motoguo (knitwear), Ican Harem (jaket), Jizeeru (celana), Versace-koleksi pribadi (kalung)

Apa sebetulnya yang ingin Anda suarakan lewat lagu-lagu Anda?

“Narasi tentang kebaikan berbalut happy vibes. Dalam mencipta musik, sebagian besar inspirasi saya dipengaruhi oleh perasaan pribadi. Tentu saya pernah merasakan momen-momen tidak menyenangkan di hidup ini, tetapi saya ingin selalu berbahagia dengan musik saya. Saya tidak begitu suka membuat lagu yang dark dan depressing. Ketika menulis lirik, saya kerap mengangkat tema-tema yang dekat keseharian masyakarat. Harapannya agar orang yang mendengarkan dapat terhubung dengan lagu-lagu saya.”

Bahkan dengan situasi dunia yang penuh ketakpastian seperti sekarang ini?

Yeah, I think so. Optimisme akan kebahagiaan justru yang paling kita butuhkan dalam hidup, terlebih saat ini. Saya mencoba menciptakan vibes, yang mana ketika seseorang mendengarkannya, dapat menghidupkan semangat mereka untuk menjalani hari dengan lebih baik.”

assistant styling Joce grooming Claudya Christiani hair Jovita Liana Dewi retoucher Christine K Siregar location Aharimu Study

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.